Archive for June 2008

Office 2007 di Ubuntu

Setelah perjuangan sekian hari, utak-atik sana sini, sampai pusing
sendiri karena mikir Office 2007 yang ndak jadi-jadi. Akhirnya malam
tadi, terinstall juga Office 2007 di Ubuntu. Versi trial dari Microsoft
untuk diujicobakan di Ubuntu 8.04 Hardy Heron.

Terbayar sudah rasa lelah, karena pada akhirnya terinstall juga Office 2007 di Ubuntu tercintah!

Menjadi Islam Moderat

Jika yang dimaksud Islam moderat (baca: liberal) adalah

  1. Menghalalkan apa yang telah diharamkan seperti pernikahan sejenis …
  2. Mengharamkan apa yang telah dihalalkan Alquran seperti masalah poligami …
  3. Membiarkan penodaan agama atas nama kebebasan beragama …
  4. Menyuruh beribadah haji bukan di bulan haji …
  5. Menganggap berislam yang baik (seperti menutup aurat) berarti telah melakukan arabisasi dan melunturkan budaya Indonesia …
  6. Memudah-mudahkan dalam urusan sholat, sehingga bahkan nyaris tidak pernah sholat karena bagi mereka esensi sholat adalah do’a sehingga cukup berdo’a (aka komat-kamit) saja ….
  7. Bahkan Google pun takut kepadanya …… kqkqkqk

Maka saya memilih untuk tidak menjadi Islam moderat (baca: liberal) …. he…he….

catatan no. 7:

Kegagalan di dalam kemenangan

Yup, ini barangkali yang sedang menimpa saya. Hiks, sedih, meski mendapatkan “kemenangan”, tapi seakan menjadi kemenangan yang tidak berarti “sama sekali”. Kebetulan untuk melanjutkan studi, saya membutuhkan IELTS certificate yang baru, karena yang lama sudah expired, dan universitas yang saya tuju minta yang baru. Dan mereka very strict, minimal IELTS band 6.5 dengan tidak ada nilai yang di bawah 6.

Pekan kemarin, ketika bertanya ke IDP yogyakarta tentang nilai saya, dijawab dengan mantap “7 pak nilainya!”, mendengar nilai ini, langsung saya berbunga-bunga, bagaimana tidak, nilai IELTS 6.5 adalah nilai setara 570 untuk TOEFL, dan Alhamdulillah bisa dapat nilai 7. Di antara komponen skor tersebut bahkan ada yang dapat nilai yang sangat “extra odinary” buat saya, yakni 8.5. Tapi ternyata kegembiraan tersebut hanya sesaat saja.

Ketika saya tanya satu per satu komponen nilainya, ternyata ada yang cuma dapat 5.5, lemas lah saya. Sungguh kaget luar biasa, seperti dijunjung tinggi ke langit karena dapat nilai 7 dan untuk kemudian dihempaskan ke bumi gara-gara nilai 5.5. Dughhh…. rasanya berat sekali. Seperti ndak percaya, ada yang dapat 5.5. Barangkali saya mungkin memang “ditegur” dan sedang tidak beruntung, terlalu over confidence dengan tes yang barusan saya ikuti. Saya merasa nilai yang diperoleh menjadi “eman-eman”, karena sudah dapat tinggi, tapi sama sekali ndak bisa dipakai.

Barangkali saya terlalu nggampangke, ya sudah, kesedihan belaka tidak akan mengubah nilai yang sudah keluar. Insya Allah bulan depan ikut lagi, karena dari sekolahnya sana sudah ngejar-ngejar buat heregistrasi. Semoga yang kali ini dapat lebih baik!

Paradoks Teknologi Informasi?

Maksud hati dengan IT, dan teknologi mobile yang lain, kita akan terbebas dari kesulitan, dapat berkomunikasi setiap saat, dan lain sebagainya, apa daya saat ketinggalan Handphone, laptop, PDA, dan kawan-kawannya, justru kita malah merasa ketergantungan. Paradoks kah?

Cita-citanya dengan teknologi mobile, menjadikan kita semakin produktif dan terberdayakan, eh malah jadinya kita seperti diperbudak sama teknologi, ada yang baru, selalu saja dikejar, yang lama yang masih berfungsi malah dibuang begitu saja. Paradoks kah?

Dengan teknologi, sepertinya kendala-kendala yang ada sebelumnya menjadi tereliminasi alias hilang, tapi ternyata malah semakin hari, makin bertambah kendala yang ada. Teknologi baru, menuntut resources yang makin baik, upgrade lagi upgrade lagi. Tidak bisa jalanin software, kalau pake model yang lama. Boros euy. Paradoks kah?

Ceritanya dengan teknologi mobile dan informasi, komunikasi antar personal menjadi lebih baik dan mudah, sms, chatting, email dan lain sebagainya menjadikan komunikasi lebih cepat dan lebih bersifat interpersonal. Kenyataannya, makin banyak orang yang anti sosial ketika terlalu sering berinteraksi dengan teknologi ini tadi, mereka bak kehilangan dunia nyata, dan beralih di dunia maya. Paradoks kah?

Ketika setiap orang berbicara mengenai privasi yang tadinya bisa diperoleh dengan handphone, chatting, email, dan sejenisnya, malah dengan teknologi informasi menjadikan semua orang kehilangan privasi. Semua berbicara di situs jejaring sosial pertemanan ala friendster, myspace, facebook, dan kawan-kawannya, dan mengumbar profil pribadi mereka seenaknya sendiri. Semua ramai-ramai dijangkiti penyakit narsis yang ndak ketulungan. Pertanyaannya, menjadi pentingkah nilai-nilai privasi dalam teknologi informasi? Paradoks kah juga kondisi ini?

Kesimpulannya bagaimana?

Paradoks Belaka

Mereka selalu berbicara tentang agama, tapi mereka sendiri tidak beragama

Mereka berbicara kesamaan ras suku bangsa, tapi mereka sendiri mencaci maki bangsa lain yang kebetulan “stereotip” suatu agama

Mereka berbicara tentang kebebasan berpendapat dan berorganisasi, tapi mereka sendiri tidak terima atas perbedaan pendapat di antara mereka dan lawan mereka

Mereka berbicara mengenai kehormatan, tapi mereka sendiri mendukung para penoda kesucian agama dengan atas nama kebebasan beragama

Mereka senantiasa berbicara jangan paksa orang lain dengan suatu pendapat, tapi mereka lupa, bahwa mereka pun telah memaksakan pendapat mereka kepada orang lain

Mereka berbicara tentang bagaimana berkeTuhanan, tapi mereka sendiri enggan menyapa Tuhan dengan cara yang telah dituntunkan bagi mereka

Ah, ternyata jualan mereka cuma paradoks belaka!

Don’t forget to be part of Firefox’s Download Day!

Download Day 2008

Don’t forget to be part of Firefox’s Download Day!

Mark your calendar, wrap a ribbon around your finger or write a little sticky yellow note. Download Day will start on June 17, 2008.

Pledge Map

Switch to our mobile site