Saya tidak setuju !

Beberapa waktu lalu ketika pak IndraPr menawarkan siapa blogger dari Singapura yang mau ke Jakarta ikutan Pesta Blogger di milis Planet Singapura, sebenarnya saya pingin sekali bisa ikut. Tapi karena saya merasa, pertama, saya belum lama di Singapura, baru menjelang satu setengah tahun, sehingga merasa nggak sreg kalau mewakili blogger Singapura, kemudian yang kedua, pada dasarnya saya masih ada beberapa tugas dari supervisor saya dari NTU yang harus diselesaikan dalam waktu dekat, ketiga masak saya datang ke Pesta Blogger sementara Lebaran aja gak bisa pulang kampung, rasanya seperti tidak adil gitu.

Meski demikian, support saya 100 persen atas terselenggaranya Pesta Blogger 2007 kali ini. Sebagai salah satu media alternatif yang walaupun tidak dipercaya oleh KeRMiT, suara blogger sedikit demi sedikit mulai didengar di khalayak ramai. Hanya saja tiba-tiba ada sesuatu yang membuat saya menjadi tidak sreg.

Ketika kemudian Pesta Blogger memunculkan Kategori Paporit terus terang saya mungkin termasuk orang yang PALING TIDAK SETUJU. Selama ini saya cukup bersyukur bisa hidup di dunia blogosphere Indonesia dengan dunia keegaliterannya. Dimana setiap blogger mendapatkan perlakuan yang sama, walau pada perjalanannya muncul blog seleb, blog sinting, blog gambleh dst, tapi kategori itu muncul karena memang pencitraan dari setiap personal dari blogger yang kemudian menurut saya tidak lebih sebagai alat identifikasi. Tapi ketika kemudian ada pengkategorian ala favorit-favorit seperti itu, benak saya langsung tertuju ke kontes-kontes tak bermutu ala SMS yang banyak menjangkiti acara televisi Indonesia.

Kualitas yang menurut saya sama sekali tidak terukur. Bukan karena blog saya tidak ada di sana, bahkan kalau ada di sana pun saya akan meminta men-delistnya, tapi jiwa keegaliteran dunia blog yang kemudian jadi hilang. Barangkali akan lebih baik, ketika setiap orang mensubmit blog mereka masuk kategori mana, biarlah "dunia blogosphere" yang akan menentukan. Biarlah orang melihat dan mencari, siapa blog favorit mereka sendiri.

Paling tidak bagi saya, mencoba meminimalisir jiwa riya’ manusia yang sangat mudah sekali terusik dengan hal-hal seperti ini. Biarlah setiap orang melakukan blogwalking tanpa harus terantuk pada panduan "inilah list blog favorit". Biarlah pada akhirnya orang bisa menemukan blog yang sesuai dengan jiwa mereka. Siapa yang bagi mereka pantas menjadi blog bridge, siapa yang bagi mereka pantas menjadi blog IT, siapa yang bagi mereka pantas menjadi blog seleb, siapa yang bagi mereka pantas menjadi blog personal.

Dan juga, paling tidak meminimalisir rasa curiga akan konflik kepentingan, ketika beberapa blog panitia muncul di sana, mencegah orang berguman, "ada udang di balik bakwan" 😀

  1. phy says:

    Trus yg wakil blogger spore ke PB2007 siapa Bang ?

  2. Luthfi says:

    lho, pdhal aku arep njaluk dukungan sbg blog sampah terbaik lho 😛

    *sambil nunjuk2 url di balik nama Luthfi di atas*

  3. bagonk says:

    halah… sekarang ngeblog ada award-nya juga toh… :)

  4. imcw says:

    Saya setuju dengan pendapat Mas Andri, dunia blogger tidak akan sebebas sebelumnya bila dikotak kotakan seperti itu. Walaupun demikian, ada juga nilai positifnya yaitu, para penulis blog menjadi terpacu untuk menulis sesuatu yang baik dan berguna bagi orang lain, tidak sekedar menulis dan menimbulkan sensasi yang tidak bermanfaat.

  5. 😀 “Stuju Andri, memang harusnya ngga perlu kontes-kontesan”.
    :( “Lah trus gimana mencari yang bagus untuk diconto, kan perlu mencari syapa yang ‘dianggap’ bagus”
    😀 “Ya itu juga stuju”.
    :( “Looh, pakdhe kok plin-plan ?”
    😀 “Ya btul, emang sebenarnya banyak yang begitu juga”

    😛

  6. JaF says:

    Sepakat 100 persen soal kontes2an itu! Banyak kok blog yang patut jadi contoh dan biasanya yang bagus itu akan menonjol sendiri misalnya karena banyak yang ngelink tanpa harus di kontes2 i hehehe..

    beda boleh tho ya om.. Mau tetep kontes2an ya monggo..

  7. nico says:

    hehehe sekalian aja ada blogger jelata.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site