Agama dalam bisnis / politik

Meski secara statistik, jumlah pemeluk kristiani di Singapura tidak lebih dari 15 persen, akan tetapi, jauh-jauh hari sebelum natal (atau orang melayu cakap “Krismas”), berbagai kawasan bisnis mulai menyambut natal dengan berbagai pernak-perniknya. Semua karyawan toko diminta untuk berpakaian ala santa, suasana yang dibangun pun sama. Walaupun mereka bukan kristen, akan tetapi karena acara natal ini adalah acara yang mampu menghasilkan “duit luar biasa”, tentu bukan even yang bisa dilepaskan begitu saja. Dan saya kira, banyak juga orang yang tahu, bahwa pemaknaan natal bagi orang kristiani pun menjadi kurang karena “nyawa” bisnisnya lebih terasa.

Barangkali mirip dengan di Indonesia, menjelang Idul Fitri, “denyut bisnis” terkadang mengalahkan suasan “relijius” yang sebenarnya diharapkan dari bulan Ramadhan. Sehingga orang-orang yang diharapkan belajar lebih baik dengan bulan Ramadhan, malah disibukkan dengan”hingar-bingar” bisnis sampingan di bulan Ramadhan.

Saya masih ingat juga, mungkin sekitar 15 tahun yang lalu (saya lupa tepatnya), ketika itu pertama kalinya saya dan keluarga dan juga tetangga mulai berbeda lebaran dengan pemerintah cq. pak harto saat itu yang jadi penguasa. Saya masih ingat, saat itu hendak dibuat semacam kemeriahan dengan bedug raksasa, yanga acaranya sendiri menghabiskan satu milyar kalau tidak salah. Tentu akan menjadi kerugian yang luar biasa ketika ternyata lebaran maju satu hari, pawai yang sudah disiapkan tentu menjadi sia-sia.

Nah, berbicara masalah ini, ketika mbah Dipo bercerita masalah Idul Adha 1428H, saya pun jadi ikut tanda tanya? Sebenarnya Saudi itu punya ilmuwan yang mampu memberikan pencerahan kepada negaranya tidak sih? Bagaimana mungkin secara teori bulan masih 5 derajad di bawah ufuk, yang secara teori sangat tidak mungkin melihat bulan, kok ya percaya sama orang yang ngaku-ngaku sudah melihat bulan? Kalau secara teori sudah di atas 0 derajad, saya masih mungkin mempercayai ada yang melihatnya, tapi yang satu ini jelas-jelas di bawah 5 derajad, kok ya percaya begitu saja.

Jelas, ibadah haji adalah “bisnis” yang boleh dibilang luar biasa, 2 juta orang, datang pada saat yang sama, membawa riyal dan seterusnya. Saya masih belum bisa faham, apakah ada faktor bisnis atau politik di belakang keputusan kontroversial Saudi saat ini? Semestinya ulama di Saudi sana juga dibekali ilmu hisab agar rukyat-nya juga nggenah, sehingga tidak lagi memunculkan pendapat kontroversial semacam ini (mirip dengan kasus matahari mengelilingi bumi yang difatwakan ulama saudi, di mana orang tidak faham ilmu astronomi, tapi main fatwa tentang astronomi secara ngawur). Secara personal saya pun lebih “dekat” dengan “rukyat”, akan tetapi hisab juga harus dipakai dalam rangka mendapatkan hasil rukyat yang lebih akurat.

  1. mbah dipo says:

    mungkin ilmu hisab yang sekarang ini ada dengan segala pernik kecanggihannya, masih dianggap ilmunya orang kapir… :(

  2. Andi Eko says:

    Ha kalo bisnis kambing yang berbonus tahi gimana ?

  3. Donnyreza says:

    Kalo saya lebih dekat dengan hisab sebetulnya dan masih merasa kalau syariat dan science itu ‘mustahil’ bertentangan. Logika sederhana saya juga mengatakan, alasan saat itu rukyat digunakan, karena memang itulah cara paling sederhana untuk memastikan bahwa hari itu sudah masuk awal bulan atau belum.

    Dengan kondisi langit yang sekarang penuh dengan polusi dan pendaran cahaya, agak merepotkan juga untuk mata telanjang menyaksikan hilal.

  4. cahyo says:

    agama dibisniskan? manusia memang gak kurang nafsunya ya.

    btw, lustrum emas pulang kampung ga mas?

  5. @cahyo: saya pulang awal januari mas, sampeyan pulang? :) salam buat pak singgih ya ;-)

  6. Hedi says:

    kadang sekarang bisnis beragama dengan agama berbisnis jadi tipis perbedaannya :(

  7. Landy says:

    Saya cuma bisa ngelus dada kalau menyangkut hal-hal kaya gini.

  8. bayu says:

    ngikut landy, saya cuma bisa geleng2 kepala,..
    ck ck ck ck,..

  9. hanafi says:

    *ikut landy ma bayu ngelus dada ma geleng2 kepala (geleng2 lebih banyak).*

  10. rayyan says:

    ikut landy, bayu, ma hanafi ngelus dada ma geleng2 kepala (geleng2 lebih banyak lagi dari hanafi)

  11. mamatto says:

    @Donnyreza : Dengan kondisi langit yang sekarang penuh dengan polusi dan pendaran cahaya, agak merepotkan juga untuk mata telanjang menyaksikan hilal.

    kok pandangan anda sempit gini ya.. banyak sudut buat ngeliat sesuatu..

    misalkan saja anda tidak bisa melihat telinga anda dengan sendirinya.. paling ngga’ anda harus ngeliat cerminan diri anda.. ntah di cermin, air, dll.. atau tanya ke teman anda, telinga saya itu gimana sich.. ;)

    NB: sorry klo tata bahasanya kurang baik :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site