Menyoal keistimewaan DIY

Yogyakarta?
Apanya yang istimewa?

Namanya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, sekarang lagi rame-ramenya demonstrasi untuk pengesahan RUU Keistimewaan DIY dengan cara menetapkan Sultan sebagai gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur.

Bukannya saya tidak setuju Sri Sultan HB X jadi gubernur, tapi “orang-orang” (yang entah apa maksud di belakang demo mereka itu) yang ngotot untuk memaksakan Gubernur DIY harus Sri Sultan, dan Wagub harus Paku Alam itulah yang membuat saya terheran-heran.

Di dalam sejarah banyak bangsa yang saya pelajari, kekuasaan ala Dinasti biasanya akan berlangsung naik turun, kalau pas lagi bejo, ya aman-aman saja, nah kalau pas lagi buntung, seperti rajanya tukang foya-foya, tukang korupsi dan lain sebagainya, bisa-bisa ajur mumur bangsa tersebut, sehingga bukannya naik turun, tapi malah turun terus.

Begitu pula dengan keistimewaan Yogyakarta, saya masih menganggap bahwa istimewanya Yogyakarta bukanlah karena Sultan dan Paku alam yang jadi gubernur dan wagub, akan tetapi keistimewaan Jogja diperoleh karena perjuangan kemerdekaannya yang dengan keberanian keputusan Sri Sultan HB IX untuk menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia, meski disaat yang sama, RI sedang berada di tepian kehancuran. Inilah istimewanya Yogyakarta dibandingkan dengan daerah yang lain.

Rakyat Jogja saya kira juga semakin pintar, Lha iya kalau pas Sultannya baik hati,  tidak sombong, dermawan, dan tidak korupsi. Lah kalau kelak sultan-sultan berikutnya [tanpa bermaksud ngerti sakdurunge winarah, ataupun ramal-meramal, atau tuduh-menuduh, ini cuman andai-andai] tukang foya-foya, tukang korupsi, tukang nilep pajak rakyat, malah rakyat Jogja yang bakalan strezz. Kalau sudah diUUkan, tidak akan mudah begitu saja menjungkalkan seorang sultan yang menjadi gubernurnya sudah ditetapkan seumur hidup.

Begitu pula sebalikanya, ketika kelak mendatang, ada sultan yang super adil, super mensejahterakan, super ngayomi, lha saya sebagai rakyat jogja akan mengusulkan beliaunya jadi presiden saja, biar Indonesia ikut merasakan kemakmuran. Lha kalau kepentok UU? Karirnya bakalan mentok cuma jadi gubernur saja, karena Undang-Undang memaksa Sri Sultan jadi gubernur saja, nggak boleh maju jadi presiden. Saya sebagai warga Jogja akan merasa lebih bangga dan lebih mantap kalau sultan yang super adil makmur sejahtera ini jadi presiden saja.

Karena itu, kembalikan saja keistimewaan DIY karena sejarah saja. Toh istimewa juga tidak bakal merubah anggaran DIY kan? Istimewakan saja masyarakat DIY dengan diajak makin tertib berlalu lintas, makin tertib buang sampah, makin disiplin di banyak hal, makin rendah kriminalitas, sehingga Jogja layak dianggap istimewa, sebagai kota yang memang benar-benar Istimewa karena kualitas, bukan karena simbol.

  1. hanafi says:

    wes, baru tahu saya.. secara saya baru tinggal di kota “istimewa” ini selama 5 tahun.
    wacana dan pemikiran nya menarik.

  2. bambang says:

    Mungkin Orang2 yang berdemo itu masih mengganggap Jogja adalah TRAh kerajaan Yang gag pernah Putus..jadi selalu mengharapakan ibaratnya raja adalah pemimpin yang selalu mempunyai kekuasan dan kebijaksanaan seperti halnya raja2 yang ada dulu..

    wah saya setuju banged mas tentang pemikiran anda..salut

  3. veta says:

    emang sultan yang sekarang super adil mas? masih bagusan waktu jamannya HB IX. jauh dengan yang sekarang. jauhhhhh. tapi saya juga gak tahu ding dalemnya sultan seperti apa?

  4. @veta: he..he..liat kalimat saya ๐Ÿ˜€ “ketika kelak mendatang, ada sultan yang super adil” …. ada kata-kata KELAK ๐Ÿ˜€

    kalau mau bandingin, memang jujur saja, sultan sekarang kalah lah dengan sultan HB IX, apalagi sultan agung ๐Ÿ˜‰

  5. Rochmad Nurul says:

    mudah mudahan kelak ada pemimpin bangsa yang sesuai dengan pemikiran mas andri tersebut
    *eh kok panggil mas ?? pak andri kok ya biasanya manggilnya ๐Ÿ˜€
    lha habisnya masih seusia kakak sepupu saya sich :P*

  6. veta says:

    @andri: ow begitu *manggut-manggut*. nek aku sih, mbok bhen nek sultan mau jadi presiden ya monggo. gitu aja kok pada repot, pake sidang rakyat segala

  7. ana says:

    Bagaimana sola Jogja Kota Pelajar Mas?

    saya orang jogja tapi kadang malu juga krn jogja terkenal dunia gelapnya

  8. albert tangkijaheng says:

    jogja sekarang tidak seperti yang dulu..
    bagaimanapun juga, lama-lama tunduk juga pada para pemilik modal.saya suka menyusuri jalan Godean, dari mulai Sidoarum trus sampai pasar Godean. di situ masih banyak sawah yang subur karena mendapat irigasi teknis, berkah dari adanya selokan mataram. cuma herannya, kok sekarang mulai banyak muncul perumahan-perumahan ditengah-tengah sawah subur itu ya?aneh…lahan produktif kok dibikin perumahan?
    siapa yang kasih ijin ya?Ngarso Dalem tahu gak ya?

  9. Kang Nur says:

    :)
    Pepatah “Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah” adalah milik orang Melayu. Kalau orang Yogya punya pepatah apa ya? :) salam

  10. prima says:

    yg paling aneh mah katanya sultan tu mengayomi tp kok sm sklai gag pernah ak dgr beliau “turun” ke rakyat yahhh

  11. musahir says:

    pasti yang menyoalkan tentang keistimewaan yogya buka orang jogja. tetapi orang buta yang tinggal di jogja

  12. kuntara says:

    katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarah, sudah jelas sekali ketika HB IX menyatakan Kasultanan Ngayogyakata Hadingrat bergabung dengan NKRI beliau menyatakan.. Kasultanan Ngayogyakata Hadingrat bergabung ke dalam NKRI dan Sultan HB IX adalah sebagai Gubernur dan Pakualam ke VIII sebagai wagub, dan Sultan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.. itu adalah pernyatan bahwa Sultan dan diteruskan dengan maklumat 5 September 1945….
    dan itu berarti bahwa HB IX menghendaki keturunannya dan keturunan pakualam sebagai gubernur DIY, saya kira itu harga mati bagi saya dan bagi sebagian besar warga asli Yogyakarta… Itulah keistimewaan Yogyakarta, Yogyakarta itu sudah banyak membantu perjuangan NKRI(tidak perlu saya ceritakan karena panjang sekali….)
    jadi beginikah balas budi Pemerintah Indonesia????
    Pernyataan Yogyakarta bergabung dengan NKRI dan keinginan HB IX agar keturunannya sebagai raja dan gubernur adalah bagian dari sejarah….
    Kalau Pemimpin Indonesia (SBY pada saat ini) punya jiwa yang besar maka hargailah sejarah itu, janganlah dirubah kalau tidak mau dibilang anteknya suharto yang suka merubah sejarah..
    mengenai pernyataan anda apabila kelak sultan berikutnya yang menjadi gubernur berlaku tidak adil, korupsi dan lain-lain yang merugikan rakyat Yogyakarta bukankah kita puny KPK dan DPR yang berfungsi sebagai pengawas jalannya pemerintahan, DPR dapat menjegalnya dan KPK dapat menangkapnya dan itu sah menurut Undang-undang. Perlu diingat bahwa pada waktu HB IX menjadi wakil Presiden, beliau tetap menjadi Raja dan gubernur DIY namun tugas-tugasnya dilaksanakan oleh Wagub yaitu Pakualam ke VIII. Bagaimana jika HB IX mencabut pernyataan ayahnya dulu..???
    ha ha ha para mahasisswa siap siap bikin pasport. tapi saya yakin HB IX tidak akan melakukan itu,.. tapi kalau beliau melakukannya berarti beliau tidak menghargai sejarah……
    Ingat Yogyakarta bukanlah Monarki Absolut!!!! seperti yang dibilang orang pusat yang ga dong itu, siapa lagi kalau bukan SBY dan para menterinya itu!!!!
    saya mau sampaikan hal penting sekarang ini kita sudah digiring untuk masuk kedalam negara Islam,… itulah yang merusak tatanan NKRI kita dan orang-orang seprti itu sudah duduk di legislatif pusat dan ini sangat berbahaya sekali!!
    Ingat Indonesia didirikan atas kesepakatan bersama sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia berasaskan Pancasila,…….
    Bukan negara Islam berasaskan Islam….
    saya beragama Islam tapi saya tidak setuju Indonesia menjadi negara Islam, dan saya siap untuk menentangnya,..

  13. antimonarki says:

    Berbahaya sekali cara berpikirnya,

    1. Tunjukkan bukti bahwa indonesia sedang digiring menjadi menjadi negara islam, jangan prejudice. hal2 ini lah yg selalu membuat indonesia sulit maju.

    2. Kalau konsisten dgn NKRI, ingat negara ini menganut sistem demokrasi berdasarkan UU yg tentunya mengikat semua level dari pusat / hingga daerah, termasuk diy

    janganlah kita menjadi orang yg keras2 teriak ‘Pro’ jika itu sesuai dgn keinginan pribadi meskipun melanggar tatanan bersama di masyarakat !

  14. iwahyudi says:

    Rekans, 15 tahun saya di Jogja. Merasakan jadi anak kuliahan, kerja kantoran, sambil nyambi jadi sosial worker…
    rekan tadi yang mengaku paling tahu jogja…: ) ada baiknya baca opini saya tentang keistimewaan jogja di http://www.iyuk.wordpress.com. Kebetulan saya cukup dekat dengan keluarga keraton. Dekat bukan karena motif yang lain, tapi dekat karena kami sama2 concern terhadap kegiatan sosial dan kemasyarakatan….
    Rekan tadi yang mengaku paling tahu jogja….dan menganggap orang lain buta, bertanyalah pada diri sendiri, selama kalian ada di Jogja, apa saja yang telah kalian perbuat untuk kebaikan umat, masyarakat Jogja…..kalo jawab saja susah….maka, sekedar tahu tidak cukup untuk menjadi orang jogja yang sesungguhnya…..

  15. Trui says:

    Salam, teman2 sebangsa dan setanah air…

    Kami punya artikel & ilustrasi (komik) menarik mengenai Sri Sultan HB-IX berdasarkan buku Tahta Untuk Rakyat.

    All created by us, TRUI (Tim Relawan Untuk Indonesia) lihat rubrik โ€œA King For My Presidentโ€ di Blog Kami.

    http://relawanuntukindonesia.wordpress.com/

    Salam TRUI!

  16. Zuriat Fadil says:

    Keistimewaan DIY itu diperjuangkan sebagai status bukanlah atas nafsu dan ambisi pribadi Mas. Tapi, kerana melaksanakan amanah HB IX.

    Dinasti Jogja (yang masih trah langsung juga dari Kerajaan Mataram), punya sistem yang sangat baik (itu kalau sedia untuk disebut sistem) untuk mengantisipasi kemungkinan yang anda sebut, bila dapat raja yang lalim dan dzalim.

    Ini yang akan terjadi bila, Jogja tidak punya status keisttimewaan.
    Politik praktis masuk, orang saling berebut kuasa seperti yang terjadi di tempat lain. kedua, tanah-tanah yang dilindungi kraton, maksudnya ‘dilindungi’ adalah dimiliki dan tidak dijual ke sembarang fihak untuk mengantisipasi pembangunan gedung-gedung yang meresahkan masyarakat, itu tidak terlindungi lagi. dan itu berarti kita harus siap dikelilingi mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan kayak di Jakarta.

    Saya sendiri bukan warga asli Jogja, saya orang suku Bugis Asli. saya sudah merasakan, keraton leluhur saya diinjak-injak di tanah kelahiran saya Mas, dan saya tidak ingin itu terjadi di Jogja yang keratonnya masih punya pamor wibawa.

    Semoga ini bisa jadi bahan pertimbangan Mas kedepannya, tapi terlepas dari persoalan setuju atau tidak dengan tulisan anda. Saya salut dengan tulisan anda dan cara anda menyampaikan pendapat, sangat sistematis dan menarik dibaca. Beruntung saya bisa singgah membaca tulisan ini. Terima kasih…

  17. jays alsyaj says:

    Rakyat Jogja tak seperti yang lainnya, Rakyat Jogja mempunyai demokrasinya sendiri dan masih percaya dengan Rajanya dan keistimewaan Yogyakarta itu salah satunya karena pemerintahan DIY tetap dijalankan oleh Sultan dan Paku Alam

  18. Like it. I am trying to find this data. Fantastic information and facts I am going to come back with regard to info on diets.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site