Memahami prestasi dalam sebuah proses

Benarkah seorang anak yang nilai ulangan matematikanya sering mendapatkan nilai 9 senantiasa “terlihat” lebih baik ketimbang kawannya yang “hanya” mendapat nilai 7? Kalau jawab saya belum tentu. Mendapatkan nilai 9 memang suatu hal yang baik sekali, di hadapan guru dan juga kawan-kawan yang lain, akan tercatat sebagai sebuah prestasi yang mengesankan, yang patut dipuji-puji, yang patut dibangga-banggakan.

Akan tetapi, ketika berbicara sebuah hasil, kita tidak dapat melepaskan dari proses yang melatarbelakanginya. Masih banyak di antara kita yang melulu berorientasi pada sebuah hasil, dan goal senantiasa menjadi tuhan atau berhala baru demi memburu prestise, gengsi, dan lain sebagainya. Kalau kita lihat, kegiatan kita sehari-hari yang biasa kita lakukan, makan sendiri, mandi sendiri, menggunakan baju sendiri, adalah suatu hal yang lumrah. Akan tetapi seandainya perilaku yang menurut kita merupakan perilaku yang biasa, dan kemudian dilakukan oleh anak yang mengalami retardasi mental, hal tersebut dapat menjadi pekerjaan yang luar biasa. Dia yang mengalami kendala IQ yang rendah, tidak dapat berfikir, bertindak, dan mengontrol perilakunya dengan baik, boleh jadi akan menjadi “sangat” berprestasi ketika dapat menggunakan baju sendiri, dapat makan sendiri, dan lain sebagainya.

Apa yang nampak menurut saya bukan patokan fix sebuah kesuksesan. Kalau dari sononya sudah terlahir sebagai seorang anak yang kaya dengan segala atribut kemewahan yang melekat pada dirinya, tentu tidak dapat dikatakan sesukses orang yang mengawali dari nol, bahkan mungkin minus, hingga dia mendapatkan kekayaan yang boleh jadi setara dengan anak kaya tadi.

Kembali ke matematika yang dapat nilai 9 tadi, ternyata si Anak adalah anak orang mampu, yang mendapatkan fasilitas penuh dari orang tuanya yang memudahkan dia mendapatkan nilai 9, ikut les tambahan, buku-buku yang lengkap, fasilitas ini-fasilitas itu, dan lain sebagainya. Nah, ternyata anak yang mendapatkan nilai 7 tadi, serba berkekurangan, tidak ada fasilitas tambahan, bahkan yang ada mungkin dia harus membantu bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Sialnya masyarakat kita adalah masyarakat yang serba melihat sesuatu serba secara dzahir, bukan apa yang melatar belakangi,  dan apa yang menjadikan sebuah kejadian terjadi. Bagi saya, si anak yang mendapat nilai 7 lebih hebat ketimbang yang mendapat 9. Meski serba berkekurangan, dia memulai dari 0 dan dapat mencapai angka 7, sementara sang kawan yang dapat angka 9, dia sudah start dari angka 7. Proses yang sedemikian hebatnya ini yang sungguh disayangkan tidak pernah dapat dimengerti oleh banyak di antara kita, termasuk barangkali oleh para orang tua ketika berhadapan dengan anaknya. Tahunya si anak dapat nilai jelek, padahal boleh jadi dia sudah berusaha keras, atau sangat mungkin bakatnya tidak di sana.

Jadi, bagaimana menurut anda?

  1. YoHang says:

    PERTAMAAAXX!!! 😀
    Proses penting, hasil juga penting.
    Jadi ingat GVT juga.
    Huehuehuehuehue.

  2. lha mas Andri tipe yang mana ya? matematika UAS (NEMnya) dapet 10? tapi memang ukuran yang disebutkan sangat relatif sulit aklau kita belum kenal betul ya yang kelihatan yang dhohirnya saja. saya teringat bacaan yang mengisahkan begitu sabarnya orang tua yang mengasuh anak-anaknya nggak normal. entah itu hiperaktif, terbatas fisiknya atau pendiam. Mereka merasa bahwa lebih dekat dengan Allah, walau pada awalnya sempat shock juga. Tapi kerja kerasnya itu yang disyukuri. ya, lebih jelas kalau nilai prosesnya itu ALLAH yang menilai. ^_^

  3. Herison says:

    Saya kurang sependapat Mas Andri dengan Nilai 7 tidak selalu lebih jelek dari nilai 9, karena bagi saya memang nilai 7 lebih jelek dari 9.
    Teori “relatif”itas sering dijadikan alasan bagi pencapaian yang tidak bisa melampaui yang terbaik. Dari sudut pandang melihat proses-nya, memang “kelihatannya” pencapaian yang tidak sampai 9 bisa dimaklumi. Tapi kok saya tidak melihatnya begitu ya? Saya lebih melihat bahwa memang usaha sang anak belum optimal atau sang anak tidak memiliki “interest” pada pelajaran tersebut atau bukan di pelajaran itulah bakat terbaik sang anak.
    Dan harusnya merupakan tugas orang tua yang berusaha membantu mencarikan bakat terbaik sang anak.

  4. Donny Reza says:

    Sewaktu sekolah dulu, saya termasuk yang bersyukur karena ‘gift’ yang dimiliki. Tidak perlu proses belajar yang berdarah-darah, khusus untuk math, tapi kalau udah yang hafalan … setengah mati saya ngapalin. Pada akhirnya malah iri sama yang punya ‘gift’ bisa ngapalin cepet :))

  5. Apa mungkin itu juga dilatar belakangi dengan sistem pendidikan dasar kita yang lebih menitik beratkan pada hasil akhir ketimbang proses..?
    seperti UAN yang saat ini banyak membuat siswa pontang-panting hanya untuk nilai akhir, tidak memperhatikan bagaimana kualitas tiap-tiap sekolah berbeda..bagaimana gurunya mengajar, fasilitasnya, dan kemampuan siswanya yang jelas patokan nilai akhirnya sekian..

  6. Erlin Kartika Rahman says:

    kalau hukum alam berkata 9 lebih baik dari 7 pasti ada maksudnya juga. tentu yg nilai 7 jg prestasi, tp in fact butuh nilai 9 untuk jadi juara. yg jelas kalau dgn kondisi pas-pasan saja anak tsb bs dpt nilai 7, insya Allaah sangat mungkin dia dapat nilai 10.
    sesungguhnya Allah Maha Adil

  7. ngafandi says:

    @mas auliya saya juga berpikir seperti itu..lah gimana enggak, lhawong sekarang ditempat-tempat bimbingan belajar yang diajarin itu metode yang processless, tau-tau dengan metode ini udah ketemu jawabannya..mungkin si murid juga enggak ngerti gimana proses aslinya, yg penting dapet hasilnya dan bener!
    tapi memang untuk dapetin hasil yang maksimal, harus didukung proses yang maksimal

  8. dimas says:

    @ngafandi
    betul itu..gara2 UAN malah siswa2 itu belajar cara kilat..jd proses penyerapan pun rada kurang
    klo pendapat saya sih orang dengan nilai 9 atau 10 belum tentu orang yang pinter..
    dan yang nilainya 5 atau 6 blm tentu anaknya kurang pinter..
    saya banyak menemui orang yang pinter tp nilainya jelek,alasannya sepele.. males..hehe
    klo saya liat pas dia menghadapi suatu permasalahan sepertinya dia sudah memegang kunci buat keluar dari masalah tersebut.
    bener2 pinter nih anak.

  9. ulil albab says:

    Iya betul tuh, segalanya jgn dilihat dari nilai depannya aja!
    by anak smp,
    ulil

  10. Dewangga says:

    Proses adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan dengan sebaik-baiknya.

    Dan Hasil itu wilayah Allah SWT untuk menentukannya.
    Paling tidak jangan sampai kita menyesal karena gagal dengan tanpa perjuangan, lebih baik gagal setelah usaha terbaik kita. Maka bisa kita katakan “cita-citaku terlalu tinggi makanya aku tidak segera menggapainya”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site