Alasan tidak mengapprove friend request …

December 26, 2008 · Posted in Iseng · 14 Comments 

Alasannya sangat sederhana,

Karena foto mereka terlalu “friendster” (Tahu sendiri lah seperti gimana – dengan “lambe”/bibir didowerkan/dimanyunkan, foto dengan kamera di atas terus wajah diadepin kamera dengan gaya yang jayus abis, jari telunjuk pegang pipi, kepala dimiring-miringin, dan lain sebagainya), maka banyak friend request yang saya IGNORE (terutama dari mahasiswa saya di UII .. he.. he..), dan kemudian request dari nama-nama yang tidak jelas, as usual, para ABG sering pake nama aneh-aneh untuk account mereka.

Saya ndak ingin facebook ini menjadi friendster kedua, males lihat daftar friends yang suka dengan foto bermodel ala ABG “gawul”, sedemikian hingga saya sendiri akan merasa males buka facebook saya nantinya.

Simple, but it’s true :D … tidak ada alasan yang lebih spesifik daripada itu.

Kejam ya? Biarin aja … namanya aja yang punya account yang berkuasa, he…he..he.. :mrgreen:

Pamitan for a while

December 13, 2008 · Posted in General Thoughts · 14 Comments 

Insya Allah Sabtu 13 Desember 2008 ini saya akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan PhD saya. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-sebesarnya jika banyak kata dan perbuatan khilaf dan salah. Mohon doanya agar saya diberikan kemudahan untuk menjalankan proses studi saya dengan baik. Semoga cepat kembali online ..he…he.. dan bisa kembali mengupdate blog ini, tentu dengan suasanya yang berbeda, karena sebelumnya cerita saya banyak tentang Yogyakarta the Beloved City, maka mungkin ke depan akan banyak kisah baru dengan perspektif yang berbeda.

Regards,

Bikin NPWP kok mudah, Apa kata Dunia???

December 3, 2008 · Posted in Kontroversi · 39 Comments 

Satu, kampanye yang gencar dari pajak mengenai perlunya punya NPWP. Dua sudah ada sosialisasi di kantor, bahwa yang ndak punya NPWP akan kena kenaikan Pph sebesar 20% dari yang sekarang. Tiga, berhubung tidak lama lagi akan segera berangkat sekolah lagi. Jadi, mau tidak mau saya harus buat NPWP.

Nah, satu yang kemudian membuat sedikit sebel. Nampaknya pajak tidak cukup menyiapkan “keterkejutan” orang yang akan ngurus NPWP yang pasti melonjak, apalagi dibarengi “ancaman-ancaman” seperti kenaikan fiskal jadi 3 juta rupiah kemudian PPh dinaikkan 20%, maka berbondong-bondonglah orang pada bikin NPWP. Melonjaknya jumlah pembuat NPWP mengakibatkan pelayanannya jadi “AMBURADUL”, tidak seperti yang dijanji-janjikan oleh mereka.

Layanan yang 10 menit jadi, menjadi mundur lama. Katanya sehari langsung dapat kartu NPWP, eh disuruh datang balik besok-besoknya. Dan unfortunately saya yang kena masalah ini.

Pekan kemarin, saya dengan rekan kerja di kantor datang Kantor Pelayanan Pajak Pratama Maguwo, Sleman. Ketemu satu masalah, petugasnya bilang, berhubung sumatra sedang ada pembukaan kantor pelayanan pajak yang baru, sebagian besar bandwidth-nya dibawa lari ke sana, jadinya yang di Sleman/Jogja, jadi lelet sekali. Sehingga antri satu jam, cuma dua orang terlayani. Dijanjikan oleh petugasnya (mbak A kalau ndak salah namanya), “Pekan depan aja mas, kalau pekan depan pasti sudah cepet lagi …”

OK, saya nurut, pekan ini saya ke KPP Maguwo lagi. Kemarin Selasa saya datang ke sana lagi. Kali ini yang melayani namanya mas J. Waktu beliau ngentri data, saya tanya, loh mas kok nama saya harus ditulis lagi (kebetulan waktu itu spelling nama saya), kan sudah ada nomer pendaftaran saya di sana. Kebetulan saya sudah daftar online di http://ereg.pajak.go.id. Mas J-nya bilang, lha sistemnya gitu. Gubraks…. lah gunanya saya daftar di website untuk apa? Kan tinggal retrieve data sementara saya mustinya bisa, tapi sistemnya tidak mendukung. Setelah itu, muncul masalah lagi, “Pak, ini kartunya baru bisa diambil besok”. “Kenapa?” tanya saya, “Ya dari pusat .. gini..gini ..bla..bla..”, intinya jatah kartunya terbatas. Dan saya diminta datang keesokan harinya (hari Rabu) untuk ngambil. Padahal komitmen pajak adalah sehari jadi (bahkan sepuluh menit jadi). Saya tanya ke mas J “Besok jam berapa?”,”Jam 8 sampai jam 4 sore pak.” Saya bilang, “tinggal ambil kan?”, “iya, ndak perlu antri, temui saja mbak R.”

Pagi ini saya datang ke sana, mau ambil kartu NPWP. Sampai di KPP Maguwoharjo jam 8 lebih 4. Saya langsung masuk ruang yang melayani pengambilan kartu NPWP. Yang nemui ibu-ibu pake kerudung baju kuning, “Bu saya mau ambil kartu NPWP.” Oleh beliau saya disuruh nunggu, sambil duduk dulu. Akan diproses. Kebetulan saya duduknya di luar masih bisa melihat kondisi ruang proses di dalam. Setengah jam saya menunggu, dan what the heck is … slip ricit saya untuk pengambilan NPWP tidak diapa-apain. Cuma didiemin di meja, dan saya ndak tahu yang namanya mbak R yang mana, pikir saya ibu berbaju kuning yang nerima ricit saya. Setelah saya tanya, ternyata dia bukan mbak R. Dan payahnya dia tidak memberikan ricit saya ke yang namanya mbak R, cuma ditaruh di atas meja saja. Dan setelah saya ketemu dengan yang namanya mbak R ternyata mbak R lagi mroses ricit yang lain.

Saya sudah kadung dongkol sama mereka, gimana tidak, ricit saya cuma ditaruh begitu saja di atas meja, tidak kemudian diproses untuk diantrikan. Dan yang lebih mengecewakan lagi, janji sehari sebelumnya bahwa saya datang tinggal ngambil kartu NPWP di keesokan harinya tinggal janji. Karena ternyata harus nunggu diproses dulu macem-macem, sementara waktu saya terbatas. Akhirnya saya ambil lagi ricitnya. Sudah jengkel, jawabannya juga pada nggak ngenakin. Benar-benar menyusahkan.

Bikin NPWP kok mudah? Apa kata dunia…….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
arrrggghhh ….