Membiasakan untuk berlapang dada

January 31, 2008 · Posted in Uncategorized · 6 Comments 

Namanya saja manusia, berbagai keinginan tentu “sliwar-sliwer” beredar di kepalanya. Siapa yang tidak mau hidup serba ada, semua keinginan terkabul, banyak orang yang menyenanginya, populer, dan berbagai atribut kemanusiaan lainnya.

Tapi inilah kehidupan, segala sesuatu tidak bisa diwujudkan semudah dalam impian dan angan-angan. Berbagai macam kendala mendampingi segala impian tadi, yang ada kemudian biasanya adalah kekecewaan yang mendalam karena impian yang tak kunjung datang menghampiri dunia nyata mereka.

Betapa banyak orang yang senantiasa melihat dunia yang lebih atas dari mereka pada akhirnya malah “nelangsa”, memikirkan kehidupannya yang begitu merana (setidaknya merana versi mereka), kenapa mereka tidak bisa seperti manusia lainnya yang seakan merasakan kehidupan yang bahagia. Bak pepatah, rumput tetangga senantiasa terlihat lebih hijau. Padahal, kata orang, “Belum tahu mereka !!” Bahwa terkadang orang yang senantiasa dijadikan parameter bagi mereka yang memiliki semua impian dan kebahagiaan tadi belum tentu lebih bahagia dari mereka.

Zahirnya, nampak dari orang-orang tersebut kebahagiaan, kemewahan, dan lain sebagainya. Padahal jauh di dalam kehidupan mereka tadi dipenuhi dengan kesusahpayahan, ketidakbisaan mereka menikmati hidup dan banyak hal lainnya.

Dua hari yang lalu ketika saya mengantar kakak sepupu saya jalan-jalan di kota Jogja, dia bercerita tentang apa yang belum lama dia temui ketika naik haji kemarin. Bahwasanya dia berkunjung ke orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Arab Saudi kira-kira 20 tahun; Orang yang senantiasa membantu jama’ah haji melaksanakan korban, atau membayar dam (denda) dan berbagai hal lainnya. Orang ini terkenal di kampung halamannya sebagai orang yang sangat kaya, memiliki banyak rumah, dan semua rumahnya adalah rumah yang megah dan mewah, tanahnya juga dimana-mana. Nampak kaya sekali di mata sanak kerabatnya.

Begitu kakak sepupu saya sampai di rumahnya, nun jauh di atas puncak gunung (atau mungkin bukit), yang ada kakak sepupu saya beristighfar. Rumah yang dikunjungi di saudi tadi ternyata tidak seperti bayangan kakak sepupu saya, mengingat dia adalah orang yang sangat kaya sekali. RUmah yang dia temui adalah rumah emplek-emplek yang ditembel di sana-sini dengan triplek, sangat kecil, dan nampak sekali tidak layak disebut sebagai rumah.

Saya yang mendengar cerita kakak sepupu tadi hanya bisa tersenyum kecut. Betapa orang tadi berjibaku, mengumpulkan semua harta benda yang banyak sekali, dan dibangunnya istana di Indonesia, sementara dia sendiri hidup di Saudi dengan segala atribut kemelaratan. Yang jadi pertanyaan, dia bekerja keras, membanting tulang, hidup dengan penuh kemelaratan untuk siapa? Boleh jadi kemewahan yang dia bangun hanya akan memberikan kenikmatan bagi pembantunya, bagi tukang kebunnya, bagi satpamnya, yang semua menikmati rumah mewah, TV besar, dan fasilitas lain di rumahnya yang dia tinggal di Indonesia.

Boleh saja dia bilang, akan menikmati semuanya begitu pensiun kelak, tapi siapa yang bisa menjamin dia akan hidup esok hari, pekan depan, bulan depan, atau pun tahun depan. Tidak ada !

Karena itu, yang perlu kita ingat bersama, memang benar, bahwa rumput tetangga akan senantiasa terlihat lebih hijau, lebih subur, akan tetapi bukan berarti ketika kita berada pada posisi tetangga tadi, kemudian kita akan merasa nyaman dalam posisi dia. Yang ada malah kita merasa bersyukur karena kita ada dalam posisi kita sekarang. Jadi, mengapa tidak, lapangkanlah dada kita selebar-lebarnya, banyak-banyak bersyukur dengan segala kenikmatan yang telah kita perolah.

FoodFest

January 29, 2008 · Posted in Uncategorized · 6 Comments 

Hari ini jurusan Informatika, UII ngadain rapat di FoodFest Jalan Kaliurang, Yogyakarta, tepatnya di belakang Rumah Makan Padang Sederhana. Tempatnya nampaknya masih baru, karena ketika dulu saya berangkat, tempat ini belum ada. Parkirnya juga masih belum selesai. Lumayan juga layanannya di sini.

Yang jelas ada hotspotnya, sehingga saya bisa makan sambil ngeblog. Nampaknya cukup menarik tempatnya dijadikan sebagai ajang kopdar, karena begitu selesai kopdar bisa langsung update tempat. Kemudian yang jelas, karena saya baru pertama kali makan di sini, saya cukup satisfy, karena kita makan rame-rame biasanya yang sering terjadi, pesen makanannya pasti dicampur pesan “pake lama“.

Di sini, alhamdulillah, pesannya tidak “pake lama”, satu hal yang biasanya akan membuat pengunjung betah untuk kembali lagi.

Foto-foto ntar diupdate entah di sini atau di foto blog. Karena sekarang sudah datang makannya, mari makan !!!

Semoga enak :)

Seandainya … jika

January 25, 2008 · Posted in Uncategorized · 3 Comments 

Dalam konsepsi Islam, ada salah satu hal yang dinasehatkan untuk dijauhi, yakni berandai-andai, terutama untuk hal yang telah lalu. Semisal “seandainya aku anak orang kaya, aku pasti akan … bla..bla..bla…”

Tapi berandai yang belum terjadi, dan realistis, tentu saja diperkenankan. Dan saya pun sekarang sedang berandai-andai.

Dipicu oleh salah satu posting di milis kampung-ugm dari om Radit, tentang masalah kiswah (kain penutup ka’bah di Mekkah) seharga 50 milyar, saya pun kurang lebih sependapat dengan pendapat beliau. Kenapa uang sebanyak 50 milyar, yang “dibuang” setahun sekali, karena kain kiswah diganti setiap tahunnya, tidak kemudian disumbangkan ke negara islam lain yang sebagian besar berada dalam dunia ketiga, yang miskin secara ekonomi, miskin secara pendidikan, dan miskin dalam banyak hal (Indonesia mungkin termasuk ??)

Pemerintah saudi memang cukup royal nampaknya untuk bermegah-megah dalam masalah masjid, yang salah satunya kiswah ini. Saya sendiri belum pernah membaca dan menemukan tentang hadits dimana nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada umatnya untuk menghiasi ka’bah dengan kiswah yang begitu mewah, dari sutra asli, berhiaskan emas 24 karat dan lain sebagainya, yang menurut saya sangat mewah sekali. Bahkan setahu saya, ada larangan bermegah-megahan dalam membangun masjid.

Guyonan saya menjawab pertanyaan om Radit adalah, uang itu akan disumbang ke negara miskin nunggu kerajaan Saud “kukut” alias gulung tikar. Banyak sekali sebenarnya kebijakan pemerintah saudi yang “menyakiti” kaum muslim sendiri, dan berulang kali salah dalam memutuskan perkara yang bahkan sangat fatal, seperti yang baru saja terjadi, mereka “salah” menetapkan penanggalan dzulhijjah gara-gara asal terima kesaksian orang yang sudah melihat bulan tanpa mempertimbangkan ilmu hisab yang jelas-jelas menyatakan sangat tidak mungkin melihat bulan baru dengan posisi masih -5 derajad, sehingga akhirnya dzulhijjahnya jadi 31 hari (opo tumon, kalender bulan kok sampe tanggal 31 ?).

Kembali ke masalah awal, seandainya pemerintah saudi diisi oleh orang-orang yang memahami Islam dengan benar, memiliki rasa mencintai saudara seislam mereka jauh lebih besar ketimbang dinar dan dolar yang mereka dapatkan dengan minyak dan jamaah haji yang datang ke sana, niscaya mereka akan mampu memberikan kemanfaatan yang jauh lebih banyak. Kapan? kembali ke seandainya tadi …

30 detik sebelumnya dan sesudahnya

January 23, 2008 · Posted in Uncategorized · 12 Comments 

merahhijau

Beginilah situasi yang saya temukan dan saya alami hampir setiap hari di jalanan kota Jogja. Sebut saja motor di sebelah kiri mobil pengendaranya namanya Botol (bodoh dan tolol). Si Botol ini sejatinya hendak belok ke kanan, akan tetapi karena dia merasa sebelah kanan sudah penuh, maka dia mencari celah yang kosong, dan itu ada di sebelah kiri mobil dari gambar di atas.

Ketika lampu menyala hijau, dengan santai dan lenggang kangkung, langsung saja dia potong jalur mobil yang hendak lurus ke depan, dan dia langsung belok kanan. Sopir mobil mana yang tidak “panas” diperlakukan seperti itu. Sudah gitu kalau ketabrak, hukum “alam” kendaraan bermotor pasti berlaku. Kasta tertinggi adalah pejalan kaki dan kasta terendah adalah mobil/kendaraan besar lainnya. Tidak peduli siapa yang salah, kalau motor ketabrak mobil, yang salah pasti mobilnya. Kalau sepeda ketabrak motor, yang salah pasti motornya. Kalau orang jalan kaki ketabrak sepeda, yang salah pasti sepedanya.

Apa memang budaya bangsa kita begitu “primitifnya”, tidak taat aturan, tidak mau tahu hukum, main menang sendiri. Kapan Indonesia bisa maju????

Istikharah atau Hajat ?

January 22, 2008 · Posted in Uncategorized · 14 Comments 

Bagi yang masih bujang, ada beberapa “guyonan” yang sering dilontarkan oleh mereka, apalagi kalau bukan masalah perjodohan. Doa yang paling sering mereka lantunkan adalah

Ya Allah, berikanlah kepadaku petunjuk, jika “dia” memang menjadi jodohku, maka mudahkanlah segala urusanku. Dan jika “dia” bukanlah jodohku, maka ya Allah, jadikanlah “dia” sebagai jodohku ..

ha..ha… (kalau ada Donny Reza, pasti dia sudah “tersenyum kecut”)

Guyonan yang sebenarnya “dalam”, karena betapa banyak di antara kita, ketika dilanda kebimbangan akan sesuatu hal, biasanya kemudian kita akan melakukan sholat dan menghaturkan do’a istikharah, untuk diberikan kemantapan dalam kebimbangan tadi.

Tapi biasanya yang terjadi, bukannya kita melakukan do’a istikharah, yang ada malah sholat hajat. Bukannya kita meminta petunjuk untuk membantu kita memilih yang terbaik bagi kita, alih-alih, justru kita lebih sering berdo’a untuk dikabulkan apa yang menjadi “keinginan” kita.

Netral ! Seharusnya itu yang kita lakukan ketika kita meminta untuk ditunjukkan sesuatu dalam kebimbangan yang melanda kita, tidak malah berat sebelah. Meski ini bukanlah hal yang mudah, tapi sangat mungkin dilatih. Karena apa yang menjadi kecenderungan bagi kita, belum tentu yang “terbaik” bagi kita. Kalau memang sudah meniatkan untuk meminta Allah memilihkan yang terbaik buat kita, ya memohonnya dengan cara yang benar. Yang namanya istikharah tentu beda dengan hajat.

Seperti sekarang ini, saya pun sedang dilanda kebimbangan berkaitan dengan plan studi saya, mohon do’a dari rekan-rekan sekalian, agar saya mendapatkan pilihan yang terbaik. Amin.

Senangnya … bebas dari hutang

January 20, 2008 · Posted in Uncategorized · 8 Comments 

Semua juga tahu, bahwa yang namanya hutang tentu saja sama sekali tidak mengenakkan. Kalau boleh, semua orang juga berharap, agar mereka tidak berhutang dalam hidup mereka.

Sungguh tidak nikmat rasanya, hidup penuh dengan belitan hutang, setiap hari memikirkan bagaimana cara melunasinya, khawatir jika tidak dapat melunasi, barang-barang jaminan akan disita, dan seterusnya. Bahkan saking stresnya terkadang orang yang berhutang yang mengalami tekanan, kadang dapat terkena stroke atau pun tekanan mental. Dan beberapa orang yang saya kenal pun mengalami hal yang sama karena menumpuknya hutang mereka.

Kemarin sewaktu mengantar ibu saya berobat, saya tanya kepada ibu, apakah almarhum bapak masih ada hutang yang harus dilunasi, karena terkait dengan saya selaku anak laki-laki yang punya tanggung jawab penuh terhadap ibu dan adik-adik saya. Kata ibu,”Alhamdulillah ndak ada sama sekali, ibu sudah tanya kemana-mana, tidak ada yang merasa dihutangi oleh almarhum bapak.

Ketika almarhum bapak saya sakit, kondisinya tidak memungkinkan untuk nyopir mobil. Tapi kira-kira dua pekan sebelum meninggal (saat itu saya sudah di Singapura), almarhum bapak nyopir sendiri, dan ketika pulang ketika ditanya ibu dari mana, almarhum bapak menjawab,”Aku cuma latihan nyetir mobil lagi, sampai utara monjali (monumen jogja kembali) sana”. Ternyata tanpa sepengetahuan ibu, almarhum bapak saat itu pergi ke bank untuk mengambil uang tabungan, dan pada hari itu, almarhum bapak melunasi semua hutang-hutang ke koperasi di kampus di tempat almarhum bapak mengajar. Subhanallah.

Betapa dengan adanya hutang, ternyata yang terbebani bukan hanya si penghutang, tapi keluarganya pun ikutan terbebani, Alhamdulillah almarhum bapak saya ketika meninggal sama sekali tidak lagi meninggalkan hutang, suatu hal yang sangat saya syukuri.

Hingga hari ini pun, alhamdulillah (dan saya selalu berharap demikian sampai ke depan) saya tidak pernah berhutang (tentu kalau hutang uang kecil gara-gara nggak punya receh juga pernah) dalam jumlah yang besar, apalagi berhutang ke bank, dll. Saya tidak berharap dan bercita-cita untuk punya hutang. Ketika beberapa tahun yang lalu hendak berhutang untuk pembiayaan sesuatu yang saya inginkan, ternyata “tidak diperkenankan” karena saat itu saya hendak berhutang ke salah satu bank syariah, tapi mereka tidak mau memberi jika jumlah hutangnya kecil. Yang sangat saya syukuri, batalnya saya mengambil pembiayaan kredit tadi diikuti dengan informasi tentang “barang” yang hendak saya beli yang ternyata bermasalah. Alhamdulillah nggak jadi hutang.

Allahumma inni ‘audzubika min gholabatid dayni, wa qahrir rijaal

Ya Allah .. aku berlindung kepadaMu … dari belitan hutang dan kungkungan manusia

Jogja yang semakin semrawut

January 17, 2008 · Posted in Uncategorized · 19 Comments 

Seenarnya dulu ketika saya berangkat dari Jogja, sudah semrawut sih, akan tetapi, kali ini saya merasakan betul-betul bahwa Jogja semakin semrawut terutama di masalah tata kota dan transportasi. Saya kurang tahu, kebijakan bus TransJogja apakah akan mampu menyelesaikan permasalahan transportasi.

Dominasi motor yang “tidak terpelajar” di kota Jogja benar-benar menyesakkan dada ini, baik ketika saya sendiri mengendarai mobil ataupun bahkan ketika saya naik sepeda motor. Semua orang menginginkan didahulukan, tanpa peduli dengan kawan di sebelahnya. Potong jalur seenaknya, dan hampir mencelakakan orang lain, menutupi jalur yang seharusnya bebas. Arrrggggh…

Terkadang saya tidak mampu menutupi kekesalan, karena kesabaran yang telah memuncak. Dengan seenaknya orang memotong jalur, hendak belok ke kanan, tapi ambil posisi di sebelah kiri mobil yang hendak lurus saat berada di lampu merah. Sindrom pasca pulang dari LN? He..he… mungkin saja. Tadi pagi saja ketika saya mengantar ibu saya pergi ke kantor, ibu saya juga menyampaikan hal yang sama. Ketika almarhum bapak saya pulang dari Negri Belanda, ketika mengendarai mobil pun awal-awalnya sedikit “uring-uringan” karena tidak tertibnya orang Indonesia Jogja dalam mengendarai kendaraan mereka, begitu pula om saya ketika barusan pulang dari Australia, dia pun mengeluh, sambil bergumam dan dongkol dengan mengatakan betapa tidak tertibnya orang sini.

Dan hal yang sama juga terjadi dengan saya. Sampai tadi pagi saya harus “teriak” ke orang yang menghalangi jalan yang pada akhirnya harus saya klakson sampai berulang kali. Eh bukannya minggir, malah cuma noleh saja, abis itu cuek lagi. Akhirnya ketika ada seorang polisi yang keluar dari pos penjagaannya sambil melihat dia, barulah dia mau minggir. Dasar !!!!

Seakan jiwa tidak tertib telah menjadi jiwa dan darah daging masyarakat kita. Jangan salahkan pemimpin yang dikatakan tidak bisa membawa maju bangsa Indonesia, lha masyarakatnya sendiri tidak bisa diatur dan tidak tertib dan senang melanggar aturan, sebaik apapun pemimpin bangsa ini.

Jadi ingat ketika Imam Ali r.a dikomplain oleh masyarakatnya

“Wahai amirul mukminin, kenapa ketika negara dipimpin oleh engkau, keadaan negara ini kacau balau tidak seperti khalifah-khalifah sebelumnya ??? !!!!” , tanya seseorang.

Jawab Imam Ali r.a, “Dulu rakyatnya seperti aku semua, sekarang rakyatnya seperti kamu semua !!!!”

* sigh * Indonesia banget gitu loh … :(

Sengaja oi..

January 13, 2008 · Posted in Uncategorized · 6 Comments 

Sengaja …

Ya, karena waktu lebih banyak dipergunakan untuk jalan-jalan, hunting photo di beberapa tempat yang saya kunjungi, kemudian “wisata kuliner”, selama beberapa terakhir memang saya jarang mengakses Internet, termasuk yang menjadi “korban” adalah blog ini, yang “lama” sekali tidak diupdate.

Paling aktifitas Internet saya hanyalah mengecek email dan ngekron, itupun cukup dilakukan dengan PDA + akses GPRS ;-)

Semoga pekan ini sudah bisa mulai update lagi secara rutin. Insya Allah.

Sampai juga akhirnya

January 6, 2008 · Posted in Uncategorized · 14 Comments 

Alhamdulillah, kemarin pagi mendarat dengan selamat di Bandara Adisumarmo Solo. Terus terang, baru kali kemarin saya di bandara Adisumarmo, kesimpulan saya… memang bandara Adisumarmo “tidak layak” jadi bandara Internasional. Sudah gitu petugas imigrasinya “sedikit” kurang ramah, mungkin karena banyak TKI yang lewat sana, jadinya tampangnya dan nada bicaranya rada kurang “nyaman” dirasa-rasa. Tapi sudah lah, tidak usah diperpanjang lagi.

Sampai di Solo, dijemput oleh Ibu dan adik perempuan saya, hebat uey, dah bisa nyopir sendiri sekarang dia dari Jogja sampai Solo. Pulang ke arah jogja, mampir sejenak di rumah mertua di Klaten. Sudah banyak yang berubah, jalan bekas gempa dulu sudah dihotmix, jadi jalan ke rumah mertua sudah sangat lancar sekali.

Sore hari akhirnya sampai juga ke Jogja. Planning sudah banyak, tapi sekarang saatnya istirahat. Yang jelas ke depan, warung Soto Pak Man di utara Galeria, terus pempek di Jalan Kaliurang, terus Tahu Sumedang Jalan Godean, terus Mie Goreng Cak Edi, loh…kok malah jadi wisata kuliner he..he… Ya harap maklum lah, masakan sini jelas tidak terbandingkan dengan masakan Singapura yang “biasa-biasa” saja.

Sekarang masih saatnya istirahat, insya Allah besok-besok ketemuan dengan teman-teman yang sudah lama tak bersua.

;-)

Ucapan terima kasih

January 4, 2008 · Posted in Uncategorized · 14 Comments 

Barangkali memang klise, tapi memang harus saya ungkapkan di sini. Setelah kurang lebih satu setengah tahun saya di Singapura, ternyata banyak hal yang telah saya peroleh dan saya dapatkan. Sungguh merupakan sebuah keberuntungan saya dapat meletakkan sejenak kaki saya di negri nan kecil mungil, yang pernah disebut sebagai “The Little Red Dot” oleh pak Habibie, negri yang menyebut dirinya sebagai kota taman (Singapore is a Garden City), sebagai kota penuh dengan denda (Singapore is a Fine City), dan lain sebagainya.

Ketika memutar kembali film di memori saya, tentang bagaimana harus beradaptasi dengan orang, dengan makanan yang rasanya jauh berbeda, dengan bahasa yang campur-campur, dengan orang asing yang jumlahnya hampir 1 berbanding 3 ketimbang warga negaranya sendiri, ketika harus tinggal dengan orang lokal, ketika hidup di dalam kampus, ketika harus pindah ke luar kampus, dan banyak hal lainnya. Tentu saja saya akan merasa kehilangan, kehilangan yang akan menimbulkan kerinduan.

Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada:

  1. Tata sekeluarga yang sudah menampung saya pada awal kedatangan di Singapura
  2. Radon Dhelika yang menjemput saya waktu pertama kali datang di sini
  3. Fendabi sekeluarga yang sudah banyak membantu kita dalam banyak hal, termasuk blender yang dihibahkan ke saya dan istri
  4. Adik-adik undergrad NTU, Delta, Doni, Damar, Andre, Bedul, Iko, Ershad, Nolang, Zuhdi, kemudian juga yang lain seperti Nelman, Budi,  Ruwadi dan yang lainnya
  5. Kawan-kawan ‘seperjuangan’ di NTU, Ali, Ganesh, dkk
  6. Saudara seiman di NTU, walaupun berbeda negara tapi hati kita menyatu dalam persaudaraan, Aziz dari Belanda, Shamir dari Prancis, Yusuf dari Jerman, Abdullah dari Canada, dan Amir dari Pakistan
  7. Teman-teman baru dari NTU batch 2007, bapak-bapak tentara dari Mabes TNI, pak Adieb, pak Puji, Pak Wandiru, temen-temen dari Indonesia, pak Syuhud, Fitron, Arief, Yopan
  8. Rekan-rekan yang suka bersenandung ria di Nasyid NTU Voice (?), Susbye, Irwan, Ricky, Aryo, dan Dono
  9. Teman ‘dolan’ kesana kemari saat kuliah dulu, pak Badar, pak Sapto, dan pak Dzakirin
  10. Adik-adik Keluarga Alumni Teladan Yogyakarta, Singapura, Taufik, Arinto, Ershad (disebut lagi), Agung, makasih juga buat kaosnya. Terus juga buat Wawan (Ardiyan) dan Yunta, semoga lekas “mentas” tidak terus menerus jadi Jomblo :)
  11. Temen-temen muslim Indonesia di SG, pak Indra, pak Junaidi, pak Wawan, pak Dasuki, pak Afdal, pak Toni, pak Garnadi, Ustadz Mustafa, dll
  12. Temen-temen NUS, Bachtiar, Haryo, Agus, pak Novel, Matnur
  13. Kushendarsyah yang sudah mau berbagi flat, biar bisa ngirit hidup di SG yang serba mahal ini
  14. Pak IndraPr, Fajri, om Rane aka JaF, dan semua temen-temen blogger di Planet Singapura
  15. Supervisor di NTU, Professor Robert dan A/P Choo
  16. [akan ditambah jika ternyata ada yang kelupaan]
  17. (yang ini klise banget) dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu … he..he..

Terima kasih buat semua yang pernah diberikan, semua yang pernah dibagi, insya Allah jalinan yang telah dibangun tidak akan lepas begitu saja. Mohon maaf jika saya selama ini banyak berbuat kesalahan. Insya Allah kalau ada kesempatan bakal main lagi.

Buat teman, saudara, rekan, sejawat saya di Singapura, jika berkesempatan main ke Jogja, jangan segan-segan menghubungi saya …

C U Singapore …. Insya Allah besok pagi jam 7.55 pagi akan terbang meninggalkan Singapura menuju Solo dengan Silk Air …

[mode: kembali melanjutkan packing]

Next Page »