Thoughts

Dalam sebuah perjalanan, selalu ada kisah, catatan, dan pikiran

Disclaimer Komentar

Segala komentar, pingback, dan trackback yang bukan dilakukan oleh saya (Andri Setiawan) adalah tanggung jawab masing-masing penulis aslinya.

Where Am I?

Berlangganan

Isikan email anda:

 Langganan di sini

Add to Google Reader or Homepage

Subscribe in Bloglines

Google Friend

Afiliasi








Tentang Saya

Mukhammad Andri Setiawan, just an ordinary man, trying to get better on everyday of his life

Disclaimer

Jika berminat KOPAS (copy paste) dari apa yang saya tulis di sini, dipersilakan. Yang penting sebutin sumbernya. Biar tidak disebut sebagai pembajak, at least hargai penulis awalnya.

Page Rank

Page Rank Tool

Pembaca



Arsip

My Tweet

    • Wedew … sudah lama sekali blog ini tak terurus :(
      Si Penulis terlalu sibuk membuat framework risetnya nih … hiks…

      Sebagai penyemangat awal, naruh video ini dulu aja deh

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 5.0/10 (4 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      12 Comments
    • Hanya satu kata: Benci aku!

      Apapun topik yang ada dan muncul di berita, sepertinya tidak bisa tidak, yang muncul adalah sumpah serapah, kata-kata kotor, dan lain sebagainya. Benar kata salah seorang kawan yang bercerita bahwa ada seorang peneliti, melakukan penelitian tentang masyarakat Indonesia, dan kesimpulan dia, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sedang sakit. Sakit jiwa, tapi mereka tidak menyadarinya, sakit yang sedemikian parah, tapi herannya mereka begitu menikmati sakitnya mereka.

      Betapa manusia Indonesia menjadi manusia yang tidak ingin diatur, menang sendiri semuanya, hidup dengan rasa curiga dan saling benci, terekspresikan dari mulut-mulut mereka yang tidak bisa berkata-kata dengan baik, ungkapan kotor, dan begitu banyak hal lain.

      Dengarkanlah suara hati ini wahai pemilik dan pengelola detik.com, tutup saja halaman komentarmu itu, jijik rasanya membuka kolom komentar yang irasional, penuh kebencian, dan berbagai macam ungkapan kotor serta sumpah serapah itu!

      Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatimu (dengan mengingkarinya) …..

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      12 Comments
    • Berhubung hajatan pemilu (legislatif) 2009 dilaksanakan hari ini, nampaknya kunjungan ke blog ini akan kembali turun setelah pernah mencapai 2000 lebih page visit ;-) dalam satu hari.

      Sekarang cari topik baru lagi yang kira-kira bakalan menarik pengunjung lagi ..he..he.. (gak ding, niatnya bikin tulisan yang bermanfaat buat orang banyak). Apa ya? Mungkin pilpres kali ya .. :)

      Kita lihat saja nanti .. yang jelas sedang berjuang memahami paper-paper nan menumpuk itu, dan ketidakjelasan mau nulis apa … hiks …

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      4 Comments
    • Jika berada di pengadilan, maka tentu saja akan dibutuhkan alat bukti, saksi, berita acara pemeriksaaan, dan tentu saja komponen-komponen terkait, seperti hakim, jaksa, terdakwa, pengacara, dan seterusnya. Proses peradilan melalui tahapan yang cukup panjang, hingga pada akhir keputusan apakah terdakwa dipastikan bersalah dan dihukum, ataukah kemudian dibebaskan karena tuduhan tidak terbukti. Ini idealnya proses dalam peradilan. Masalah kemudian apakah keputusan adil atau kadang tidak adil, tapi proses hukum telah berjalan.

      Akan tetapi, dalam kehidupan bangsa Indonesia, ada pengadilan yang “lebih kejam” dalam memutuskan suatu perkara. Yakni yang disebut pengadilan publik. Publik beramai-ramai menghukum seseorang, yang belum tentu apa yang dia lakukan merupakan kesalahan. Kalaupun kemudian bersalah, lebih sering yang terjadi adalah “character assasination”, alias pembunuhan karakter besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, media pun turut memanfaatkan kesempatan yang sama untuk “membunuh” seseorang atau kelompok atau golongan.

      Untuk mempermudah penggambaran, kita coba lihat kasus yang pernah terjadi pada mantan presiden Bill Clinton (kita lihat nanti perbandingan bagaimana publik Amerika menghakimi dia dengan publik Indonesia menghakimi seseorang). Kasus “main wanitanya” Bill Clinton terbuka ke publik. Ancaman impeachment berada di depan mata, tapi kemudian timbangan yang menjadi ukuran publik tidak hanya kasus main wanitanya dia, tapi juga performance yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Bill Clinton. Rasionalitas dipakai, dan bukan semata emosionalitas. Performa Bill Clinton dianggap jauh sekali lebih baik ketimbang skandal yang dilakukan oleh dia, hingga pada akhirnya publik pun “memaafkan” tingkah laku “amoral” dia. Sebagai catatan, saya sama sekali tidak mendukung perbuatan main wanitanya Bill Clinton, hanya mempermudah memahami tulisan ini.

      Sekarang kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, saya beri contoh gampang, Aa’ Gym. Karirnya sebagai da’i yang melejit pesat, jama’ah yang berduyun-duyun datang untuk mendengarkan pengajiannya yang menyejukkan, masyarakat sekitar Daaru Tauhid yang pada akhirnya cukup makmur, dan dianggap sebagai miniatur kampung santri nan modern, tiba-tiba dihempaskan sehempas-hempasnya oleh publik Indonesia. Aa’ Gym yang tadinya dijadikan sebagai ikon, telah dianggap bak “malaikat” oleh kebanyakan masyarakat. Masyarakat memiliki over ekspektasi terhadap seseorang bernama Aa’ Gym. Dia dijadikan seseorang yang tidak boleh memiliki cela, cacat, dan kesalahan. Publik telah mendewakan beliau, sehignga pada akhirnya, ketika ada satu poin “kesalahan” (kalau boleh dianggap kesalahan) yang beliau lakukan, ekspektasi berlebihan tadi (ekstrim terhadap ekspektasi kebaikan) menjadikan mereka tidak bisa menerima keaadan beliau yang berpoligami. Ramai-ramai masyarakat menghakimi, “Ah ternyata sama saja bejatnya dengan fulan A .. fulan B”, “Da’i kok begitu …”, demikian seterusnya. Tanpa ba..bi..bu, masyarakat + media beramai-ramai melakukan pengadilan publik dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

      Fenomena lain semisal, PKS. Sebagai partai dakwah, fenomena keberadaan mereka memang membuat banyak orang merasa “gentar”. Kebaikan yang ditebar, dipropagandakan, dan dilaksanakan oleh PKS memberikan ruang pengharapan tersendiri ke publik. Tapi ternyata model masyarakat Indonesia memang melankolis. Tidak rela jika “idola” mereka melakukan kesalahan. Kasus yang mirip Aa’ Gym pun terjadi, sebagai partai yang terus disorot oleh publik + media (mohon koreksi, ini yang saya baca di banyak media massa – terutama yang online), maka berita PKS menolak sogokan, berita PKS melakukan aksi kepedulian, dan lain sebagainya tidak akan pernah lagi dianggap sebagai berita MENARIK oleh publik (baca: media). Berita dari PKS akan dianggap menarik jika dan hanya jika, berita tersebut “kontroversial” dan kira-kira memberikan nilai tambah “keburukan” bagi citra PKS. Sesuatu hal yang dianggap “biasa” di partai yang lain (skandal, korupsi, dlsb), akan menjadi kehebohan tersendiri bagi banyak orang jika terjadi di PKS. Kasus Aleg DPRD Jambi dari Fraksi PKS yang “tertangkap” sedang pijat di panti pijat (meski di berita pun disampaikan, panti pijatnya bukan panti pijat plus, bahkan panti pijat legal dan resmi), dijadikan sebagai amunisi oleh publik untuk melakukan penghakiman, bahkan di salah satu TV swasta (SCTV – liputan6.com) diberitakan sedang melakukan perbuatan mesum, padahal di media yang lain ndak ada yang menuliskan seperti itu. Sama persis seperti Aa’ Gym, publik bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang lain (atau mungkin mereka sendiri pelakunya), tapi sama sekali tidak bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang baik. Dan pada akhirnya, setiap ada kesempatan, “ngapain pilih PKS, alegnya saja pijitan???” Come On, satu keburukan dibanding sekian ribu kebaikan dari aleg yang lain sudah cukup kah untuk justifikasi kepada lembaga ini? Inilah sebagaimana kata pepatah yang memang terlalu melekat kuat di masyarakat kita, sehingga benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni “Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga“. Tapi kalau Nila Sebelanga, kena Susu sedikit, dianggap sudah biasa saja (kebalik bukan?)

      Masyarakat kita memang melankolis, di satu sisi akan melambungkan seseorang ketika mereka merasa mendapat kebaikan darinya, di sisi lain, tidak segan-segan menghancurkan dengan sehancur-hancurnya ketika mereka melihat keburukan (baca: kekurangan) yang ada darinya. Manusia bukanlah malaikat yang bebas dari kesalahan, bahkan Allah SWT ketika di hari akhir pun melakukan penimbangan, ditimbang, mana yang lebih berat, apakah kitab di tangan kanan, atau kitab di tangan kiri/punggung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia pasti bersalah, lha ketika di hari akhir saja dihadapkan dengan membawa kitab (kejahatan) di tangan kiri, hanya saja kemudian dihitung, antara kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak. Keputusan dilakukan setelah proses pengadilan berjalan.

      Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bersalah, kemudian dia bertaubat? (At Tawwabiin). Bagaimana mungkin kita merasa lebih adil dari Allah SWT, dengan menghakimi seseorang tanpa ampun, tanpa boleh melakukan eksepsi, tanpa boleh melakukan pembelaan, tanpa boleh melakukan perbaikan? Bahkan di salah satu kisah yang disampaikan Nabi SAW tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua, satu hal yang membuat pintu gua terbuka adalah kasus pemuda yang nyaris berzina (tinggal satu step lagi), kemudian dia meninggalkan zina tersebut karena diingatkan tentang Allah SWT.

      Jadi, masihkah kita akan mudah melakukan penghakiman terhadap seseorang sedemikian mudahnya?

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      4 Comments
    • Salah satu yang membuat “stress” hidup di Australia adalah tingginya biaya komunikasi untuk konektivitas mobile (HP), baik untuk telpon atau untuk SMS.

      Per SMS lokal biayanya kurang lebih sekitar 25 sen, atau kalau dirupiahkan jadi sekitar Rp 1900) dan SMS ke luar negri sekitar 35 sen (kurang lebih Rp 2800). Terbayang kan, misal mau SMS untuk temen atau keluarga di Indonesia, jadinya mikir-mikir.

      Hingga pada akhirnya, setelah iseng-iseng cari provider VoIP buat telpon murah ke Indonesia, eh malah nemukan layanan SMS yang murah sekali (paling tidak untuk ukuran Australia), sekali SMS kenanya 6 sen AUD (atau sekitar Rp 500 per sms). Sebenarnya dulu juga sudah sering memanfaatkan layanan VoIP dari perusahaan yang sama, cuma SMSnya ndak pernah dipakai, soalnya “mahal” (dulu waktu di Singapura, per SMS biayanya 5 sen SGD, catt. 1 SGD = 1 AUD).

      Ada beberapa varian dari perusahaan yang namanya Betamax (perusahaan jerman) yang menyediakan layanan seperti Voipcheap, Voipdiscount, Voipbusterpro, dan lain sebagainya. Rata-rata membutuhkan deposit 10 EUR (sekitar 20 AUD), dengan fasilitas gratis telpon ke banyak negara (terutama landline, yang mobile biasanya cuma USA, Thailand, Singapore, Hongkong) yang ini pun bisa kumanfaatin untuk telpon lokal sepuasnya (dengan Fair Usage Policynya, 300 menit per pekan). Dengan demikian cukup dengan biaya 20 AUD bisa buat kirim SMS sampe 330an SMS, berbeda dengan sebelumnya yang hanya cukup buat SMS lokal sebanyak 80 atau internasional cuma 50an (dengan catatan tidak make buat nelpon, cuma SMS aja).

      Jadi sekarang, gak terlalu khawatir lagi buat SMS kemana-mana, baik ke lokal Australia dan ke Indonesia. Yang jelas, setelah HP kita diverifikasi oleh mereka (voipcheap, voipdiscount, dlsb), SMS yang terkirim pun bisa atas nama nomer kita tadi. Temen atau saudara yang terima SMS akan langsung tahu, bahwa SMSnya dari kita.

      Semoga membantu yang butuh SMS gratis ke Indonesia, terutama bagi mereka yang sedang tinggal di luar negri (lebih khususnya dimana SMS mahal sekali seperti di Australia sini)

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      6 Comments
    • “Bah, ngapain ngurusin negara lain. Urus tuh Indonesia, rakyatnya masih banyak yang kelaparan, korupsinya juga diurusin!”

      “Bahaya kalau orang ini berkuasa, bisa-bisa APBN kita dibawa ke arab semua!”

      dan berbagai macam komentar pedas lainnya

      Beberapa komentar pedas seperti di atas banyak bermunculan di Internet (baca saja di detik.com), terkait dengan peristiwa genosida Israel terhadap Palestina khususnya penduduk jalur Gaza. Mereka berkomentar pedas (dan kadang menjijikkan) terhadap orang / kelompok di Indonesia yang menyatakan solidaritasnya dan bantuannya kepada bangsa Palestina, baik berupa uang, obat-obatan, logistik, medis. Alasan mereka selalu, Indonesia aja belum selesai diurus, kok ngurusin negara lain.

      Geram sekali rasanya membaca tulisan dari mulut-mulut kotor dan keji seperti mereka. Orang-orang yang tidak pernah mengerti rasanya bagaimana bisa dibantu oleh bangsa lain. Saya masih ingat betul peristiwa gempa di Jogja yang kemudian mengalirkan simpati dari banyak negara. Bukan hanya bangsa maju dan kaya saja yang berbondong-bondong membantu Indonesia, bahkan negara yang berkembang pun juga tidak kalah dalam memberikan bantuan. Bahkan di Klaten, di depan pabrik susu SGM, berdiri sebuah rumah sakit darurat milik kuba. Yang ketika bangsa lain seperti dari Itali, Yunani, Singapura, dlsb sudah pada “tutup”, justru Rumah Sakit dari Kuba masih eksis dan tetap buka. Ketika mereka hendak tutup, mereka “didemo” oleh penduduk sekitar untuk tetap buka, dan pada akhirnya mereka mengextend keberadaan mereka di sana.

      Kalau kita rajin menolong, insya Allah kita pun akan rajin ditolong. Negara sebagaimana manusia, juga merupakan entitas sosial, yang harus saling menolong ketika ada kesulitan yang menimpa mereka. Tetangga adalah saudara terdekat kita. Lha kalau kita sendiri apatis terhadap kesulitan tetangga kita, dengan dalih bangsa sendiri belum diurusin, mau ditaruh mana muka negara kita ketika kita menghadapi kesulitan dan kemudian minta tolong ke negara lain?

      Dan memang sudah diceritakan dalam Alquran, bahwa akan ada orang yang tidak punya kegiatan lain, selain mencela orang lain, dalam segala perilakunya. Seorang mu’min tidaklah patut untuk merasa takut dan rendah diri, terhadap celaan orang-orang yang memang kerjaannya suka mencela orang lain.

      Ya Allah berikanlah pertolongan kepada saudaraku di Filistin ..

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      9 Comments
    • Insya Allah Sabtu 13 Desember 2008 ini saya akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan PhD saya. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-sebesarnya jika banyak kata dan perbuatan khilaf dan salah. Mohon doanya agar saya diberikan kemudahan untuk menjalankan proses studi saya dengan baik. Semoga cepat kembali online ..he…he.. dan bisa kembali mengupdate blog ini, tentu dengan suasanya yang berbeda, karena sebelumnya cerita saya banyak tentang Yogyakarta the Beloved City, maka mungkin ke depan akan banyak kisah baru dengan perspektif yang berbeda.

      Regards,

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      14 Comments
    • Seringkali bagi para blogger pemula, untuk memperkaya wawasan, biasanya mereka bertanya ke “paman Google” tentang bagaimana ngeblog itu, tips dan trik agar blog ramai dikunjungi orang, bikin duit pake blog, dan seterusnya. Di antara sekian banyak tulisan yang bertebaran di Internet, biasanya mereka akan “terantuk” kepada satu nasehat, agar membuat blog dengan niche.

      Blog dengan niche sendiri kurang lebih berarti menulis blog dengan tema atau topik khusus, sehingga membuat orang akan semakin betah berlama-lama dan berkungjung kembali ke blog kita. Blog dengan niche akan membawa orang-orang dengan interest yang sama, membicarakan hal yang sama, dan punya harapan yang sama terhadap niche yang mereka bangun. Blog dengan niche ini banyak yang kemudian dijadikan sebagai ladang jualan iklan bagi si empunya blog.

      Meski bagus, bagi saya, terutama bagi para blogger pemula, menulis dengan niche merupakan siksaan tersendiri. Niat mulia ngeblog, menuliskan apa yang menjadi ide dan ceritanya, menuliskan pengalaman yang ditemuinya, menuliskan apa yang menjadi ganjalan hatinya, dan berbagai macam keinginan lain harus terpasung dengan menuliskan pada topik yang sama.

      Susah sekali untuk menuliskan apa-apanya harus pada satu topik tertentu, yang boleh jadi justru akan mengerdilkan kreativitas blogger pemula. Keinginan mereka untuk mendapatkan pengunjung yang banyak “secara instan” justru akan memasung mereka kreativitas berfikir dan menulis dalam diri mereka. Hal ini juga salah satunya disebabkan keterburu-buruan blogger pemula untuk segera menjadi terkenal, syukur-syukur bisa jadi seleb blog. Dan kebetulan apa yang mereka cari di internet banyak menasehatkan untuk bikin blog dengan niche saja. Blog tanpa niche? Kelaut aja ..he..he..

      Saya sendiri lebih memilih menuliskan blog ini tanpa niche. Saya lebih senang menjadikan blog ini sebagai payung, payung yang memuat semua niche yang saya bangun. Cukuplah kategori tulisan (category) yang menjadi niche di blog ini. Saya lebih nyaman banyak orang datang ke blog ini karena mencari informasi IT, mencari informasi agama, mencari informasi kesehatan, mencari informasi budaya, mencari informasi pendidikan, dan lain sebagainya. Jumlah visitor? Asal sabar dan tekun menulis dengan tulisan yang baik dan bermanfaat, insya Allah pengunjung akan datang dengan sendirinya.

      Salam ngeblog! :mrgreen:

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      4 Comments
    • Eits, tunggu dulu, jangan kemudian berprasangka yang negatif dulu. Yang saya maksud adalah, suatu blog, yang komentatornya adalah orang-orang yang dia kenal (dalam satu niche, satu jaringan, sohib, dkk).

      Walaupun saya ndak bisa datang ke acara pesta blogger 2008, meski dapat undangan datang ke sana (gratis, gak usah bayar), tapi saya mengikuti dari rumah via streaming acara tersebut. Ada satu sesi yang mas Nukman Luthfie (NL) sampaikan selaku pembicara di acara PB 2008. Yakni kesuksesan sebuah blog.

      Jika blog kita, dikomentari oleh orang-orang yang kita kenal, maka marketing dari blog tersebut adalah gagal. Kenapa? Ya karena yang kenal dengan blog kita hanya kawan-kawan kita, orang-orang yang sudah kita kenal baik, alias niche-nya ya itu-itu saja, bahasa kerennya 4L, Loe Lagi Loe Lagi. Dan saya pun sepakat dengan pemahaman beliau ini (saya yakin banyak juga yang ndak sepakat). Karena kalau demikian yang terjadi, tidak ubahnya blog kita hanya sekedar tempat alternatif gantinya sms, chatting, forum, dan sejenisnya yang kemudian dimigrasikan ke yang namanya BLOG.

      Bagi saya menulis blog adalah berbagi banyak hal, apa yang menjadi pengalaman saya yang saya harapkan juga bisa bermanfaat bagi orang lain. Orang datang ke blog kita karena tidak sengaja, mereka mencari ke Google, dan kemudian “tersesat” di tempat kita, karena mereka benar-benar mencari informasi akan sesuatu hal.

      Hal ini juga yang saya sampaikan, ketika mengisi pelatihan blog untuk dosen-dosen arsitektur UII, Kamis pekan kemarin. Bahwa menulis blog itu memang akan punya banyak niat, tapi di sesi pekan kemarin saya sampaikan, pentingnya menulis untuk kemanfaatan yang lebih banyak. Dan indikatornya jelas, referer blog kita dari mana. Jika kebanyakan dari search engine, berarti tulisan kita memang benar-benar menarik, dan insya Allah bermanfaat bagi yang baca. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat sekitarnya.

      :-D :mrgreen:

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      12 Comments
    • Pagi ini melihat email masuk .. wah surprise, photo dengan judul Angkut Pakan Ternak (di photoblog saya, saya kasih nama I’m not a Wonder Woman) yang saya ikut sertakan dalam kontes Photo dalam rangka menyemarakkan Pesta Blogger 2008, ternyata masuk ke dalam nominasi 20 besar.

      Selama ini foto-foto saya baru untuk sebatas hobi saja, bukan buat lomba apalagi buat dijual ..he..he.. :mrgreen: , dan baru pertama kali ini ikutan kontes. Seneng juga rasanya. Terbayar sudah jauh-jauh pergi ke kaki gunung merapi untuk memfoto  aktivitas para ibu yang “super sibuk” dengan memanggul pakan ternak segitu banyaknya untuk sapi perah tercinta.

      Tapi meski demikian, bagi saya, fotografi memang dunia saya untuk hobi, menyalurkan hobi saya untuk merekam peristiwa sejarah di sekitar saya, apalagi buat saya yang sangat gemar dengan Sejarah kehidupan bangsa dan manusia.

      Berikut daftar nominasi foto (foto dapat dilihat di websitenya Pesta Blogger Photo Contest):

      Dear Peserta Pesta Blogger Photocontest 2008,
      Berikut adalah daftar judul photo yang berhasil masuk nominasi sebagai 20 besar :
      1. Ke Museum Wayang Yuk ( Raiyani Muharamah )
      2. Berikan Sedekahmu ( Raiyani Muharamah )
      3. Masih Utuh ( Angga Setyadi )
      4. Pretty Lush ( Angga Setyadi )
      5. Pulang dari Ladang ( I Gusti Ngurah Pradnyana )
      6. Bertiga Satu Tujuan ( I Gusti Ngurah Pradnyana )
      7. Bersih Bersih Kuta ( Muhammad Iqbal )
      8. Menyekop Pasir ( Fitra Yogi )
      9. Angkut Pakan Ternak  ( Muhammad Andri Setiawan )
      10. Minta Lagi dong  ( Dicky Handrawan )
      11. Kerja Bakti ( Subagja Budirahman )
      12. Gotong Royong ( Budi Arianto )
      13. Lomba Gerak Jalan ( Andi Sucirta )
      14. Taman Bermainku  ( Pulung Aidila )
      15. Memohon Api padam ( Thomas Priandoko )
      16. Rakit Penyebrangan ( Muklis Muhtar )
      17. Sendiri menyusur sungai ( Tihai Witiang )
      18. Pulang ( Budi Winarno )

      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.8.1_1037]
      Rating: 0 (from 0 votes)
      1 Comment