Archive for August 2008

Penentuan Awal Ramadhan

Beberapa tahun terakhir di Indonesia kita terbiasa berbeda-beda dalam menentukan awal puasa, begitu juga saat menentukan akhir puasa. Sehingga terpaksa menjadi lazim, bahwa dalam satu keluarga, satu desa, satu kota, berbeda-beda puasa dan lebarannya. Tentu hal ini kurang menyenangkan. Rasanya agak gimana gitu, yang satu sudah puasa, tetangganya masih berbuka, besoknya pas lebaran, yang satu sudah makan-makan, yang satu masih berpuasa.

Perbedaan ini terjadi karena ada dua pendapat penentuan awal Ramadhan. Yang satu berdasar pada metode Hisab (perhitungan matematika), dan yang satu berdasar pada metode Rukyat (melihat bulan).

Praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW saat itu ya dengan melihat bulan secara langsung, alias menggunakan rukyat. Saat itu memang ilmu astronomis belum semodern dengan penghitungan di masa sekarang. Dalam metode rukyat, bulan baru dianggap sudah masuk apabila si bulan baru sudah terlihat di horizon. Bulan baru ini jangan dibayangkan akan nampak dengan jelas, karena hanya nampak seperti garis saja. Sehingga kalau terlambat sebentar saja, dan posisi bulannya tidak tahu pastinya ada di sudut mana, ya susah. Dengan metode ini bulan baru akan bisa terlihat jika sudah lebih dari 3 atau sebagian lain mengatakan 5 derajad di atas horizon. Artinya walau secara matematika sudah lebih dari 0 derajad, tapi merupakan mission impossible untuk melihat dengan ketinggian yang relatif pendek, misal 1 derajad.

Praktek hisab ditunjang oleh perhitungan astronomi, yang dapat menentukan dimana posisi bulan berada pada saat tanggal tertentu. Bahkan dengan free software seperti Stellarium http://www.stellarium.org, kita dapat melihat di mana posisi bulan berada dari berbagai belahan dunia. Metode hisab sendiri dibenarkan, berdasar pada apa yang telah disampaikan dalam Alquran di surat Yasin ayat 38-40

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”

” Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah – manzilah, sehingga ( setelah dia sampai pada manzilah yang terakhir ) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua”

” Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing – masing beredar pada garis edarnya”

Sebenarnya dua metode ini dapat saling mendukung satu sama lain, artinya hisab perlu dilakukan agar rukyat lebih akurat. Bahkan kalau saya melihat, bahwa meskipun tertutup awan, tapi dengan teknologi sekarang misal dengan cahaya infra, kita tetap dapat melihat bulan dengan bantuan perhitungan hisab untuk secara akurat menentukan posisinya.

Sebenarnya masih ada satu metode lagi, bukan hisab bukan rukyat, tapi metode Ukhuwwah Islamiyyah … he…he… meski bukan metode “sahih” dalam menentukan awal/akhir bulan, setidaknya metode ini akan mencegah terjadinya “congkrah” dalam komunitas muslim. Persatuan dalam Islam hukumnya wajib. Lalu bagaimana implementasinya? Ya kalau di suatu lokal/wilayah sebagian besar penganut pro Hisab, ya sudah, ikut saja. Kalau ternyata pro rukyat sebagian besar, apa salahnya yang pro Hisab ikutan rukyat. Karena dalam hadits, kita berbuka/lebaran bersama dengan orang-orang yang berbuka. Kalau minoritas, dan kemudian berbeda sendiri, tentu menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan di antara kita.

Jadi? Bagaimana pendapat anda?

Dalam sebuah angkot ada obrolan anak-anak SMA yang sedang membahas tentang acara valentine. Mereka sibuk mempersiapkan
A: Kamu sudah nyiapin buat tanggal 14 besok?
B: Aku sudah beli coklat, terus beli kotak pink, sama pita.
A: Wah, asyik ya. Aku baru beli coklat bentuk hati nih
Saat A dan B ngobrol, ada satu kawannya, C, yang diam saja.
B: Eh, kalau kamu sudah persiapan belum buat tanggal 14?
C: Tanggal 14? Emang ada apaan?
A: Yee, ya valentinan lah.
C: Oh, valentine. Kalau aku tanggal 13 sih.
A+B: Loh, kok tanggal 13?????
C: Iya, aku kan Muhammadiyyah
A+B: !@)!&#!(*^#!#!!!! GUBRAXXXX!

:mrgreen:

Syarat jadi Presiden: Baca Buku!

Ada satu cita-cita saya yang sampai dengan saat ini masih saya usahakan terus menerus. Yakni memiliki perpustakaan pribadi dengan jumlah koleksi nan banyak. Setidaknya ada dua orang yang cukup menjadi inspirasi saya kenapa saya menginginkan memiliki perpustakaan pribadi. Pertama adalah proklamator Indonesia, Bung Hatta, dan yang kedua sekjen PKS sekarang, Anis Matta. Dua-duanya memiliki kesamaan, memiliki koleksi perpustakaan pribadi yang jumlahnya sangat banyak. Tapi tidak sekedar punya banyak buku, semua buku yang menjadi koleksinya pernah dibaca semua.

Untuk memiliki buku memang bukan perkara susah, yang susah adalah membaca buku yang sudah kita beli. Apalagi kalau melihat jumlah halamannya yang begitu tebal, bagi sebagian orang rasanya sangat susah untuk menyelesaikannya, orang Jawa bilang awang-awangen.

Saya salut dengan dua orang yang menginspirasi saya tadi, koleksi yang begitu banyak, dan juga beragam, tidak sekedar fokus pada apa yang dia minati, tapi juga mengembangkan wawasan yang sedemikian luas. Tidak heran, walaupun bung Hatta merupakan politikus, pemahaman beliau di bidang lain pun tidak kalah. Begitu juga setahu saya, Anis Matta walaupun backgroundnya adalah ilmu syariah, tapi kalau diajak ngomong tentang kedokteran, engineering, sosiologi, dan lain sebagainya, dia bisa nyambung.

Yang cukup disayangkan, entah kenapa bangsa Indonesia susah sekali untuk membudayakan budaya membaca. Kalau suruh baca buku, baru sebentar saja rasanya mata sudah mengantuk. Berbeda dengan menonton sinetron atau realiti show, bisa betah mata melek dari jam 6 sore sampai jam 12 malam.

Saya sendiri, Alhamdulillah baru memiliki lebih dari seratus item koleksi buku, masih jauh ketimbang Bung Hatta yang perpustakaannya sendiri sangat besar dengan item yang sangat banyak sekali. Cuma memang bedanya, saya sukanya beli buku dulu, ntar bacanya entah kapan, he..he.. Yang penting punya dulu bukunya, biasanya kemudian baru saya baca di waktu yang longgar, seperti ketika travelling, naik pesawat, nunggu di bandara, dan sebagainya. Di saat itulah biasanya saya menghabiskan ratusan halaman buku. Alhamdulillah, banyak cakrawala baru dengan bacaan buku yang saya miliki.

Apalagi jika ingin jadi presiden Indonesia, dimana masalah yang harus dihadapi sangatlah beragam. Memang dia punya mentri, tapi bukan berarti presiden ndak tahu urusan-urusan yang spesifik keilmuan tertentu. Setidaknya jika dia tahu, dia bisa mengarahkan bangsa ini ke lebih baik.

Jadi apakah orang yang anda sukai untuk jadi presiden rajin membaca? Kalau tidak, ya jangan pilih lah!

Perokok [Indonesia] adalah orang buta huruf

Pernahkah anda melihat gambar seperti di bawah ini?

image image

Saya yakin semuanya pernah melihat tanda atau tulisan seperti gambar-gambar yang saya muat di sini.

Dengan cukup besar dan jelas, ada tanda dilarang merokok. Namun apa lacur, di Indonesia, walaupun sudah jelas ada tanda seperti di atas, nampaknya masih saja dilanggar oleh banyak perokok di Indonesia.

Cobalah anda tengok di Ruang Tunggu Bandara Sukarno Hatta (yang ada di dalam). Sudah jelas di sana ruang berAC, kemudian ada tanda dilarang merokok di mana-mana, dan beberapa meter di dekat pintu ruang tinggu sekali lagi dipasang tanda dilarang merokok. Tapi yang bikin uaneh bin uajaib, justru para perokok merokok di sekitar tanda larangan tersebut. Dan wajah mereka tiada sama sekali menunjukkan rasa bersalah.

Pekan lalu, ketika saya makan di salah satu rumah makan franchise dengan kawan saya, keajadiannya pun sama. Jelas di dalam restoran adalah berAC, ya masih saja nekat merokok. Padahal di belakang si perokok tersebut, tertera tanda dilarang merokok.

Di kampus di mana saya mengajar juga setali tiga uang. Para mahasiswa perokok pun seperti sudah kehilangan urat malu dan urat bacanya kali, merokok di bawah tanda dilarang merokok. Dari seluruh kampus universitas yang pernah saya kunjungi di Indonesia ini, hanya ada satu kampus yang benar-benar bebas rokok, yakni di Universitas Advent Indonesia. Selebihnya? Jangan harap!!!

Karena itulah saya berani menyimpulkan, bahwa banyak sekali perokok Indonesia yang mengalami “kebutaan huruf” dan “kebutaan tanda” sesaat, atau mata mereka sudah dibutakan (bahasa jawanya : DADI PICEK!!! – maaf kalau bahasanya terlalu kasar) ketika mereka merokok. Benar-benar stupid, sudah tahu ada tanda dilarang merokok, sudah tahu mereka berada di ruang berAC, tapi tanpa malu-malu pasang aksi dengan merokok. Memang merokok membikin anda para perokok jadi jago gitu? Benar-benar semprul kok orang-orang yang merokok sembarang tempat, tidak mengindahkan larangan dan hak orang lain mendapatkan udara yang sehat.

Buat para wanita yang hendak menikah dengan calon suami perokok, sebelum anda memutuskan menikah dengan mereka, tes dulu ketahanan mental anda dengan mencium asbak yang habis dipenuhi abu rokok. Cium dulu dalam-dalam, kira-kira begitulah rasanya bibir para perokok … he…he…

Jadi masih ada yang menganggap perokok itu pintar? Nyatanya ndak gitu kok, pada buta huruf semua (untuk mengatakan buanyak sekali, alias sebagian besar), karena ndak ada yang bisa membaca tanda dengan baik. ROKOK = MARAI BODO [Bikin bodoh]

image

Images are courtesy of:

  1. http://lovecreative.typepad.com/love/images/2007/06/20/nosmoking.png
  2. http://flickr.com/photos/70604526@N00/2132161232/
  3. http://galih666.blogspot.com/

Say no to Smoking!

MUI mau mengeluarkan fatwa haram merokok?

Jelas saya dukung!

Komnas perlindungan anak meminta perlindungan anak-anak dari rokok, dengan fatwa haram tadi?

Jelas saya dukung!

Larangan merokok di tempat publik?

Jelas saya dukung!

Ulama (perokok) bilang kalau rokok itu makruh?

Apa sih definisi makruh? Sesuatu yang diperbolehkan, tapi DIBENCI dan TIDAK DISUKAI di sisi Allah SWT. Bagaimana mungkin mereka mengharap kasih dan cinta dari Allah SWT, kalau setiap hari kerjaannya melakukan yang dibenci oleh Allah SWT.

SAY NO TO SMOKING!

Garuda, GA255 …. Cancelled!

DSC_9237

Hari sabtu kemarin, rencananya saya hendak pulang dari acaranya CISCO di Bali, kembali ke Jogja dengan menggunakan Garuda nomor penerbangan GA 255 jam 19.55 WITA.

Sudah sampai bandara sekitar jam 5 sore, setelah sebelumnya berbelanja oleh-oleh. Sempat waktu di bandara, oleh-oleh saya nyaris “hilang” karena keteledoran saya ..he…he.. tertinggal di bagian security check yang pertama sebelum check in.

Ketemu di sana dengan kawan lama di SMA, yang sekarang kerja di Sudan yang sedang berlibur dengan istrinya yang juga teman SMA saya. Ngobrol-ngobrol, kemudian setelah maghrib jam 7 WITA, kita naik ke atas untuk menunggu boarding pesawat.

Pukul 19.40 WITA, ada pengumuman dari bandara, Garuda ke Jogja ditunda sampai dengan jam 20.20 WITA. Ya sudah, cuma delay setengah jam, kita kembali menunggu. Nah, jam 20.15 WITA ada pengunguman lagi. Kali ini pengumumannya bikin ‘kaget’, penerbangan dibatalkan karena alasan teknis. Wadaw, rencana pulang sabtu malam jadi gagal. Katanya ada sistem hidrolik roda kanan dari pesawat yang error.

Tentu saja penumpang rada-rada menggerutu. Ini adalah pengalaman saya pertama kali mengalami peristiwa pembatalan, setelah sebelum-sebelumnya cuma delay saja. Tapi yang pasti, tidak seperti di berita-berita yang pernah saya baca, pada saat pembatalan-pembatalan jadwal pesawat, tidak ada penumpang yang ESMOSI ketika ada kabar pembatalan. Satu hal yang saya perhatikan kenapa tidak banyak yang emosi, karena Garuda langsung mengumumkan pembatalan tidak lama setelah diketahui ada problem teknis dan langsung diumumkan penumpang akan diinapkan di hotel.

Berbeda dengan maskapai lain, yang sering “menelantarkan” para penumpangnya tanpa kejelasan yang pasti apakah delay ataukah dibatalkan, karena penumpang sudah dapat kejelasan sejak awal (dan tentu saja kita ndak mau lah terbang dengan pesawat yang error), dan Garuda cukup bertanggung jawab dengan akomodasi para penumpang, dimana kita diinapkan di hotel yang bagus, meski setahu saya, di bali pada pekan kemarin, sangat susah mendapatkan kamar di hotel berbintang karena sebagian besar sudah fully booked. Saya sendiri diinapkan di Bali Beach Resort yang berada di dekat pantai Sanur. Sempat juga sih nyaris tidak dapat hotel karena sebelumnya kita dijatah di Radisson (Sanur Paradise Hotel), tapi ternyata tidak ada konfirmasi dari Garuda ke Radisson, tapi akhirnya kita bisa menginap di Bali Beach Hotel.

Jam 6.00 WITA keesokan harinya kita diterbangkan dengan pesawat pengganti, paling tidak ada jaminan “keamanan” lah, karena kita tidak diterbangkan dengan pesawat yang mengalami Error di malam harinya, meski katanya problem sudah diperbaiki. Alhamdulillah, perjalanan kemudian lancar, 1 jam kemudian jam 6.00 pagi WIB, saya sampai di Jogja.

Setidaknya ada pengalaman baru, merasakan bagaimana yang namanya penerbangan dibatalkan, tidak enak memang, tapi kita bisa memaklumi, asal maskapai bertanggung jawab, tidak terlalu masalah lah.

Memahami Takdir

Ada banyak orang yang bertanya tentang masalah takdir. Masalah takdir dalam Islam memang lumayan pelik, ada konsep tentang bahwa takdir semua manusia telah ditetapkan, ada yang ditakdirkan berakhir baik (khusnul khatimah) dan ada pula yang ditakdirkan berakhir buruk (su’ul khatimah).

Problem berikutnya yang kemudian muncul adalah, kalau begitu, kenapa saya harus bersusah-susah kalau saya sudah ditakdirkan … entah itu baik .. entah itu buruk. Sia-sia sudah banyak beramal ternyata akhirnya cuma masuk neraka, atau sebaliknya cukup berleha-leha saja, banyak maksiat, dan kemudian masuk surga.

Sebenarnya cukup sederhana memahami konsep takdir dalam Islam, tidak rumit dan bertele-tele. Memang benar bahwa Allah SWT telah menetapkan segala sesuatu yang di atas muka bumi ini dalam takdirnya. Akan tetapi ada satu hal yang perlu kita ingat. Bahwa kita tidak pernah tahu isi takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada kita.

Di sini ekstrimitas pendapat mengenai takdir dengan mengatakan bahwa Manusia berkuasa atas semua tindak-tanduknya, atau ekstrimitas sebaliknya, bahwa manusia hanyalah wayang yang tinggal menjalankan saja, tanpa punya kekuasaan mengendalikan tindakannya sama sekali, menjadi invalid.

Ketidaktahuan kita akan isi takdir Allah SWT, bahkan hanya mengendusnya sekalipun, atau barangkali membayangkannya, merupakan hal yang pasti. Tidak ada satupun di antara kita mengetahui apa yang ditakdirkan oleh Allah kepada kita kecuali kita sudah melewatinya. Nah yang kemudian bisa kita lakukan adalah menjemput takdir. Allah SWT sendiri mentakdirkan segala sesuatu dengan sunatullahNya. Seorang anak tidak akan muncul kecuali atas pertemuan sperma dengan ovum yang menghasilkan zygot. Di sinilah kemudian peran yang kita lakukan.

Kita tidak pernah tahu apakah Allah SWT akan menempatkan kita di jannah atau di neraka. Satu hal yang pasti, kita mencoba menjemput takdir kita dengan memenuhi apa yang telah diberikan kepada kita pengetahuan tentangnya. Orang yang ditakdirkan ke dalam neraka, maka dia akan dimudahkan pula jalan-jalan menuju ke sana. Sehingga aktivitas dengan penuh kesadaran yang dia lakukan pun akan membawa ke sana. Begitu pula sebaliknya, kita coba jemput surga dengan aktivitas kebaikan yang kira-kira juga bisa membawa kita ke sana.

Semoga kita makin difahamkan dengan urusan takdir ini, dan tidak banyak berpolemik tentangnya.

Switch to our mobile site