Jangan membiasakan "Membatalkan Puasa"

Kebiasaan orang-orang (setidaknya di tempat saya), adalah ketika waktu maghrib tiba, mereka akan mengatakan ..”Ayo, puasanya dibatalkan dulu …”, atau ketika tengah-tengah berbincang, adzan maghrib berkumandang .. “Ndang, posone dibatalke dhisik …” (Segera batalin dulu puasanya).

Kalau mau ditelaah lebih dalam lagi, sebenarnya penggunaan kata membatalkan puasa tentulah tidak tepat. Batal secara harfiah sama dengan Cancel dalam bahasa inggris. Puasa dapat batal karena tiga perkara, satu makan, dua minum, tiga berhubungan seksual suami-istri/keluar mani dengan berbagai macam cara. Kapan puasa dikatakan batal? Ketika perkara yang membatalkan puasa tersebut dilakukan di siang hari.

Lalu bagaimana jika perkara-perkara tersebut dilakukan di malam hari? Ya tentu saja tidak akan membatalkan puasa, gimana mau batal, lha malam hari puasa aja nggak kok. Ya to? Sehingga ketika maghrib telah tiba, apakah dengan makan dan minum akan membatalkan puasa? Tentu saja tidak, karena saat itu adalah waktunya berbuka, dan makanan serta minuman telah dihalalkan kembali untuk kita nikmati.

Dari sini nampak jelas perbedaannya. Mengatakan “Mari membatalkan puasa dulu ..” di saat maghrib sama dengan Let’s CANCEL our fasting by eating food and drinking water, sementara mengatakan “Mari berbuka puasa lebih dulu ..” sama dengan Let’s FINISH/COMPLETE our fasting by eating food and drinking water. Jadi konteks kalimat membatalkan puasa ketika memang waktunya bukan untuk berpuasa tentu saja tidak tepat. Membatalkan puasa hanya dilakukan saat tengah hari bolong, ketika memang diharamkan perkara-perkara yang dapat membatalkannya.

Jadi?  Mari biasakan untuk tidak mengatakan membatalkan puasa untuk mengganti kata-kata berbuka puasa.

  1. pertamaxx.,

    hehehehe.,iy juga pak ya.,kadang di kos2an saya, anak2 kos pada bilang gitu kl dah magrib., “hayoo mas puasa nya kita batalkan dulu” ternyata kl kita telaah lagi kata2 tersebut mengandung sedikit pengertian yang berbeda pak ya.,

    Terima kasih

    Katrok, ndeso, gak ngerti peradaban blog !
    Sudah tahu dilarang nulis pertamax kok ya masih ngeyel !!! 😛

  2. aRuL says:

    hehehe istilahnya orangorang begitu 😀 tapi kalo kata batal itu sudah mendekati waktu berbuka puasa, pasti arahnya adalah menyegerakan berbuka

  3. awik says:

    itu kan cuman lafalnya pak, niatnya juga engga batalin / cancelin puasa. kek orang bilang nggodok wedang aja kan??

  4. chooey says:

    salah satu dari yang membatalkan puasa yang disebutkan kekna da yg salah, “keluar mani dengan berbagai macam cara”. Nah kalo pas mimpi basah gimana?pa batal juga tuh?

  5. nurul says:

    Assalamualaikum wr wb
    mo tanya kalo kita bermesraan di bulan puasa sampai (maaf) orgasme walaupun tidak berhubungan intim, apakah juga membatalkan puasa dan sanksinya sama dengan berhubungan intim juga atau hanya menghilangkan pahala puasa ? terima kasih

  6. Adil Makmur says:

    Hmm iya juga yah? Untung gak pernah pakai kata2 itu…

  7. Tirta says:

    Wah, iya juga ya pak, ternyata baru sadar saya…thanks bwt inponya pak…
    oia, klo mau di telaah lebih dalam lagi, hal yang membatalkan puasa gak cuma sekedar makan, minum, dan berhubungan seksual suami-istri/keluar mani dengan berbagai macam cara aja lo pak..

  8. Adil Makmur says:

    Emang ada lagi ta’??? 😮
    Dalilnya sekalian yah.. biar bisa dilihat kebenarannya..

  9. Tirta says:

    waduh…klo dalilnya jujur saja saya sudah lupa…udah lama gak ikut kajian islami lagi jadi banyak yang lupa…contohnya muntah dengan sengaja, trus apa lagi ya..trus juga murtad…(hehehe..yang itu sih pasti).kebetulan lagi agak pusing jadi lupa semua..hehehe

  10. wah, bersyukur juga saya, selama ini jarang banget pake kata2 membatalkan puasa, paling sering ayo buko atau ayo buka hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site