Sekaten 2008

Aslinya males, malam-malam, dingin, hujan lagi, tapi karena istri ada tugas dari Dinas Kesehatan untuk ngisi stand Dinkes Sleman di arena Pasar Malam Sekaten, ya sebagai suami yang baik tentu saja harus diantar lah, jadi akhirnya terdampar juga saya ke Pasar Malam Sekaten, di Senin malam ini, setelah sekian tahun berlalu dari kali terakhir saya ke Sekaten, yang seingat saya jaman masih SD dulu, yang berarti sudah belasan tahun yang lampau tidak pernah lagi datang ke Sekaten.

Ketika datang ke sana, lepas maghrib, suasana cukup sepi, mungkin karena hujan yang mengguyur Jogja sejak sore hari, menyebabkan orang-orang enggan keluar rumah. Setelah mencari-cari sejenak, akhirnya ketemu juga stand kabupaten Sleman, dan setelah istri memulai tugasnya untuk memberikan layanan psikolog gratis di arena pasar malam sekaten ini, saya pun langsung cabut, untuk berjalan-jalan di area pasar malam.

DSC_6119 Sambil nenteng kamera tentu saja, cari foto yang bagus untuk dijadikan kenangan. Menikmati yang namanya Kerak Telor Betawi, yang katanya ini adalah kali pertama kemunculan Kerak Telor Betawi di acara Sekaten ini. Namanya saja pasar malam, tentu isinya sebagian besar adalah orang jualan, meski jaman telah banyak berubah, masih ada ternyata yang berjualan kapal “othok-othok”. Kapal kecil terbuat dari seng, yang untuk njalaninnya kita pakai kapas dikasih minyak terus dibakar. Mainan jaman kecil dulu, he..he.. Meski demikian, jumlah penjualnya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan jaman saya kecil dulu.

Hampir semua barang yang dijual adalah barang-barang modern, meski demikian, terselip di antara para pedagang tadi, beberapa nenek tua yang masih menjajakan dengan setia produk khas sekaten, yakni telur ayam dicat berwarna merah, yang kemudian dikasih batang kayu. Saya kurang tahu, adakah yang masih membeli barang dagangan mereka itu. Karena terus terang, nampaknya anak-anak kecil lebih menyukai mainan balon berbentuk tweety, dan mainan yang lain ketimbang mainan telur dicat warna merah. Tapi nampaknya beberapa penjual tua tadi cukup sabar menanti dagangan mereka ada yang membeli.

Lepas isya’, sekeluarnya saya dari Masjid Agung Kraton Yogyakarta, suasanya berubah ramai, karena hujan telah berhenti. Sayup-sayup terdengar ceramah tentang Sekaten, sebagai manifestasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang saya kira sebagian besar orang juga tidak memperhatikan, sekedar alat untuk mensahkan, bahwa ide pokok awal Sekaten adalah dalam rangka itu, bukan dalam rangka jualan barang dagangan.

  1. andi_gupi says:

    udah lama gak ke sekaten..kapal “othok-othok”??masi ada ya..sempet keheranan dulu pas kecil kok kapal kecil bisa muter-muter sndiri..:D

  2. dimasshogun says:

    sampe sekarang saya masi gak ngerti kerjanya kapal othok2 itu..hehehe..ada yg bisa menerangkan?? :)

  3. Albert says:

    Lho, istrinya Mas Andri kerja di Dinkes Sleman to?

  4. kriwil says:

    wah… senenge…

  5. harry says:

    saya setuju dengan paragraf terakhir, sekaten itu lebih ke acara seneng2 tidak seperti tujuan awalnya dulu

  6. hanafi says:

    wah, ternyata sama mas Andri. cuma saya jaga stand di dinas pendidikan yogyakarta.
    kok nggak ketemu ya?

  7. eko magelang says:

    saya sempat lihat waktu kirab kaprajuritan lho, wah….. ternyata, gunungan itu menyedot masyarakat banyak

  8. inung says:

    waa sy jg pernah lo ikut jagain stand di sekaten, eh berarti istrinya pak andri saudara dong, sama2 ddinkes sleman

  9. YoHang says:

    Kapal othok-othok… Wajib dibeli ketika sekaten dulu. Haduh, 3 tahun terakhir saya juga dah gak pernah ke sekaten lagi…

  10. endoch says:

    jadi..
    ada yang tau gimana cara kerja itu kapal otok2?
    gw juga termasuk orang yang penasaran..
    dan lagi googlink tentang ini kapal…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site