Belajar (kembali) menjadi dewasa

Sekian hari tidak blogwalking karena kesibukan nan tiada henti, ternyata ada “peristiwa besar” to ? πŸ˜‰

OMG, saya kaget juga ketika ada “perang dingin” yang telah terjadi. Kenapa harus rame pak Budi Rahardjo? Kenapa juga harus sampai ada ungkapan kata,

You are not welcome here. Go away. Anda on top of that, I don’t want to deal with you guys anymore. Bye.

Cheers up pak, kita semua juga sudah dewasa. Kadang memang ada perselisihan, jujur saja, saya pun pernah “secara halus” mengkritik pak BR di dalam salah satu tulisan saya, betul-betul muncul dari hati terdalam, untuk kebaikan, tidak ada niat barang sedikitpun meremehkan blog beliau.

Ketika saya bertemu langsung dan berdiskusi dengan pak BR, luar biasa, salut sekali saya dengan hal-hal yang pak BR miliki, dan perjuangkan. Bahkan, saya pun merasa siap di belakang pak BR untuk membantu ide-ide beliau bisa terapresiasi di Indonesia tercinta ini. Karena itulah, terkadang orang memiliki ekspektasi terhadap tulisan beliau, untuk bisa lebih memajukan Indonesia, terutama di bidang IT.

Masih ada hal yang saya ingat dalam salah satu posting pak BR, berkaitan dengan ibu kosnya di Kanada yang tanya beliau tentang, “kenapa kamu (pak BR) masih mau mengurusi orang yang tidak mau diurusi?”. Jujur saja, saya lebih menikmati posting beliau yang seperti ini ketimbang sekedar one-liner (cerita satu baris) yang isinya cuma cerita habis futsal, yang kemudian puluhan orang dengan segera “melahap” lahan komentar yang masih kosong tadi. Tapi sekali lagi, seperti yang sudah saya tulis, di tulisan saya sebelumnya, adalah hak sepenuhnya penulis blog untuk menulis apa yang dia suka tanpa harus merasa terintimidasi oleh para pembacanya.

Cuma kadang bagi sebagian orang yang mengenal beliau dengan benar-benar dan tahu segala potensi yang beliau miliki, apa tidak sayang, kesempatan untuk “didengarkan” ribuan orang setiap harinya itu hanya jadi ajang ngejunk? he..he… bukankah dengan kekuatan positif ngurusi orang yang sudah nggak mau lagi diurus tadi boleh jadi akan membawa perubahan yang lebih “dramatis” bagi Indonesia untuk arah yang lebih baik?? Of course, this is just my two cents.

Toh resiko blog tanpa moderasi adalah adanya komentar yang tidak sepakat dengan kita, bahkan hujatan pun akan diterima, dan semestinya kita harus siap menghadapinya, kapan pun. Sebagai seorang yang sudah dewasa, semestinya kita pun punya tuntutan untuk lebih memahami persoalan ini dengan lebih bijak.

Apakah kita perlu belajar kembali menjadi seorang dewasa? Ya, iklan A Mild memang betul, menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu adalah pilihan …

πŸ˜‰

  1. herie says:

    hi numpang lewat & salam kenal yach… link back yach!!!

  2. ebeny says:

    all of these means LONG LIFE EDUCATION………
    be mature !!

  3. keyrooms says:

    sulit rasanya….

    met knal yach

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site