Archive for January 2008

Membiasakan untuk berlapang dada

Namanya saja manusia, berbagai keinginan tentu “sliwar-sliwer” beredar di kepalanya. Siapa yang tidak mau hidup serba ada, semua keinginan terkabul, banyak orang yang menyenanginya, populer, dan berbagai atribut kemanusiaan lainnya.

Tapi inilah kehidupan, segala sesuatu tidak bisa diwujudkan semudah dalam impian dan angan-angan. Berbagai macam kendala mendampingi segala impian tadi, yang ada kemudian biasanya adalah kekecewaan yang mendalam karena impian yang tak kunjung datang menghampiri dunia nyata mereka.

Betapa banyak orang yang senantiasa melihat dunia yang lebih atas dari mereka pada akhirnya malah “nelangsa”, memikirkan kehidupannya yang begitu merana (setidaknya merana versi mereka), kenapa mereka tidak bisa seperti manusia lainnya yang seakan merasakan kehidupan yang bahagia. Bak pepatah, rumput tetangga senantiasa terlihat lebih hijau. Padahal, kata orang, “Belum tahu mereka !!” Bahwa terkadang orang yang senantiasa dijadikan parameter bagi mereka yang memiliki semua impian dan kebahagiaan tadi belum tentu lebih bahagia dari mereka.

Zahirnya, nampak dari orang-orang tersebut kebahagiaan, kemewahan, dan lain sebagainya. Padahal jauh di dalam kehidupan mereka tadi dipenuhi dengan kesusahpayahan, ketidakbisaan mereka menikmati hidup dan banyak hal lainnya.

Dua hari yang lalu ketika saya mengantar kakak sepupu saya jalan-jalan di kota Jogja, dia bercerita tentang apa yang belum lama dia temui ketika naik haji kemarin. Bahwasanya dia berkunjung ke orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Arab Saudi kira-kira 20 tahun; Orang yang senantiasa membantu jama’ah haji melaksanakan korban, atau membayar dam (denda) dan berbagai hal lainnya. Orang ini terkenal di kampung halamannya sebagai orang yang sangat kaya, memiliki banyak rumah, dan semua rumahnya adalah rumah yang megah dan mewah, tanahnya juga dimana-mana. Nampak kaya sekali di mata sanak kerabatnya.

Begitu kakak sepupu saya sampai di rumahnya, nun jauh di atas puncak gunung (atau mungkin bukit), yang ada kakak sepupu saya beristighfar. Rumah yang dikunjungi di saudi tadi ternyata tidak seperti bayangan kakak sepupu saya, mengingat dia adalah orang yang sangat kaya sekali. RUmah yang dia temui adalah rumah emplek-emplek yang ditembel di sana-sini dengan triplek, sangat kecil, dan nampak sekali tidak layak disebut sebagai rumah.

Saya yang mendengar cerita kakak sepupu tadi hanya bisa tersenyum kecut. Betapa orang tadi berjibaku, mengumpulkan semua harta benda yang banyak sekali, dan dibangunnya istana di Indonesia, sementara dia sendiri hidup di Saudi dengan segala atribut kemelaratan. Yang jadi pertanyaan, dia bekerja keras, membanting tulang, hidup dengan penuh kemelaratan untuk siapa? Boleh jadi kemewahan yang dia bangun hanya akan memberikan kenikmatan bagi pembantunya, bagi tukang kebunnya, bagi satpamnya, yang semua menikmati rumah mewah, TV besar, dan fasilitas lain di rumahnya yang dia tinggal di Indonesia.

Boleh saja dia bilang, akan menikmati semuanya begitu pensiun kelak, tapi siapa yang bisa menjamin dia akan hidup esok hari, pekan depan, bulan depan, atau pun tahun depan. Tidak ada !

Karena itu, yang perlu kita ingat bersama, memang benar, bahwa rumput tetangga akan senantiasa terlihat lebih hijau, lebih subur, akan tetapi bukan berarti ketika kita berada pada posisi tetangga tadi, kemudian kita akan merasa nyaman dalam posisi dia. Yang ada malah kita merasa bersyukur karena kita ada dalam posisi kita sekarang. Jadi, mengapa tidak, lapangkanlah dada kita selebar-lebarnya, banyak-banyak bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah kita perolah.

FoodFest

Hari ini jurusan Informatika, UII ngadain rapat di FoodFest Jalan Kaliurang, Yogyakarta, tepatnya di belakang Rumah Makan Padang Sederhana. Tempatnya nampaknya masih baru, karena ketika dulu saya berangkat, tempat ini belum ada. Parkirnya juga masih belum selesai. Lumayan juga layanannya di sini.

Yang jelas ada hotspotnya, sehingga saya bisa makan sambil ngeblog. Nampaknya cukup menarik tempatnya dijadikan sebagai ajang kopdar, karena begitu selesai kopdar bisa langsung update tempat. Kemudian yang jelas, karena saya baru pertama kali makan di sini, saya cukup satisfy, karena kita makan rame-rame biasanya yang sering terjadi, pesen makanannya pasti dicampur pesan “pake lama“.

Di sini, alhamdulillah, pesannya tidak “pake lama”, satu hal yang biasanya akan membuat pengunjung betah untuk kembali lagi.

Foto-foto ntar diupdate entah di sini atau di foto blog. Karena sekarang sudah datang makannya, mari makan !!!

Semoga enak :)

Seandainya … jika

Dalam konsepsi Islam, ada salah satu hal yang dinasehatkan untuk dijauhi, yakni berandai-andai, terutama untuk hal yang telah lalu. Semisal “seandainya aku anak orang kaya, aku pasti akan … bla..bla..bla…”

Tapi berandai yang belum terjadi, dan realistis, tentu saja diperkenankan. Dan saya pun sekarang sedang berandai-andai.

Dipicu oleh salah satu posting di milis kampung-ugm dari om Radit, tentang masalah kiswah (kain penutup ka’bah di Mekkah) seharga 50 milyar, saya pun kurang lebih sependapat dengan pendapat beliau. Kenapa uang sebanyak 50 milyar, yang “dibuang” setahun sekali, karena kain kiswah diganti setiap tahunnya, tidak kemudian disumbangkan ke negara islam lain yang sebagian besar berada dalam dunia ketiga, yang miskin secara ekonomi, miskin secara pendidikan, dan miskin dalam banyak hal (Indonesia mungkin termasuk ??)

Pemerintah saudi memang cukup royal nampaknya untuk bermegah-megah dalam masalah masjid, yang salah satunya kiswah ini. Saya sendiri belum pernah membaca dan menemukan tentang hadits dimana nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada umatnya untuk menghiasi ka’bah dengan kiswah yang begitu mewah, dari sutra asli, berhiaskan emas 24 karat dan lain sebagainya, yang menurut saya sangat mewah sekali. Bahkan setahu saya, ada larangan bermegah-megahan dalam membangun masjid.

Guyonan saya menjawab pertanyaan om Radit adalah, uang itu akan disumbang ke negara miskin nunggu kerajaan Saud “kukut” alias gulung tikar. Banyak sekali sebenarnya kebijakan pemerintah saudi yang “menyakiti” kaum muslim sendiri, dan berulang kali salah dalam memutuskan perkara yang bahkan sangat fatal, seperti yang baru saja terjadi, mereka “salah” menetapkan penanggalan dzulhijjah gara-gara asal terima kesaksian orang yang sudah melihat bulan tanpa mempertimbangkan ilmu hisab yang jelas-jelas menyatakan sangat tidak mungkin melihat bulan baru dengan posisi masih -5 derajad, sehingga akhirnya dzulhijjahnya jadi 31 hari (opo tumon, kalender bulan kok sampe tanggal 31 ?).

Kembali ke masalah awal, seandainya pemerintah saudi diisi oleh orang-orang yang memahami Islam dengan benar, memiliki rasa mencintai saudara seislam mereka jauh lebih besar ketimbang dinar dan dolar yang mereka dapatkan dengan minyak dan jamaah haji yang datang ke sana, niscaya mereka akan mampu memberikan kemanfaatan yang jauh lebih banyak. Kapan? kembali ke seandainya tadi …

30 detik sebelumnya dan sesudahnya

merahhijau

Beginilah situasi yang saya temukan dan saya alami hampir setiap hari di jalanan kota Jogja. Sebut saja motor di sebelah kiri mobil pengendaranya namanya Botol (bodoh dan tolol). Si Botol ini sejatinya hendak belok ke kanan, akan tetapi karena dia merasa sebelah kanan sudah penuh, maka dia mencari celah yang kosong, dan itu ada di sebelah kiri mobil dari gambar di atas.

Ketika lampu menyala hijau, dengan santai dan lenggang kangkung, langsung saja dia potong jalur mobil yang hendak lurus ke depan, dan dia langsung belok kanan. Sopir mobil mana yang tidak “panas” diperlakukan seperti itu. Sudah gitu kalau ketabrak, hukum “alam” kendaraan bermotor pasti berlaku. Kasta tertinggi adalah pejalan kaki dan kasta terendah adalah mobil/kendaraan besar lainnya. Tidak peduli siapa yang salah, kalau motor ketabrak mobil, yang salah pasti mobilnya. Kalau sepeda ketabrak motor, yang salah pasti motornya. Kalau orang jalan kaki ketabrak sepeda, yang salah pasti sepedanya.

Apa memang budaya bangsa kita begitu “primitifnya”, tidak taat aturan, tidak mau tahu hukum, main menang sendiri. Kapan Indonesia bisa maju????

Istikharah atau Hajat ?

Bagi yang masih bujang, ada beberapa “guyonan” yang sering dilontarkan oleh mereka, apalagi kalau bukan masalah perjodohan. Doa yang paling sering mereka lantunkan adalah

Ya Allah, berikanlah kepadaku petunjuk, jika “dia” memang menjadi jodohku, maka mudahkanlah segala urusanku. Dan jika “dia” bukanlah jodohku, maka ya Allah, jadikanlah “dia” sebagai jodohku ..

ha..ha… (kalau ada Donny Reza, pasti dia sudah “tersenyum kecut”)

Guyonan yang sebenarnya “dalam”, karena betapa banyak di antara kita, ketika dilanda kebimbangan akan sesuatu hal, biasanya kemudian kita akan melakukan sholat dan menghaturkan do’a istikharah, untuk diberikan kemantapan dalam kebimbangan tadi.

Tapi biasanya yang terjadi, bukannya kita melakukan do’a istikharah, yang ada malah sholat hajat. Bukannya kita meminta petunjuk untuk membantu kita memilih yang terbaik bagi kita, alih-alih, justru kita lebih sering berdo’a untuk dikabulkan apa yang menjadi “keinginan” kita.

Netral ! Seharusnya itu yang kita lakukan ketika kita meminta untuk ditunjukkan sesuatu dalam kebimbangan yang melanda kita, tidak malah berat sebelah. Meski ini bukanlah hal yang mudah, tapi sangat mungkin dilatih. Karena apa yang menjadi kecenderungan bagi kita, belum tentu yang “terbaik” bagi kita. Kalau memang sudah meniatkan untuk meminta Allah memilihkan yang terbaik buat kita, ya memohonnya dengan cara yang benar. Yang namanya istikharah tentu beda dengan hajat.

Seperti sekarang ini, saya pun sedang dilanda kebimbangan berkaitan dengan plan studi saya, mohon do’a dari rekan-rekan sekalian, agar saya mendapatkan pilihan yang terbaik. Amin.

Senangnya … bebas dari hutang

Semua juga tahu, bahwa yang namanya hutang tentu saja sama sekali tidak mengenakkan. Kalau boleh, semua orang juga berharap, agar mereka tidak berhutang dalam hidup mereka.

Sungguh tidak nikmat rasanya, hidup penuh dengan belitan hutang, setiap hari memikirkan bagaimana cara melunasinya, khawatir jika tidak dapat melunasi, barang-barang jaminan akan disita, dan seterusnya. Bahkan saking stresnya terkadang orang yang berhutang yang mengalami tekanan, kadang dapat terkena stroke atau pun tekanan mental. Dan beberapa orang yang saya kenal pun mengalami hal yang sama karena menumpuknya hutang mereka.

Kemarin sewaktu mengantar ibu saya berobat, saya tanya kepada ibu, apakah almarhum bapak masih ada hutang yang harus dilunasi, karena terkait dengan saya selaku anak laki-laki yang punya tanggung jawab penuh terhadap ibu dan adik-adik saya. Kata ibu,”Alhamdulillah ndak ada sama sekali, ibu sudah tanya kemana-mana, tidak ada yang merasa dihutangi oleh almarhum bapak.

Ketika almarhum bapak saya sakit, kondisinya tidak memungkinkan untuk nyopir mobil. Tapi kira-kira dua pekan sebelum meninggal (saat itu saya sudah di Singapura), almarhum bapak nyopir sendiri, dan ketika pulang ketika ditanya ibu dari mana, almarhum bapak menjawab,”Aku cuma latihan nyetir mobil lagi, sampai utara monjali (monumen jogja kembali) sana”. Ternyata tanpa sepengetahuan ibu, almarhum bapak saat itu pergi ke bank untuk mengambil uang tabungan, dan pada hari itu, almarhum bapak melunasi semua hutang-hutang ke koperasi di kampus di tempat almarhum bapak mengajar. Subhanallah.

Betapa dengan adanya hutang, ternyata yang terbebani bukan hanya si penghutang, tapi keluarganya pun ikutan terbebani, Alhamdulillah almarhum bapak saya ketika meninggal sama sekali tidak lagi meninggalkan hutang, suatu hal yang sangat saya syukuri.

Hingga hari ini pun, alhamdulillah (dan saya selalu berharap demikian sampai ke depan) saya tidak pernah berhutang (tentu kalau hutang uang kecil gara-gara nggak punya receh juga pernah) dalam jumlah yang besar, apalagi berhutang ke bank, dll. Saya tidak berharap dan bercita-cita untuk punya hutang. Ketika beberapa tahun yang lalu hendak berhutang untuk pembiayaan sesuatu yang saya inginkan, ternyata “tidak diperkenankan” karena saat itu saya hendak berhutang ke salah satu bank syariah, tapi mereka tidak mau memberi jika jumlah hutangnya kecil. Yang sangat saya syukuri, batalnya saya mengambil pembiayaan kredit tadi diikuti dengan informasi tentang “barang” yang hendak saya beli yang ternyata bermasalah. Alhamdulillah nggak jadi hutang.

Allahumma inni ‘audzubika min gholabatid dayni, wa qahrir rijaal

Ya Allah .. aku berlindung kepadaMu … dari belitan hutang dan kungkungan manusia

Switch to our mobile site