Tafakur

Satu kegiatan yang dahulu ketika saya masih kuliah S1 yang paling saya sukai adalah traveling sendirian, pergi ke tempat yang jauh dari keramaian, seperti ke pantai, atau ke gunung. Duduk, merenung, bertafakur. Jika mengingat kembali masa itu, rasanya kehidupan yang tadinya dijalani dengan berat dan berliku, menjadi mudah setelah melakukan “refreshing” sejenak.

Sayangnya, kegiatan ini menjadi kegiatan yang sangat langka dan menjadi istimewa dalam masa sekarang ini. Seakan-akan semuanya berkejar-kejaran, yang tidak putus-putus, dan tidak berhenti. Semuanya seakan berlomba-lomba dan susul-menyusul. Berkejaran dengan waktu, materi, dan pelbagai hal yang lain. Betapa ternyata kehidupan yang fana ini dihadapi ini telah begitu membius segalanya. Semakin diminum semakin haus, bak air laut. Semakin banyak yang didapatkan, jiwa ini menjadi semakin kering karena kehausan akan ketenangan dan ketentraman.

Sebagai seoarang manusia biasa, saya pun menginginkan kehidupan dunia, akan tetapi rasanya saya perlu memupuk kembali bahwa saya pun kelak akan mati. Segala atribut dunia ini juga tidak akan berarti, kecuali atribut tadi dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, dan orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Jadi pingin pergi jalan-jalan lagi biar bisa bertafakur dengan nikmat kembali, kemana ya enaknya? Tepian jurang di Kaliadem? Bukit tepi pantai dekat pantai Krakal? atau malah liat Gunung merapi saja di ketep pass … he…he…

Intinya, nampaknya saya perlu banyak jalan-jalan lagi, sekedar menikmati keindahan ciptaanNya, dan lebih bisa mensyukuri segala nikmat yang ada.

  1. eshape says:

    tulsian sederhana ini memberikan pencerahan padaku.
    thx mas

    terus menulis ya…

  2. bank_al says:

    aku juga rasanya sudah lama tidak menikmati travelling lagi nih. Namun dengan alasan yg berbeda denganmu Ndri, nek aku sih kebanyakan tidur. 😀

  3. Donny Reza says:

    om, ajak2 ya…lagi pengen juga 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site