Thoughts Dalam sebuah perjalanan, selalu ada kisah, catatan, dan pikiran

Disclaimer Komentar

Segala komentar, pingback, dan trackback yang bukan dilakukan oleh saya (Andri Setiawan) adalah tanggung jawab masing-masing penulis aslinya.

Where Am I?

Berlangganan

Isikan email anda:

 Langganan di sini

Add to Google Reader or Homepage

Subscribe in Bloglines

Google Friend

Afiliasi








Tentang Saya

Mukhammad Andri Setiawan, just an ordinary man, trying to get better on everyday of his life

Disclaimer

Jika berminat KOPAS (copy paste) dari apa yang saya tulis di sini, dipersilakan. Yang penting sebutin sumbernya. Biar tidak disebut sebagai pembajak, at least hargai penulis awalnya.

Page Rank

Page Rank Tool

Pembaca



Arsip

My Tweet

    • Jangan membiasakan "Membatalkan Puasa"

      Kebiasaan orang-orang (setidaknya di tempat saya), adalah ketika waktu maghrib tiba, mereka akan mengatakan ..”Ayo, puasanya dibatalkan dulu …”, atau ketika tengah-tengah berbincang, adzan maghrib berkumandang .. “Ndang, posone dibatalke dhisik …” (Segera batalin dulu puasanya).

      Kalau mau ditelaah lebih dalam lagi, sebenarnya penggunaan kata membatalkan puasa tentulah tidak tepat. Batal secara harfiah sama dengan Cancel dalam bahasa inggris. Puasa dapat batal karena tiga perkara, satu makan, dua minum, tiga berhubungan seksual suami-istri/keluar mani dengan berbagai macam cara. Kapan puasa dikatakan batal? Ketika perkara yang membatalkan puasa tersebut dilakukan di siang hari.

      Lalu bagaimana jika perkara-perkara tersebut dilakukan di malam hari? Ya tentu saja tidak akan membatalkan puasa, gimana mau batal, lha malam hari puasa aja nggak kok. Ya to? Sehingga ketika maghrib telah tiba, apakah dengan makan dan minum akan membatalkan puasa? Tentu saja tidak, karena saat itu adalah waktunya berbuka, dan makanan serta minuman telah dihalalkan kembali untuk kita nikmati.

      Dari sini nampak jelas perbedaannya. Mengatakan “Mari membatalkan puasa dulu ..” di saat maghrib sama dengan Let’s CANCEL our fasting by eating food and drinking water, sementara mengatakan “Mari berbuka puasa lebih dulu ..” sama dengan Let’s FINISH/COMPLETE our fasting by eating food and drinking water. Jadi konteks kalimat membatalkan puasa ketika memang waktunya bukan untuk berpuasa tentu saja tidak tepat. Membatalkan puasa hanya dilakukan saat tengah hari bolong, ketika memang diharamkan perkara-perkara yang dapat membatalkannya.

      Jadi?  Mari biasakan untuk tidak mengatakan membatalkan puasa untuk mengganti kata-kata berbuka puasa.

      Published on September 13, 2008 · Filed under: Islam;
      10 Comments

    10 Responses to “Jangan membiasakan "Membatalkan Puasa"”

    1. pertamaxx.,

      hehehehe.,iy juga pak ya.,kadang di kos2an saya, anak2 kos pada bilang gitu kl dah magrib., “hayoo mas puasa nya kita batalkan dulu” ternyata kl kita telaah lagi kata2 tersebut mengandung sedikit pengertian yang berbeda pak ya.,

      Terima kasih

      Katrok, ndeso, gak ngerti peradaban blog !
      Sudah tahu dilarang nulis pertamax kok ya masih ngeyel !!! :-P

    2. hehehe istilahnya orangorang begitu :D tapi kalo kata batal itu sudah mendekati waktu berbuka puasa, pasti arahnya adalah menyegerakan berbuka

    3. itu kan cuman lafalnya pak, niatnya juga engga batalin / cancelin puasa. kek orang bilang nggodok wedang aja kan??

    4. salah satu dari yang membatalkan puasa yang disebutkan kekna da yg salah, “keluar mani dengan berbagai macam cara”. Nah kalo pas mimpi basah gimana?pa batal juga tuh?

    5. Assalamualaikum wr wb
      mo tanya kalo kita bermesraan di bulan puasa sampai (maaf) orgasme walaupun tidak berhubungan intim, apakah juga membatalkan puasa dan sanksinya sama dengan berhubungan intim juga atau hanya menghilangkan pahala puasa ? terima kasih

    6. Hmm iya juga yah? Untung gak pernah pakai kata2 itu…

    7. Wah, iya juga ya pak, ternyata baru sadar saya…thanks bwt inponya pak…
      oia, klo mau di telaah lebih dalam lagi, hal yang membatalkan puasa gak cuma sekedar makan, minum, dan berhubungan seksual suami-istri/keluar mani dengan berbagai macam cara aja lo pak..

    8. Emang ada lagi ta’??? :o
      Dalilnya sekalian yah.. biar bisa dilihat kebenarannya..

    9. waduh…klo dalilnya jujur saja saya sudah lupa…udah lama gak ikut kajian islami lagi jadi banyak yang lupa…contohnya muntah dengan sengaja, trus apa lagi ya..trus juga murtad…(hehehe..yang itu sih pasti).kebetulan lagi agak pusing jadi lupa semua..hehehe

    10. wah, bersyukur juga saya, selama ini jarang banget pake kata2 membatalkan puasa, paling sering ayo buko atau ayo buka hehe..

    Leave a Reply