Jalan ke China Town

DSC_0665 Hari Sabtu siang ini, saya menyempatkan jalan-jalan dengan istri, pergi ke China Town, untuk cari souvenir dan berburu “objek”.

Sebenarnya siang tadi sempat ragu untuk berangkat tidaknya, karena cuaca yang agak mendung, dan ketika saya melihat awan di daerah timur dari balkon flat saya, kelihatannya cukup tebal. Tapi setelah beberapa saat, ternyata cuaca di sekitar flat saya cukup bersahabat, saya asumsikan di daerah timur pun, cuaca lumayan terang. Akhirnya kita putuskan untuk berangkat ke sana.

Berangkat sekitar pukul setengah tiga siang dari rumah, sampai ke China Town sekitar pukul 3.15pm. Sampai di sana, istri segera “berburu” souvenir buat oleh-oleh dan kado nikah salah seorang kawan, sementara saya “berburu” hal yang lain, yang kalau saya bilang, berburu fokus+blur. Maklum, saya masih belajar bagaimana fotografi yang bagus, membuat blur background dan fokus foreground, atau sebaliknya.

Beberapa saat setelah jalan, sekitar jam setengah lima sore pas waktu ashar, mampir ke masjid Chulia (atau masjid hijau, karena semua bangunannya dominan dengan warna hijau) untuk sholat ashar, sekaligus untuk beristirahat sejenak mengistirahatkan kaki.

Ada hal yang menarik ketika tadi jalan-jalan, meski secara umum porstitusi adalah ilegal di Singapura, tapi tetap saja porstitusi ini tetap ada. Kalau di Singapura, banyak ditemui di Geylang (katanya….. saya sendiri nggak belum pernah kesana he..he..). Nah tadi siang pun saya dan istri melihat dengan senyum kecut kejadian yang menurut saya lucu. Ada apek (orang Cina yang sudah tua), saya perkirakan sudah di atas 70 tahun, mojok, bermesraan dengan wanita cina juga yang masih muda. Tanpa sengaja kita melihat sewaktu jalan di jembatan penyebrangan (jembatan yang sangat luas tapi), dua orang ini sedang mojok bermesraan, bahkan orang di samping kita pun juga komentar yang sama (pake bahasa mandarin mereka ngomongnya, tapi karena mereka juga melihat apek ini tadi, dan sambil berucap “apek“, maka dapat saya perkirakan mereka sedang ngomentari apek yang sedang mojok tadi). Saya dan istri cuma berujar ,”Ya Alloh, sudah sepuh sekali gitu, lha kok ya masih sempat-sempatnya ‘main-main’ gituan …”.

Intinya, jika anda besok sempat pergi ke Singapura, jalan-jalan ke China Town cukup menarik lah (despite of Apek yang kita lihat barusan), cari makanan yang halal (bagi muslim) juga relatif mudah, dan jika anda punya kamera yang bagus, konon di China Town adalah salah satu objek terbaik di Singapura untuk dijepret dengan kamera.

Foto selengkapnya dapat dilihat di alamat ini: http://www.flickr.com/photos/teladan98

  1. neno says:

    china town.. suka liat lampion sama nuansa muerah menyuala-nya itu kyknya mesti keren kalo difoto

    wah..jadi penasaran mo liat apek-nya euaheaehau *loh?*

  2. iorme says:

    itu apek ama istrinya kali pak

    *nunggu undangan gratis ke singafur aja deh hehehehe*

  3. Hedi says:

    apeknya cina sini atau asli sana? 😛

  4. bayu says:

    udah apek tapi kelakuannya masih aja yak heuhaeuhae,..

  5. rudy says:

    Kalo ingin “fokus blur” yg sempurna, atau serius dengan fotografi, pakai aja kamera digital SLR plus lensa dengan kemampuan depth of field (DOF). Memang agak mahal, tetapi ada kan SLR yang nggak begitu mahal, seperti nikon D 50 misalnya.

  6. Asyik banget nih bisa jalan-jalan ke China Town. Andai saja kita juga bisa jalan-jalan seperti itu di Jakarta. Mmmhh….

  7. poer says:

    lu bukannya udah pake d50 ndri?
    kalo di sini ada kilo 17 balikpapan sama kilo 33 samarinda 😀

  8. bank al says:

    halah, tinggal di Sing kok ndak pernah ke Geylang. :)

  9. donnyreza says:

    boss, pake kameranya apa? ngiri euy lihat hasil2 nya :( pake kamera poket melulu nih, bosen…:D

  10. Luthfi says:

    china town = pecinan
    *mencoba translet*

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site