IELTS hari ini
Barangkali bagi sebagian rekan yang mengambil tes IELTS hari ini di IDP Jogja, menganggap kejadian “luar biasa” yang sebenarnya adalah kejadian “biasa” di hari-hari lain merupakan blessing in disguise. Kejadiannya adalah listrik mati ..he..he..
Beruntung soal listening sudah selesai, baru kira-kira 10 menit mengerjakan Reading, tiba-tiba, pet… lampu padam, dan listrik mati. Ketegangan yang semula menyelimuti semua peserta, menjadi sedikit berkurang. Semua peserta diminta keluar dari ruang kelas. Saya sendiri pun merasakan suasana ketegangan yang sedikit berkurang.
Terkadang sesuatu yang tidak kita sukai, ternyata justru malah menimbulkan “kebaikan” bagi diri kita, dan peristiwa “biasa” yang terjadi hari ini telah menunjukkan.
Besok siang ujian speakingnya, moga-moga lancar … Insya Allah
Support Linux untuk Hardware (vs Windows)
Banyak orang enggan bermigrasi dari Windows (bajakan) mereka, ke sistem operasi lain seperti Linux karena faktor “ketakutan” berlebihan, bahwa ketika mereka mempergunakan Linux, mereka tidak bisa lagi mencetak dokumen (karena printernya tidak bisa dideteksi oleh linux), tidak bisa melakukan scanning dokumen (karena scannernya juga tidak terdeteksi), atau aktivitas lain yang susah dilakukan karena tadi, Linuxnya nggak bisa dipergunakan.
Jika kita berbicara di masa kini, maka sebenarnya kekhawatiran dari sebagian orang tadi tidak terlalu beralasan. Kini, dengan kernel yang baru, dan tampilan desktop yang sangat mudah dipergunakan oleh banyak orang (selain keunggulan lain seperti “bebas” virus, relatif lebih cepat dalam akses, format dokumen yang lebih “universal”), dukungan terhadap hardware relatif tidak terlalu bermasalah.
Sebenarnya, kalau mau jujur, dukungan hardware dari Linux (dalam hal ini saya mempergunakan Ubuntu 8.04) sangat luar biasa. Kebetulan saya barusan ‘migrasi’ dari laptop yang lama ke laptop X61 IBM Lenovo seri A24 yang tentu saja masih relatif baru spesifikasinya. Saat saya install dengan Ubuntu 8.04 Hardy Heron, semua berjalan dengan lancar, sebagian besar hardware terdeteksi dengan baik, hanya satu device saja yang perlu diinstal driver tambahan, yakni fingerprint reader, selebihnya Ubuntu telah mendeteksi secara otomatis. Kebetulan saya juga beberapa kali butuh koneksi 3G dengan laptop saat kondisi mobile, ketika tidak di kampus, ataupun ketika tidak di rumah, dan hebatnya modem 3G PCMCIA saya langsung terdeteksi dengan baik.
Hal ini tentu saja tidak terjadi di sistem operasi bawaan dari Laptopnya, yakni Microsoft Windows Vista Business, dimana modem saya (yang memang desain lama untuk XP), sama sekali tidak bisa terinstall, susahnya lagi di Internet tidak ada.
Jika kita berbicara secara fair, kenapa Windows lebih banyak hardware yang jalan dengan “sempurna”, hal ini lebih semata-mata karena Windows didukung oleh vendor dari hardware. Makanya, seakan-akan dukungan Windows lebih baik terhadap hardware dibanding Linux, padahal sebenarnya tidak. Justru sebaliknya, dukungan vendor-lah terhadap Windows yang menjadikan windows terlihat baik, pengalaman saya install ulang windows di laptop, begitu terinstall, supaya kerja jadi maksimal, harus instal driver ini itu (video, kontroler, sound, dll) yang dikeluarkan oleh vendor. Sementara itu, saat di Linux (terutama linux-linux generasi akhir), kesulitan seperti itu relatif jarang terjadi. Dan kalaupun toh terjadi hardware yang tidak dapat berjalan dengan baik, biasanya solusi dari komunitas cukup banyak tersedia.
Jadi, kata siapa Windows memiliki dukungan Hardware yang lebih baik? Karena pada kenyataannya, Windows baik karena didukung vendor. Sementara di Linux, bahkan tanpa dukungan vendor sekalipun, deteksi dia terhadap hardware dapat bekerja dengan lebih baik. Jadi, masih ragu untuk tidak menggunakan produk non bajakan? He..he..
Akhirnya bisa konek juga, Merlin U530 di Ubuntu 8.04
Setelah tadi malam utak-atik, dan bingung … asli bingung, modem 3G merlin U530 sudah konek ke jaringan, tapi tetap tidak bisa browsing. Firefoxnya tetap ngadat, ndak mau browsing sama sekali. Setelah coba utak-atik lagi konfigurasi dial-upnya, eh, firefoxnya masih ngadat tidak mau brwosing.
Akhirnya, iseng-iseng buka pakai flock, Alhamdulillah, ternyata dengan menggunakan browser flock bisa browsing juga. Sekedar sharing saja (semoga bermanfaat), berikut script untuk terkoneksi dengan Indosat3G (yang sayangnya di desa mertua cuma dapet GPRS …hu..hu..). Script untuk chatscript (/etc/chatscripts/indosat3g)
ABORT ‘NO CARRIER’
ABORT VOICE
ABORT ‘NO DIALTONE’
ABORT ‘NO DIAL TONE’
ABORT ‘NO ANSWER’
ABORT DELAYED
” ATZ
#karena APN yang saya pakai “indosatgprs”,
#settingnya seperti berikut
OK-AT-OK AT+CGDCONT=1,”IP”,”indosatgprs”
OK-AT-OK “ATDT*99***1#”
CONNECT ”
” \d\c
dan script untuk (/etc/ppp/peers/indosat3g)
noauth
connect “/usr/sbin/chat -v -f /etc/chatscripts/indosat3g”
debug
crtscts
/dev/ttyS0
460800
defaultroute
noipdefault
user “indosat”
# ganti indosat@durasi untuk time-based
password “indosat”
# ganti indosat@durasi untuk time based
lcp-echo-interval 0
usepeerdns
lock
Untuk mengkonekkan modem ke jaringan, kita gunakan perintah
catatan: pakai tail -f /var/log/messages biar terlihat keadaan ketika terkoneksi
Untuk mematikan koneksi, gunakan perintah
Tags: 3GUbuntu, Merlin U530, Indosat 3G
Akses Internet Cepat untuk si Fakir Bandwidth
Di sebagian tempat di Indonesia, akses Internet cepat masih merupakan “mimpi” dan sekedar menjadi angan-angan. Terkadang kita sampai jengkel ketika harus mengakses website yang lambatnya minta ampun.
Ada beberapa cara yang biasa dilakukan untuk mengakali kendala-kendala internet yang lambat. Misal menggunakan accelerator berbayar (yang setahu saya ada beberapa – banyak ??? - orang menggunakan software accelerator yang sudah dicrack, seperti OnSpeed semisal), atau bagi pelanggan Indosat, bisa juga menggunakan accelerator yang bisa didownload dari website Indosat, atau menggunakan konsep tunnelling ke server lokal yang punya bandwidth jauh lebih besar untuk kemudian dibuka dari jaringan kita yang lambat, dan masih banyak lagi cara lainnya.
Akan tetapi dari semua cara-cara tadi, biasanya membutuhkan sedikit skill teknis, minimal harus install software, untuk dapat mempergunakan layanan-layanan tersebut. Beberapa kali pula saya “harus” merasa menderita dengan koneksi yang lemot, terutama saat siang hari dimana pengguna Internet di kampus bejibun jumlahnya.
Nah untuk mengakali kondisi tersebut, saya mempergunakan layanan dari google untuk “mengakali” kelambatan akses dari situs-situs yang saya inginkan. Dengan menggunakan modus google mobile (dimana google diakses dengan versi mobile yang biasa terbuka di HP/PDA/Handheld devices), website-website yang semula sulit diakses karena konten yang didownload banyak sekali (image, CSS, JavaScript, HTML, dll), semua konten tersebut akan dialihkan oleh Google via dia, termasuk gambar-gambar akan dicache oleh Google. Nah berhubung google biasanya relatif lebih cepat diakses ketimbang website lain, biasanya situs-situs yang tadinya lama sekali pengaksesannya pun akan semakin cepat diakses oleh kita.
Akan tetapi perlu diingat, karena ini adalah versi mobile, maka semua tampilan nan indah akan distripped-down, tapi buat saya tidak terlalu masalah, lha yang dibutuhkan cuma informasi-informasi dari Internet kok, bukan seberapa indah tampilannya.
Oh iya, jadi lupa. Lantas gimana cara bukanya via google? Ketik URL berikut http://www.google.co.id/gwt/n?u=[alamat URL yang hendak dibuka], sebagai contoh http://www.google.co.id/gwt/n?u=http://www.cnn.com
Selamat mencoba !
Akses GMAIL yang cepat
Berhubung banyak yang ‘tersesat’ ke blog ini gara-gara mencari dengan kata kunci ‘gmail’ di search engine, saya tambahkan sekalian saja beberapa cara saya untuk memaksimalkan penggunaan gmail.
Salah satunya adalah akses GMAIL yang ‘super’ cepat. Gmail memang mantap, memiliki Anti SPAM yang bagus, kemudian layanan filter dan archive yang sangat membantu saya mengatur lalu lintas email di mailbox. Hanya saja ada satu kendala yang kadang bikin orang males menggunakan gmailnya sebagai layanan email, yakni kebutuhan bandwidth yang relatif agak ‘tinggi’, terutama jika kita menginginkan yang “full version” berbasis AJAX.
Untungnya sekarang gmail telah memberikan alternatif interface bagi yang memiliki koneksi dengan kecepatan rendah, akan tetapi terkadang yang ini bagi sebagian kalangan masih dirasa lambat, terutama jika mengakses di siang hari. Terus solusinya bagaimana agar akses gmail tetap dapat diakses dengan cepat?
Kalau saya, untuk kondisi dimana bandwidth benar-benar dalam kondisi dicekik dan terbatas, saya akan berpindah dengan menggunakan gmail berbasis versi mobile.
Dengan mengakses alamat di http://m.gmail.com, maka tampilan Gmail akan berubah menjadi versi mobile, meski kita mengaksesnya dari komputer kita.
Tentu saja karena versi mobile, tampilannya tidak akan selengkap dan sesempurna versi Basic HTML, apalagi versi AJAX. Akan tetapi bagi saya, hal ini sangat terasa bermanfaat terutama ketika harus berhadapan dengan bandwidth sisa-sisa karena kalau siang hari yang menggunakan Internet biasanya banyak.
Saat membuka email, ataupun membalas email, dengan menggunakan versi mobile, terasa lebih cepat. Satu catatan, jika kita membuka link/URL dari email, Gmail akan langsung menyesuaikan kontennya dan diformat agar terbaca seperti saat kita membaca dari HP/PDA. Jika anda terkoneksi ke internet dengan modem GPRS/3G/3.5G yang berbasis paket volume based, maka pilihan untuk membuka gmail dengan modus mobile perlu dipertimbangkan, walaupun kita membukanya melalui PC, mengingat bandwidth terpakai jauh lebih kecil ketimbang versi HTML/AJAX.
Semoga bermanfaat !
3G Indosat
Walaupun di rumah saya ada koneksi 24 jam dengan Internet, tapi tetap saja terkadang suatu ketika butuh konektivitas saat mobile. Seperti beberapa waktu yang lalu yang harus presentasi tentang proyek di lain kota, baru merasakan kebutuhan akan konektivitas Internet.
Sebenarnya juga sudah punya modem 3G sejak dari Singapura, hanya saja karena merasa tidak butuh, modemnya tidak pernah saya pakai. Baru setelah harus membutuhkan koneksi yang mobile, ternyata benar-benar manfaat.
Setelah mencoba, ternyata lumayan cepat. Walaupun masih kalah cepat sama koneksi di rumah, tapi setidaknya kebutuhan saat mobile telah terpenuhi. Overall, dibanding dengan sewaktu mencoba koneksi 3G Telkomsel, nampaknya lebih baik. Paling tidak berdasar pengalaman yang pernah saya coba.
Makin hari makin butuh konek di mana-mana … hiks . Teknologi yang memudahkan malah bikin ketergantungan. Ya, namanya buat usaha, he..he..
Gmail Loading Interface untuk Koneksi yang lambat
Sabtu kemarin Google mulai memberikan opsi interface untuk koneksi yang lambat, ya barangkali Google mulai nyadar, tidak semua orang koneksinya cepet ..he..he.. sehingga trus dibuatin alternatif, bagi yang koneksi lambat dan menginginkan tampilan basic HTML, langsung bisa switch.
Oh iya satu lagi, jika anda memiliki sedikit kesulitan akses GMAIL, biar lebih “beres” saat membuka gmail, ketikkan URL yang sudah dilengkapi protokol SSL (Security Socket Layer)nya. Jadi untuk membuka gmail, ketik langsung saja https://mail.google.com . Perasaan saya sih, aksesnya jadi lebih cepat ketimbang yang biasanya. Semoga membantu
Pulsa Gratis?
Pesan Asli—Dr Anak2.H.M.Soeharto.doakan beliau yg sdh meninggal sebarkan ke 8 hp.akanterisi plsa 75.000 ini serius aku dah dpt 75.000 cpt—mumpung msh
Dapat SMS ginian, saya langsung ngakak. Orang Indonesia memang mental setnya masih mental set yang irasional, pingin cepat kaya tanpa usaha, dan tukang mimpi.
Mana ada kirim SMS ke 8 HP yang lain akan dapat pulsa gratis, “Gratis dari Hongkong!” he ..he.. Lagian nomor yang saya pakai adalah nomor pasca bayar, ndak ada crita ngisi pulsa segala. Herman deh, sampai dengan hari gini, masih saja ada orang yang percaya dengan segala macam aksi tipu-tipu via HP/SMS, pakai suruh sebarin ke yang lain lagi.
Semakin heran lagi, di televisi, ikut-ikutan pula ada SMS Santet, SMS Ramal ala Mama Loreng, ala dukun, ala ini, ala itu. Orang Indonesia memang sangat irasional, terlalu percaya pada klenik, takhayul, yang dalam agama saya – ISLAM – pelakunya bisa sampai tingkatan kafir kalau percaya dengan hal-hal seperti itu.
Makanya dari jaman belanda sampai hari gini, orang Indonesia paling pinter dibodohi, dibiarkan tidak bisa maju, sampai-sampai tidak mampu ngurusi negaranya sendiri, dan semua kekayaan kita disedot ke luar negri. Eh, kok jadi ngelantur, dari SMS aneh kok sampai kaya curhat. Tapi ndak papa, sekalian ..he…he..
Oalah … o’on … o’on …
Memahami prestasi dalam sebuah proses
Benarkah seorang anak yang nilai ulangan matematikanya sering mendapatkan nilai 9 senantiasa “terlihat” lebih baik ketimbang kawannya yang “hanya” mendapat nilai 7? Kalau jawab saya belum tentu. Mendapatkan nilai 9 memang suatu hal yang baik sekali, di hadapan guru dan juga kawan-kawan yang lain, akan tercatat sebagai sebuah prestasi yang mengesankan, yang patut dipuji-puji, yang patut dibangga-banggakan.
Akan tetapi, ketika berbicara sebuah hasil, kita tidak dapat melepaskan dari proses yang melatarbelakanginya. Masih banyak di antara kita yang melulu berorientasi pada sebuah hasil, dan goal senantiasa menjadi tuhan atau berhala baru demi memburu prestise, gengsi, dan lain sebagainya. Kalau kita lihat, kegiatan kita sehari-hari yang biasa kita lakukan, makan sendiri, mandi sendiri, menggunakan baju sendiri, adalah suatu hal yang lumrah. Akan tetapi seandainya perilaku yang menurut kita merupakan perilaku yang biasa, dan kemudian dilakukan oleh anak yang mengalami retardasi mental, hal tersebut dapat menjadi pekerjaan yang luar biasa. Dia yang mengalami kendala IQ yang rendah, tidak dapat berfikir, bertindak, dan mengontrol perilakunya dengan baik, boleh jadi akan menjadi “sangat” berprestasi ketika dapat menggunakan baju sendiri, dapat makan sendiri, dan lain sebagainya.
Apa yang nampak menurut saya bukan patokan fix sebuah kesuksesan. Kalau dari sononya sudah terlahir sebagai seorang anak yang kaya dengan segala atribut kemewahan yang melekat pada dirinya, tentu tidak dapat dikatakan sesukses orang yang mengawali dari nol, bahkan mungkin minus, hingga dia mendapatkan kekayaan yang boleh jadi setara dengan anak kaya tadi.
Kembali ke matematika yang dapat nilai 9 tadi, ternyata si Anak adalah anak orang mampu, yang mendapatkan fasilitas penuh dari orang tuanya yang memudahkan dia mendapatkan nilai 9, ikut les tambahan, buku-buku yang lengkap, fasilitas ini-fasilitas itu, dan lain sebagainya. Nah, ternyata anak yang mendapatkan nilai 7 tadi, serba berkekurangan, tidak ada fasilitas tambahan, bahkan yang ada mungkin dia harus membantu bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.
Sialnya masyarakat kita adalah masyarakat yang serba melihat sesuatu serba secara dzahir, bukan apa yang melatar belakangi, dan apa yang menjadikan sebuah kejadian terjadi. Bagi saya, si anak yang mendapat nilai 7 lebih hebat ketimbang yang mendapat 9. Meski serba berkekurangan, dia memulai dari 0 dan dapat mencapai angka 7, sementara sang kawan yang dapat angka 9, dia sudah start dari angka 7. Proses yang sedemikian hebatnya ini yang sungguh disayangkan tidak pernah dapat dimengerti oleh banyak di antara kita, termasuk barangkali oleh para orang tua ketika berhadapan dengan anaknya. Tahunya si anak dapat nilai jelek, padahal boleh jadi dia sudah berusaha keras, atau sangat mungkin bakatnya tidak di sana.
Jadi, bagaimana menurut anda?
Mempertahankan Bahasa Inggris (dalam tutur)
Meski baru pulang beberapa bulan saja, tapi karena sekarang, sangat jarang sekali kesempatan untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dalam keseharian, sempat juga saya merasakan “kemunduran” dalam daily conversation.
Akhirnya bahasa Inggris hanya sekedar menjadi bahasa literatur, dan bahasa film, hanya dipakai saat membaca buku, dan menonton film, untuk yang satu ini, saya masih mempertahankan melihat film/streaming dari internet yang tentu saja film-filmnya tanpa caption bahasa Indonesia. Sementara itu, bahasa Inggris yang dipergunakan sebagai bahasa tutur menjadi sangat kurang sekali, intensitas sangat rendah, paling beberapa kali kesempatan ketika menerima telpon dari luar negri saja yang membuat saya benar-benar berbincang dan bercakap dalam bahasa Inggris.
Karena itu, mau tidak mau saya butuh usaha agar bahasa tutur Inggris saya tidak hilang, meski kesempatan untuk berbincang dengan para native menjadi sangat sedikit, saya tetap berusaha agar penguasaan bahasa yang telah ditingkatkan dengan baik sebelumnya tidak menjadi hilang begitu saja. Caranya bagaimana? Dengan monolog. Ya, saya melakukan bak seorang aktor di depan panggung ketika bercakap-cakap untuk dirinya sendiri.
Biasanya, monolog ini saya lakukan ketika saya naik motor dalam perjalanan, atau kalau pas lagi nyopir mobil sendirian. Ya iyalah, kalau ada yang diboncengin, atau di mobil ada beberapa orang, jadi ndak lucu kalau mau monolog. Ketika saya naik motor sendirian, biasanya saya akan berpura-pura sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Saya membayangkan dalam posisi sedang bertanya ataupun sedang ditanya. Lebih banyak sih saya membayangkan dalam posisi sedang ditanya sehingga menjawabnya lebih banyak.
Di sana, saya bermain role play, berpura-pura menjadi orang asing yang menanyakan sesuatu ke saya, tentang berbagai hal. Saya tidak pernah membatasi topik, misal di jalan saya bertemu dengan sesuatu yang menarik, maka saat itu juga saya langsung tanya kepada diri saya sendiri dengan bahasa Inggris, dan tentu saja saya harus menjawab pula dalam bahasa Inggris. Hal ini saya lakukan berulang kali, terus menerus saat berada di perjalanan. Ya, meski tentu saja tidak semua dalam sepanjang perjalanan saya melakukan monolog, capek dong. Cukup 2-3 menit, habis itu berhenti, konsentrasi lagi di jalan, habis itu monolog lagi, sampai akhirnya sampai ke tujuan.
Alhamdulillah, cara ini, setidaknya menurut saya, cukup berhasil. Saya masih dapat merasakan bahwa skill tutur saya tidak hilang begitu saja. Setidaknya dalam dua buah event dimana saya diwawancara dengan menggunakan Bahasa Inggris seperti sekitar dua bulan lalu saat wawancara beasiswa Depkominfo, dan kemarin pagi saat wawancara beasiswa dari dikti. Semua pewawancara ngajak ngobrol dengan bahasa Inggris, overall sih saya merasa confident lah dengan apa yang saya ucapkan, setidaknya mereka faham, dan saya pun tidak tergagap-gagap ketika harus menjelaskan tentang proposal riset, dan lain sebagainya. Tinggal tunggu saja, akhir bulan ini saya mau tes IELTS, semoga saja skor speaking saya naik untuk tes kali ini.
















