Membiasakan untuk berlapang dada

Namanya saja manusia, berbagai keinginan tentu “sliwar-sliwer” beredar di kepalanya. Siapa yang tidak mau hidup serba ada, semua keinginan terkabul, banyak orang yang menyenanginya, populer, dan berbagai atribut kemanusiaan lainnya.

Tapi inilah kehidupan, segala sesuatu tidak bisa diwujudkan semudah dalam impian dan angan-angan. Berbagai macam kendala mendampingi segala impian tadi, yang ada kemudian biasanya adalah kekecewaan yang mendalam karena impian yang tak kunjung datang menghampiri dunia nyata mereka.

Betapa banyak orang yang senantiasa melihat dunia yang lebih atas dari mereka pada akhirnya malah “nelangsa”, memikirkan kehidupannya yang begitu merana (setidaknya merana versi mereka), kenapa mereka tidak bisa seperti manusia lainnya yang seakan merasakan kehidupan yang bahagia. Bak pepatah, rumput tetangga senantiasa terlihat lebih hijau. Padahal, kata orang, “Belum tahu mereka !!” Bahwa terkadang orang yang senantiasa dijadikan parameter bagi mereka yang memiliki semua impian dan kebahagiaan tadi belum tentu lebih bahagia dari mereka.

Zahirnya, nampak dari orang-orang tersebut kebahagiaan, kemewahan, dan lain sebagainya. Padahal jauh di dalam kehidupan mereka tadi dipenuhi dengan kesusahpayahan, ketidakbisaan mereka menikmati hidup dan banyak hal lainnya.

Dua hari yang lalu ketika saya mengantar kakak sepupu saya jalan-jalan di kota Jogja, dia bercerita tentang apa yang belum lama dia temui ketika naik haji kemarin. Bahwasanya dia berkunjung ke orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Arab Saudi kira-kira 20 tahun; Orang yang senantiasa membantu jama’ah haji melaksanakan korban, atau membayar dam (denda) dan berbagai hal lainnya. Orang ini terkenal di kampung halamannya sebagai orang yang sangat kaya, memiliki banyak rumah, dan semua rumahnya adalah rumah yang megah dan mewah, tanahnya juga dimana-mana. Nampak kaya sekali di mata sanak kerabatnya.

Begitu kakak sepupu saya sampai di rumahnya, nun jauh di atas puncak gunung (atau mungkin bukit), yang ada kakak sepupu saya beristighfar. Rumah yang dikunjungi di saudi tadi ternyata tidak seperti bayangan kakak sepupu saya, mengingat dia adalah orang yang sangat kaya sekali. RUmah yang dia temui adalah rumah emplek-emplek yang ditembel di sana-sini dengan triplek, sangat kecil, dan nampak sekali tidak layak disebut sebagai rumah.

Saya yang mendengar cerita kakak sepupu tadi hanya bisa tersenyum kecut. Betapa orang tadi berjibaku, mengumpulkan semua harta benda yang banyak sekali, dan dibangunnya istana di Indonesia, sementara dia sendiri hidup di Saudi dengan segala atribut kemelaratan. Yang jadi pertanyaan, dia bekerja keras, membanting tulang, hidup dengan penuh kemelaratan untuk siapa? Boleh jadi kemewahan yang dia bangun hanya akan memberikan kenikmatan bagi pembantunya, bagi tukang kebunnya, bagi satpamnya, yang semua menikmati rumah mewah, TV besar, dan fasilitas lain di rumahnya yang dia tinggal di Indonesia.

Boleh saja dia bilang, akan menikmati semuanya begitu pensiun kelak, tapi siapa yang bisa menjamin dia akan hidup esok hari, pekan depan, bulan depan, atau pun tahun depan. Tidak ada !

Karena itu, yang perlu kita ingat bersama, memang benar, bahwa rumput tetangga akan senantiasa terlihat lebih hijau, lebih subur, akan tetapi bukan berarti ketika kita berada pada posisi tetangga tadi, kemudian kita akan merasa nyaman dalam posisi dia. Yang ada malah kita merasa bersyukur karena kita ada dalam posisi kita sekarang. Jadi, mengapa tidak, lapangkanlah dada kita selebar-lebarnya, banyak-banyak bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah kita perolah.

  1. bank_al says:

    kalau dada-nya dilapang2kan, nanti terpaksa harus beli baju baru lagi dong Ndri, khan dada-nya ndak muat. 😀

  2. imcw says:

    Kalau wanita terlalu ‘lapang dada’ bukannya tidak menarik, Mas. :)

  3. rayyan says:

    “lain syakartum la’aziidannakum, walain kafartum inna ‘adzabii lasyaadiid”

    (jika kamu sekalian bersyuskur maka akan Aku tambah ni’mat-Ku, namun jika kamu mengingkarinya, maka sesungguhnya adzab-Ku benar – benar pedih)

  4. Ami says:

    berlapang dada dalam arti menikmati dan mensyukuri apa yang sudah dilimpahkan dan diberikan kepada kita. Kadang-kadang (menurut pengalaman pribadi saya) begitu kita merasakan sudah sangat nikmat, seakan ada di surga dunia.. Allah malah mengurangi bahkan mencabut kenikmatan itu.. Wallahu alam.. Allah maha tau apa yang akan diberikan lagi kepada kita.. Cerita pak Andri tersebut bukan cerita orang yang bisa menikmati apa yang diberikan oleh Allah. Bahkan menurut saya, orang tersebut malah mendholimi diri sendiri dan tidak bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya.

  5. Donny Reza says:

    Barangkali itu yang disebut kurang barakah ya?! Gimana disebut barakah kalau dirinya sendiri tidak bisa menikmati apa yang dimilikinya…?

  6. alhakim says:

    Kalau menurut saya orang yang bisa menikmati Hidup adalah orang yang pandai bersyukur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site