Thoughts Dalam sebuah perjalanan, selalu ada kisah, catatan, dan pikiran

Disclaimer Komentar

Segala komentar, pingback, dan trackback yang bukan dilakukan oleh saya (Andri Setiawan) adalah tanggung jawab masing-masing penulis aslinya.

Berlangganan

Isikan email anda:

 Langganan di sini

Add to Google Reader or Homepage

Subscribe in Bloglines

Google Friend

Afiliasi








Tentang Saya

Mukhammad Andri Setiawan, just an ordinary man, trying to get better on everyday of his life

Disclaimer

Jika berminat KOPAS (copy paste) dari apa yang saya tulis di sini, dipersilakan. Yang penting sebutin sumbernya. Biar tidak disebut sebagai pembajak, at least hargai penulis awalnya.

Page Rank

Page Rank Tool

Pembaca





Arsip

My Tweet

    • Penentuan Awal Ramadhan

      Beberapa tahun terakhir di Indonesia kita terbiasa berbeda-beda dalam menentukan awal puasa, begitu juga saat menentukan akhir puasa. Sehingga terpaksa menjadi lazim, bahwa dalam satu keluarga, satu desa, satu kota, berbeda-beda puasa dan lebarannya. Tentu hal ini kurang menyenangkan. Rasanya agak gimana gitu, yang satu sudah puasa, tetangganya masih berbuka, besoknya pas lebaran, yang satu sudah makan-makan, yang satu masih berpuasa.

      Perbedaan ini terjadi karena ada dua pendapat penentuan awal Ramadhan. Yang satu berdasar pada metode Hisab (perhitungan matematika), dan yang satu berdasar pada metode Rukyat (melihat bulan).

      Praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu ya dengan melihat bulan secara langsung, alias menggunakan rukyat. Saat itu memang ilmu astronomis belum semodern dengan penghitungan di masa sekarang. Dalam metode rukyat, bulan baru dianggap sudah masuk apabila si bulan baru sudah terlihat di horizon. Bulan baru ini jangan dibayangkan akan nampak dengan jelas, karena hanya nampak seperti garis saja. Sehingga kalau terlambat sebentar saja, dan posisi bulannya tidak tahu pastinya ada di sudut mana, ya susah. Dengan metode ini bulan baru akan bisa terlihat jika sudah lebih dari 3 atau sebagian lain mengatakan 5 derajad di atas horizon. Artinya walau secara matematika sudah lebih dari 0 derajad, tapi merupakan mission impossible untuk melihat dengan ketinggian yang relatif pendek, misal 1 derajad.

      Praktek hisab ditunjang oleh perhitungan astronomi, yang dapat menentukan dimana posisi bulan berada pada saat tanggal tertentu. Bahkan dengan free software seperti Stellarium http://www.stellarium.org, kita dapat melihat di mana posisi bulan berada dari berbagai belahan dunia. Metode hisab sendiri dibenarkan, berdasar pada apa yang telah disampaikan dalam Alquran di surat Yasin ayat 38-40

      “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”

      ” Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah – manzilah, sehingga ( setelah dia sampai pada manzilah yang terakhir ) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”

      ” Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing – masing beredar pada garis edarnya”

      Sebenarnya dua metode ini dapat saling mendukung satu sama lain, artinya hisab perlu dilakukan agar rukyat lebih akurat. Bahkan kalau saya melihat, bahwa meskipun tertutup awan, tapi dengan teknologi sekarang misal dengan cahaya infra, kita tetap dapat melihat bulan dengan bantuan perhitungan hisab untuk secara akurat menentukan posisinya.

      Sebenarnya masih ada satu metode lagi, bukan hisab bukan rukyat, tapi metode Ukhuwwah Islamiyyah … he…he… meski bukan metode “sahih” dalam menentukan awal/akhir bulan, setidaknya metode ini akan mencegah terjadinya “congkrah” dalam komunitas muslim. Persatuan dalam Islam hukumnya wajib. Lalu bagaimana implementasinya? Ya kalau di suatu lokal/wilayah sebagian besar penganut pro Hisab, ya sudah, ikut saja. Kalau ternyata pro rukyat sebagian besar, apa salahnya yang pro Hisab ikutan rukyat. Karena dalam hadits, kita berbuka/lebaran bersama dengan orang-orang yang berbuka. Kalau minoritas, dan kemudian berbeda sendiri, tentu menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan di antara kita.

      Jadi? Bagaimana pendapat anda?

      Dalam sebuah angkot ada obrolan anak-anak SMA yang sedang membahas tentang acara valentine. Mereka sibuk mempersiapkan
      A: Kamu sudah nyiapin buat tanggal 14 besok?
      B: Aku sudah beli coklat, terus beli kotak pink, sama pita.
      A: Wah, asyik ya. Aku baru beli coklat bentuk hati nih
      Saat A dan B ngobrol, ada satu kawannya, C, yang diam saja.
      B: Eh, kalau kamu sudah persiapan belum buat tanggal 14?
      C: Tanggal 14? Emang ada apaan?
      A: Yee, ya valentinan lah.
      C: Oh, valentine. Kalau aku tanggal 13 sih.
      A+B: Loh, kok tanggal 13?????
      C: Iya, aku kan Muhammadiyyah
      A+B: !@)!&#!(*^#!#!!!! GUBRAXXXX!
      :mrgreen:

      VN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
      VN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)

      Related posts:

      1. Agama dalam bisnis / politik
      2. Hadits Nabi yang berkaitan dengan Ramadhan (3)
      3. The Stupid Kuis Ramadhan in Indonesia
      4. Menjelang ramadhan, udah persiapan belum?
      Published on August 20, 2008 · Filed under: Islam Sosial;
      10 Comments

    10 Responses to “Penentuan Awal Ramadhan”

    1. iya pak, klo lebaran sama-sama jadi lebih enak…

      stelarium kemaren bantu saya ngeliat gerhana matahari total sama gerhana bulan pak…

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    2. Berarti kita ribut dan ingin menyamakan tanggal sebetulnya hanya karena alasan upacara.
      Contohmu dalam kasus Valentine itu adalah dalam hal upacara.

      Padahal Ramadhan dan Idul Fitri itu esensinya bukan upacara. Itu ibadah personal terhadap Tuhannya. So kalau urusan personal, nggak perlu disamakan.

      Untuk urusan upacara, yg melibatkan orang banyak, memang butuh disamakan.

      Aku sendiri nggak begitu peduli dengan penyamaan tanggal, karena aku tidak suka upacara.

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    3. saya pernah baca di salah satu artikel astronom (dari ITB kalo gak salah), bahwa dalam metode hisab pun bisa berbeda pendapat. Dalam hal ini ya parameter berapa derajat yang didefinisikan sebagai hilal, 3 derajat,5 derajat atau mungkin ada yang lain (kurang tau). Makanya tim hisab pemerintah sama tim hisab dari ormas2 islam masih bisa beda pendapat.

      mending ikut pemerintah aja deh…hahaha..
      Btw, kalo metode ukhuwah itu (hehehe) bisa gak ya dibikin satu Indonesia gitu (mimpiii….) :p

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    4. [...] ini akan jatuh pada 1 september 2008. Muhammadiyah dan Persis sudah sepakat 1 september berdasar metode hisab. Sedangka NU masih menunggu hasil rukyat hilal, yang kemungkinan besar juga hasilnya akan sama 1 [...]

    5. Wah sepakat dengan tulisan ini Pak.
      Di singapore sepertinya 1 suara tanggal 1 September.
      Hehe quote obrolan anak2 sma itu lucu banget :D
      Btw, salam buat mbak Army.

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    6. kita jangan meributkan kapan awal dan akhir ramadhon, tetapi niat kita untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim ada enggak. jangan ribut melulu ngejalanin enggak. OK

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    7. Syamsul 'Ulum Hasan said on

      Alangkah baiknya, demi citra/syiar Islam, awal Ramadlan/Syawal/Dzulhijjah sesuai dg kalender Hijriyah. Aneh sekali ada kalender yg setahun bisa berubah 3 kali !!. Sarjana non-muslim sdh mengirim Hubble ke luar angkasa, sarjana muslim masih neropong bulan!

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    8. enaknya sih kayak zaman rosul, ada satu panutan, nggak kayak sekarang nih, banyak presidennya dari orang muslim, jadi ya repot. ikut presiden irak / arab / malaysia / indonesia : semua orang islam dan semua pakai rukyat, tapi hasilnya berbeda. tapi menurut aku nih : buminya satu, bulannya satu, mataharinya satu, tuhannya satu, pasti deeeeh awal romadhonnya satu yaitu tgl 1 romadhon 1429H. ojiit ngggggggaaaaaaaaak?

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    9. setuju sama mbah tuo, kita ini satu bumi,satu bulan,satu Tuhan, hanya isi kepalanya saja yang banyak dan tiap kepala punya gambaran yang berbeda tentang bulan,matahari dan tuhan barang kali, jadi ya kayak begitu…

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)
    10. Yang harus dipentingkan sebetulnya Umat, kalau saja muhammadiyah mau sedikit toleran dalam perhitungan hisabnya, jangan menggunakan wujudul hilal, sehingga mau menerima metode Imkanur Rukyat, yang menggunakan 2 derajat dari titik azimuth, mungkin persoalan ini tidak ada, jadi memang jelas kalo Indonesia itu mudah diadu domba oleh belanda, wong persoalan yang seharusnya bisa diberikan kepada katakanlah kepada Ahli2 Astronomi di Universitas dan Institut terkemuka dinegeri ini saja pasti dijamin sudah selesai tidak mau…kenapa? karena gengsi golongan, bukan karena kebenaran yang hakiki! Istigfarlah, nanti dipadang masyar akan diminta pertanggungjawabannya, jangan selalu membodohi umat dengan nama Ukhuwah sambil diri sendiri tidak mau ukhuwah!!!!!

      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      UN:F [1.7.5_995]
      Rating: 0 (from 0 votes)

    Leave a Reply

    Subscribe without commenting