Archive for May 2008

IELTS hari ini

Barangkali bagi sebagian rekan yang mengambil tes IELTS hari ini di IDP Jogja, menganggap kejadian “luar biasa” yang sebenarnya adalah kejadian “biasa” di hari-hari lain merupakan blessing in disguise. Kejadiannya adalah listrik mati ..he..he..

Beruntung soal listening sudah selesai, baru kira-kira 10 menit mengerjakan Reading, tiba-tiba, pet… lampu padam, dan listrik mati. Ketegangan yang semula menyelimuti semua peserta, menjadi sedikit berkurang. Semua peserta diminta keluar dari ruang kelas. Saya sendiri pun merasakan suasana ketegangan yang sedikit berkurang.

Terkadang sesuatu yang tidak kita sukai, ternyata justru malah menimbulkan “kebaikan” bagi diri kita, dan peristiwa “biasa” yang terjadi hari ini telah menunjukkan.

Besok siang ujian speakingnya, moga-moga lancar … Insya Allah

Support Linux untuk Hardware (vs Windows)

Banyak orang enggan bermigrasi dari Windows (bajakan) mereka, ke sistem operasi lain seperti Linux karena faktor “ketakutan” berlebihan, bahwa ketika mereka mempergunakan Linux, mereka tidak bisa lagi mencetak dokumen (karena printernya tidak bisa dideteksi oleh linux), tidak bisa melakukan scanning dokumen (karena scannernya juga tidak terdeteksi), atau aktivitas lain yang susah dilakukan karena tadi, Linuxnya nggak bisa dipergunakan.

Jika kita berbicara di masa kini, maka sebenarnya kekhawatiran dari sebagian orang tadi tidak terlalu beralasan. Kini, dengan kernel yang baru, dan tampilan desktop yang sangat mudah dipergunakan oleh banyak orang (selain keunggulan lain seperti “bebas” virus, relatif lebih cepat dalam akses, format dokumen yang lebih “universal”), dukungan terhadap hardware relatif tidak terlalu bermasalah.

Sebenarnya, kalau mau jujur, dukungan hardware dari Linux (dalam hal ini saya mempergunakan Ubuntu 8.04) sangat luar biasa. Kebetulan saya barusan ‘migrasi’ dari laptop yang lama ke laptop X61 IBM Lenovo seri A24 yang tentu saja masih relatif baru spesifikasinya. Saat saya install dengan Ubuntu 8.04 Hardy Heron, semua berjalan dengan lancar, sebagian besar hardware terdeteksi dengan baik, hanya satu device  saja yang perlu diinstal driver tambahan, yakni fingerprint reader, selebihnya Ubuntu telah mendeteksi secara otomatis. Kebetulan saya juga beberapa kali butuh koneksi 3G dengan laptop saat kondisi mobile, ketika tidak di kampus, ataupun ketika tidak di rumah, dan hebatnya modem 3G PCMCIA saya langsung terdeteksi dengan baik.

Hal ini tentu saja tidak terjadi di sistem operasi bawaan dari Laptopnya, yakni Microsoft Windows Vista Business, dimana modem saya (yang memang desain lama untuk XP), sama sekali tidak bisa terinstall, susahnya lagi di Internet tidak ada.

Jika kita berbicara secara fair, kenapa Windows lebih banyak hardware yang jalan dengan “sempurna”, hal ini lebih semata-mata karena Windows didukung oleh vendor dari hardware. Makanya, seakan-akan dukungan Windows lebih baik terhadap hardware dibanding Linux, padahal sebenarnya tidak. Justru sebaliknya, dukungan vendor-lah terhadap Windows yang menjadikan windows terlihat baik, pengalaman saya install ulang windows di laptop, begitu terinstall, supaya kerja jadi maksimal, harus instal driver ini itu (video, kontroler, sound, dll) yang dikeluarkan oleh vendor. Sementara itu, saat di Linux (terutama linux-linux generasi akhir), kesulitan seperti itu relatif jarang terjadi. Dan kalaupun toh terjadi hardware yang tidak dapat berjalan dengan baik, biasanya solusi dari komunitas cukup banyak tersedia.

Jadi, kata siapa Windows memiliki dukungan Hardware yang lebih baik? Karena pada kenyataannya, Windows baik karena didukung vendor. Sementara di Linux, bahkan tanpa dukungan vendor sekalipun, deteksi dia terhadap hardware dapat bekerja dengan lebih baik. Jadi, masih ragu untuk tidak menggunakan produk non bajakan? He..he..

Akhirnya bisa konek juga, Merlin U530 di Ubuntu 8.04

Setelah tadi malam utak-atik, dan bingung … asli bingung, modem 3G merlin U530 sudah konek ke jaringan, tapi tetap tidak bisa browsing. Firefoxnya tetap ngadat, ndak mau browsing sama sekali. Setelah coba utak-atik lagi konfigurasi dial-upnya, eh, firefoxnya masih ngadat tidak mau brwosing.

Akhirnya, iseng-iseng buka pakai flock, Alhamdulillah, ternyata dengan menggunakan browser flock bisa browsing juga. Sekedar sharing saja (semoga bermanfaat), berikut script untuk terkoneksi dengan Indosat3G (yang sayangnya di desa mertua cuma dapet GPRS …hu..hu..). Script untuk chatscript (/etc/chatscripts/indosat3g)

ABORT BUSY
ABORT ‘NO CARRIER’
ABORT VOICE
ABORT ‘NO DIALTONE’
ABORT ‘NO DIAL TONE’
ABORT ‘NO ANSWER’
ABORT DELAYED
” ATZ
#karena APN yang saya pakai “indosatgprs”,
#settingnya seperti berikut


OK-AT-OK AT+CGDCONT=1,”IP”,”indosatgprs”

OK-AT-OK “ATDT*99***1#”
CONNECT ”
” \d\c

dan script untuk (/etc/ppp/peers/indosat3g)

hide-password
noauth
connect “/usr/sbin/chat -v -f /etc/chatscripts/indosat3g”
debug
crtscts
/dev/ttyS0
460800
defaultroute
noipdefault
user “indosat”  
# ganti indosat@durasi untuk time-based


password “indosat”  
# ganti indosat@durasi untuk time based


lcp-echo-interval 0

usepeerdns
lock

Untuk mengkonekkan modem ke jaringan, kita gunakan perintah

#sudo pon indosat3g && tail -f /var/log/messages

catatan: pakai tail -f /var/log/messages biar terlihat keadaan ketika terkoneksi

Untuk mematikan koneksi, gunakan perintah

#sudo poff indosat3g
Blogged with the Flock Browser

Tags: , ,

Akses Internet Cepat untuk si Fakir Bandwidth

Di sebagian tempat di Indonesia, akses Internet cepat masih merupakan “mimpi” dan sekedar menjadi angan-angan. Terkadang kita sampai jengkel ketika harus mengakses website yang lambatnya minta ampun.

Ada beberapa cara yang biasa dilakukan untuk mengakali kendala-kendala internet yang lambat. Misal menggunakan accelerator berbayar (yang setahu saya ada beberapa – banyak ??? – orang menggunakan software accelerator yang sudah dicrack, seperti OnSpeed semisal), atau bagi pelanggan Indosat, bisa juga menggunakan accelerator yang bisa didownload dari website Indosat, atau menggunakan konsep tunnelling ke server lokal yang punya bandwidth jauh lebih besar untuk kemudian dibuka dari jaringan kita yang lambat, dan masih banyak lagi cara lainnya.

Akan tetapi dari semua cara-cara tadi, biasanya membutuhkan sedikit skill teknis, minimal harus install software, untuk dapat mempergunakan layanan-layanan tersebut. Beberapa kali pula saya “harus” merasa menderita dengan koneksi yang lemot, terutama saat siang hari dimana pengguna Internet di kampus bejibun jumlahnya.

Nah untuk mengakali kondisi tersebut, saya mempergunakan layanan dari google untuk “mengakali” kelambatan akses dari situs-situs yang saya inginkan. Dengan menggunakan modus google mobile (dimana google diakses dengan versi mobile yang biasa terbuka di HP/PDA/Handheld devices), website-website yang semula sulit diakses karena konten yang didownload banyak sekali (image, CSS, JavaScript, HTML, dll), semua konten tersebut akan dialihkan oleh Google via dia, termasuk gambar-gambar akan dicache oleh Google. Nah berhubung google biasanya relatif lebih cepat diakses ketimbang website lain, biasanya situs-situs yang tadinya lama sekali pengaksesannya pun akan semakin cepat diakses oleh kita.

Akan tetapi perlu diingat, karena ini adalah versi mobile, maka semua tampilan nan indah akan distripped-down, tapi buat saya tidak terlalu masalah, lha yang dibutuhkan cuma informasi-informasi dari Internet kok, bukan seberapa indah tampilannya.

Oh iya, jadi lupa. Lantas gimana cara bukanya via google? Ketik URL berikut http://www.google.co.id/gwt/n?u=[alamat URL yang hendak dibuka], sebagai contoh http://www.google.co.id/gwt/n?u=http://www.cnn.com

Selamat mencoba !

Akses GMAIL yang cepat

Berhubung banyak yang ‘tersesat’ ke blog ini gara-gara mencari dengan kata kunci ‘gmail’ di search engine, saya tambahkan sekalian saja beberapa cara saya untuk memaksimalkan penggunaan gmail.

Salah satunya adalah akses GMAIL yang ‘super’ cepat. Gmail memang mantap, memiliki Anti SPAM yang bagus, kemudian layanan filter dan archive yang sangat membantu saya mengatur lalu lintas email di mailbox. Hanya saja ada satu kendala yang kadang bikin orang males menggunakan gmailnya sebagai layanan email, yakni kebutuhan bandwidth yang relatif agak ‘tinggi’, terutama jika kita menginginkan yang “full version” berbasis AJAX.

Untungnya sekarang gmail telah memberikan alternatif interface bagi yang memiliki koneksi dengan kecepatan rendah, akan tetapi terkadang yang ini bagi sebagian kalangan masih dirasa lambat, terutama jika mengakses di siang hari. Terus solusinya bagaimana agar akses gmail tetap dapat diakses dengan cepat?

Gmail mobile version Kalau saya, untuk kondisi dimana bandwidth benar-benar dalam kondisi dicekik dan terbatas, saya akan berpindah dengan menggunakan gmail berbasis versi mobile.

Dengan mengakses alamat di http://m.gmail.com, maka tampilan Gmail akan berubah menjadi versi mobile, meski kita mengaksesnya dari komputer kita.

Tentu saja karena versi mobile, tampilannya tidak akan selengkap dan sesempurna versi Basic HTML, apalagi versi AJAX. Akan tetapi bagi saya, hal ini sangat terasa bermanfaat terutama ketika harus berhadapan dengan bandwidth sisa-sisa karena kalau siang hari yang menggunakan Internet biasanya banyak.

Saat membuka email, ataupun membalas email, dengan menggunakan versi mobile, terasa lebih cepat. Satu catatan, jika kita membuka link/URL dari email, Gmail akan langsung menyesuaikan kontennya dan diformat agar terbaca seperti saat kita membaca dari HP/PDA. Jika anda terkoneksi ke internet dengan modem GPRS/3G/3.5G yang berbasis paket volume based, maka pilihan untuk membuka gmail dengan modus mobile perlu dipertimbangkan, walaupun kita membukanya melalui PC, mengingat bandwidth terpakai jauh lebih kecil ketimbang versi HTML/AJAX.

Semoga bermanfaat !

3G Indosat

imageWalaupun di rumah saya ada koneksi 24 jam dengan Internet, tapi tetap saja terkadang suatu ketika butuh konektivitas saat mobile. Seperti beberapa waktu yang lalu yang harus presentasi tentang proyek di lain kota, baru merasakan kebutuhan akan konektivitas Internet.

Sebenarnya juga sudah punya modem 3G sejak dari Singapura, hanya saja karena merasa tidak butuh, modemnya tidak pernah saya pakai. Baru setelah harus membutuhkan koneksi yang mobile, ternyata benar-benar manfaat.

Setelah mencoba, ternyata lumayan cepat. Walaupun masih kalah cepat sama koneksi di rumah, tapi setidaknya kebutuhan saat mobile telah terpenuhi. Overall, dibanding dengan sewaktu mencoba koneksi 3G Telkomsel, nampaknya lebih baik. Paling tidak berdasar pengalaman yang pernah saya coba.

Makin hari makin butuh konek di mana-mana … hiks . Teknologi yang memudahkan malah bikin ketergantungan. Ya, namanya buat usaha, he..he..

Switch to our mobile site