Agnostic

agnostic

Milis kampung-ugm baru rame tentang apa yang mereka sebut dengan roti spekuk yakni ketidakpastian akan sesuatu, dalam hal ini tentang apa yang disebut sebagai Tuhan, Surga, Neraka, yang semuanya tidak dapat dipastikan.

Mumet !, bahasa tingkat tinggi yang mereka pergunakan. Saya mencoba reply barang sekali dua kali, tapi tetap saja saya merasa debat yang terjadi lebih kepada debat kusir. Bagi saya, suatu perdebatan, hendaknya memang diarahkan untuk kerja, bukan NATO (No Action Talking Only).

Berhadapan dengan orang agnostik yang sudah mempersepsikan semuanya dari kacamata negatif (versi saya) memang susah. Semuanya memang diupayakan oleh kaum agnostik ini seilmiah mungkin, tapi tetap saja bagi saya, mereka tidak mampu menjawab perkara-perkara ghaib yang terjadi di sekeliling kita, tapi indra akal sehat dan fisik kita tetap tidak mampu menjangkaunya. Jawaban masalah ghaib yang nyata terjadi di sekeliling kita hanya selalu dijawab, bahwa manusia mengalami ilusi, halusinasi, atau parah lagi, dibohongi.

Suatu pertanyaan saya yang tetap belum bisa dijawab secara “ilmiah” oleh pengikut pemikiran Agnostik ini, “Bagaimana caranya dengan kalimat mantra-mantra tiba-tiba orang bisa terhalusinasi dan kehilangan kesadaran? apakah kalimat mantra tadi memiliki frekuensi tertentu yang membuat manusia jadi linglung dan kemudian menjadi kebal pisau tajam, kesurupan, makan beling, bisa lompat jauh sekali? Apa iya semua penonton dikaburkan matanya cuma dengan ilusi semata, alat optik apa yang dipergunakan sampai mereka semua melihat hal yang sama, orang tiba-tiba bisa kebal tombak yang dihujamkan ke dada mereka, pisau yang tajam sekalipun tak mampu mengiris kulit mereka?“. Kalau saya sih menjawabnya mudah saja, “Paling hanya Jin yang sedang bermain-main dengan mereka.

😉

Anda pernah bertemu dengan orang agnostic ???? Lebih dari sekedar free thinker yang tidak punya agama ….

  1. Kukuh TW says:

    saya pernah ketemu langsung di depan mata, wah cantiknya….Agnostic Monika

  2. iorme says:

    setuju dengan pak andri, itu mah kerjaan jin

    seperti yang kita kenal dengan istilah santet, kan mau lewat frekuensi apa mantranya? yang baca mantra dimana yang kena santet dimana, ya jelas itu ada third party alias pihak ketiga, ya itu tadi si jin

  3. Ada yang disebut dengan Apathetic agnosticism, yaitu orang-orang yang bilang “”I don’t know, and who cares anyway?”
    (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Agnostic)

    Mungkin mereka bukannya tidak bisa menjawab secara ilmiah, tapi emang gak peduli. Tentang Tuhan aja mereka bisa bilang gak peduli ada atau enggak, apalagi soal contoh-contoh itu?

    Kalau soal permainan jin sih, saya juga setuju. Tapi jawaban, “Paling hanya jin yang sedang bermain-main dengan mereka,” juga seperti tidak ilmiah deh :)

  4. Mel says:

    Saya adalah termasuk salah satunya. Mungkin lebih tepat disebut The Hesitant Agnostic ya :)

    Keadaan yang terjadi dari diri saya berproses cukup lama. Walaupun asalnya keagnostikan saya berasal dari ‘kekecewaan’ saya terhadap agama dan penganut agama saya yang sering saya temui ‘mengecewakan’, tapi sebisanya saya menghindar dari perdebatan terutama dengan kenalan atau malah teman saya yang menyerang saya dalam masalah ini.

    Keimanan toh tidak bisa dipaksakan.
    Dan karena saya juga yakin kalau Tuhan itu ada pasti Maha Penyayang dan Maha Pengampun (seperti doktrin yang diajarkan kepada saya sejak kecil), saya juga yakin kalau saya menjalankan hidup saya dengan bersih, tentunya tidak masuk logika kalau saya harus masuk neraka.

    Panjang kalau mau diterangkan :)
    Tetapi saya memang tidak ingin membahasnya karena saya bukan ingin berdakwah :)

    Biarlah kalau memang Tuhan itu ada, saya menitip doa kepada yang masih rajin beribadah, mohon saya dimintakan agar diberikan hidayah-Nya :)

    Saya juga menolak untuk memproklamirkan keyakinan saya kepada keluarga besar saya.
    Tidak ada gunanya. Hanya menyakiti orang2 yang mencintai saya saja.

    I’ll stay low :)

  5. Donnyreza says:

    Saya juga pada akhirnya memang bosen sih berdebat kalau tujuan dari awalnya adalah untuk menjelek-jelekan suatu agama tertentu, debat kusir tak berujung…

    Teman saya jg ada yang akhirnya agnostic, mengakui Tuhan ada, tapi tidak peduli dengan ibadah-ibadah yang harus dilakukan. Hanya percaya bahwa Tuhan ada. Mungkin sama dengan Mel ya?

    @Mel: Mungkin sudah bosan mendengar atau membacanya, tapi ajaran agama adalah satu hal, dan implementasi dari orang-orang yang menganutnya, hal lain juga. Bagi saya, seorang ustadz selingkuh, seorang pendeta berzina atau seorang bikshu mabok, bukan hal yang istimewa dan perlu dibesar-besarkan atau menjadi sebuah pergunjingan. Kalau anda pelajari lagi, Nabi Muhammad sudah sejak jauh-jauh hari mengingatkan bahwa setiap orang, tidak jaminan bisa berjalan dan hidup lurus-lurus saja. Al-Quran malah sudah menegaskan, jika seseorang mengaku beriman, tinggal tunggu ujiannya…dan ternyata banyak juga yang gagal di ujian ini, makanya bukan hal yang aneh sebetulnya.

    @om andri: maaf, jadi panjang :))

  6. Gunawan says:

    Keimanan toh tidak bisa dipaksakan.
    Dan karena saya juga yakin kalau Tuhan itu ada pasti Maha Penyayang dan Maha Pengampun (seperti doktrin yang diajarkan kepada saya sejak kecil), saya juga yakin kalau saya menjalankan hidup saya dengan bersih, tentunya tidak masuk logika kalau saya harus masuk neraka.

    ketika say aberbuat baik pada semua penumpang kereta, membagi2 kue kiecil, tidak mengganggu mereka, senantiasa ramah dan sopan, apakah iya saya akan dikeluarkan dari kereta? tentu kalau anda punya tiketnya, kalau tidak hmmm…

    begitulah, sejahat2nya orang yang beriman adalah sejahat2nya orang yang punya tiket, dia kan sampai tujuan, walau mungkin di jalan kan berurusan dengan polisi KA, atau kalau keterlaluan, bisa saja akan dikeluarkan juga. namun bila anda tidak punya tiketnya? sebaik2 orang yang tidak bertiket tentu saja akan dikeluarkan dari kereta. walaupun dia sudah melakukan semua yang terbaik untuk penumpang lain bahkan untuk sang masinis.

    itulah iman, iman adalah tiketnya, sementara harganya adalah ibadah dan ketaatan pada perintah dan larangan Tuhan.

  7. sei says:

    “Paling hanya Jin yang sedang bermain-main dengan mereka.”

    Apakah jawaban ini adalah jawaban default dari agama akan penjelasan fenomena tersebut?

    Atau hanya “karangan” anda yang mempercayai hal-hal bersifat metafisik?

  8. JOn says:

    kata tmen gw yg agnostic sih kalo kita bicara agama selalu adanya “jarak yang rentan” justru agama seakan2 membuat perbedaan sesama manusia yang berujung pada perang agama, konflik, dsb. kata dia sih manusia itu ya manusia dan agama itu penghalang dan harus dihindari… bahaya coy katanya..gw sih iya2 aja dah…

  9. Joko Rusli says:

    Keyakinan itu tidak bisa dipaksakan,tiap-tiap kelompok akan menyatakan bahwa keyakinankulah yang paling benar.
    Makanya setiap diskusi mengenai keyakinan tidak pernah berakhir dengan mulus atau bisa diterima masing-masing kelompok.

  10. sayyidah says:

    kasihan banget sih coba pasti mereka jadi gak punya pegangan scr yakin akhir nanti kaya apa

  11. jeff sanjaya says:

    @ gunawan:
    “ketika say aberbuat baik pada semua penumpang kereta, membagi2 kue kiecil, tidak mengganggu mereka, senantiasa ramah dan sopan, apakah iya saya akan dikeluarkan dari kereta? tentu kalau anda punya tiketnya, kalau tidak hmmm…

    begitulah, sejahat2nya orang yang beriman adalah sejahat2nya orang yang punya tiket, dia kan sampai tujuan, walau mungkin di jalan kan berurusan dengan polisi KA, atau kalau keterlaluan, bisa saja akan dikeluarkan juga. namun bila anda tidak punya tiketnya? sebaik2 orang yang tidak bertiket tentu saja akan dikeluarkan dari kereta. walaupun dia sudah melakukan semua yang terbaik untuk penumpang lain bahkan untuk sang masinis.”

    jadi kesimpulan anda adalah org beriman yg jahat lebih baik daripada org baik yg tidak beriman.

    coba pikir lagi, apakah bisa seseorang jahat sekaligus beriman?
    apakah bisa seseorang jahat disebut beriman?

    perumpamaan anda mengenai kereta memang menggelitik. tapi kereta api adalah sistem buatan manusia. jelas anda akan diusir kl tidak punya tiket. tapi “kereta ke surga” tidak dapat dipastikan seperti apa tiketnya, karena sangat banyak persepsi agama2 tentang “tiket ke surga”. apa yg anda yakini sekarang ini sebagai “tiket ke surga” mgk lain sama sekali dgn tiket ke surga yg sebenarnya.

    anda telah diperangkap oleh persepsi anda sendiri tentang “tiket ke surga”, karena “tiket ke surga” mirip dgn cerita gajah dan org buta. ibarat anda memegang ekor & mati2an ngotot gajah itu seperti ular. anda seperti org yg merasa sudah memegang “tiket”, lalu berpikir bahwa anda sudah bisa meng-hack sistemnya Tuhan, yaitu bagaimana bisa jadi org sejahat2nya namun masuk surga.

  12. cassenv says:

    itulah, seorang agnostik, kadang berpikir..jangan2 dirinya terlalu pemalas untuk mencari sendiri jalan kebenaran tuhan, diantara banyak agama dimuka bumi..dia berpikir, apakah saya benar-benar sudah mempelajari semua agama dengan benar, sehingga bisa sampai kesimpulan agnostik..atau kah ini hanya alasan dari seorang pemalas..yang kecewa dengan kenyataan sehari-hari yang ditimbulkan dari kemunafikan yang amat sangat terang-terangan dilakukan oleh umat beragama sekarang ini..karena pada kenyataannya..tuhan memang tidak bisa dibuktikan oleh manusia..oleh sebab itu, hanya iman (percaya)..saja jawabannya..sangat tidak ilmiah….
    Soal orang kebal..gampang sekali..sekesurupan-kesurupannya seseorang, sekebal apapun dengam pisau..suruh pegang granat yang meledak..PASTI MATI..hancur berkeping keping..apalagi kalo granat diletakkan dimulut..suatu bukti..KEJAYAAN ILMIAH…, tidak bisa terjawab ilmiah…mungkin karena belum dilakukan metode penyelidikan secara ilmiah..kalau dilakukan secara ilmiah..pasti terjawab…kecuali tentang tuhan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site