Archive for Islam Sosial

Lu nggak liat status gue di facebook?

Ente kemana aja sih, nggak pernah keliatan broer?

“Ye alah … elu nggak liat status di facebook gue ya?”

Dibilang menjalin silaturrahim, iya. Tapi dibilang memutus silaturahim, juga iya. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu, hari demi hari berlalu, tidak terlewatkan kecuali dengan mengupdate status di facebook. Berlomba-lomba mengupdate status, sekaligus berlomba-lomba memelototi status kawan di facebook.

Barangkali, dulu saat pertama kali telepon keluar, mungkin juga sama kali ya. Tadinya orang butuh ketemu untuk sekedar say hello, tanya kabar, berpamitan, dlsb, kemudian acara-acara itu digantikan oleh telpon, meski saya yakin, penggantian tersebut tidak sedahsyat era jaman sekarang, ketika Web 2.0 turut mendrive situs perkawanan macam facebook.

Kadang geli juga sih melihat perubahan status kawan-kawan di facebook, tapi kadang juga “gondok”, apalagi buat yang jarang memelototin facebook, tiba-tiba kawan kita menghilang, pergi entah kemana, diSMS ndak delivered apalagi mau bales, dan lain sebagainya, ketika akhirnya berjumpa, cuma senyum nyengir sambil berkata “Elu nggak liat status gue di facebook ya? Gue kan pergi ke luar kota, ada urusan penting!.” Atau bagi yang tinggal di LN biasanya makin terasa lagi “gondok”nya. Ndak ada kabar-kobari, tiba-tiba “cling” ilang begitu saja, gak ada kabar berita sama sekali. Ternyata pergi ke negara lain, atau pulang kampuang ke Indo. Dan guess what, satu-satunya petunjuk kita kalau dia pergi hanyalah status update di facebook.

Nampaknya untuk sekedar ngomong, pamitan, sapa, dan lain sebagainya sudah mulai sedikit demi sedikit tergantikan oleh facebook. Buruk kah? Mungkin ndak juga, tapi ya kadang kebangetan sih 😉 Ingat-ingat, silaturrahim itu memperpanjang umur dan meluaskan rizki. Paling ndak, kalau ketemu face to face, feel-nya lebih terasa gitu lah, daripada cuma sekedar update di facebook, terutama buat temen-temen yang tinggalnya deketan (kecuali bagi kawan-kawan yang memang tinggal saling berjauhan, update di facebook paling ndak mengobati keinginan silaturrahim yang belum terwujud). Paling ndak jangan kaya Benny dan Mice di bawah ini:

Benny&Mice Facebook

Pengadilan publik

Jika berada di pengadilan, maka tentu saja akan dibutuhkan alat bukti, saksi, berita acara pemeriksaaan, dan tentu saja komponen-komponen terkait, seperti hakim, jaksa, terdakwa, pengacara, dan seterusnya. Proses peradilan melalui tahapan yang cukup panjang, hingga pada akhir keputusan apakah terdakwa dipastikan bersalah dan dihukum, ataukah kemudian dibebaskan karena tuduhan tidak terbukti. Ini idealnya proses dalam peradilan. Masalah kemudian apakah keputusan adil atau kadang tidak adil, tapi proses hukum telah berjalan.

Akan tetapi, dalam kehidupan bangsa Indonesia, ada pengadilan yang “lebih kejam” dalam memutuskan suatu perkara. Yakni yang disebut pengadilan publik. Publik beramai-ramai menghukum seseorang, yang belum tentu apa yang dia lakukan merupakan kesalahan. Kalaupun kemudian bersalah, lebih sering yang terjadi adalah “character assasination”, alias pembunuhan karakter besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, media pun turut memanfaatkan kesempatan yang sama untuk “membunuh” seseorang atau kelompok atau golongan.

Untuk mempermudah penggambaran, kita coba lihat kasus yang pernah terjadi pada mantan presiden Bill Clinton (kita lihat nanti perbandingan bagaimana publik Amerika menghakimi dia dengan publik Indonesia menghakimi seseorang). Kasus “main wanitanya” Bill Clinton terbuka ke publik. Ancaman impeachment berada di depan mata, tapi kemudian timbangan yang menjadi ukuran publik tidak hanya kasus main wanitanya dia, tapi juga performance yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Bill Clinton. Rasionalitas dipakai, dan bukan semata emosionalitas. Performa Bill Clinton dianggap jauh sekali lebih baik ketimbang skandal yang dilakukan oleh dia, hingga pada akhirnya publik pun “memaafkan” tingkah laku “amoral” dia. Sebagai catatan, saya sama sekali tidak mendukung perbuatan main wanitanya Bill Clinton, hanya mempermudah memahami tulisan ini.

Sekarang kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, saya beri contoh gampang, Aa’ Gym. Karirnya sebagai da’i yang melejit pesat, jama’ah yang berduyun-duyun datang untuk mendengarkan pengajiannya yang menyejukkan, masyarakat sekitar Daaru Tauhid yang pada akhirnya cukup makmur, dan dianggap sebagai miniatur kampung santri nan modern, tiba-tiba dihempaskan sehempas-hempasnya oleh publik Indonesia. Aa’ Gym yang tadinya dijadikan sebagai ikon, telah dianggap bak “malaikat” oleh kebanyakan masyarakat. Masyarakat memiliki over ekspektasi terhadap seseorang bernama Aa’ Gym. Dia dijadikan seseorang yang tidak boleh memiliki cela, cacat, dan kesalahan. Publik telah mendewakan beliau, sehignga pada akhirnya, ketika ada satu poin “kesalahan” (kalau boleh dianggap kesalahan) yang beliau lakukan, ekspektasi berlebihan tadi (ekstrim terhadap ekspektasi kebaikan) menjadikan mereka tidak bisa menerima keaadan beliau yang berpoligami. Ramai-ramai masyarakat menghakimi, “Ah ternyata sama saja bejatnya dengan fulan A .. fulan B”, “Da’i kok begitu …”, demikian seterusnya. Tanpa ba..bi..bu, masyarakat + media beramai-ramai melakukan pengadilan publik dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Fenomena lain semisal, PKS. Sebagai partai dakwah, fenomena keberadaan mereka memang membuat banyak orang merasa “gentar”. Kebaikan yang ditebar, dipropagandakan, dan dilaksanakan oleh PKS memberikan ruang pengharapan tersendiri ke publik. Tapi ternyata model masyarakat Indonesia memang melankolis. Tidak rela jika “idola” mereka melakukan kesalahan. Kasus yang mirip Aa’ Gym pun terjadi, sebagai partai yang terus disorot oleh publik + media (mohon koreksi, ini yang saya baca di banyak media massa – terutama yang online), maka berita PKS menolak sogokan, berita PKS melakukan aksi kepedulian, dan lain sebagainya tidak akan pernah lagi dianggap sebagai berita MENARIK oleh publik (baca: media). Berita dari PKS akan dianggap menarik jika dan hanya jika, berita tersebut “kontroversial” dan kira-kira memberikan nilai tambah “keburukan” bagi citra PKS. Sesuatu hal yang dianggap “biasa” di partai yang lain (skandal, korupsi, dlsb), akan menjadi kehebohan tersendiri bagi banyak orang jika terjadi di PKS. Kasus Aleg DPRD Jambi dari Fraksi PKS yang “tertangkap” sedang pijat di panti pijat (meski di berita pun disampaikan, panti pijatnya bukan panti pijat plus, bahkan panti pijat legal dan resmi), dijadikan sebagai amunisi oleh publik untuk melakukan penghakiman, bahkan di salah satu TV swasta (SCTV – liputan6.com) diberitakan sedang melakukan perbuatan mesum, padahal di media yang lain ndak ada yang menuliskan seperti itu. Sama persis seperti Aa’ Gym, publik bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang lain (atau mungkin mereka sendiri pelakunya), tapi sama sekali tidak bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang baik. Dan pada akhirnya, setiap ada kesempatan, “ngapain pilih PKS, alegnya saja pijitan???” Come On, satu keburukan dibanding sekian ribu kebaikan dari aleg yang lain sudah cukup kah untuk justifikasi kepada lembaga ini? Inilah sebagaimana kata pepatah yang memang terlalu melekat kuat di masyarakat kita, sehingga benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni “Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga“. Tapi kalau Nila Sebelanga, kena Susu sedikit, dianggap sudah biasa saja (kebalik bukan?)

Masyarakat kita memang melankolis, di satu sisi akan melambungkan seseorang ketika mereka merasa mendapat kebaikan darinya, di sisi lain, tidak segan-segan menghancurkan dengan sehancur-hancurnya ketika mereka melihat keburukan (baca: kekurangan) yang ada darinya. Manusia bukanlah malaikat yang bebas dari kesalahan, bahkan Allah SWT ketika di hari akhir pun melakukan penimbangan, ditimbang, mana yang lebih berat, apakah kitab di tangan kanan, atau kitab di tangan kiri/punggung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia pasti bersalah, lha ketika di hari akhir saja dihadapkan dengan membawa kitab (kejahatan) di tangan kiri, hanya saja kemudian dihitung, antara kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak. Keputusan dilakukan setelah proses pengadilan berjalan.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bersalah, kemudian dia bertaubat? (At Tawwabiin). Bagaimana mungkin kita merasa lebih adil dari Allah SWT, dengan menghakimi seseorang tanpa ampun, tanpa boleh melakukan eksepsi, tanpa boleh melakukan pembelaan, tanpa boleh melakukan perbaikan? Bahkan di salah satu kisah yang disampaikan Nabi SAW tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua, satu hal yang membuat pintu gua terbuka adalah kasus pemuda yang nyaris berzina (tinggal satu step lagi), kemudian dia meninggalkan zina tersebut karena diingatkan tentang Allah SWT.

Jadi, masihkah kita akan mudah melakukan penghakiman terhadap seseorang sedemikian mudahnya?

Berhaji dengan baik

Sebagai salah satu rukun Islam, ibadah haji merupakan kewajiban bagi setiap muslim (yang mampu). Dalam konsep Islam, rukun Islam yang tidak ditunaikan (satu saja), mengakibatkan batalnya keIslaman seseorang, sehingga berhaji menjadi urusan yang sangat penting, terutama bagi yang mampu.

Di Indonesia sendiri, sangat banyak sekali yang ingin menunaikan rukun terakhir dari rukum Islam yang lima, Alhamdulillah. Kalau jaman dulu, baru bisa pergi haji kalau sudah punya uang, kalau jaman sekarang, punya uang saat ini, belum tentu bisa berhaji tahun ini pula. Ngantri gitu…he..he..

Berapa banyak yang sudah bayar sekarang, baru bisa berangkat tahun depan, atau tahun depannya lagi, atau bahkan tiga tahun lagi. Kondisi seperti ini, membuat sebagian orang yang tidak sabar ingin segera berhaji, kemudian melakukan cara-cara yang “ilegal” agar dapat diberangkatkan tahun ini juga.

Bagi yang hajinya menggunakan ONH plus biasanya memang dapat berangkat pada tahun yang sama dengan saat dia daftar. Problemnya adalah yang di haji reguler. Seringkali para calhaj ini menggunakan cara ilegal agar mereka dapat berhaji. Sebagai contoh misal “nembak KTP” kabupaten atau provinsi lain yang kuota masih tersedia. Kasus ini pula yang menyebabkan kacau balaunya haji di propinsi Jawa Barat di tahun ini. Orang Jakarta yang sudah kehabisan kuota, kemudian lari ke Bekasi, agar dapat berangkat dari Bekasi. Akibatna, orang-orang jawa barat sendiri pada akhirnya gagal kuota karena “jatah” mereka diambil oleh orang-orang Jakarta.

Berita yang lain, tentang kasus penipuan calhaj di Medan yang baru saja terjadi, sebenarnya juga kesalahan dari para calon haji sendiri. Seorang ibu kabag di bagian haji, mengaku bisa “menyisipkan” orang-orang agar mereka dapat berangkat haji tahun 2008 ini. Yang tertipu berapa banyak? 62 orang, dengan total penipuan lebih dari 1.5 Milyar. Para calhaj ini punya andil besar, mereka terburu-buru, tidak sabar, dan pada akhirnya “minta tolong (dengan kata lain, hampir mirip suap lah)” kepada orang dalam agar bisa diberangkatkan. Akhirnya justru mereka menjadi korban penipuan.

Berhaji adalah suatu ibadah yang niatnya harus ikhlas, lurus, bersih, begitu pula proses keberlangsungannya, baik pre departure, saat disana, dan ketika kembali pulang. Lha kalau awalnya saja sudah dicederai dengan cara-cara yang tidak benar, bagaimana mungkin bisa berharap kembali dengan status mabrur???

Berbagi kebaikan

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain”

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sebelum mencintai saudaranya, sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”

“Apakah kalian tidak memperhatikan, bagaimana Allah membuat perumpamaan, sebuah kalimat yang baik, sebagaimana pohon yang baik. Akarnya menghunjam ke dalam, dan batangnya menjulang tinggi ke langit. Dia memberikan buahnya pada setiap musimnya dengan izin Tuhannya. Dan Allah memberikan perumpamaan demikan agar manusia agar mereka mengingatnya.” (QS Ibrahim: 24-25)

Di salah satu milis yang saya ikuti, saya menulis di sana, bahwasanya seorang muslim bukanlah muslim yang benar, akan tetapi muslim yang mbelgedhes, ketika dia tidak mampu berempati, berperilaku yang baik kepada manusia yang lain, menolong saudaranya dan lain sebagainya.

Kadang saya juga heran, kenapa manusia-manusia (Indonesia) yang mayoritas muslim ini tidak pernah susah menunjukkan budaya tertib, budaya antri, budaya toleransi, budaya disiplin, budaya tepat waktu, dan lain sebagainya, yang sebenarnya dalam Islam sudah diajarkan itu semua. Mungkin karena para manusia (muslim) ini memang enggan dan tidak pernah mau belajar tentang agama mereka, meski di dalamnya kebaikan yang ditimbulkan sungguh luar biasa.

Merasa bahwa ubudiyah berdimensi vertikal sudah lah cukup, sibuk berdzikir, berdoa, berhaji, berumrah, berpuasa, tapi lupa dengan sekitarnya. Semoga surat Ibrahim ayat 24 dan 25 cukup bisa memberikan gambaran. Bahwa dimensi vertikal ternyata tidaklah cukup, menjadi manusia yang baik dengan manusia yang lain ternyata bagian penting dari beragama.

Mumpung ramadhan belum berakhir, tiada salahnya kok berbagi kebaikan dengan sesama. Berbagi cinta dan kasih, sehingga para malaikat pun akan bershalawat kepadanya.

medio I’tikaf, pulang bentar buat ngeblog 😉 –

Penentuan Awal Ramadhan

Beberapa tahun terakhir di Indonesia kita terbiasa berbeda-beda dalam menentukan awal puasa, begitu juga saat menentukan akhir puasa. Sehingga terpaksa menjadi lazim, bahwa dalam satu keluarga, satu desa, satu kota, berbeda-beda puasa dan lebarannya. Tentu hal ini kurang menyenangkan. Rasanya agak gimana gitu, yang satu sudah puasa, tetangganya masih berbuka, besoknya pas lebaran, yang satu sudah makan-makan, yang satu masih berpuasa.

Perbedaan ini terjadi karena ada dua pendapat penentuan awal Ramadhan. Yang satu berdasar pada metode Hisab (perhitungan matematika), dan yang satu berdasar pada metode Rukyat (melihat bulan).

Praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu ya dengan melihat bulan secara langsung, alias menggunakan rukyat. Saat itu memang ilmu astronomis belum semodern dengan penghitungan di masa sekarang. Dalam metode rukyat, bulan baru dianggap sudah masuk apabila si bulan baru sudah terlihat di horizon. Bulan baru ini jangan dibayangkan akan nampak dengan jelas, karena hanya nampak seperti garis saja. Sehingga kalau terlambat sebentar saja, dan posisi bulannya tidak tahu pastinya ada di sudut mana, ya susah. Dengan metode ini bulan baru akan bisa terlihat jika sudah lebih dari 3 atau sebagian lain mengatakan 5 derajad di atas horizon. Artinya walau secara matematika sudah lebih dari 0 derajad, tapi merupakan mission impossible untuk melihat dengan ketinggian yang relatif pendek, misal 1 derajad.

Praktek hisab ditunjang oleh perhitungan astronomi, yang dapat menentukan dimana posisi bulan berada pada saat tanggal tertentu. Bahkan dengan free software seperti Stellarium http://www.stellarium.org, kita dapat melihat di mana posisi bulan berada dari berbagai belahan dunia. Metode hisab sendiri dibenarkan, berdasar pada apa yang telah disampaikan dalam Alquran di surat Yasin ayat 38-40

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”

” Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah – manzilah, sehingga ( setelah dia sampai pada manzilah yang terakhir ) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”

” Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing – masing beredar pada garis edarnya”

Sebenarnya dua metode ini dapat saling mendukung satu sama lain, artinya hisab perlu dilakukan agar rukyat lebih akurat. Bahkan kalau saya melihat, bahwa meskipun tertutup awan, tapi dengan teknologi sekarang misal dengan cahaya infra, kita tetap dapat melihat bulan dengan bantuan perhitungan hisab untuk secara akurat menentukan posisinya.

Sebenarnya masih ada satu metode lagi, bukan hisab bukan rukyat, tapi metode Ukhuwwah Islamiyyah … he…he… meski bukan metode “sahih” dalam menentukan awal/akhir bulan, setidaknya metode ini akan mencegah terjadinya “congkrah” dalam komunitas muslim. Persatuan dalam Islam hukumnya wajib. Lalu bagaimana implementasinya? Ya kalau di suatu lokal/wilayah sebagian besar penganut pro Hisab, ya sudah, ikut saja. Kalau ternyata pro rukyat sebagian besar, apa salahnya yang pro Hisab ikutan rukyat. Karena dalam hadits, kita berbuka/lebaran bersama dengan orang-orang yang berbuka. Kalau minoritas, dan kemudian berbeda sendiri, tentu menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan di antara kita.

Jadi? Bagaimana pendapat anda?

Dalam sebuah angkot ada obrolan anak-anak SMA yang sedang membahas tentang acara valentine. Mereka sibuk mempersiapkan
A: Kamu sudah nyiapin buat tanggal 14 besok?
B: Aku sudah beli coklat, terus beli kotak pink, sama pita.
A: Wah, asyik ya. Aku baru beli coklat bentuk hati nih
Saat A dan B ngobrol, ada satu kawannya, C, yang diam saja.
B: Eh, kalau kamu sudah persiapan belum buat tanggal 14?
C: Tanggal 14? Emang ada apaan?
A: Yee, ya valentinan lah.
C: Oh, valentine. Kalau aku tanggal 13 sih.
A+B: Loh, kok tanggal 13?????
C: Iya, aku kan Muhammadiyyah
A+B: !@)!&#!(*^#!#!!!! GUBRAXXXX!

:mrgreen:

Switch to our mobile site