Dhisik … dhisikan …

Mbah Dipo bercerita masalah antrian, betapa banyak orang yang pinginnya didahulukan, sehingga menjadikan mereka tidak mau antri, demi mendahulukan ke”AKU”an. Saling sikut, saling jegal, saling jotos, saling hantam, demi mendapatkan segala macam posisi dan sesuatu yang mereka inginkan.

Fenomena yang sangat mudah kita temukan dan kita lihat di sekitar kita. Orang ribut karena rebutan zakat fitrah yang dibagi pengusaha kaya, orang ribut karena pingin dapat “salam tempel” dari Gubernur yang baru terpilih, orang ribut gara-gara macet dan memilih menerobos jalur bus (bus way), terlalu banyak untuk diceritakan kembali.

Belum lama ini ada peristiawa di China, ada orang yang mati karena keinjek-injek dan sekian puluh lain terluka gara-gara ada diskon pembelian minyak goreng di Carrefour sana. Semua orang pingin menjadi nomor satu, tanpa tepo sliro, tenggang rasa, yang kalau orang lokal Singapura sini bilang Kiasu. Seperti film Titanic yang kebetulan diputar lagi di Channel 5 Singapura tadi malam, tokoh perempuan (si Rose) yang hampir diblubhug-blubug-kan (ditenggelamkan) oleh seorang lelaki yang pingin cari selamat dengan menjadikan kepalanya Rose sebagai tempat dia pegangan agar tidak tenggelam.

Dalam sejarah Islam, ada satu kekalahan besar yang ditimpakan oleh Allah SWT terhadap kaum muslim, yakni saat terjadinya perang Uhud. Saat itu, pasukan pemanah yang sudah diberikan tanggung jawab melindungi pasukan dari atas bukit, terpana melihat ghanimah atau rampasan perang yang ada di kaki bukit sana. Jumlah pasukan ini tidak lebih dari 10 persen keseluruhan pasukan muslim. Meski Abdullah bin Zubair r.a. sang pemimpin pasukan pemanah telah menghalang-halangi mereka untuk turun, tapi karena rasa ke”AKU”an yang muncul tadi, menjadikan mereka desersi dari tugas, demi rebutan harta rampasan perang. Padahal, in the end, tetap saja ghanimah itu akan dibagikan kepada mereka juga.

Kesempatan yang tidak disia-siakan Khalid bin Walid yang masih musyrik saat itu untuk menyerang balik kaum muslim dengan memutari bukit, dan menyerang dari atas. Dan seperti yang diceritakan, cerai berailah pasukan muslim, dan banyak yang gugur, meski pada akhirnya dalam perang ini dua pihak sama-sama mundur.

Manusia kadang terlalu khawatir bahwa mereka tidak akan mendapatkan jatah dalam kehidupan mereka. Menjemput jatah dengan cara yang beradab tentu akan berbeda dengan cara yang tidak beradab. Seorang pebisnis dapat untung 100 juta tentu akan merasa berbeda dengan seorang perampok yang menggasak 100 juta.

Jangan dhisik-dhisikan (mencoba paling duluan dengan segala cara), tapi jangan pula kérén-kérénan (menjadi paling terakhir karena malas), yang sedang-sedang saja, kalau pas jatahnya nomer satu ya dapet nomer satu, kalau kebetulan dapat jatah terakhir ya disyukuri, kalau gak dapat? Siapa tahu jatah kita ada di tempat lain. Kita jemput jatah kita dengan penuh adab, santun, dan ilmu. Binatang saja banyak yang selalu antri ketika ada jatah makanan. Kenapa manusia tidak bisa?

  1. kuku says:

    blubhug blubugh wakakaka kamu kok lucu sekali to, kosakatane sak ‘hohah’ (what on earth is that?) ……. eh kalo ada tsunami boleh nggak dhisik dhisikan mlayu ke tempat yang lebih dhuwur? (walah, ketularan aku, bosone ra karuan)

  2. Miftah says:

    so… yen arep komen ojo ndisik ndisikan juga yaaa… 😀 mengko di plero’i karo sing nduwe…

  3. poer says:

    sering banget tuh nemu di indonesia, ntah itu waktu ngantri checkin di bandara, ngantri di bank, atm, pokoknya asalkan ada antrian pasti ada aja orang yg rese’ n nyerobot antrian, ini jg ga ada batasan umur, baik muda maupun tua.

    aku sendiri lebih sering nemu orang tua, bapak2 yg bahkan pernah terlihat, perlente, dan terpelajar, tapi tetap aja ga punya kesopanan n dg semena2 menyerobot antrian.

    mungkin karena kita orang timur, biasanya orang2 yg gini cuma di kasih lirikan maut tak bersahabat, jarang yg protes n marah2 *aku pernah sih marah2 hihihi…*

  4. Donnyreza says:

    Whew, teori antrian lebih enak dipelajari daripada ngelihat di dunia nyatanya 😀

    Saya paling males kalau ikut desek-desekan di antrian yang panjang, jangankan yang panjang, yang sedikit aja males banget.

  5. vetamandra says:

    saya sering sekali didhisik-i, kuliah lulusnya do dhisik-i, di jalan di dhisik-i, perlu belajar ilmu per-dhisik-dhisikan

  6. Jauhari says:

    Nafsu dan Nafsu dan Nafsu mas 😉 karena Nafsu Membawa EGO dan seringkali NAFSU itu cenderung berbuat keburukan 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site