Archive for Uncategorized

Silaturrahim …. perpanjang umur perbanyak rizki

Nampaknya bakalan banyak yang akan mulai rajin silaturrahim beberapa bulan mendatang, paling tidak akan ada beberapa alasan yang menjadikan semakin banyak orang yang akan bersilaturrahim.

Satu, dalam waktu kurang dari dua bulan mendatang, Ramadhan akan segera tiba. Kalau di tradisi Jawa biasanya ada acara nyadran, yakni berkunjung ke makam saudara, atau orang tua, atau kakek, atau nenek, dan sebagainya. Biasanya yang tinggal di daerah lain, akan bersih-bersih ke makam dimana kerabat mereka dimakamkan. Sekalian biasanya momentum tersebut dipakai untuk ketemu beberapa saudara dekat mereka.

Dua, tentu saja, selepas Ramadhan, akan ada Lebaran. Yang sudah insya Allah bisa dipastikan, banyak orang saling mengunjungi, bersilaturrahim, bernostalgia, dan yang jelas makan-makan. Jelas memang, silaturrahim bakal membawa rizki sendiri. Karena yang namanya rizki kan ada tiga, yang pertama sesuatu yang habis dimakan (dan lebaran ndak mungkin lah ndak ada makanan), kedua sesuatu yang habis dipakai (baju baru, rumah baru, mobil baru, anting baru, gelang baru), dan yang ketiga sesuatu yang dipakai untuk diinfakkan (ayo zakat dan shadaqah dong, minimal bagi-bagi angpao lah ..he..he..). Nah lebaran dengan silaturrahimnya akan lengkap membawa unsur-unsur tadi.

Tiga, kenapa akan banyak orang yang bersilaturrahim di bulan-bulan mendatang? Tidak lain tidak bukan, karena selama 9 bulan mendatang, kampanye Pemilu 2009 telah digelar. Suka tidak suka, mau tidak mau, pasti akan banyak yang mendatangi kita (atau malah kita yang mendatangi? :mrgreen: ) untuk mengamankan suara parpol di Pemilu 2009. Makin banyak orang silaturrahim, makin banyak rizki yang diperoleh (entah dalam perspektif siapa…kqkqkq). Yang jelas prinsipnya, ada orang silaturrahim, ya kita harus menyambut dengan baik. Masalah parpol apa yang bakal dipilih? Ya kita berusaha memilih dengan cerdas, dan cermat. Pilih parpol yang track-recordnya bersih, memiliki kepedulian, dan orang-orangnya professional. Ya ndak?

😉

Lalu Lintas, antara Bandung dan Jogja

Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan main ke Bandung, silaturahim ke tempat kakak sepupu, ambil IELTS lagi, dan belanja tentu saja..he..he..

Selama di Bandung, dipinjamin sebuah kendaraan bermotor, buat muter-muter kesana kemari. Tidak banyak perubahan yang terjadi di Bandung selepas saya dari sana terakhir sekitar awal 2006 yang lalu, kecuali fly over yang sudah pada jadi. Yang jelas, satu hal yang jelas tidak berubah, lalu litasnya masih sama, semrawut.

Tapi ada perbedaan yang nampak, membandingkan dua buah kesemrawutan lalu lintas yang berbeda antara kota Jogja, dan kota Bandung. Ketika berada di Bandung, satu hal yang pasti, setiap kali di perempatan, lampu merah adalah sesuatu yang diindahkan untuk beberapa detik awal saja, kalau kira-kira dah capek ngantrinya, meski lampu belum hijau, ada saja (tidak cuma satu, ada banyak) yang kemudian langsung nerobos begitu saja. Tidak cuma motor, kadang mobil juga nylonong. Semrawut-semrawutnya jogja, biasanya pelanggaran lampu merah hanya saat tengah malam buta, atau pagi hari buta. Kalau siang hari, jarang deh yang nylonong.

Kedua, masih di lampu merah, biasanya di Jogja, kendaraan tetap berhenti di belakang zebra cross, sesekali ada sih yang nylonong, tapi ndak banyak. Lha di Bandung, hampir semua lokasi lampu merah, moncong kendaraan selalu maju ke depan lebih dari satu atau dua meter. Motor-motor juga tidak puas, dan nylonong hingga dua meter ke depan. Akibatnya? Ya pejalan kaki jadi sulit nyebrang. Sampai-sampai beberapa spanduk peringatan di pasang di beberapa penjuru kota, agar orang-orang ketika di lampu lalu lintas berhenti di belakang garis zebra cross.

Nah yang berbeda dari Jogja, kalau ada mobil yang butuh belok, atau nyebrang, dst, dikasih kesempatan sama pengendara lain. Kalau di jogja, budaya slonong boy dan tidak ngasih kesempatan untuk orang lain muterin mobilnya, atau nyebrang jalan masih banyak dijumpai. Saya kalau muter arah/mbalik mobil, biasanya sampai harus buka jendela, dan tangan kanan saya tak  keluarin dari kaca jendela, dan meminta kendaraan lain untuk berhenti.

Kedua yang berbeda, untuk kiri jalan terus, Bandung masih lebih baik, kalau di Jogja, niatnya sih jalannya buat kiri jalan terus, tapi biasanya sudah dipenuhi oleh kendaraan (baca: motor) yang ngantri di lampu merah, jadi di banyak tempat, kiri Jalan terus menjadi tidak bermakna, bagaimana bisa ke kiri kalau semua pengendara ngabisin space jalan.

Ya namanya tiap daerah beda-beda, aturan “kesemrawutan”nya pun beda-beda. Pepatah jawa bilang, “Desa mawa cara, Negara mawa tata“. Yang jelas kesimpulannya sama, dua-duanya sama-sama semrawut, dan tidak tertib lalu lintas. Eh, tapinya, emang ada ya di Indonesia ini yang daerahnya tertib berlalu lintas? :mrgreen:

Ubuntu, Sekali lagi

Screenshot-ubuntu Beberapa kawan sering bertanya, bagaimana sih menggunakan UBUNTU itu? Aplikasi-aplikasinya jalan ndak ntar?

Ada pula yang bertanya, bisa ndak jalanin Photoshop? Trus MS Officenya gimana? dan seterusnya. Pertanyaan yang wajar, mengingat sebagian besar dari mereka, sebagaimana saya dulu, adalah pengguna setia Microsoft.

Saya sendiri beranjak menjadi pengguna Ubuntu 90% (maksudnya sebagian besar waktu ada di Ubuntu) belum lama. Karena sebelumnya ya bagi-bagi lah, kadang di Windows kadang di Linux. Tapi berhubung saya ganti laptop, dan laptop yang baru preinstalled dengan Vista, dan saya sama sekali tidak menyukai Vista, maka kini, hampir sepanjang waktu berLaptop ria saya lebih banyak bekerja dengan Ubuntu.

Seorang desainer grafis pernah bertanya, bisa jalan ndak photoshop? Corel Draw? Saya jawab: bisa. Saya pernah menginstall Photoshop CS2 di ubuntu saya, dan jalan dengan sukses. begitu juga dengan Corel Draw, waluapun belum bisa yang versi X3, tapi versi-versi sebelumnya cukup baik berjalan di atas Linux (tentu saja semua dengan bantuan Wine: Wine is Not Emulator).

Bicara masalah eyecandy, seperti di Vista dengan Aeronya, atau tampilan MacOS yang eye-ctaching, maka Ubuntu pun juga tidak bakal kalah. Dengan dukungan compiz, tampilan Ubuntu saya makin "berasa", Screenshot-ubuntu2 dan bisa dipakai buat main-main lebih banyak. Kalau mau bersaing, saya bahkan berani ngasih skor lebih tinggi untuk permainan grafis antara Ubuntu dibandingkan dengan Vista.

Ubuntu juga bisa dipercantik dengan Screenlets yang memungkinkan kita menampilkan Jam Cairo ala MAC, kemudian indikator-indikator PC kita, indikator cuaca kota kita, RSS feed, dan lain sebagainya. 

Saat ini saya memang masih dalam proses "meracuni" banyak orang agar mau berpindah ke Ubuntu. Selain lebih cepat (ketimbang Vista), perkembangan yang luar biasa, plus dukungan LTS (Long Term Support), menjadikan Sistem Operasi ini sangat menjajikan di masa depan.

Jadi, mau bermigrasi ke Ubuntu? :mrgreen:

VMware server di Ubuntu 8.04 Hardy Heron

Semoga pengalaman saya ini dapat membantu mengatasi masalah yang mungkin dihadapi oleh rekan-rekan lain yang sedang “jatuh cinta” dengan UBUNTU, tapi menghadapi problem terkait dengan VMware server.

Untuk instalasi VMWare Server silakan download VMware Server 1.0.6 terlebih dahulu. Kalau saya sih biasana pake wget

wget -c http://download3.vmware.com/software/vmserver/VMware-server-1.0.6-91891.tar.gz

Kemudian kita download beberapa development tools yang dibutuhkan untuk menginstall VMware Server, dengan menjalankan perintah ini

sudo aptitude install build-essential linux-kernel-devel linux-headers-generic xinetd

Ekstrak file hasil download VMware Server dengan perintah

tar xf VMware-server-1.0.6-*.tar.gz
cd vmware-server-distrib
sudo ./vmware-install.pl

Setelah selesai, untuk menjalankan vmware, kita membutuhkan beberapa library gcc yang kurang, kita jalankan perintah

sudo ln -sf /usr/lib/gcc/i486-linux-gnu/4.2.3/libgcc_s.so /usr/lib/vmware/lib/libgcc_s.so.1/libgcc_s.so.1
sudo ln -sf /usr/lib/libpng12.so.0 /usr/lib/vmware/lib/libpng12.so.0/libpng12.so.0

Kemudian, untuk menjalankan VMwarenya sendiri, kita membutuhkan privilege sebagai root, sehingga saya tidak pernah menjalankan VMware dari menu Applications->System Tools->VMware Server Console yang tersedia, akan tetapi saya menjalankan dari terminal dengan perintah

sudo vmware

Meski demikian, setelah install saya selalu mengalami kegagalan saat hendak menyalakan Virtual Machine. Selalu saja muncul pesan error

Unable to change virtual machine power state: The process exited with an error:
End of error message.

Setelah cari-cari kesana kemari, ternyata problem ada di ownership dari direktori .vmware yang terletak di /home/user-kita/.vmware. Di mana sebelumnya ownership dimiliki oleh root, dan itu ternyata menimbulkan masalah. Solusi untuk problem ini adalah dengan mengubah ownership /home/user-kita/.vmware dari user root menjadi user-kita dengan perintah

chown user-kita.user-kita -R /home/user-kita/.vmware


Voila
, setelah itu, VMware server dapat berjalan dengan lancar di Ubuntu 8.04 Hardy Heron.

SPAM dari Operator … LAGI! Arghhh

Saya dulu pernah menulis, tentang gaya operator nyePAM para pelanggannya, yakni via SMS. Di SMS dituliskan suruh register ini lah, register itu lah, via “kata-kata sakti” REG SPASI blah..blah. Eh, kemarin serangan SPAM dari operator seluler lebih menggila lagi, tidak cukup dengan SMS tapi pake nelpon.

Sore-sore sepulang dari kantor, HP Esia tiba-tiba berdering, tak lihat, kok nomernya aneh, cuma 4 angka, dari siapa nih? Setelah diangkat, dan saya say “Hello….!”, eh dijawab “Hai, ini panggilan gratis dari ESIA, blah..blah..blah..”, selanjutnya dia memutarkan lagu RBT (Ring Back Tone) untuk dipilih, “Jika kamu ingin lagiu ini, tekan 1”, terus muter lagu lain sambil nyuruh nekan angka berbeda untuk pilih lagu kedua.

Wah, sadis bener. Kalau via SMS sih, sifatnya masih “menganjurkan” walaupun sedikit memaksa. Nah yang sekarang ini benar-benar memaksa pelanggan. Lha kalau lagi nggak pas konsen ndengerin suara dari si mesin tadi, bisa-bisa dia pencet angka-angka, dan akibatnya dia akan langsung subscribe ke Ring Back Tone (RBT), sementara dia sendiri tidak bermaksud langganan RBT. Resikonya? Jelas lah, pulsa langsung berkurang drastis.

Uedan tenan memang gaya operator seluler sekarang. Makin “pintar” memaksa orang beli produk varian mereka demi keuntungan. Om Bakrie nampaknya belum puas jadi orang terkaya seAsia Tenggara. Pokoknya, sedot habis pulsa para pelanggan.

Kata teman,”Eeee….Siapa suruh pake ESIA !!!”

Detik dan Okezone berbagi wartawan?

Saya kurang tahu, sumber berita kedua situs ini dari mana, tapi yang membuat sedikit aneh adalah, konten berita yang 90% mirip baik dari susunan kata dan kalimat. Adalah hal yang uaneh, dua situs berita kok bisa memiliki isi berita yang hampir sama persis. Apa mereka cuma mengutip dari situs yang lain? Atau dua-duanya ada sumber berupa “kertas” yang sudah berisi berita, trus tinggal dimodifikasi begitu saja?

Berikut capture sebagian paragraf dari detik

Yl dan Ul yang ditemui saat menengok rumahnya pada pukul 10.30 WIB, Rabu (2/7/2008),
mengaku telah diintrograsi oleh Densus 88 mengenai dugaan keterlibatan dengan jaringan terorisme. Dia pulang ke rumahnya untuk mengambil obat dan perhiasan di rumahnya.

“Kami diintrograsi soal terorisme. Tapi saya sendiri tidak tahu hal-hal yang berkenaan dengan terorisme yang dituduhkan mereka,” ujar Ul.

Berdasarkan informasi di lapangan, rumah yang digrebek itu disewa pria bernama Lohan (30) sejak dua tahun lalu. Tempat itu dijadikan rumah tinggal dan usaha warnet. Dia tinggal bersama seorang istri dan dua anaknya. Tapi saat penangkapan, mereka tidak berada di tempat dan hanya saudaranya saja yang dibawa.

Sementara berita dari okezone di paragraf yang sama:

Sementara itu, Yl dan Ul yang sempat ditemui saat mendatangi rumahnya pada pukul 10.30 WIB  Rabu (2/7/2008), untuk mengambil obat dan perhiasan di rumah yang telah di-police line itu, mengaku telah diintrograsi oleh Densus 88 mengenai dugaan keterlibatan dengan jaringan terorisme.

“Kami diintrograsi soal terorisme. Tapi saya sendiri tidak tahu hal-hal yang berkenaan dengan terorisme yang dituduhkan mereka,” ujar Ul.

Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, rumah yang digrebek itu disewa Lohan (30) sejak dua tahun lalu untuk rumah tinggal dan usaha warnet. Dia tinggal bersama seorang istri dan dua anaknya. Tapi saat penangkapan mereka tidak berada di tempat dan hanya saudaranya saja yang dibawa.

Yang jelas, penulisnya adalah dua wartawan yang berbeda, berita di detik diturunkan oleh yang bernama Taufik Wijaya, sementara di Okezone ditulis oleh Muhammad Uzair. Link berita di detik dapat dilihat di sini, sementara yang dari Okezone dapat dilihat di sini. Jadi siapa penulis pertamanya? Siapa membajak siapa? Atau dua-duanya cuma membajak tulisan dari seseorang saja? Wajar saja jika kredibilitas berita baik dari detik dan okezone dipertanyakan oleh banyak orang ..he…he…

Switch to our mobile site