Dodol oh Dodol
Kemarin sore, setelah menyelesaikan beberapa hal, menjelang ashar browsing sejenak di ruang dosen, dan sambil nasyidan jadul dengan salah seorang kawan dosen yang memang munsyid. Kebetulan dia bawa dodol oleh-oleh dari kolega yang lain yang barusan pulang dari Jakarta.
Karena kawan dosen saya tadi baru makan snack, maka saya yang ambil dodol yang dia bawa. Cuma habis seukuran sekitar 3 cm panjang dodol yang saya makan. Eh tiba-tiba, tidak terlalu lama, sekitar 10 menit berikutnya saya merasakan perut yang sangat mulas, sakit sekali. Langsung lari ke toilet, tapi ternyata tidak menyelesaikan masalah. Akhirnya sholat ashar dalam keadaan sakit.
Langsung pulang, ternyata sakitnya tidak menjadi semakin ringan, malah semakin parah. Lari ke toilet tidak bisa menghentikan permasalahan, karena bahkan (maaf) kentut saja tidak bisa. Panjat pohon pepaya di samping rumah, ambil buah yang sudah hampir matang, masih keras sih, tapi harapannya sih biar cepat sembuh. Betul-betul tersiksa, perut rasanya nyeri sekali, setelah makan bubur yang dibuat istri, dan minum protecal untuk penyembuhan, akhirnya saya pun tidur untuk melepaskan rasa sakit, karena saat bangun, sakitnya luar biasa.
Terbangun tengah malam karena belum sholat isya’, saya pun segera sholat. Perut rasanya masih nyeri sekali. Lepas sholat, karena perut yang masih sakit, rasanya susah sekali untuk tidur kembali.
Alhamdulillah bangun saat shubuh, perut yang tadinya nyeri sekali, sudah berkurang rasa sakitnya, masih tersisa, tapi setidaknya tidak seperti tadi malam. Semoga hari ini dapat segera sembuh. Dodol oh dodol ….
Menyoal keistimewaan DIY
Yogyakarta?
Apanya yang istimewa?
Namanya adalah Daerah Istimewa Yogyakarta, sekarang lagi rame-ramenya demonstrasi untuk pengesahan RUU Keistimewaan DIY dengan cara menetapkan Sultan sebagai gubernur dan Paku Alam sebagai wakil gubernur.
Bukannya saya tidak setuju Sri Sultan HB X jadi gubernur, tapi “orang-orang” (yang entah apa maksud di belakang demo mereka itu) yang ngotot untuk memaksakan Gubernur DIY harus Sri Sultan, dan Wagub harus Paku Alam itulah yang membuat saya terheran-heran.
Di dalam sejarah banyak bangsa yang saya pelajari, kekuasaan ala Dinasti biasanya akan berlangsung naik turun, kalau pas lagi bejo, ya aman-aman saja, nah kalau pas lagi buntung, seperti rajanya tukang foya-foya, tukang korupsi dan lain sebagainya, bisa-bisa ajur mumur bangsa tersebut, sehingga bukannya naik turun, tapi malah turun terus.
Begitu pula dengan keistimewaan Yogyakarta, saya masih menganggap bahwa istimewanya Yogyakarta bukanlah karena Sultan dan Paku alam yang jadi gubernur dan wagub, akan tetapi keistimewaan Jogja diperoleh karena perjuangan kemerdekaannya yang dengan keberanian keputusan Sri Sultan HB IX untuk menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia, meski disaat yang sama, RI sedang berada di tepian kehancuran. Inilah istimewanya Yogyakarta dibandingkan dengan daerah yang lain.
Rakyat Jogja saya kira juga semakin pintar, Lha iya kalau pas Sultannya baik hati, tidak sombong, dermawan, dan tidak korupsi. Lah kalau kelak sultan-sultan berikutnya [tanpa bermaksud ngerti sakdurunge winarah, ataupun ramal-meramal, atau tuduh-menuduh, ini cuman andai-andai] tukang foya-foya, tukang korupsi, tukang nilep pajak rakyat, malah rakyat Jogja yang bakalan strezz. Kalau sudah diUUkan, tidak akan mudah begitu saja menjungkalkan seorang sultan yang menjadi gubernurnya sudah ditetapkan seumur hidup.
Begitu pula sebalikanya, ketika kelak mendatang, ada sultan yang super adil, super mensejahterakan, super ngayomi, lha saya sebagai rakyat jogja akan mengusulkan beliaunya jadi presiden saja, biar Indonesia ikut merasakan kemakmuran. Lha kalau kepentok UU? Karirnya bakalan mentok cuma jadi gubernur saja, karena Undang-Undang memaksa Sri Sultan jadi gubernur saja, nggak boleh maju jadi presiden. Saya sebagai warga Jogja akan merasa lebih bangga dan lebih mantap kalau sultan yang super adil makmur sejahtera ini jadi presiden saja.
Karena itu, kembalikan saja keistimewaan DIY karena sejarah saja. Toh istimewa juga tidak bakal merubah anggaran DIY kan? Istimewakan saja masyarakat DIY dengan diajak makin tertib berlalu lintas, makin tertib buang sampah, makin disiplin di banyak hal, makin rendah kriminalitas, sehingga Jogja layak dianggap istimewa, sebagai kota yang memang benar-benar Istimewa karena kualitas, bukan karena simbol.
Menatap bisnis musik ke depan
Badai gelombang MP3 yang kemudian dipopulerkan oleh Winamp, dan kemudian sekarang bergeser ke MP3/MP4 player, atau handphone yang berfungsi sebagai walkman, dan berbagai gadget yang lain, tidak bisa dipungkiri telah menjadikan bisnis musik terutama dari sisi penjualan kaset atau CD mengalami penurunan yang sangat drastis.
Saya kok punya feeling, ke depan, mungkin dalam jangka waktu kurang dari satu dasawarsa, ukuran kesuksesan seorang penyanyi yang biasanya diukur dengan sekian juta kopi CD/kaset terjual hingga mereka memperoleh predikat platinum tidak akan lagi dijadikan sebagai pedoman. Bagaiamana tidak? Seorang penikmat musik akan lebih menyukai untuk mengkopi MP3 dari temannya, atau download dari Internet yang dapat dipergunakan untuk mencari segala macam jenis musik. Tidak peduli apa pun jenis musiknya, pop, rock, dangdut, atau pun musik dakwah ala nasyid pun akan “dibabat” habis oleh MP3 ini.
Lalu adakah yang bisa dilakukan oleh industri musik? penyanyi? pencipta lagu? Apakah mereka akan menuntut para penikmat musik yang lebih senang dengan MP3 yang dapat diperoleh secara mudah dimana-mana? Tentu tidak, badai gelombang ini tidak akan bisa dihadang, zaman telah berubah, bahkan konsep DRM yang memungkinkan proteksi multimedia agar hanya bisa didengarkan oleh yang berhak pun ditinggalkan oleh industri download musik besar macam iTunes. Yang perlu dilakukan tentu adalah dengan mengubah konsep bisnis mereka.
Yang tadinya menggantungkan diri dengan penjualan CD/Kaset, harus mulai merubah pola bisnisnya. Bahkan beberapa grup musik pun telah merelakan penikmat musik mereka untuk mendownload lagu-lagu mereka secara gratis dari website mereka. Lalu dari mana pemusik bisa hidup? Sebenarnya banyak. Dengan memperkuat branding mereka dengan cara download musik gratis, mereka akan semakin dikenal oleh masyarakat banyak.
Nuansa mendengarkan musik dengan MP3 player tentu tidak akan mampu menggantikan “feeling” yang muncul ketika datang ke konser secara live. Saya yakin, orang masih akan datang ke konser, meski mereka tiap hari sudah mendengarkan lagunya dari MP3 player yang mereka miliki. Kemudian dengan adanya fans club, mereka bisa menjual merchandise, dan jika mereka semakin laris dan dikenal orang, akan semakin sering diminta manggung di televisi yang bayarannya saya kira juga cukup mahal, atau pun menjadi bintang iklan, termasuk juga dengan menggiatkan Ring Back Tone yang cukup populer di Indonesia seperti termuat di sini.
Jadi, kenapa harus takut dengan badai MP3? Paradigma mereka harus dirubah dari yang tadinya bermusuhan, menjadi memanfaatkan. Or do you have any other ideas?
ps: catatan ini juga merupakan bahan yang saya sampaikan di mata kuliah Etika Profesi, Jurusan Informatika, Universitas Islam Indonesia
Adam Air [tentang websitenya]
Walaupun izin operasionalnya telah dicabut, tapi nampaknya tidak ada notifikasi yang bisa dilihat dari websitenya Adam Air. Just seems OK, like nothing happenned. Iseng-iseng saya juga nyobain booking .. he.. he… Hasilnya? Semua penerbangan fully booked.
Yah namanya juga iseng-iseng. Hanya pingin ngetes, apakah websitenya ada perubahan atau tidak. Barangkali toekang ITnya sudah gak ada lagi, siap-siap cari pekerjaan di tempat lain. Maybe.
Mencoba Firefox 3 Beta 4
Penasaran seperti apa sih browser Firefox beta yang terbaru, maka saya mengupdate browser Firefox 3 beta 3 menjadi Firefox 3 beta 4.
Nampaknya Mozilla sedang tergila-gila dengan robot-robotan ala 80an. Sehingga tampilan awal setelah update dan juga favorite icon(favicon)nya pun dibuat dengan logo robot.
Diklaim menghabiskan memori yang jauh lebih rendah daripada IE, ataupun yang jawara sebelumnya yakni Opera, Firefox 3 beta 4 ini nampaknya cukup menjanjikan. Sekilas saya coba, hanya ada sedikit add-on yang tidak kompatibel, sebagian besar add-ons yang saya pergunakan di Firefox 2 dapat berjalan dengan baik di Firefox 3.
Jika sebelumnya, biasanya firefox yang saya pergunakan segera menghabiskan memori yang banyak sekali, namun nampaknya di Firefox 3 ini “sedikit” berkurang. Belum saya tes secara lebih lama, tapi nampaknya untuk beberapa waktu ke depan, saya mungkin akan lebih banyak browsing dengan Firefox 3. Apalagi melihat tampilannya yang sangat menarik sekali. Wajar jika sekarang browser firefox semakin merangkak naik penggunanya, yang februari 2008 ini sudah mencapai 36% lebih pengguna.
Google Sky via Web Browser
Jika sebelumnya untuk melihat langit yang disediakan oleh Google, kita harus menginstall Google Earth, sekarang kita dapat mempergunakan browser untuk melihatnya. Lumayan menarik, menambah pengetahuan Astronomi bagi kita.
Dapat dipakai untuk melihat planet-planet di sekitar bumi, galaksi-galaksi yang ditangkap oleh kamera dari Hubble, dan lainnya. Yang menarik, tampilan Google Sky tidak hanya menangkap visible light tapi juga menampilkan non-visible spectrum yang memungkinkan kita melihat tampilan langit yang ditangkap dengan sinar IR, sinar UV, dan sinar X-Ray.
Menarik juga melihat permukaan-permukaan planet di tata surya kita, kemudian melihat tampilan-tampilan galaksi.
Cool !
Picnik, (almost) full featured
Seneng sekali, picnik salah satu tool online favorit saya untuk mengedit gambar-gambar secara online, mulai akhir februari kemarin ternyata telah menggratiskan banyak sekali fitur-fitur yang tadinya hanya bisa dipergunakan jika memiliki akun premium. Sekarang dengan menggunakan jenis yang free sekalipun banyak sekali effect yang bisa dipergunakan secara bebas dan gratis.
Banyak sekali fungsionalitas yang ditawarkan oleh picnik ini, selain fasilitas standar seperti rotate, resize, crop, kemudian exposure, color, sharpen, dan lain sebagainya, dia juga memiliki fasilitas efek untuk memberi efek BW, Infra Red, Vignette (lingkaran menghitam di seputar gambar), kemudian frame gambar, manipulasi gambar seperti seakan-akan dikenai filter Holga, termasuk juga sketsa gambar, dan berbagai maca fungsionalitas lainnya.
Intinya untuk sekedar manipulasi kelas sederhana sampai dengan menengah, kita bisa bermain-main dengan menggunakan picnik. Tidak perlu software yang mahal-mahal ala photoshop untuk mengedit foto-foto kita. Seperti foto di samping, adalah hasil manipulasi dari foto Bangkok Royal Palace yang saya ambil waktu main ke sana, kemudian dengan menggunakan picnik, saya beri frame polaroid plus efek grain.
Yang lebih menarik lagi, picnik bisa diintegrasikan dengan flickr, picasa, photobucket, dan berbagai layanan upload photo yang lainnya. Jadi kalau ada yang murah gratis, kenapa harus bayar mahal jika sekedar edit foto sederhana yang sering kita lakukan?
Sekaten 2008
Aslinya males, malam-malam, dingin, hujan lagi, tapi karena istri ada tugas dari Dinas Kesehatan untuk ngisi stand Dinkes Sleman di arena Pasar Malam Sekaten, ya sebagai suami yang baik tentu saja harus diantar lah, jadi akhirnya terdampar juga saya ke Pasar Malam Sekaten, di Senin malam ini, setelah sekian tahun berlalu dari kali terakhir saya ke Sekaten, yang seingat saya jaman masih SD dulu, yang berarti sudah belasan tahun yang lampau tidak pernah lagi datang ke Sekaten.
Ketika datang ke sana, lepas maghrib, suasana cukup sepi, mungkin karena hujan yang mengguyur Jogja sejak sore hari, menyebabkan orang-orang enggan keluar rumah. Setelah mencari-cari sejenak, akhirnya ketemu juga stand kabupaten Sleman, dan setelah istri memulai tugasnya untuk memberikan layanan psikolog gratis di arena pasar malam sekaten ini, saya pun langsung cabut, untuk berjalan-jalan di area pasar malam.
Sambil nenteng kamera tentu saja, cari foto yang bagus untuk dijadikan kenangan. Menikmati yang namanya Kerak Telor Betawi, yang katanya ini adalah kali pertama kemunculan Kerak Telor Betawi di acara Sekaten ini. Namanya saja pasar malam, tentu isinya sebagian besar adalah orang jualan, meski jaman telah banyak berubah, masih ada ternyata yang berjualan kapal “othok-othok”. Kapal kecil terbuat dari seng, yang untuk njalaninnya kita pakai kapas dikasih minyak terus dibakar. Mainan jaman kecil dulu, he..he.. Meski demikian, jumlah penjualnya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan jaman saya kecil dulu.
Hampir semua barang yang dijual adalah barang-barang modern, meski demikian, terselip di antara para pedagang tadi, beberapa nenek tua yang masih menjajakan dengan setia produk khas sekaten, yakni telur ayam dicat berwarna merah, yang kemudian dikasih batang kayu. Saya kurang tahu, adakah yang masih membeli barang dagangan mereka itu. Karena terus terang, nampaknya anak-anak kecil lebih menyukai mainan balon berbentuk tweety, dan mainan yang lain ketimbang mainan telur dicat warna merah. Tapi nampaknya beberapa penjual tua tadi cukup sabar menanti dagangan mereka ada yang membeli.
Lepas isya’, sekeluarnya saya dari Masjid Agung Kraton Yogyakarta, suasanya berubah ramai, karena hujan telah berhenti. Sayup-sayup terdengar ceramah tentang Sekaten, sebagai manifestasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang saya kira sebagian besar orang juga tidak memperhatikan, sekedar alat untuk mensahkan, bahwa ide pokok awal Sekaten adalah dalam rangka itu, bukan dalam rangka jualan barang dagangan.
Mengajar dan Belajar
“Yakni orang-orang yang senantiasa mengajarkan …
Dan orang-orang yang senantiasa mempelajarinya …”
Kalimat pendek ini pernah menjadi tulisan “about” ketika saya membuat blog khusus tentang seputar jaringan komputer.
OOT:
[Tapi seiring waktu berjalan, ternyata berat juga membuat blog khusus (niche) yang senantiasa memiliki tema tertentu, "keharusan" update dengan topik tertentu dan seterusnya. Semangat itu masih ada, hanya saja kadang kendala kesibukan (atau mengada-adakan kesibukan) seperti seakan menghalangi saya untuk menuliskan blog dengan tema tertentu. Terus terang hingga saat ini saya masih lebih menikmati gaya tulis-menulis blog sesuai dengan mood, meski pada akhirnya blog ini tidak mampu mendefinisikan market yang jelas, tidak jelas apa yang dibahas, tidak jelas pembacanya siapa, tergantung Google yang menghantarkan orang-orang yang kadang "tersesat" di rimba blog ini, kecuali memang ada beberapa kawan yang memang rajin silaturahim berkunjung ke blog ini (maafkan saya yang tidak bisa senantiasa blogwalking ke tempat rekan-rekan sekalian).]
Ilmukomputer dot com memiliki tag “Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya” sebagaimana syair yang diambil dari Imam Ali radhiyallahu’anhu, dan memang benar. Banyak sekali yang sering saya sampaikan di kelas, bahkan kadang secara spontan “mak cling” ide tentang sesuatu terlontar ketika saya mengajar. Dan setelah itu, justru ide tersebut yang malah melekat kuat.
Karena itulah saya paling suka kalau diminta mengisi forum, kelas, pelatihan, training, dan lain sebagainya. Karena di saat itulah biasanya kemampuan keilmuan akan semakin bertambah. Seorang murid yang senantiasa belajar terus menerus biasanya hanya akan mampu mempertahankan ilmu yang dia miliki sampai dengan saat ujian tiba. Berbeda halnya dengan seorang guru yang mau tidak mau dia dituntut untuk belajar terus menerus, agar mampu mengajarkan sesuatu dengan baik di depan kelas, dan justru tidak menyesatkan dengan ilmu yang salah. Ketika hendak mengisi training/kelas/forum/dlsb, mau tidak mau saya juga harus semakin banyak belajar, apalagi kompetensi saya adalah bidang IT yang perubahannya terus-menerus, bahkan dari detik ke detik.
Harapannya memang blog ini menjadi sarana saya juga untuk belajar terus menerus tanpa henti, senantiasa mendapatkan sesuatu yang baru. Selain mengikat semua ide, cerita, dan ilmu yang saya miliki dalam blog, harapannya juga dapat memberikan kemanfaatan bagi yang lainnya.
Wartawan, muka dari mana?
“Mas, mas, aku difoto mas …”
“Kowe mau wis difoto rung karo mase mau?” (Kamu tadi sudah difoto belum sama masnya tadi)
“Koran-koran…eh mas-e wartawan yo”
Hanya karena modal bawa kamera DSLR Nikon, trus waktu jalan ke pasar gedhe Klaten tadi pagi nganter ibu mertua, dikira sama orang-orang sebagai wartawan.
Saya memang sedang berusaha hunting orang-orang yang berjualan di pasar. Mau pergi ke pasar Bringharjo kok nggak pernah kesampaian. Tapi sedikit susah memang, karena kalau orang-orang pasar ngliat ada yang mau memfoto mereka, langsung deh pada pasang aksi.
Padahal saya maunya kan cari momen, yang original, menggambarkan transaksi jual beli di pasar tradisional, menggambarkan situasi yang sebenarnya dari mbok-mbok bakul pasar, kemudian para kuli panggul, tawar-menawar, dan lain sebagainya. Masih harus belajar tekniknya, agar bisa lebih alami lagi. Pake model candid, sayang lensa belum terlalu mendukung, maksimal baru di 300mm, dan belum VR.
















