Archive for February 2009

Alias di GMAIL

Seperti yang saya tulis sebelumnya, tadinya berfikir cukup senang dengan alamat email di gmail yang ‘fancy‘, tapi seiring perkembangan, maka kita butuh yang lebih serius. Di GMAIL sebenarnya sudah ada cara yang terkenal (dan disebutkan dalam tutorial GMAIL) untuk membuat alias email di gmail. Dengan alias, kita menggunakan email gmail "yang lain" tapi akan terkirim ke inbox GMAIL yang kita pergunakan. Paling tidak ada dua cara:

    1. Dengan menambahkan "+", misal email gmail anda: iniemailku@gmail.com dengan menambahkan tanda "+" seperti iniemailku+yangbaru@gmail.com, maka semua email yang terkirim ke email alias yang diberi tanda "+" pun akan terdeliver ke inbox kita.
    2. Dengan memberikan tanda "." (dot), di bagian manapun dari email GMAIL kita. Misal email gmail kita iniemailku@gmail.com, maka mengirimkan email ke ini.emailku@gmail.com atau iniemail.ku@gmail.com atau ini.email.ku@gmail.com akan membuat email kita terkirim ke inbox yang asli (iniemailku@gmail.com)

Nah, problemnya adalah tidak ada setting di dalam GMAIL yang memungkinkan kita membuat alias email yang benar-benar berbeda dari email GMAIL kita yang asli. Misal superkiyut@gmail.com tadinya kita anggap keren, tapi karena "sadar" ini adalah email yang "wagu", kita pingin ganti menjadi setiawan.andri@gmail.com. Fasilitas ini tidak tersedia secara built in di GMAIL. Terus solusinya bagaimana?

Beruntung di GMAIL ada layanan yang memungkinkan kita mengirimkan "on behalf of", maksudnya email kita adalah superkiyut@gmail.com, tapi ketika mengirimkan email keluar bisa menjadi setiawan.andri@gmail.com. Untuk itu buat saja email baru di GMAIL (sign up) dengan alamat setiawan.andri@gmail.com (sebagai contoh). Kemudian lanjutkan prosesnya sebagai berikut:

  1. Login ke GMAIL yang asli, masuk ke halaman Settings – Accounts, pilih link "Add another email address you own"image
  2. Muncul popup baru, masukkan alamat email yang kita hendak kirim "on behalf of", pilih next stepimage
  3. GMAIL akan memverifikasi email kita, silakan lanjutkan pilihan Send Verification
  4. Buka browser lain (misal tadi pake firefox, sekarang pake IE) buka GMAIL kita, login dengan alamat email baru kita, kode verifikasi yang terkirim dimasukkan ke halaman verifikasi di email kita yang asli
    image
  5. Setelah kita masukkan kode verifikasi, voila, kita sudah dapat mengirimkan email "on behalf of" email kita yang baru. Sekarang saya sudah dapat mengirimkan email dengan alamat setiawan.andri@gmail.com .

    image
    (form saat kita Compose Mail)
    image

  6. Selesaikah? Belum, masih ada satu step lagi. Karena kita mengirimkan email atas nama email lain, kalau yang kita tuju melakukan reply, tentu akan dikirimkan ke email yang "on behalf of" tadi. Untuk itu, di email yang baru (ingat, email baru  tadi kita buka di browser yang lain), kita set Forwarding email, agar setiap email yang masuk, dilarikan ke alamat email kita yang lama
    image
  7. Selesai deh!

Sekarang kita bisa membuat alias email sebanyak-banyaknya di GMAIL, meski by default GMAIL tidak menyediakan layanan ini, tapi dengan sedikit mengakali, kita bisa kirim alamat email sesuka hati kita.

Say thanks jika posting ini bermanfaat [Halah, kaya forum aja ! 😉 ]

Pengadilan publik

Jika berada di pengadilan, maka tentu saja akan dibutuhkan alat bukti, saksi, berita acara pemeriksaaan, dan tentu saja komponen-komponen terkait, seperti hakim, jaksa, terdakwa, pengacara, dan seterusnya. Proses peradilan melalui tahapan yang cukup panjang, hingga pada akhir keputusan apakah terdakwa dipastikan bersalah dan dihukum, ataukah kemudian dibebaskan karena tuduhan tidak terbukti. Ini idealnya proses dalam peradilan. Masalah kemudian apakah keputusan adil atau kadang tidak adil, tapi proses hukum telah berjalan.

Akan tetapi, dalam kehidupan bangsa Indonesia, ada pengadilan yang “lebih kejam” dalam memutuskan suatu perkara. Yakni yang disebut pengadilan publik. Publik beramai-ramai menghukum seseorang, yang belum tentu apa yang dia lakukan merupakan kesalahan. Kalaupun kemudian bersalah, lebih sering yang terjadi adalah “character assasination”, alias pembunuhan karakter besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, media pun turut memanfaatkan kesempatan yang sama untuk “membunuh” seseorang atau kelompok atau golongan.

Untuk mempermudah penggambaran, kita coba lihat kasus yang pernah terjadi pada mantan presiden Bill Clinton (kita lihat nanti perbandingan bagaimana publik Amerika menghakimi dia dengan publik Indonesia menghakimi seseorang). Kasus “main wanitanya” Bill Clinton terbuka ke publik. Ancaman impeachment berada di depan mata, tapi kemudian timbangan yang menjadi ukuran publik tidak hanya kasus main wanitanya dia, tapi juga performance yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Bill Clinton. Rasionalitas dipakai, dan bukan semata emosionalitas. Performa Bill Clinton dianggap jauh sekali lebih baik ketimbang skandal yang dilakukan oleh dia, hingga pada akhirnya publik pun “memaafkan” tingkah laku “amoral” dia. Sebagai catatan, saya sama sekali tidak mendukung perbuatan main wanitanya Bill Clinton, hanya mempermudah memahami tulisan ini.

Sekarang kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, saya beri contoh gampang, Aa’ Gym. Karirnya sebagai da’i yang melejit pesat, jama’ah yang berduyun-duyun datang untuk mendengarkan pengajiannya yang menyejukkan, masyarakat sekitar Daaru Tauhid yang pada akhirnya cukup makmur, dan dianggap sebagai miniatur kampung santri nan modern, tiba-tiba dihempaskan sehempas-hempasnya oleh publik Indonesia. Aa’ Gym yang tadinya dijadikan sebagai ikon, telah dianggap bak “malaikat” oleh kebanyakan masyarakat. Masyarakat memiliki over ekspektasi terhadap seseorang bernama Aa’ Gym. Dia dijadikan seseorang yang tidak boleh memiliki cela, cacat, dan kesalahan. Publik telah mendewakan beliau, sehignga pada akhirnya, ketika ada satu poin “kesalahan” (kalau boleh dianggap kesalahan) yang beliau lakukan, ekspektasi berlebihan tadi (ekstrim terhadap ekspektasi kebaikan) menjadikan mereka tidak bisa menerima keaadan beliau yang berpoligami. Ramai-ramai masyarakat menghakimi, “Ah ternyata sama saja bejatnya dengan fulan A .. fulan B”, “Da’i kok begitu …”, demikian seterusnya. Tanpa ba..bi..bu, masyarakat + media beramai-ramai melakukan pengadilan publik dan menjatuhkan hukuman yang sangat berat.

Fenomena lain semisal, PKS. Sebagai partai dakwah, fenomena keberadaan mereka memang membuat banyak orang merasa “gentar”. Kebaikan yang ditebar, dipropagandakan, dan dilaksanakan oleh PKS memberikan ruang pengharapan tersendiri ke publik. Tapi ternyata model masyarakat Indonesia memang melankolis. Tidak rela jika “idola” mereka melakukan kesalahan. Kasus yang mirip Aa’ Gym pun terjadi, sebagai partai yang terus disorot oleh publik + media (mohon koreksi, ini yang saya baca di banyak media massa – terutama yang online), maka berita PKS menolak sogokan, berita PKS melakukan aksi kepedulian, dan lain sebagainya tidak akan pernah lagi dianggap sebagai berita MENARIK oleh publik (baca: media). Berita dari PKS akan dianggap menarik jika dan hanya jika, berita tersebut “kontroversial” dan kira-kira memberikan nilai tambah “keburukan” bagi citra PKS. Sesuatu hal yang dianggap “biasa” di partai yang lain (skandal, korupsi, dlsb), akan menjadi kehebohan tersendiri bagi banyak orang jika terjadi di PKS. Kasus Aleg DPRD Jambi dari Fraksi PKS yang “tertangkap” sedang pijat di panti pijat (meski di berita pun disampaikan, panti pijatnya bukan panti pijat plus, bahkan panti pijat legal dan resmi), dijadikan sebagai amunisi oleh publik untuk melakukan penghakiman, bahkan di salah satu TV swasta (SCTV – liputan6.com) diberitakan sedang melakukan perbuatan mesum, padahal di media yang lain ndak ada yang menuliskan seperti itu. Sama persis seperti Aa’ Gym, publik bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang lain (atau mungkin mereka sendiri pelakunya), tapi sama sekali tidak bisa mentolerir kesalahan yang dilakukan oleh orang baik. Dan pada akhirnya, setiap ada kesempatan, “ngapain pilih PKS, alegnya saja pijitan???” Come On, satu keburukan dibanding sekian ribu kebaikan dari aleg yang lain sudah cukup kah untuk justifikasi kepada lembaga ini? Inilah sebagaimana kata pepatah yang memang terlalu melekat kuat di masyarakat kita, sehingga benar-benar dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yakni “Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga“. Tapi kalau Nila Sebelanga, kena Susu sedikit, dianggap sudah biasa saja (kebalik bukan?)

Masyarakat kita memang melankolis, di satu sisi akan melambungkan seseorang ketika mereka merasa mendapat kebaikan darinya, di sisi lain, tidak segan-segan menghancurkan dengan sehancur-hancurnya ketika mereka melihat keburukan (baca: kekurangan) yang ada darinya. Manusia bukanlah malaikat yang bebas dari kesalahan, bahkan Allah SWT ketika di hari akhir pun melakukan penimbangan, ditimbang, mana yang lebih berat, apakah kitab di tangan kanan, atau kitab di tangan kiri/punggung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia pasti bersalah, lha ketika di hari akhir saja dihadapkan dengan membawa kitab (kejahatan) di tangan kiri, hanya saja kemudian dihitung, antara kebaikan dan keburukan, mana yang lebih banyak. Keputusan dilakukan setelah proses pengadilan berjalan.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bersalah, kemudian dia bertaubat? (At Tawwabiin). Bagaimana mungkin kita merasa lebih adil dari Allah SWT, dengan menghakimi seseorang tanpa ampun, tanpa boleh melakukan eksepsi, tanpa boleh melakukan pembelaan, tanpa boleh melakukan perbaikan? Bahkan di salah satu kisah yang disampaikan Nabi SAW tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua, satu hal yang membuat pintu gua terbuka adalah kasus pemuda yang nyaris berzina (tinggal satu step lagi), kemudian dia meninggalkan zina tersebut karena diingatkan tentang Allah SWT.

Jadi, masihkah kita akan mudah melakukan penghakiman terhadap seseorang sedemikian mudahnya?

Teladan98, Quo Vadis

Bukan apa-apa sih, hanya saja terhitung mulai hari ini (setelah perjuangan melelahkan selama dua hari .. padahal nggak ngapa-ngapain, kerjaan diserahkan secara otomatis) saya melepas status email teladan98 (sekarang kelihatan noraknya) yang di gmail ke email yang lebih “professional”.

Sebenarnya eman-eman dengan penggunaan email teladan98 yang dipake sudah sangat lama sekali, bahkan sebelum punya gmail, email yang lain pun brand-nya adalah teladan98, dan ketika saat awal-awal gmail muncul (invited only) dan saya dapat invitasinya tahun 2005 lalu, yang kepikiran pertama kali juga teladan98. Orang biasanya langsung bisa menebak, “alumni SMA 1 ya mas?”, yup, saya memang alumni SMA 1 Jogja.  Saking cintanya kali ya … he..he..

Nah, berhubung ada tuntutan kehidupan di Aussie sini, untuk cari sikutan sana-sini (yang pernah merasakan jadi mahasiswa di LN, tidak terkecuali Aussie sini pasti tahu lah), kalau ndak bisa-bisa beasiswa cuma buat bayarin kontrakan rumah doang, abis deh, makanya kemudian saya juga butuh untuk apply ke sana kemari biar bisa dapet tambahan “uang jajan”.

Meskipun secara umum banyak mahasiswa di sini yang jadi cleaner (termasuk saya tentunya), masih tetep ngimpi part timenya bukan cleaner, tapi ya di IT seperti pekerjaan sebelumnya yang ditekuni. Tapi masya Allah deh, susah sekali untuk cari kerjaan IT yang part time, semua mempersyaratkan full time yang jelas saya ndak bisa memenuhinya berhubung visanya visa student. Nah, untuk itu kan butuh rajin apply, dst. Biar keliatan lebih professional, dan saya sendiri juga sudah mulai bosan (initinya sih bosan kali), maka per hari ini, email teladan98 [at] gmail [dot] com, saya anggap dismiss, meski tidak 100%. Dan semua email keanggotaan milis (terutama dari Yahoogroups)  juga sudah berubah (thanks to Yahoo Profile) tanpa perlu unsubscribe untuk kemudian subscribe lagi.

Saya impor seluruh email saya di kotak pos yang lama dengan POP mail, ke inbox yang baru di gmail yang baru. Prosesnya tentu saja otomatis, cuma ya itu, dua hari lalu berharap proses otomatis ini akan selesai dalam satu dua jam, ternyata tidak ..he..he.. butuh dua hari untuk memindahkan email saya yang memiliki ukuran total 2.9 GB (horotoyoh, email kok sampe 2.9 GB itu isinya apa aja toh ya). But thanks to gmail, ndak perlu berpeluh seperti kalau pake Outlook saat ganti PC, harus download dulu semua emailnya, terus unggah lagi di komputer baru yang diinstall outlook yang fresh.

Yang jelas kenapa masih bertahan pake Gmail, karena semua email saya terkonsolidasikan ke gmail, cukup buka gmail, semua account email saya terbuka dengan sendirinya (via POP mail).

Jadi, goodbye teladan98, selamat datang m.andrisetiawan ;-D

Lagi lagi detik …

detik kurang kerjaan

Ah lagi-lagi detik, “mbok” ada redaktur ahli gitu loh. Yang bertugas menyeleksi dan melakukan proof reading terhadap artikel yang akan dipublish. Jadinya kan ndak memalukan seperti gambar di samping ini. Aset turun kok dari 218,615 ke 246,702, ini mah namanya naik. Yang turun kan pangsa pasarnya dari 11,01% menjadi 10,68%.

Kalau tidak ada proof reading dari redaktur ahli, bisa-bisa suatu ketika nanti, detik bakalan kena batunya. Dituntut orang semisal, mungkin sekarang masih berbangga dengan jumlah pembaca yang besar, tapi kalau beritanya sering error, ya boleh jadi suatu ketika akan ditinggalkan para “pemirsanya”.

Berita aslinya ada di sini.

SMS murah dari Australia (atau tempat lain jg?)

Salah satu yang membuat “stress” hidup di Australia adalah tingginya biaya komunikasi untuk konektivitas mobile (HP), baik untuk telpon atau untuk SMS.

Per SMS lokal biayanya kurang lebih sekitar 25 sen, atau kalau dirupiahkan jadi sekitar Rp 1900) dan SMS ke luar negri sekitar 35 sen (kurang lebih Rp 2800). Terbayang kan, misal mau SMS untuk temen atau keluarga di Indonesia, jadinya mikir-mikir.

Hingga pada akhirnya, setelah iseng-iseng cari provider VoIP buat telpon murah ke Indonesia, eh malah nemukan layanan SMS yang murah sekali (paling tidak untuk ukuran Australia), sekali SMS kenanya 6 sen AUD (atau sekitar Rp 500 per sms). Sebenarnya dulu juga sudah sering memanfaatkan layanan VoIP dari perusahaan yang sama, cuma SMSnya ndak pernah dipakai, soalnya “mahal” (dulu waktu di Singapura, per SMS biayanya 5 sen SGD, catt. 1 SGD = 1 AUD).

Ada beberapa varian dari perusahaan yang namanya Betamax (perusahaan jerman) yang menyediakan layanan seperti Voipcheap, Voipdiscount, Voipbusterpro, dan lain sebagainya. Rata-rata membutuhkan deposit 10 EUR (sekitar 20 AUD), dengan fasilitas gratis telpon ke banyak negara (terutama landline, yang mobile biasanya cuma USA, Thailand, Singapore, Hongkong) yang ini pun bisa kumanfaatin untuk telpon lokal sepuasnya (dengan Fair Usage Policynya, 300 menit per pekan). Dengan demikian cukup dengan biaya 20 AUD bisa buat kirim SMS sampe 330an SMS, berbeda dengan sebelumnya yang hanya cukup buat SMS lokal sebanyak 80 atau internasional cuma 50an (dengan catatan tidak make buat nelpon, cuma SMS aja).

Jadi sekarang, gak terlalu khawatir lagi buat SMS kemana-mana, baik ke lokal Australia dan ke Indonesia. Yang jelas, setelah HP kita diverifikasi oleh mereka (voipcheap, voipdiscount, dlsb), SMS yang terkirim pun bisa atas nama nomer kita tadi. Temen atau saudara yang terima SMS akan langsung tahu, bahwa SMSnya dari kita.

Semoga membantu yang butuh SMS gratis ke Indonesia, terutama bagi mereka yang sedang tinggal di luar negri (lebih khususnya dimana SMS mahal sekali seperti di Australia sini)

Oh..oh… detik ketahuan :)

image

Kena deh! Ketahuan kalau cuma nerjemahin aja ….

Berita lengkapnya dapat diakses di sini (semoga belum diperbaiki, jadi tetep ketahuan kalau cuma nerjemahin aja)

UPDATE: tulisan ini sebenarnya sudah dipersiapkan beberapa hari lalu, tapi gk gitu ngeh kalau ternyata ada problem antara Windows Live Writer dengan XML-RPCnya WP 2.6. Setelah diupgrade, nampaknya sih oke-oke saja.

Switch to our mobile site