Pengadilan publik

Jika berada di pengadilan, maka tentu saja akan dibutuhkan alat bukti, saksi, berita acara pemeriksaaan, dan tentu saja komponen-komponen terkait, seperti hakim, jaksa, terdakwa, pengacara, dan seterusnya. Proses peradilan melalui tahapan yang cukup panjang, hingga pada akhir keputusan apakah terdakwa dipastikan bersalah dan dihukum, ataukah kemudian dibebaskan karena tuduhan tidak terbukti. Ini idealnya proses dalam peradilan. Masalah kemudian apakah keputusan adil atau kadang tidak adil, tapi proses hukum telah berjalan.

Akan tetapi, dalam kehidupan bangsa Indonesia, ada pengadilan yang “lebih kejam” dalam memutuskan suatu perkara. Yakni yang disebut pengadilan publik. Publik beramai-ramai menghukum seseorang, yang belum tentu apa yang dia lakukan merupakan kesalahan. Kalaupun kemudian bersalah, lebih sering yang terjadi adalah “character assasination”, alias pembunuhan karakter besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, media pun turut memanfaatkan kesempatan yang sama untuk “membunuh” seseorang atau kelompok atau golongan.

Untuk mempermudah penggambaran, kita coba lihat kasus yang pernah terjadi pada mantan presiden Bill Clinton (kita lihat nanti perbandingan bagaimana publik Amerika menghakimi dia dengan publik Indonesia menghakimi seseorang). Kasus “main wanitanya” Bill Clinton terbuka ke publik. Ancaman impeachment berada di depan mata, tapi kemudian timbangan yang menjadi ukuran publik tidak hanya kasus main wanitanya dia, tapi juga performance yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Bill Clinton. Rasionalitas dipakai, dan bukan semata emosionalitas. Performa Bill Clinton dianggap jauh sekali lebih baik ketimbang skandal yang dilakukan oleh dia, hingga pada akhirnya publik pun “memaafkan” tingkah laku “amoral” dia. Sebagai catatan, saya sama sekali tidak mendukung perbuatan main wanitanya Bill Clinton, hanya mempermudah memahami tulisan ini.

Sekarang kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, saya beri contoh gampang, Aa’ Gym. Karirnya sebagai da’i yang melejit pesat, jama’ah yang berduyun-duyun datang untuk mendengarkan pengajiannya yang menyejukkan, masyarakat sekitar Daaru Tauhid yang pada akhirnya cukup makmur, dan dianggap sebagai miniatur kampung santri nan modern, tiba-tiba dihempaskan sehempas-hempasnya oleh publik Indonesia. Aa’ Gym yang tadinya dijadikan sebagai ikon, telah dianggap bak “malaikat” oleh kebanyakan masyarakat. Masyarakat memiliki over ekspektasi terhadap seseorang bernama Aa’ Gym. Dia dijadikan seseorang yang tidak boleh memiliki cela, cacat, dan kesalahan. Publik telah mendewakan beliau, sehignga pada akhirnya, ketika ada satu poin “kesalahan” (kalau boleh dianggap kesalahan) yang beliau lakukan, ekspektasi berlebihan tadi (ekstrim terhadap ekspektasi kebaikan) menjadikan mereka tidak bisa menerima keaadan beliau yang berpoligami. Ramai-ramai masyarakat menghakimi, “Ah ternyata sama saja bejatnya dengan fulan A .. fulan B”, “Da’i kok begitu …”, demikian seterusnya. Tanpa ba..bi..bu, masyarakat + media beramai-ramai melakukan pengadilan publik dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Fenomena lain semisal, PKS. Sebagai partai dakwah, fenomena keberadaan mereka memang membuat banyak orang merasa “gentar”. Kebaikan yang ditebar, dipropagandakan, dan dilaksanakan oleh PKS memberikan ruang pengharapan tersendiri ke publik. Tapi ternyata model masyarakat Indonesia memang melankolis. Tidak rela jika “idola” mereka melakukan kesalahan. Kasus yang mirip Aa’ Gym pun terjadi, sebagai partai yang terus disorot oleh publik + media (mohon koreksi, ini yang saya baca di banyak media massa – terutama yang online), maka berita PKS menolak sogokan, berita PKS melakukan aksi kepedulian, dan lain sebagainya tidak akan pernah lagi dianggap sebagai berita MENARIK oleh publik (baca: media). Berita dari PKS akan dianggap menarik jika dan hanya jika, berita tersebut “kontroversial” dan kira-kira memberikan nilai tambah “keburukan” bagi citra PKS. Sesuatu hal yang dianggap “biasa” di partai yang lain (skandal, korupsi, dlsb), akan menjadi kehebohan tersendiri bagi banyak orang jika terjadi di PKS. Kasus Aleg DPRD Jambi dari Fraksi PKS yang “tertangkap” sedang pijat di panti pijat (meski di berita pun disampaikan, panti pijatnya bukan panti pijat plus, bahkan panti pijat legal dan resmi), dijadikan sebagai amunisi oleh publik untuk melakukan penghakiman, bahkan di salah satu TV swasta (SCTV – liputan6.com) diberitakan sedang melakukan perbuatan mesum, padahal di media yang lain ndak ada yang menuliskan seperti itu. Sama persis seperti Aa’ Gym, publik bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang lain (atau mungkin mereka sendiri pelakunya), tapi sama sekali tidak bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang baik. Dan pada akhirnya, setiap ada kesempatan, “ngapain pilih PKS, alegnya saja pijitan???” Come On, satu keburukan dibanding sekian ribu kebaikan dari aleg yang lain sudah cukup kah untuk justifikasi kepada lembaga ini? Inilah sebagaimana kata pepatah yang memang terlalu melekat kuat di masyarakat kita, sehingga benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni “Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga“. Tapi kalau Nila Sebelanga, kena Susu sedikit, dianggap sudah biasa saja (kebalik bukan?)

Masyarakat kita memang melankolis, di satu sisi akan melambungkan seseorang ketika mereka merasa mendapat kebaikan darinya, di sisi lain, tidak segan-segan menghancurkan dengan sehancur-hancurnya ketika mereka melihat keburukan (baca: kekurangan) yang ada darinya. Manusia bukanlah malaikat yang bebas dari kesalahan, bahkan Allah SWT ketika di hari akhir pun melakukan penimbangan, ditimbang, mana yang lebih berat, apakah kitab di tangan kanan, atau kitab di tangan kiri/punggung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia pasti bersalah, lha ketika di hari akhir saja dihadapkan dengan membawa kitab (kejahatan) di tangan kiri, hanya saja kemudian dihitung, antara kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak. Keputusan dilakukan setelah proses pengadilan berjalan.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bersalah, kemudian dia bertaubat? (At Tawwabiin). Bagaimana mungkin kita merasa lebih adil dari Allah SWT, dengan menghakimi seseorang tanpa ampun, tanpa boleh melakukan eksepsi, tanpa boleh melakukan pembelaan, tanpa boleh melakukan perbaikan? Bahkan di salah satu kisah yang disampaikan Nabi SAW tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua, satu hal yang membuat pintu gua terbuka adalah kasus pemuda yang nyaris berzina (tinggal satu step lagi), kemudian dia meninggalkan zina tersebut karena diingatkan tentang Allah SWT.

Jadi, masihkah kita akan mudah melakukan penghakiman terhadap seseorang sedemikian mudahnya?

  1. Albert says:

    Ya memang masyarakat kita ini belum dewasa kok. Dan bukan cuma soal pengadilan publik. Presiden Obama pernah sekolah di sini 2 tahun aja, kita sudah merasa (sok) akrab. Di Solo pernah ada spanduk: “Mengucapkan selamat atas terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika” (ceritanya iklan caleg tuh, terus apa hubungannya). Gimana tuh?

  2. sebenarnya kalau kita mengikuti perintah agama sebaik mungkin, saya rasa hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. CMIIW :)

  3. ya gitu deh… jadi kader PKS memang gak boleh salah (kalo salah segera berdoa moga2 Allah melindungi). Tapi luar biasa mas, Allah maha pembalik makar makar musuh Nya. dengan tindakan tegas dari struktur masyarakat bisa menilai disiplinnnya PKS.
    Mau nanya juga mas Andri dulu pernah nglatih grup nasyid Fatih ya… (ane pernah baca di blog ini/blog yg lain mungkin). Bravoo… deh buat Fatih and sang pelatih,.
    Soale baru 2 minggu yang lalu saya denger nasyid nya Fatih, lumayan juga buat nemeni kerja di depan kompi.
    Ini juga lagi denger fatih lho…
    who huwo huwooo ohhh….
    uohhh uohh
    …. membawa diriku
    mengingatkan diriku padamu dst…
    met kuliah muga-muga sukses dan bisa bagi2 pengalaman buat kami.

  4. Wahono Cahyadi says:

    PERHATIAN ATAS IZIN TINGGAL TANAH-TANAH DAN
    RUMAH-RUMAH ATAS NAMA ALM. HJ. M. MINTARTININGSIH
    _________________________________________________

    Saya selaku anak dari Almarhumah M. Mintartingsih
    yang bersuamikan Mantan Dan Lanu Ranai Almarhum.
    Mayor.TNIAU. Imam Mualim yang bernama Ir. Wahono
    Cahyadi bertempat tinggal saat ini di Griya Telaga
    Permai F3/8 Depok, dengan ini mengumumkan kepada
    khalayak ramai/semua bahwa berkaitan dengan PEMBE-
    RITAHUAN tanggal 3 Januari 2009 di Harian Pos Kota,
    atas rumah yang tercatat atas nama M. Mintartining-
    sih yang terletak di Desa/Kelurahan Jatibening Baru,
    Kecamatan Pondokgede, Kabupaten Bekasi, Provinsi Ja-
    bar dan Desa/Kelurahan Pondok Kelapa, Kecamatan Du-
    ren sawit, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Ja-
    karta, Indonesia. Saat ini terhadap bidang-bidang
    tanah dan rumah-rumah tersebut sedang dilakukan pro-
    ses pembagian warisnya.

    Oleh karena itu saya (Ir.Wahono Cahyadi) sebagai
    pihak yang berkepentingan atas tanah-tanah dan ru-
    mah-rumah tersebut dengan itikad baik mengingatkan
    kepada khalayak ramai/semua untuk memperhatikan
    adanya proses pembagian waris yang sedang berjalan
    agar tidak timbul permasalahan di kemudian hari de-
    ngan tanah-tanah dan rumah-rumah tersebut.

    Disamping itu, diberitahukan pula bahwasanya saya
    Ir. Wahono Cahyadi tidak pernah menjual/ menandata-
    ngani penjualan tanah sepeninggal ibu saya HJ. M.
    Mintartiningsih yang tercatat hari kematiannya pada
    tanggal 6 Agustus 2000.

    9 April 2009
    Ir. Wahono cahyadi
    Griya Telaga Permai f3/8 Depok, Jabar. Indonesia.

    Denah lokasi adalah di:6’15’14.77″S/106’56’07.43″E
    dan 6’15’14.69″S/106’56’06.65″E dan 6’15’10.35″S/
    106’56’08.45″E
    Gambar lokasi dapat dilihat dengan Google Earth:
    Gambar dapat di akses di situs:www.mail.yahoo.com
    dengan nama: rumahaulia@yahoo.co.id pass:30102008

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site