Archive for Linux

Seamless Mode VirtualBox

seamless mode virtualbox

Dulu sempat “ngiler” melihat kemampuan VMWare fusion, yang bisa menjalankan “seakan-akan” aplikasi di Virtual Machine terinstall OS lain (OS guest) bisa berjalan dalam jendela yang sama dengan OS host. Tapi berhubung, satu, VMWare fusion hanya jalan di Apple Mac, dua, dia software berbayar, jadinya cuma bisa berpuas diri dengan video yang banyak diupload di Internet.

Tapi kini, setelah VirtualBox diakuisisi oleh SUN Microsystem, ada satu fitur yang sangat menyenangkan, yakni Seamless Mode (diaktifkan dengan Right-Ctrl + L), yang memungkinkan aplikasi yang dijalankan di guest OS bisa tertampil di host OS.

Di tampilan atas, saya menjalankan Totem Movie Playernya Ubuntu Jaunty (yang diinstall di guest OS), di atas jendelanya Windows XP. Jadi dengan mode seamless, si Totem pun bisa dipindah-pindahkan layaknya aplikasi yang berjalan di atas Windows, padahal dia jalan di atas platform Ubuntu Jaunty.

Dan yang jelas, sekarang VirtualBox menjadi semakin ringan (tidak seperti saat awal-awal dulu) untuk dijalankan di PC. Coba saja, dan rasakan bedanya.

VMware server di Ubuntu 8.10

Setelah sukses mengupgrade Ubuntu saya dari 8.04 ke 8.10, ternyata ada sedikit masalah. VMware saya ternyata tidak mau jalan. Teringat kalau upgrade kernel berarti harus menjalankan kembali VMware configuration, maka saya pun menjalankan perintah

andri@andri:~$ sudo /usr/bin/vmware-config.pl

Setelah mengikuti semua prosedur yang ada (maksudnya tekan Enter terus menerus), ternyata konfigurasi yang dilakukan gagal. Gawat, padahal VMware selama ini cukup membantu saya untuk menjalankan aplikasi Windows yang tidak bisa berjalan (dengan sempurna) dengan menggunakan Wine (Wine is not Emulator).

Googling sebentar, akhirnya menemukan cara untuk melakukan update VMware agar dapat berjalan di Ubuntu yang baru.

Pertama: download dulu script untuk update di sini

Kedua: ekstrak scriptnya dengan menggunakan perintah andri@andri:~$ tar xzvf vmware-update-2.6.27-5.5.7-2.tar.gz

Ketiga: masuk ke folder ekstrak, kemudian jalankan perintah andri@andri:~$ sudo ./runme.pl

Keempat: done! jalankan vmware kita yang bermasalah tadi andri@andri:~$ vmware

VMware-ku kembali sehat wal afiat :mrgreen: he..he.. Semoga artikel ini bermanfaat, terutama yang menghadapi masalah yang sama 😉

Untuk referensi lengkap dapat diakses di http://www.insecure.ws/2008/10/20/vmware-specific-specific-55x-and-kernel-2627

Upgrade Ubuntu 8.10

Hari jumat kemarin, laptop diupgrade dari Ubuntu 8.04 (Hardy Heron) ke Ubuntu 8.10 (Intrepid Ibex – susah juga ya namanya ..he..he.. 😀 ). Seharian dia minta upgradenya, maklum lah, koneksi yang dipergunakan tidak seberapa kenceng. By default sih, Ubuntu 8.04 tidak menyediakan upgrade karena sifatnya yang LTS (Long Term Support), sehingga di bagian administrasi untuk upgrade Ubuntu harus sedikit diubah. Silakan baca di sini mengenai cara-cara upgradenya.

Yang jelas, setelah upgrade selesai, ada satu hal yang cukup membuat surprise, yakni fitur 3G connection managernya. Saat laptop tercintah si hitam X61 direstart, dan kemudian dimasukkan card HSDPAku ke PCMCIA, eh tiba-tiba muncul sesuatu di desktop yang menunjukkan indikator siap terkoneksi dengan jaringan HSDPA (3.5G). Kemudian muncul wizard pilihan operator, cukup lengkap mulai dari AXIS, IM3, Indosat (mentari & matrix), Telkomsel, dan XL. Meski demikian, karena saya menggunakan IndosatM2 unlimited, profil Indosatnya jadi ndak match (APN, kemudian username dan password), jadi ya bikin profil sendiri.

Kemudian adanya tambahan fitur guest, yang memungkinkan kita meminjamkan laptop kita ke teman, misal dipakai buat ngecek email, atau aktifitas ringan lain, yang tentu saja tidak memungkinkan mereka mengakses folder-folder pribadi kita.

Fitur hibernate dan suspend cukup bagus, so far tidak ada problem. Karena sebelumnya di Ubuntu 8.04 Hardy Heron, kadang fitur ini masih suka memberikan trouble, meski sifatnya intermittent (kadang OK kadang ndak OK). Jadi sejauh ini, sangat satisfy dengan fiturnya. Apalagi problem sebelumnya di Lenovo X61 ketika diinstall Ubuntu adalah panasnya palmrest di sekitar fingerprint reader, setelah diupgrade, eh panasnya ilang, jadi makin sip deh!

Kemudian fitur power management yang ditambahkan dengan software powertop semakin menurunkan wattage yang dibutuhkan. Bahkan kadang lebih rendah dari Windows Vista yang memang secara default merupakan bawaan laptopku. Di Vista (yang diunggulkan karena fitur Power Management) biasanya jalan di rentang 13 – 15Watt, dan di Ubuntu 8.10 setelah dioptimalisasi dengan powertop, penggunaan dayanya juga pada kisaran 12 – 15 Watt, jadi cukup bersaing dengan Vista, yang artinya bisa menggunakan laptop untuk jangka waktu yang lebih lama. Kalau Vista biasanya sekitar 5 jam, Ubuntu pun sekarang dapat mencapai angka yang sama. Padahal kalau di Vista fitur Aeronya dimatikan, sementara di Ubuntu fitur Compiznya tetap nyala.

Tinggal nunggu ntar fitur wine dkk (yang nampaknya semakin maju aja), yang makin memungkinkan lebih banyak aplikasi di bawah Windows bisa jalan di Linux.

Anda masih belum menggunakan Linux? Coba saja Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex dan rasakan bedanya!

Switch to our mobile site