Lalu Lintas, antara Bandung dan Jogja

Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan main ke Bandung, silaturahim ke tempat kakak sepupu, ambil IELTS lagi, dan belanja tentu saja..he..he..

Selama di Bandung, dipinjamin sebuah kendaraan bermotor, buat muter-muter kesana kemari. Tidak banyak perubahan yang terjadi di Bandung selepas saya dari sana terakhir sekitar awal 2006 yang lalu, kecuali fly over yang sudah pada jadi. Yang jelas, satu hal yang jelas tidak berubah, lalu litasnya masih sama, semrawut.

Tapi ada perbedaan yang nampak, membandingkan dua buah kesemrawutan lalu lintas yang berbeda antara kota Jogja, dan kota Bandung. Ketika berada di Bandung, satu hal yang pasti, setiap kali di perempatan, lampu merah adalah sesuatu yang diindahkan untuk beberapa detik awal saja, kalau kira-kira dah capek ngantrinya, meski lampu belum hijau, ada saja (tidak cuma satu, ada banyak) yang kemudian langsung nerobos begitu saja. Tidak cuma motor, kadang mobil juga nylonong. Semrawut-semrawutnya jogja, biasanya pelanggaran lampu merah hanya saat tengah malam buta, atau pagi hari buta. Kalau siang hari, jarang deh yang nylonong.

Kedua, masih di lampu merah, biasanya di Jogja, kendaraan tetap berhenti di belakang zebra cross, sesekali ada sih yang nylonong, tapi ndak banyak. Lha di Bandung, hampir semua lokasi lampu merah, moncong kendaraan selalu maju ke depan lebih dari satu atau dua meter. Motor-motor juga tidak puas, dan nylonong hingga dua meter ke depan. Akibatnya? Ya pejalan kaki jadi sulit nyebrang. Sampai-sampai beberapa spanduk peringatan di pasang di beberapa penjuru kota, agar orang-orang ketika di lampu lalu lintas berhenti di belakang garis zebra cross.

Nah yang berbeda dari Jogja, kalau ada mobil yang butuh belok, atau nyebrang, dst, dikasih kesempatan sama pengendara lain. Kalau di jogja, budaya slonong boy dan tidak ngasih kesempatan untuk orang lain muterin mobilnya, atau nyebrang jalan masih banyak dijumpai. Saya kalau muter arah/mbalik mobil, biasanya sampai harus buka jendela, dan tangan kanan saya tak  keluarin dari kaca jendela, dan meminta kendaraan lain untuk berhenti.

Kedua yang berbeda, untuk kiri jalan terus, Bandung masih lebih baik, kalau di Jogja, niatnya sih jalannya buat kiri jalan terus, tapi biasanya sudah dipenuhi oleh kendaraan (baca: motor) yang ngantri di lampu merah, jadi di banyak tempat, kiri Jalan terus menjadi tidak bermakna, bagaimana bisa ke kiri kalau semua pengendara ngabisin space jalan.

Ya namanya tiap daerah beda-beda, aturan “kesemrawutan”nya pun beda-beda. Pepatah jawa bilang, “Desa mawa cara, Negara mawa tata“. Yang jelas kesimpulannya sama, dua-duanya sama-sama semrawut, dan tidak tertib lalu lintas. Eh, tapinya, emang ada ya di Indonesia ini yang daerahnya tertib berlalu lintas? :mrgreen:

  1. Iya..tp itu kadang2 yg membuat orang – orang indonesia cukup dihargai skill driver-nya di luar negeri. Lah wong tantangan di indonesia lebih sulit jalnnya. Tp tetep aja ya, utk masalah kedisiplinan masih dipertanyakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site