Episode perjalanan kehidupan & kematian

Masih melanjutkan posting sebelumnya.

Tadi malam ketika SMS tentang meninggalnya salah satu sahabat saya datang, saat itu saya sudah tidur. Badan rasanya capek sekali, habis sholat maghrib saya langsung tidur.

Jam 11 malam 18 Oktober 2007 waktu Singapura, selepas sholat isya’, saat itu hendak kembali beranjak tidur, ketika istri kemudian iseng-iseng melihat HP saya, dan ternyata datang SMS yang begitu mengagetkan saya. Dimas Pratika yang merupakan kawan yang dekat dengan saya telah dipanggil oleh Allah SWT di sore hari itu.

Sesaat kemudian kulihat di laptop, cek di messenger barangkali ada kawan yang online, dan tidak ada yang online satu pun jua. Kucoba menelpon kawan dekat Dimas yakni Yunan, yang seingatku pulang dari Libya dan ambil cuti 4 pekan untuk lebaran, gak nyambung. Kutelpon Agung Raharjo yang mengSMS saya, juga gak nyambung-nyambung. Alhamdulillah, teringat masih ada satu lagi teman deat Dimas, yakni Aris Sinta.

Tak terasa airmata yang menetes, ketika akhirnya saya mendengar konfirmasi dari Aris. Innalillahi Wa Inna Ilayhi Raji’un. Kemudian kutanya ke Aris, “Bagaimana ceritanya Dimas meninggal?”

Aris mendapat cerita bahwa sore itu Dimas jatuh dari kendaraannya, selepas dari jatuh, dia sempat telpon istrinya dan mengatakan bahwa dia terjatuh, tapi katanya nggak luka kok. Kemudian Dimas menuju rumah kontrakannya, sekali lagi telpon ke istrinya, mengatakan mau istirahat tidur dulu. Tak lama kemudian, kakak Dimas yang juga tinggal di Jakarta SMS & telpon Dimas, tapi nggak dijawab. Penasaran, dia mampir ke rumah kontrakan Dimas.

Innalillahi, saat itu katanya kakak Dimas telah mendapati bahwa Dimas telah meninggal di tempat. Jadi ketika Dimas bilang ke istri untuk istirahat tidur, ternyata dia menuju tidur yang sebenarnya, tidur yang Allah SWT tidak lagi mengembalikan ruhnya yang dicabut. Tidak ada luka-luka luar yang nampak dari Dimas, hanya saja setelah dibawa ke rumah sakit, didapati ada pendarahan otak.

Di malam jum’at, menjelang satu pekan setelah Ramadhan usai, Allah berkenan mengambil ruh dari salah seorang sahabat saya, Dimas Pratika. Tangis tak terbendung, seorang yang saya kenal shalih, wajah teduh senantiasa hadir ketika bertatap wajah dengannya, suara yang lembut, pribadi yang menyenangkan bagi siapa saja yang mengenalnya.

Betapa saya masih merasa baru saja berkenalan dengannya, ketika saya membersamai dia dan kawan-kawannya di Mushola Teknik UGM untuk mengkaji ayat-ayatNya, ketika kita rihlah bersama, ketika kita sholat berjama’ah bersama, ketika kita ziarah dan bersilaturahim bersama, ketika dia datang silaturahim ke rmah saya, dan ketika dia memberikan oleh-olehnya sepulang dari haji. Rasanya masa itu masih sangat dekat. Bagi saya, Dimas juga merupakan guru bagi saya dalam menjalani kehidupan ini, meski saya lebih tua darinya, meski saya yang menjadi pembinanya.

Rasanya menyesal sekali saya tidak bisa hadir dalam walimatul ‘ursynya, ketika Dimas datang ke rumah saya untuk memberikan undangan ketika tahu saya pulang ke Indonesia. Sayang saat itu kita tidak sempat berjumpa, karena saya sudah keburu balik ke Singapura.

Selamat jalan sahabat …
Semoga Allah mempertemukan kita kembali di JannahNya … Amiin

  1. JaF says:

    Innalillahi wa inna illahi rojiun.. Semoga almarhum mendapat yang layak di sisiNya..

  2. wadiyo says:

    Kita semuanya akan menyusul juga,
    moga Alloh menempatkan kita dia & semua
    dalam surga-Nya. Amien

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site