Archive for General Thoughts

Back from hiatus [w/ the purple jacaranda]

Wedew … sudah lama sekali blog ini tak terurus :(
Si Penulis terlalu sibuk membuat framework risetnya nih … hiks…

Sebagai penyemangat awal, naruh video ini dulu aja deh

Mulut “kotor” para komentator detik.com

Hanya satu kata: Benci aku!

Apapun topik yang ada dan muncul di berita, sepertinya tidak bisa tidak, yang muncul adalah sumpah serapah, kata-kata kotor, dan lain sebagainya. Benar kata salah seorang kawan yang bercerita bahwa ada seorang peneliti, melakukan penelitian tentang masyarakat Indonesia, dan kesimpulan dia, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sedang sakit. Sakit jiwa, tapi mereka tidak menyadarinya, sakit yang sedemikian parah, tapi herannya mereka begitu menikmati sakitnya mereka.

Betapa manusia Indonesia menjadi manusia yang tidak ingin diatur, menang sendiri semuanya, hidup dengan rasa curiga dan saling benci, terekspresikan dari mulut-mulut mereka yang tidak bisa berkata-kata dengan baik, ungkapan kotor, dan begitu banyak hal lain.

Dengarkanlah suara hati ini wahai pemilik dan pengelola detik.com, tutup saja halaman komentarmu itu, jijik rasanya membuka kolom komentar yang irasional, penuh kebencian, dan berbagai macam ungkapan kotor serta sumpah serapah itu!

Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatimu (dengan mengingkarinya) …..

Siap siap cari topik baru

Berhubung hajatan pemilu (legislatif) 2009 dilaksanakan hari ini, nampaknya kunjungan ke blog ini akan kembali turun setelah pernah mencapai 2000 lebih page visit 😉 dalam satu hari.

Sekarang cari topik baru lagi yang kira-kira bakalan menarik pengunjung lagi ..he..he.. (gak ding, niatnya bikin tulisan yang bermanfaat buat orang banyak). Apa ya? Mungkin pilpres kali ya .. :)

Kita lihat saja nanti .. yang jelas sedang berjuang memahami paper-paper nan menumpuk itu, dan ketidakjelasan mau nulis apa … hiks …

Pengadilan publik

Jika berada di pengadilan, maka tentu saja akan dibutuhkan alat bukti, saksi, berita acara pemeriksaaan, dan tentu saja komponen-komponen terkait, seperti hakim, jaksa, terdakwa, pengacara, dan seterusnya. Proses peradilan melalui tahapan yang cukup panjang, hingga pada akhir keputusan apakah terdakwa dipastikan bersalah dan dihukum, ataukah kemudian dibebaskan karena tuduhan tidak terbukti. Ini idealnya proses dalam peradilan. Masalah kemudian apakah keputusan adil atau kadang tidak adil, tapi proses hukum telah berjalan.

Akan tetapi, dalam kehidupan bangsa Indonesia, ada pengadilan yang “lebih kejam” dalam memutuskan suatu perkara. Yakni yang disebut pengadilan publik. Publik beramai-ramai menghukum seseorang, yang belum tentu apa yang dia lakukan merupakan kesalahan. Kalaupun kemudian bersalah, lebih sering yang terjadi adalah “character assasination”, alias pembunuhan karakter besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, media pun turut memanfaatkan kesempatan yang sama untuk “membunuh” seseorang atau kelompok atau golongan.

Untuk mempermudah penggambaran, kita coba lihat kasus yang pernah terjadi pada mantan presiden Bill Clinton (kita lihat nanti perbandingan bagaimana publik Amerika menghakimi dia dengan publik Indonesia menghakimi seseorang). Kasus “main wanitanya” Bill Clinton terbuka ke publik. Ancaman impeachment berada di depan mata, tapi kemudian timbangan yang menjadi ukuran publik tidak hanya kasus main wanitanya dia, tapi juga performance yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Bill Clinton. Rasionalitas dipakai, dan bukan semata emosionalitas. Performa Bill Clinton dianggap jauh sekali lebih baik ketimbang skandal yang dilakukan oleh dia, hingga pada akhirnya publik pun “memaafkan” tingkah laku “amoral” dia. Sebagai catatan, saya sama sekali tidak mendukung perbuatan main wanitanya Bill Clinton, hanya mempermudah memahami tulisan ini.

Sekarang kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, saya beri contoh gampang, Aa’ Gym. Karirnya sebagai da’i yang melejit pesat, jama’ah yang berduyun-duyun datang untuk mendengarkan pengajiannya yang menyejukkan, masyarakat sekitar Daaru Tauhid yang pada akhirnya cukup makmur, dan dianggap sebagai miniatur kampung santri nan modern, tiba-tiba dihempaskan sehempas-hempasnya oleh publik Indonesia. Aa’ Gym yang tadinya dijadikan sebagai ikon, telah dianggap bak “malaikat” oleh kebanyakan masyarakat. Masyarakat memiliki over ekspektasi terhadap seseorang bernama Aa’ Gym. Dia dijadikan seseorang yang tidak boleh memiliki cela, cacat, dan kesalahan. Publik telah mendewakan beliau, sehignga pada akhirnya, ketika ada satu poin “kesalahan” (kalau boleh dianggap kesalahan) yang beliau lakukan, ekspektasi berlebihan tadi (ekstrim terhadap ekspektasi kebaikan) menjadikan mereka tidak bisa menerima keaadan beliau yang berpoligami. Ramai-ramai masyarakat menghakimi, “Ah ternyata sama saja bejatnya dengan fulan A .. fulan B”, “Da’i kok begitu …”, demikian seterusnya. Tanpa ba..bi..bu, masyarakat + media beramai-ramai melakukan pengadilan publik dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Fenomena lain semisal, PKS. Sebagai partai dakwah, fenomena keberadaan mereka memang membuat banyak orang merasa “gentar”. Kebaikan yang ditebar, dipropagandakan, dan dilaksanakan oleh PKS memberikan ruang pengharapan tersendiri ke publik. Tapi ternyata model masyarakat Indonesia memang melankolis. Tidak rela jika “idola” mereka melakukan kesalahan. Kasus yang mirip Aa’ Gym pun terjadi, sebagai partai yang terus disorot oleh publik + media (mohon koreksi, ini yang saya baca di banyak media massa – terutama yang online), maka berita PKS menolak sogokan, berita PKS melakukan aksi kepedulian, dan lain sebagainya tidak akan pernah lagi dianggap sebagai berita MENARIK oleh publik (baca: media). Berita dari PKS akan dianggap menarik jika dan hanya jika, berita tersebut “kontroversial” dan kira-kira memberikan nilai tambah “keburukan” bagi citra PKS. Sesuatu hal yang dianggap “biasa” di partai yang lain (skandal, korupsi, dlsb), akan menjadi kehebohan tersendiri bagi banyak orang jika terjadi di PKS. Kasus Aleg DPRD Jambi dari Fraksi PKS yang “tertangkap” sedang pijat di panti pijat (meski di berita pun disampaikan, panti pijatnya bukan panti pijat plus, bahkan panti pijat legal dan resmi), dijadikan sebagai amunisi oleh publik untuk melakukan penghakiman, bahkan di salah satu TV swasta (SCTV – liputan6.com) diberitakan sedang melakukan perbuatan mesum, padahal di media yang lain ndak ada yang menuliskan seperti itu. Sama persis seperti Aa’ Gym, publik bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang lain (atau mungkin mereka sendiri pelakunya), tapi sama sekali tidak bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang baik. Dan pada akhirnya, setiap ada kesempatan, “ngapain pilih PKS, alegnya saja pijitan???” Come On, satu keburukan dibanding sekian ribu kebaikan dari aleg yang lain sudah cukup kah untuk justifikasi kepada lembaga ini? Inilah sebagaimana kata pepatah yang memang terlalu melekat kuat di masyarakat kita, sehingga benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni “Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga“. Tapi kalau Nila Sebelanga, kena Susu sedikit, dianggap sudah biasa saja (kebalik bukan?)

Masyarakat kita memang melankolis, di satu sisi akan melambungkan seseorang ketika mereka merasa mendapat kebaikan darinya, di sisi lain, tidak segan-segan menghancurkan dengan sehancur-hancurnya ketika mereka melihat keburukan (baca: kekurangan) yang ada darinya. Manusia bukanlah malaikat yang bebas dari kesalahan, bahkan Allah SWT ketika di hari akhir pun melakukan penimbangan, ditimbang, mana yang lebih berat, apakah kitab di tangan kanan, atau kitab di tangan kiri/punggung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia pasti bersalah, lha ketika di hari akhir saja dihadapkan dengan membawa kitab (kejahatan) di tangan kiri, hanya saja kemudian dihitung, antara kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak. Keputusan dilakukan setelah proses pengadilan berjalan.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bersalah, kemudian dia bertaubat? (At Tawwabiin). Bagaimana mungkin kita merasa lebih adil dari Allah SWT, dengan menghakimi seseorang tanpa ampun, tanpa boleh melakukan eksepsi, tanpa boleh melakukan pembelaan, tanpa boleh melakukan perbaikan? Bahkan di salah satu kisah yang disampaikan Nabi SAW tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua, satu hal yang membuat pintu gua terbuka adalah kasus pemuda yang nyaris berzina (tinggal satu step lagi), kemudian dia meninggalkan zina tersebut karena diingatkan tentang Allah SWT.

Jadi, masihkah kita akan mudah melakukan penghakiman terhadap seseorang sedemikian mudahnya?

SMS murah dari Australia (atau tempat lain jg?)

Salah satu yang membuat “stress” hidup di Australia adalah tingginya biaya komunikasi untuk konektivitas mobile (HP), baik untuk telpon atau untuk SMS.

Per SMS lokal biayanya kurang lebih sekitar 25 sen, atau kalau dirupiahkan jadi sekitar Rp 1900) dan SMS ke luar negri sekitar 35 sen (kurang lebih Rp 2800). Terbayang kan, misal mau SMS untuk temen atau keluarga di Indonesia, jadinya mikir-mikir.

Hingga pada akhirnya, setelah iseng-iseng cari provider VoIP buat telpon murah ke Indonesia, eh malah nemukan layanan SMS yang murah sekali (paling tidak untuk ukuran Australia), sekali SMS kenanya 6 sen AUD (atau sekitar Rp 500 per sms). Sebenarnya dulu juga sudah sering memanfaatkan layanan VoIP dari perusahaan yang sama, cuma SMSnya ndak pernah dipakai, soalnya “mahal” (dulu waktu di Singapura, per SMS biayanya 5 sen SGD, catt. 1 SGD = 1 AUD).

Ada beberapa varian dari perusahaan yang namanya Betamax (perusahaan jerman) yang menyediakan layanan seperti Voipcheap, Voipdiscount, Voipbusterpro, dan lain sebagainya. Rata-rata membutuhkan deposit 10 EUR (sekitar 20 AUD), dengan fasilitas gratis telpon ke banyak negara (terutama landline, yang mobile biasanya cuma USA, Thailand, Singapore, Hongkong) yang ini pun bisa kumanfaatin untuk telpon lokal sepuasnya (dengan Fair Usage Policynya, 300 menit per pekan). Dengan demikian cukup dengan biaya 20 AUD bisa buat kirim SMS sampe 330an SMS, berbeda dengan sebelumnya yang hanya cukup buat SMS lokal sebanyak 80 atau internasional cuma 50an (dengan catatan tidak make buat nelpon, cuma SMS aja).

Jadi sekarang, gak terlalu khawatir lagi buat SMS kemana-mana, baik ke lokal Australia dan ke Indonesia. Yang jelas, setelah HP kita diverifikasi oleh mereka (voipcheap, voipdiscount, dlsb), SMS yang terkirim pun bisa atas nama nomer kita tadi. Temen atau saudara yang terima SMS akan langsung tahu, bahwa SMSnya dari kita.

Semoga membantu yang butuh SMS gratis ke Indonesia, terutama bagi mereka yang sedang tinggal di luar negri (lebih khususnya dimana SMS mahal sekali seperti di Australia sini)

Celaan orang-orang yang suka mencela

“Bah, ngapain ngurusin negara lain. Urus tuh Indonesia, rakyatnya masih banyak yang kelaparan, korupsinya juga diurusin!”

“Bahaya kalau orang ini berkuasa, bisa-bisa APBN kita dibawa ke arab semua!”

dan berbagai macam komentar pedas lainnya

Beberapa komentar pedas seperti di atas banyak bermunculan di Internet (baca saja di detik.com), terkait dengan peristiwa genosida Israel terhadap Palestina khususnya penduduk jalur Gaza. Mereka berkomentar pedas (dan kadang menjijikkan) terhadap orang / kelompok di Indonesia yang menyatakan solidaritasnya dan bantuannya kepada bangsa Palestina, baik berupa uang, obat-obatan, logistik, medis. Alasan mereka selalu, Indonesia aja belum selesai diurus, kok ngurusin negara lain.

Geram sekali rasanya membaca tulisan dari mulut-mulut kotor dan keji seperti mereka. Orang-orang yang tidak pernah mengerti rasanya bagaimana bisa dibantu oleh bangsa lain. Saya masih ingat betul peristiwa gempa di Jogja yang kemudian mengalirkan simpati dari banyak negara. Bukan hanya bangsa maju dan kaya saja yang berbondong-bondong membantu Indonesia, bahkan negara yang berkembang pun juga tidak kalah dalam memberikan bantuan. Bahkan di Klaten, di depan pabrik susu SGM, berdiri sebuah rumah sakit darurat milik kuba. Yang ketika bangsa lain seperti dari Itali, Yunani, Singapura, dlsb sudah pada “tutup”, justru Rumah Sakit dari Kuba masih eksis dan tetap buka. Ketika mereka hendak tutup, mereka “didemo” oleh penduduk sekitar untuk tetap buka, dan pada akhirnya mereka mengextend keberadaan mereka di sana.

Kalau kita rajin menolong, insya Allah kita pun akan rajin ditolong. Negara sebagaimana manusia, juga merupakan entitas sosial, yang harus saling menolong ketika ada kesulitan yang menimpa mereka. Tetangga adalah saudara terdekat kita. Lha kalau kita sendiri apatis terhadap kesulitan tetangga kita, dengan dalih bangsa sendiri belum diurusin, mau ditaruh mana muka negara kita ketika kita menghadapi kesulitan dan kemudian minta tolong ke negara lain?

Dan memang sudah diceritakan dalam Alquran, bahwa akan ada orang yang tidak punya kegiatan lain, selain mencela orang lain, dalam segala perilakunya. Seorang mu’min tidaklah patut untuk merasa takut dan rendah diri, terhadap celaan orang-orang yang memang kerjaannya suka mencela orang lain.

Ya Allah berikanlah pertolongan kepada saudaraku di Filistin ..

Switch to our mobile site