17,5 Milyar rupiah untuk website my-indonesia.info ? Pasti semua orang protes. Duit segitu diapain aja. Untuk itu kita telusuri kisah pewayangan dan dalang dari situs ini.
Pertama, klaim seperti yang dimuat di detikinet, bahwa website ini ditampung empat negara, yakni di Amerika Serikat (Benua Amerika), Singapura (Asia), Eropa, dan Australia. mari kita buktikan melalui catatan DNS server. Jika memang benar servernya ada empat (untuk mirroring), sehingga benua lain tetap cepat mengaksesnya, semestinya “A” record-nya juga tidak cuma satu. Sebagai contoh, bandingkan result google.com dan my-indonesia.info
Dari A record, google yang servernya banyak, memunculkan 3 buah IP address, artinya bisa diakses ke tiga-tiganya. Sementara my-indonesia.info hanya memuat 1 IP address saja. Bagaimana jika IP address ini diserang? atau ada error di jaringan? Ya tentu website akan langsung down. IP 203.211.140.139 adalah IP address di Singapura, yakni di Qala data center. Konon sih (bisa diklarifikasi ulang), Qala adalah data center termurah di Singapura, karena backbone mereka yang tidak sekuat data center yang lain. Setahu saya, untuk sewa satu rack di data center Qala adalah sekitar 900 dolar Singapura, atau kira-kira 5,8 juta rupiah per bulan.
Khusnudzon (prasangka baik) saya, kementrian pariwisata sewa selama 10 tahun langsung kali
, makanya dananya begitu besar !!!
Jadi klaim server di empat benua, saya ragukan. Coba kita telusur lagi di DNSnya.
Aha, mungkin ini jawabannya, bukan servernya yang ditaruh di empat benua, tapi DNS servernya, meski dalam hal ini cuma dua, satu di UK, satu lagi di Australia. Memang DNS server yang makin dekat dengan user yang mengakses, akan mempercepat respon, tapi hanya respon query DNS, kira-kira kecepatan mencari alamat yang tepat dari buku telepon, selebihnya kecepatan website tergantung kecepatan dari server yang di Singapura. (sudah saya tes, via proxy di jerman, untuk membuka blog ini sama situs my-indonesia.info lebih cepat blog ini ..he..he..).
Sekarang, coba kita telusuri kapankah domain ini dibuat?
Walaw e… !!! Ternyata domainnya dibuat hampir empat tahun yang lalu. Artinya biaya 17.5 milyar ini dipake selama empat tahun, dan baru dipublikasikan sekarang. Hebatnya lagi, dipublikasikan kira-kira dua bulan sebelum domain ini expired. Ampuh tenan !!!
Opo tumon??? Sebuah website sampe empat tahun, baru menjelang domainnya kadaluarsa websitenya baru nongol. KECUALI domain ini dibeli seseorang, misal pengusaha hotel wisata mana gitu, abis itu dijual ke pemerintah sebesar 1 milyar
. Eh, jangan-jangan memang benar, yang beli domain ini tadinya pengusaha hotel. Mari kita telusuri kembali.
Nampaknya indo.com selaku pemilik DNS dari situs my-indonesia.info adalah pengusaha hotel. Semua website yang ditampung di servernya adalah tentang hotel.
Eits…tunggu dulu, beberapa banyak website yang saya tes dari server ini, ternyata isinya cuma iklan ad-sense. Gak ada situs hotel beneran di sana. Wah jadi curiga nih, siapa sebenarnya pelakunya???
Ataukah mereka cuma pencari untung dari domain name? Wallahu a’lam
Kita lanjutkan petualangan kita, jadi kira-kira siapa sebenarnya “dalang” dari 17.5 milyar ini? Sebuah website yang butuh waktu 4 tahun sebelum diluncurkan, yang bahkan sejak sebelum SBY jadi presiden, domainnya sudah dibeli. Adakah nuansa “gelap-gulita” (udah, baca aja korupsi !!!) menyelimuti website ini? Perlukah saya lapor ke SBY? Kalau website ini penuh dengan “hal-hal aneh” !
Jawabnya: saya tidak tahu !
UPDATE:
Saya baru nemu lagi catatan yang lain. my-indonesia.info juga dihost di USA, hanya saja di bawah subdomain us.my-indonesia.info. Dari catatan servernya, nampaknya dahulu my-indonesia.info juga pernah di host kesana, begitu pula dengan indonesia.travel. Tapi sekarang sudah dipindah di Asia Tenggara (Singapura), mungkin mereka merasa aksesnya lambat, karena web-web tercantum di bawah ini diaksesnya dari Singapura pun relatif lambat sekali. (catatan: hanya blogs dan forum [dot] my-indonesia.info dan indonesiatourisminfo.com, dan my-indonesia.com yang masih di host di sana, selainnya sudah dipindahkan ke Singapura atau malah sudah mati).
e=”border-top-width: 0px; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin: 0px; border-right-width: 0px” height=”157″ alt=”image” src=”http://andri.cisco.or.id/blogs/wp-content/uploads/2007/12/windowslivewritermyindonesia.infomenelusurisangdalang-ead6image-thumb-9.png” width=”244″ border=”0″/>
Whois dari my-indonesia.com memang menunjukkan yang punya orang spesialis iklan dan pariwisata.
UPDATE 2 (17 Desember 2007):
Setelah membaca komentar dari mas Jojo, saya trace ulang lagi dari hasil yang kemarin. Nampaknya Indo.com telah melakukan perubahan dalam setting servernya. Kalau beberapa waktu lalu saat saya menulis posting ini, semua hasil trace saya cuma mengarah ke satu IP, sekarang sudah mengarah ke beberapa IP. Saya kurang tahu metode yang dipakai, tapi yang jelas (CMIIW) bukan Round Robin DNS. Setidaknya servernya sekarang benar-benar dipakai, baik yang di UK, USA, Singapura(hasil trace IP sementara ini), tapi saya belum tahu yang Australia gimana. Meski demikian, 17.5 milyar yang jauh melebihi situsnya Presiden SBY menurut saya masih tetap “keterlaluan“.












[...] penyelidikan teman kita Andri Setiawan menunjukkan bahwa my-indonesia.info hanya diletakkan pada satu server, cuma DNSnya saja yang [...]