Jogja yang semakin semrawut

Seenarnya dulu ketika saya berangkat dari Jogja, sudah semrawut sih, akan tetapi, kali ini saya merasakan betul-betul bahwa Jogja semakin semrawut terutama di masalah tata kota dan transportasi. Saya kurang tahu, kebijakan bus TransJogja apakah akan mampu menyelesaikan permasalahan transportasi.

Dominasi motor yang “tidak terpelajar” di kota Jogja benar-benar menyesakkan dada ini, baik ketika saya sendiri mengendarai mobil ataupun bahkan ketika saya naik sepeda motor. Semua orang menginginkan didahulukan, tanpa peduli dengan kawan di sebelahnya. Potong jalur seenaknya, dan hampir mencelakakan orang lain, menutupi jalur yang seharusnya bebas. Arrrggggh…

Terkadang saya tidak mampu menutupi kekesalan, karena kesabaran yang telah memuncak. Dengan seenaknya orang memotong jalur, hendak belok ke kanan, tapi ambil posisi di sebelah kiri mobil yang hendak lurus saat berada di lampu merah. Sindrom pasca pulang dari LN? He..he… mungkin saja. Tadi pagi saja ketika saya mengantar ibu saya pergi ke kantor, ibu saya juga menyampaikan hal yang sama. Ketika almarhum bapak saya pulang dari Negri Belanda, ketika mengendarai mobil pun awal-awalnya sedikit “uring-uringan” karena tidak tertibnya orang Indonesia Jogja dalam mengendarai kendaraan mereka, begitu pula om saya ketika barusan pulang dari Australia, dia pun mengeluh, sambil bergumam dan dongkol dengan mengatakan betapa tidak tertibnya orang sini.

Dan hal yang sama juga terjadi dengan saya. Sampai tadi pagi saya harus “teriak” ke orang yang menghalangi jalan yang pada akhirnya harus saya klakson sampai berulang kali. Eh bukannya minggir, malah cuma noleh saja, abis itu cuek lagi. Akhirnya ketika ada seorang polisi yang keluar dari pos penjagaannya sambil melihat dia, barulah dia mau minggir. Dasar !!!!

Seakan jiwa tidak tertib telah menjadi jiwa dan darah daging masyarakat kita. Jangan salahkan pemimpin yang dikatakan tidak bisa membawa maju bangsa Indonesia, lha masyarakatnya sendiri tidak bisa diatur dan tidak tertib dan senang melanggar aturan, sebaik apapun pemimpin bangsa ini.

Jadi ingat ketika Imam Ali r.a dikomplain oleh masyarakatnya

“Wahai amirul mukminin, kenapa ketika negara dipimpin oleh engkau, keadaan negara ini kacau balau tidak seperti khalifah-khalifah sebelumnya ??? !!!!” , tanya seseorang.

Jawab Imam Ali r.a, “Dulu rakyatnya seperti aku semua, sekarang rakyatnya seperti kamu semua !!!!”

* sigh * Indonesia banget gitu loh … :(

  1. Bondan says:

    PERTAMAXXX!

    Hehehe, nDro, nDro, kayak baru kemaren aja dikau berlalu lintas di Jogja. Btw, dengan keluh kesahmu barusan, sangat TIDAK disarankan bagimu untuk berkendaraan di Jakarta…

    Katrok, ndeso, gak ngerti peradaban blog !
    Sudah tahu dilarang nulis pertamax kok ya masih ngeyel !!! ๐Ÿ˜›

  2. Bondan says:

    Kalo KEDUAXXXX bole?
    (ya, ya, ini memang sepam..)

    *kaboor*

  3. ika says:

    iya yah,endonesa banget,,gak tertibnya itu bener2 berbanding terbalik bahkan dengan negara tetangga kita yang serumpun itu,,kesadaran masyarakat endonesa emang kurang sekali..

  4. kriwil says:

    kok saya malah kangen dengan kemacetan dan kesemrawutan di malioboro dan sekitar nya ya?

    bulan desember-januari dan juni-juli memang waktu libur sekolah… jadi banyak yang pulang kampung ataupun liburan ke jogja…

    :)

  5. veta says:

    yup , itulah jogja mas. Kadang saya pengen ngasih shock therapy buat yang cenanangan itu. ditabarak saja biar kroso.

  6. Luthfi says:

    qiqiqiiqiqi
    coba ke bgr, adu nyali lawan sopir angkot

  7. hanafi says:

    weh mas veta kok anarkis, ingat Defensive Driving..

  8. veta says:

    @hanafi: bukannya anarkis sih. Tapi tahap perkembangan kemanusiaan sebagian besar pengendara sepeda motor belum pada tahap yang cocok untuk diterapkan modellingnya bandura. pake helm bukan karena ingin selamat, tapi karena ingin ditilang. Sopir bis merajalela, karena mereka belum pernah merasakan akibat sesungguhnya. selain dihimpit masalah ekonomi juga sih. Terus bagaimana ya? saya juga bingung. Saya kalau di jalan bukan takut saya kan menubruk, tapi takut kalau saya ditubruk orang lain

  9. Sampai tadi pagi saya harus โ€œteriakโ€ ke orang yang menghalangi jalan yang pada akhirnya harus saya klakson sampai berulang kali. Eh bukannya minggir, malah cuma noleh saja, abis itu cuek lagi. Akhirnya ketika ada seorang polisi yang keluar dari pos penjagaannya sambil melihat dia, barulah dia mau minggir. Dasar !!!!

    hahaha…di jkt, aku pernah lihat ada yg nglakson dan malah disemprot ama yg diklakson!! :p

  10. Donny Reza says:

    Hmm, Bandung juga sama, berantakan. Palembang lebih gila lagi. :))

    Shocked Culture om? :p

  11. aaqq says:

    haha.. sindrome pulang dari LN?? hahaha..
    terimalah.. dan berdamailah dengan semua itu.. ๐Ÿ˜€

  12. satriyo says:

    wah nek aku yo maklum, lha iku demokrasi sing berlaku nang Indonesia

  13. rayyan says:

    hidup di indonesia harus jembar atine, dhowo ususe, double jantunge

  14. wawan says:

    Saya sudah merasa nggak kerasan di yogya semenjak saya masih SMP. Sering saya merasa pusing atau mau muntah2… Sekarang saya sadari ternyata disebabkan oleh kadar ‘lead’ yang ada di bensin di Indonesia. Jumlah kendaraan yang banyak, polusi udara yang menyesakkan pernafasan, kadar CO yang tinggi menyebabkan saya sering pusing/mabuk gara2 bis kota yang tak ada ac dan jendelanya terbuka menyebabkan asap kendaraan terhirup hidung2 manusia di dalamnya. Wah pokoknya saya pengin aja keluar dari kota… kotor bising polusi dll dll dll. Di negara maju bensinnya nggak ada ‘lead’ nya (unleaded)… atau malah pakai bahan bakar yang bersih. Untung saya sekarang hidup di kota yang nggak padat dan nggak bising…. suasana masih seperti di desa. Ayem.

    Di mana2 negara2 berkembang masalahnya sama… jumlah penduduk berkembang pesat,,,, kalau nggak punya sistem pemerintahan yang jujur ya semuanya semrawut……

  15. andi_gupu says:

    duhh..jogja..jogja..
    besuk sepadaan aja semua aja klo mo pergi2x..:D

  16. Harry says:

    lama-lama jogja bisa kayak tangerang nih, lalu lintasnya kacau, polisi suka nyetop pengendara seenaknya, sopir angkot merasa dirinya pembalap f1, repot deh pokoknya

  17. m. apip says:

    Emang sangat disayangkan ya mas,…
    kan kota wisata yah….
    Saya juga sering bingung di sini (jakarta & depok) ada aja penggalian di jalanan (kabel optik,dan penggalian2 lainnya, gak ada habisnya …
    But for all, this is Indonesia,,,ok…
    I love Indonesia
    http://mydreamvillage.blogspot.com/

  18. uzan says:

    setuju mas, mungkin ini semakin memantapkan niat pemerintah kita yg rencananya mau memindahkan ibukota negri ini ke Jogja.. lha wong udah semrawut, panas terik, dsb.. kan cocok tuh sama salah satu persyaratan sebuah kota utk menjadi ibukota Negara … hehee

  19. Ken says:

    aku pernah merasa harus bercermin, waktu jalan sepi lampu merah diterobos aja, langsung kuhentikan motorku ketika kulihat anak muda yang bergaya “punk, Rock Underground habiz. tetap berhenti di lampu merah walau jalanan pagi itu sepi, dan motor yang lainnya asyik aja ngelanggar lampu merah ( bahkan nampak bangga )saya pernah -di kasih tau aja ama kawan – para punk di jepang, walau dengan kebrengsekan mereka, masih menghargai, orang lain termasuk dijalan raya, sedangkan kita ????? yang berdasi, yang kantoran, yang butut, sopir, orang muda, tua, sami mawon ( sama aja ) kacauu. MULAI DARI DIRI SENDIRI

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site