Archive for Islam

Web App Al Mathurat for iPhone

Kalau kemarin saya sudah rilis Al Mathurat untuk Android, maka sekarang Al Mathurat ini bisa diakses dari browser (baik via HP/komputer – rekomendasi: safari/chrome), dengan catatan harus memiliki koneksi ke internet saat membuka Web App ini.
Bagi pengguna iPhone/iPod Touch, silakan ikuti step berikut (ada di gambar), untuk merasakan experience sebagaimana full apps yang ada di Android (https://market.android.com/details?id=com.andri.almathurat).
1. Buka dengan browser Safari, ketik URL: andrisetiawan.com/mathurat
2. Setelah website terbuka, tekan tombol untuk membuka menu bookmark, dll (tembol kotak dengan anak panah)
3. Pilih Add to Home Screen
4. Silakan di Add (title dapat diedit jika perlu)
5. Di homescreen akan ada icon baru (selayaknya Apps)
6. Tampilan apps akan seperti screenshot di bawah ini

Idul Fitri = Kembali Suci?

Beberapa hari lagi, insya Allah bulan Ramadhan 1429 H akan segera berakhir, dan kita akan memasuki 1 syawwal yang merupakan satu dari dua hari raya yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kaum muslim.

Seringkali kita mendengarkan, baik itu berupa ceramah, iklan, ataupun perbincangan di antara kita, dengan mengatakan “mulai dari nol ya pak!” yang bermaksud manusia kembali ke dalam kesuciannya, karena fitrah manusia adalah suci dari segala macam jenis dosa.

Tapi benarkah Idul Fitri artinya merupakan kembali suci? Kita coba lihat. Fitri (arab فطر ) artinya adalah berbuka. Ingat do’a berbuka? … Wa ‘alaa rizqika afthartu .. dan dengan rizqiMu aku berbuka. Jadi Idul Fitri bermakna kembali berbuka. Yang berarti kita boleh kembali makan selepas bulan Ramadhan.

Entah siapa yang memulai, kemudian diartikan kembali suci. Sesungguhnya kesucian hanya bisa diperoleh dengan ketaqwaan. Kita sebenarnya bisa mengira-ira, apakah kita telah benar-benar menjadi manusia bertaqwa. Indikator sederhananya, kita merasa sedih ditinggalkan oleh Ramadhan, dan ibadah kita makin rajin di akhir Ramadhan, dan mempertahankannya pasca Ramadhan.

Jadi ada baiknya kita kembalikan istilah ini kembali pada istilah sebenarnya, yakni kembali makan. Masalah kesucian, sebaiknya kita lakukan muhasabah saja, evaluasi sejauh mana ibadah kita berjalan dengan sukses. Jangan mencampur kembali boleh makan dengan kembali suci … otre!

😉

Pelajaran Kultum Shubuh Pagi Ini

Rehat sejenak 😉

Satu: Kenapa masjid-masjid jaman dahulu, biasanya ditanami pohon Sawo?

Karena, untuk mengingatkan para jama’ah masjid sekalian untuk senantiasa meluruskan shaf shalat mereka.

Ingat kan ungkapan ini: “Sawwu shuffufakum …”

Sejak itulah Sawo ditanam di depan masjid

Dua: Orang kaya biasanya memberikan sumbangan kepada pengemis. Mereka berbagi kekayaan yang dimiliki untuk orang lain, karena di harta mereka terdapat hak yang bukan milik mereka.

Karena itulah, orang yang punya kelebihan iman, jangan pernah merasa senang shalih sendirian. Dia harus ngajak teman-teman yang lain. Biar kapalnya nggak tenggelam (maksudnya?) Jadi iman yang berlebih harus dibagi-bagi kepada yang miskin iman. Biar mereka “sregep” juga ibadahnya.

Jangan membiasakan "Membatalkan Puasa"

Kebiasaan orang-orang (setidaknya di tempat saya), adalah ketika waktu maghrib tiba, mereka akan mengatakan ..”Ayo, puasanya dibatalkan dulu …”, atau ketika tengah-tengah berbincang, adzan maghrib berkumandang .. “Ndang, posone dibatalke dhisik …” (Segera batalin dulu puasanya).

Kalau mau ditelaah lebih dalam lagi, sebenarnya penggunaan kata membatalkan puasa tentulah tidak tepat. Batal secara harfiah sama dengan Cancel dalam bahasa inggris. Puasa dapat batal karena tiga perkara, satu makan, dua minum, tiga berhubungan seksual suami-istri/keluar mani dengan berbagai macam cara. Kapan puasa dikatakan batal? Ketika perkara yang membatalkan puasa tersebut dilakukan di siang hari.

Lalu bagaimana jika perkara-perkara tersebut dilakukan di malam hari? Ya tentu saja tidak akan membatalkan puasa, gimana mau batal, lha malam hari puasa aja nggak kok. Ya to? Sehingga ketika maghrib telah tiba, apakah dengan makan dan minum akan membatalkan puasa? Tentu saja tidak, karena saat itu adalah waktunya berbuka, dan makanan serta minuman telah dihalalkan kembali untuk kita nikmati.

Dari sini nampak jelas perbedaannya. Mengatakan “Mari membatalkan puasa dulu ..” di saat maghrib sama dengan Let’s CANCEL our fasting by eating food and drinking water, sementara mengatakan “Mari berbuka puasa lebih dulu ..” sama dengan Let’s FINISH/COMPLETE our fasting by eating food and drinking water. Jadi konteks kalimat membatalkan puasa ketika memang waktunya bukan untuk berpuasa tentu saja tidak tepat. Membatalkan puasa hanya dilakukan saat tengah hari bolong, ketika memang diharamkan perkara-perkara yang dapat membatalkannya.

Jadi?  Mari biasakan untuk tidak mengatakan membatalkan puasa untuk mengganti kata-kata berbuka puasa.

Hadits-hadits terkait dengan Ramadhan (1429 – 3)

إذ كان ص م يكثر من تلاوة القرآن الكريم فى رمضان ٬  نجبريل عليه السلام يدارسه القرآن في رمضان

Adalah Nabi SAW memperbanyak membaca Alquran Al Kariim di bulan Ramadhan, dan Malaikat Jibril ‘alayhi salam, mengajarkan kepada nabi Alquran pada bulan Ramadhan (HR. Bukhari)

Barangkali ada di antara anda sekalian yang pernah membaca surat cinta dari sang kekasih, tidak cukup semenit, dua menit surat itu dibaca, dibolak-balik, dipandang pandang, dicium-cium kertasnya, dibaca di ruang tamu, dibaca di kamar tidur, dibaca di tepi sungai, dan seterusnya. Surat cinta yang menjadikan semuanya indah di depan mata.

Bagaimana kalau kemudian surat cinta ini datang dari kekasih yang paling tinggi cintanya, Allah SWT. Apakah kita akan membacanya seperti yang sudah saya sebut di atas? Ya tentu saja cara mengekspresikannya akan lain. Akan tetapi, Alquran adalah merupakan surat cinta yang diberikan kepada kita, tidak sekedar luapan dan curahan perasaan, tapi dia merupakan bukti bahwa Allah SWT cinta kepada kita, menginginkan yang terbaik bagi kita semua, maka dijadikanlah olehNya, bahwa surat cinta ini menjadi guidance alias petunjuk bagi yang membacanya. (Ya iyalah, masak orang yang ndak pernah mbaca terus mak jegagig dapat petunjuk? Ya non sense lah.)

Dan bulan Ramadhan adalah bulan ketika Nabi SAW memperbanyak bacaan Alquran. Jauh lebih banyak ketimbang hari-hari biasa. Sebenarnya saat Ramadhan, kemampuan baca Alquran kita akan meninggi, karena banyak kawannya ..he…he.. Jadi mumpung banyak temen yang sedang tilawah, kita ikutan saja, turut merasakan aura bacaan Alqurannya. Jadi, puasa tidak menjadikan kita lemes untuk membaca Alquran, justru malah akan makin semangat.

Ganbatte!

Hadits-hadits terkait dengan puasa (1429 – 2)

الصلوات الخمس , والجمعة ٳلى١لججمعة ، ورمضان ٳلى رمضان 

مكفرة لما بينهن ، ٳذا اجتنبت الكبا ىٔر

Sholat yang lima (waktu), dari (sholat) jum’at satu ke jum’at (berikutnya), dari ramadhan ke ramadhan berikutnya, akan menghapuskan (dosa) di antara keduanya, selema mereka meninggalkan Al Kabaair (dosa besar) – HR Muslim dalam bab Thaharah

Bisa dibayangkan kan? Betapa mudahnya Allah SWT menghapuskan dosa kita. Cukup dengan sholat lima waktu sehari, kemudian sholat jum’at, dan menjalankan romadhon. Maka dosa-dosa kecil yang menyertai kita setiap hari akan terhapus, wiped completely. Dengan satu syarat, bukan termasuk dosa besar (membunuh, berzina, durhaka kepada orang tua, dan musyrik).

Kalau kita hitung-hitung kembali, “investasi” ibadah kita yang “sangat kecil” itu ternyata memberikan manfaat yang besar yang jauh dari perkiraan kita. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah? Semuanya pasti pernah melakukan dosa ma’shiyat, yang menjadikan kita ternodai noktah hitam di hati kita. Akan tetapi, dengan keMaha Pengampunnya Dia Allah ‘azza wa jalla, semua itu dianggap tidak pernah terjadi.

Lalu, kenapa masih banyak di antara kita yang enggan dengan perkara-perkara ringan ini? Menjalankannya masih dengan setengah hati, tidak khusyu’, sementara balasan yang diberikan, sangat jauh luar biasa.

Kalau anda?

Switch to our mobile site