Siapa yang sesungguhnya bertaqlid?

Dulu sekali ketika saya masih ngaji awal-awal di salafi, saya masih ingat betul mengenai pentingnya seorang muslim untuk tidak bertaqlid. Dan hingga kini pun, alhamdulillah, saya masih ruju’ terhadap pendapat bahwa seorang muslim dilarang bertaqlid, karena jika dia bertaqlid tidak ubahnya seperti yang dikatakan dalam Alquran:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb selain Allah. [Alquran Surah AtTaubah :31]

Ada juga perkataan dari Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala  yang juga saya pegang terhadap taqlid ini:

Barangsiapa yang ta’ ashub kepada seseorang, dia kedudukannya seperti orang-orang Rafidhah yang ta’ashub kepada salah seorang sahabat, dan seperti orang-orang Khawarij. ini adalah jalan ahli bid’ ah dan ahwa’ yang mereka keluar dan syari’at dengan kesepakatan umat dan menurut Kitab dan Sunnah, yang wajib kepada semua makhluk adalah ittiba’ kepada seorang yang ma’shum (yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) yang tidak mengucap dan hawa nafsunya, yang dia ucapkan adalah wahyu yang diturunkan kepadanya”

Begitu juga dengan perkataan Imam Malik:

Sesungguhnya aku adalah manusia yang bisa benar dan keliru. Lihatlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ambillah, dan setiap yang tidak sesual dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah

Dalam rangka mengimplementasikan anti taqlid ini, maka saya banyak belajar dari banyak ustadz. Tidak mendikotomi antara ustadz yang satu dengan ustadz yang lain. Tidak pula mengharamkan suatu buku dari buku yang lain. Karena saya tidak ingin seperti katak dalam tempurung yang tidak banyak tahu apa-apa.

Untuk yang satu ini, dengan "sangat menyesal" saya dulu tidak ikut anjuran kakak-kakak senior saya ketika ngaji di salafi yang melarang saya untuk membaca bukunya Dr. Yusuf Qardlawi pun membaca pula bukunya Sa’id Hawwa, sebagaimana pula saya yang juga rajin membaca Kitab Tauhid dan juga Fathul Majid. Yang justru dengannya Alhamdulillah, pencerahan demi pencerahan bisa didapatkan.

Ketika pada akhirnya ada klaim dari Salafi yang mengatakan matahari mengelilingi bumi (silakan cari sendiri di Google ya, sengaja saya tidak pasang permalink agar tidak dianggap bikin kisruh lagi), dunia blogosphere pun ikut heboh. Setiap kali ada sanggahan terhadap teori aneh mereka, mereka selalu mengatakan kami berpegang kepada nash (Saya pun berpegang pada nash, hanya saja saya memahaminya berbeda. Ketika dikatakan matahari berjalan, saya pun juga mengatakan matahari berjalan/beredar), sementara hujjah lain senantiasa dikatakan menyalahi nash.

Hingga pada akhirnya ketika sedang blogwalking, saya terdampar di blog ikhwan salafy yang ada di sini. Saya cut salah satu disclaimer beliau pada penjelasan beliau yang mencabut tulisan yang ada sebelumnya tentang bukti-bukti "teori" heliosentris:

Tulisan yang membeberkan bukti ilmiah rotasi dan revolusi Bumi itu cukup kontroversial jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa saya sedang belajar untuk bermanhaj salaf. Salafiy saat ini banyak menjadi perhatian karena terbitnya buku tulisan Ustadz Ahmad Sabiq hafidhahullah (yang saya cintai karena Alloh) yang berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian… dst. Dan jauh sebelum buku beliau terbit, ulama kami yang terhormat Al ‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah (juga yang saya cintai karena Alloh) telah memberikan fatwa yang kesimpulannya menegaskan bahwa Matahari Mengelilingi Bumi.

Keberanian Ahmad Sabiq (dan para pendukungnya) yang mengatakan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi adalah KEPASTIAN DALAM ALQURAN, ternyata menggelisahkan kawan-kawan salafi yang lain yang masih bisa berfikir jernih bahwa "teori" heliosentris adalah sebuah kenyataan empiris. Saya kira Ahmad Sabiq pun hanya menelan mentah-mentah pendapat Syaikh Utsaimin Rahimahullahu ta’ala tanpa berusaha menelaah kajian ilmiah berdasar fakta yang ada.

Saya sebenarnya mendukung ikhwan salafi yang saya sebut di atas untuk tetap memuat tulisannya tentang teori heliosentris dalam blognya (dalam benak saya, IMHO, saya kira ikhwan salafi tersebut masih lebih berat terhadap fakta heliosentris ketimbang fatwa geosentris yang diyakini salafi). Justru dengan demikian, dia akan membuktikan bahwa dia pun tidak sekedar ima’ah (ikut-ikutan) bahkan mungkin taqlid dengan pendapat ustadznya. Justru kalau dia mencabut tulisan tadi, akan semakin membuktikan bahwa salafi sebenarnya tidak melakukan ittiba’ instead mereka justru malah melakukan taqlid terhadap pendapat ulama mereka (bak menjilat ludah sendiri).

Dan ternyata beliau memilih untuk mencabut tulisan tersebut dengan alasan sebuah kekhawatiran, kekhawatiran dia bahwa dia sedang belajar Salafi dan sementara di sisi lain menulis di blognya tentang fakta ilmiah heliosentris (yang dalam ini tentu berbeda dengan fatwa geosentris yang menjadi mainstream Salafi) akan menjatuhkan muru’ah (kehormatan) salafi, saya kira berlebihan. Dia khawatir salafi akan diserang, sebagaimana saya cut dari blognya:

Dan karena (saya rasa) cukup kontroversial itu, saya akhirnya memutuskan untuk menariknya. Keputusan itu saya lakukan dengan pertimbangan bahwa saya tidak ingin kelak ada pihak-pihak yang (mungkin) memanfaatkan tulisan saya untuk menghantam bahkan mencela teman-teman saya, saudara-saudara saya yang sama-sama sedang berusaha menjadi salafiy (yang saya cintai karena Alloh lebih dari kebanyakan orang di dunia ini).

Sebenarnya, jika beliau tidak mencabut tulisannya, beliau akan membuktikan bahwa Salafi pun bisa berbeda pendapat, mereka masih mengikuti Imam Malik yang malah memerintahkan pengikutnya untuk menyelesihi dia sekiranya pendapatnya salah sebagaimana yang sudah saya sebut di atas. Bahwa berbeda pendapat bukanlah suatu aib. Bahwa para sahabat pun berbeda pendapat dalam banyak urusan pun tidak bisa kita ingkari. Ya kan? Dan jika konsisten dengan kesalafiannya yang mana berada di atas jalan para sahabat (yang juga berbeda pendapat), seharusnya dia tidak perlu khawatir untuk menjadi salafi yang berbeda dengan ustadznya.

Akan tetapi beliau memilih untuk mencabut tulisannya sayang sekali. Kalau demikian caranya, pantas saja ketika orang mengatakan sebenarnya yang taqlid justru kawan-kawan di salafi, yang melarang pengikutnya untuk mendapatkan pengetahuan dan pemahaman lain selain dari ustadz-ustadznya sendiri maupun buku-bukunya sendiri, dengan senjata ampuh mereka, bahwa golongan lain adalah sesat dan menyesatkan.

Am I right? or Am I wrong??

NB: tulisan yang dicabut itu masih disimpan di Temboloknya google yang bisa diakses di sini.

  1. Gugun says:

    Halah… kaget juga ada salafy yang insyaf… sayang nya dia kembali lagi ke “jalan yang sesat” hehehe

  2. Irfan says:

    ooo… begitu ya? wah menarik, ndri…

  3. Dhika says:

    wis tho le, gak usah ‘mekoro’ :)
    akan jarang sekali kita menemukan sesosok Imam Malik sekarang ini; pemahaman untuk tidak bertaqlid senantiasa akan berbenturan dengan kepentingan muruah (keduniawian?) pribadi or golongan dan seringkali tidak sedikit yang akan terseret ombak besarnya…

  4. Teguh says:

    Saya juga pernah “berdiskusi serius” dengan rekan saya yang lebih intens di manhaj salaf mengenai pendapat seperti di buku tsb karena saya tidak sependapat khusus untuk masalah tersebut. Ada beberapa argumen saya mengenai penafsiran dalilnya.

    IMHO, pada dasarnya sunnatulloh tidak akan pernah berseberangan dengan kalamulloh.

    Salafi memang menarik karena berprinsip hati-hati dan ilmiah.

  5. Nyuut says:

    Emyang ikut salafi yang franchise mana?
    AFAIK it’s not a brand name, thus kalo ada yang affiliated and make mistake, its all their to blame,, not d’movement (err, apa namanya fikrah yew) n generalizing by particular case (err,, some blogs actually) is way so misleading,, reference is the key now bro,,
    or it’s actually tendency-biased at the first place

  6. phy says:

    kan tergantung frame reference nya, Bang…^^(yg matahari bumi itu)..hehe, maksa..btw, memangnya untuk suatu hal yang kita belum paham kaidahnya, tetap tidak boleh bertaqlid ? saya masih awam..

  7. Gugun says:

    Ndro, cachenya udah hilang, Antum punya copynya gak? tulung diforward ke saya, mau saya jadikan bahan untuk ngajarin anak SMP dan SMA ttg bukti rotasi dan revolusi bumi

  8. mbah dipo says:

    Ikhwan salafy ada yang paham tentang geostasioner gak ya? :-? Eh… geostasioner itu pemahaman kaum kafir bukan ya? :-? Btw.. geostasioner ki panganan opo tho?

  9. phy says:

    *ngakak baca komen di atas*

  10. Uzi_UII says:

    Assalamu’alaikum pak andri….
    Pernah ngaji di salafi juga ya…?
    saya kira ga pernah karena saya melihat tulisan2 anda di klasiber sangat berbeda dengan teman2 salafi yang ada…

  11. Syamsul Kamri says:

    Assalamu alaikum…….Saudaraku Andri Setiawan
    Terlebih dulu saya tanggapi penggunaan kata Salafy dalam tulisan anda,…….
    Inilah kerancuan apabila kata salafy dijadikan sebagai nama “organisasi” , karena bila ada saudara kita sesama muslim mengatakan “saya bukan salafy” seakan akan dia menolak untuk bermanhaj Salafy, Ahlussunnah wal Jamaah. Padahal maksudnya adalah kajian dakwahnya bukan di pesantren sedayu gresik, juga bukan ke Jafar Umar, Ustd Zulqarnain, dan lain-lainnya. Saya setuju dengan HASMI (Harokah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami) Bogor, yang tidak menggunakan kata-kata seperti itu sebagai nama organisasi, pun juga untuk nama majalah terbitan mereka. Terlepas dari semua itu, kita berdoa, semoga Allah swt memasukkan kita ke dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai dengan pemahaman para sahabat, dan dua generasi setelahnya, serta para ulama mukhlisin.
    Saya tidak akan mengatakan kepada anda dari mana kajian dakwah saya. Majalah seperti Salafy, Al Furqan, As Sunnah, Asy Syari’ah, Gerimis (HASMI), merupakan sebagian dari rujukan saya dalam mengambil ilmu. Baik, …………….
    Nampaknya anda juga pembela teori bumi mengelilingi matahari…….
    Dalam tulisan anda di Siapa yang sesungguhnya bertaqlid? Anda menulis : bahwa “teori” heliosentris adalah sebuah kenyataan empiris”?, ….Empiris apanya? (bukankah ini juga merupakan bentuk taqlid kepada mereka, BMM mania? Tahukah anda bahwa para ahli astronomi hanya membuat pemodelan dengan meletakkan matahari sebagai pusat tatasurya? Perhitungannya dengan menggunakan besaran fisis? Dalam pengembaraan di dunia maya, apakah anda tidak mendapatkan tulisan bahwa sekarang ini, perhitungan tentang pergerakan benda-benda langit, sudah ada ahli fisika/astronomi yang menyebutkan bahwa dalam perhitungan gerakan benda-benda langit, tidak ada masalah apakah geosentris atau heliosentris, karena perhitungannya hanya didasarkan pada “besaran” , sehingga acuannya bisa berubah-ubah, dan beberapa tulisan para ahli yang “meragukan” teori heliosentris.
    Dari tulisan anda, saya cukup merasakan bagaimana emosi anda “bergemuruh”, “Ketika pada akhirnya ada klaim dari Salafi yang mengatakan matahari mengelilingi bumi”……
    Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, ketika Rasululllah saw menceritakannya pada khalayak ramai, kontan orang kafir membantahnya, dan sebagaian orang islam murtad?…….
    Dalam peristiwa ini, ketika Ahmad Sabiq meluncurkan bukunya MMB di blogsphere, kontan emosi anda bergemuruh, dan sebagian orang salafy gelisah…..bahkan seakan-akan Syaikh Utaimin rahimahullah salah menafsirkan dengan mengatakan….Ahmad Sabiq menelan mentah-mentah pendapat Syaikh Utsaimin Rahimahullahu ta’ala tanpa berusaha menelaah kajian ilmiah berdasar fakta? yang ada. (fakta apaan?) Wahai saudarakau, semoga Allah swt memberikan petunjuknya, menambahkan ilmu dan pemahaman kepada kita, amin.
    Saudaraku….Syaik Utsaimin rahimahullah dan para ulama lainnya, memang menafsirkan…tetapi ingatlah penafsiran itu karena Allah swt memberikan pemahaman itu kepadanya, curigailah diri kita sendiri, jangan jangan Allah swt belum memberikan hidayah pemahaman kepada kita.
    (ini tulisan anda : Saya pun berpegang pada nash, hanya saja saya memahaminya berbeda. Ketika dikatakan matahari berjalan, saya pun juga mengatakan matahari berjalan/beredar), kalau begitu bergerak ke mana? Adakah fakta empiris yang bisa membuktikannya? Atau hanya fakta teori, berupa pemodelan?
    Baik, saya kutipkan lagi ayat-ayat dalam Al Quran berikut :
    1. QS Ibrahim (14) : 33
    Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar…….
    2. QS Al Anbiya (21) : 33
    Dan dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya beredar dalam garis edarnya
    3. QS Yasin (36) : 38
    Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan dari yang maha Perkasa dan Maha Mengetahui.
    4. QS Yasin : 40
    Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan (karena) masing-masing beredar pada garis edarnya.

    Kita lanjutkan….
    Anda mungkin mengatakan bahwa tidak ada nash Al Quran yang secara spesifik menyebutkan bahwa matahari mengelilingi bumi….Kalau memang demikian pendapatnya, perhatikanlah bahwa …..lebih tidak ada lagi dalil yang menyebutkan bahwa bumi mengelilingi matahari, juga tidak ada yang menyatakan bumi berotasi pada sumbunya. Alih-alih bergerak, malah sebaliknya Al Quran menyatakan bahwa Allah swt menahan langit dan bumi supaya tidak bergeser (QS Fathir [35]:41). Dari segi bahasa, Al Quran menyebutkan tingkat kesetaraan kata “dan” yaitu langit dan bumi, dimana saya tafsirkan, langit itu tidak bergeser, demikian juga bumi. Akankah anda menafsirkan secara berbeda antara langit dan bumi pada ayat di atas dengan mengatakan maksud “menahan langit” adalah agar langit tidak bergeser pada tempatnya, sementara “menahan bumi” maksudnya Allah swt menahannya agar tidak keluar dari lintasannya? Apakah anda pernah mendapatkan ayat dalam Al Quran yang menggandengkan kata “bumi dan bulan” dalam konteks menahan atau beredar? Tidak ada kan? Mengapa? (Saya tafsirkan), karena yang satu diam (bumi), dan bulan beredar. Bukankah 3 diantara 4 ayat di atas menggandengkan “bulan dan matahari” beredar dalam garis lintasannya? Inilah keindahan tatabahasa Al Quran, dan sekaligus menunjukkan ke-ilmiah-annya. Kalau anda berpegang pada nash, hanya saja cara memahaminya berbeda. Ketika dikatakan matahari berjalan, anda pun juga mengatakan matahari berjalan/beredar), bagaimana maksud anda “berbeda dalam memahami” ayat tersebut? Saudaraku, apakah yang menghalangi anda untuk menyatakan bahwa gerakan beredarnya matahari itu adalah mengelilingi bumi?, belumkah jelas bahwa peristiwa terbit, siang, terbenam, lalu terbit lagi, merupakan gerakan berputar? Bukankah kita sama-sama melihat dia mengelilingi bumi?, di lain pihak, bisakah anda menjelaskan mengapa pada fase ¼, belahan bulan yang menerima cahaya matahari berlawanan dengan fase ¾?
    Ok, mungkin anda akan mengatakan itu adalah akibat perputaran bumi pada porosnya dan beredarnya matahari mengelilingi pusat massa tertentu, karena BBM mania menyatakan bahwa matahari merupakan bagian dari galaksi Bimasakti, yang mengelilingi pusat massa tertentu.
    Baiklah, berikut saya akan menjelaskan apa akibat kalau bumi berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari……….

    gambar di atas menunjukkan…… peristiwa bulan perbani (gelap), dimana terjadi posisi ijtima awal/akhir bulan.
    Pada gambar di atas, kita anggap dulu matahari diam, (karena system di atas merupakan gugusan, sehingga modelnya tetap kemanapun gugusan itu beredar, demikian juga, walaupun bumi mengelilingi matahari).
    Dengan konsep demikian, terdapat 3 permasalahan :
    1. Jika putaran bulan mengelilingi bumi, searah dengan rotasi bumi, maka bagian bumi yang menghadap ke bulan akan mendapatkan cahaya bulan selama 23-24 jam perhari, Mengapa?, karena bulan mengikuti rotasi bumi kecepatannya hampir sama, hanya berbeda 50 menit (ada juga mengatakan 10 menit).
    2. Jika putaran bulan berlawanan dengan rotasi bumi, apa yang terjadi? Pernahkah anda bayangkan, jika keduanya bergerak bertentangan? Akan terlihat bulan berlalu dengan cepat, dan satu titik di bumi akan dikelilingi bulan dalam waktu 11-12 jam, lebih cepat 2 kali lipat.
    3. bila bulan mengelilingi bumi, dan matahari dianggap diam, maka akan terjadi posisi ijtima 2 kali dalam sehari semalam, padahal sebenarnya 2 kali dalam sebulan. Itupun tidak akan pernah terbentuk hilal. Nah kalau begitu, kapan terjadinya bulan baru?
    Setelah membaca uraian di atas, saya sangat yakin, anda pasti bingung, dan mungkin cenderung menolak, Mengapa?, karena anda sudah menetapkan bahwa BMM, bahkan sudah menganggapnya sebagai suatu kenyataan empiris?, Dalam Al Quran (Yasin:39), dinyatakan “dan Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase) sehingga ketika dia sampai pada (fase) yang terakhir, kembalilah dia menjadi bentuk tandan yang tua”. Saya tanya, bisakah anda menjelaskan bagaimana proses terjadinya perubahan fase bulan berdasarkan konsep anda (BMM)?

    Berikut saya jelaskan bagaimana terjadinya proses terjadinya perubahan fase bulan berdasarkan pada perputaran MATAHARI MENGELILINGI BUMI…..

    Coba anda renungkan…. Sesungguhnya terjadinya perubahan fase bulan itu terjadi karena bumi diam (pun juga tidak berotasi) lalu bulan dan matahari bergerak mengelilingi bumi yang arahnya sama-sama menuju barat. Bagaimana bisa?
    Perputaran bulan mengelilingi bumi kecepatannya hanya 24 jam 10 menit, ada yang mengatakan 24 jam 50 menit, jadi terlambat 10 atau 50 menit dari matahari yang mengelilingi bumi dalam 24 jam…..Perbedaan itu tidak masalah, karena intinya adalah adanya KETERLAMBATAN bulan atas matahari dalam pergerakannya mengelilingi bumi. Di sinilah kunci persoalan dari semua ini….Perhatikan …..Keterlambatan bulan atas matahari inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan fase, dari waktu ke waktu. Kita lihat waktu terjadinya hilal, pada awal bulan, masih berupa pendaran cahaya bulan yang kecil sekali. Besoknya atau beberapa hari kemudian, pada waktu yang sama (katakanlah pada waktu magrib), bulan sudah meninggi, demikian seterusnya sampai mencapai bulan purnama (terjadi ijtima dimana bumi berada di tengah). Akhirnya kembali menjadi bulan sabit (menjelang ijtima akhir bulan, dimana posisi bulan berada di tengah). Pada posisi ini seakan-akan matahari kembali mendapati bulan, (karena memang kecepatannya lebih lambat 10 atau 50 menit). Ini mungkin ada hubungannya dengan Firman Allah swt di Yasin:40, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan……karena masing-masing bergerak pada garis edarnya”. Nah apakah anda pernah memikirkan/membayangkan proses ini?. Proses di atas hanya mungkin jika matahari dan bulan mengelilingi matahari, dengan syarat kecepatan bulan lebih lambat dari matahari.
    tambahan…..
    Saya pernah membaca di internet, bahwa untuk menjadi pusat tatasurya, haruslah benda tersebut menjadi sebuah “black hole” dengan gravitasi yang kuat sehingga cahayapun tidak sanggup keluar dari permukaannya. Akibatnya benda tersebut akan menjadi planet gelap dan tidak bisa dilihat dari luar angkasa. Deskripsi di atas memang tidak mengeliminir hukum-hukum fiisika seperti hukum Kepler dan hukum Gravitasi Newton (berbanding terbalik dgn jarak pangkat dua), tetapi ya itu tadi, benda tersebut haruslah sebuah black hole supaya hukum Kepler dan Newton tetap berlaku. Penjelasan dari ahli tersebut menyatakan bahwa bumi dan matahari tidak memenuhi syarat untuk menjadi pusat tatasurya. Bagaimana mungkin matahari menjadi black hole? Bukankah kita melihat matahari becahaya?
    Juga saya pernah baca, bahwa dalam gugusannya, matahari terletak di pinggiran, dengan demikian matahari bukan titik pusat pergerakan benda langit.
    akhir kata….
    Penjelasan berikut MUNGKIN bisa menunjukkan bahwa bumi menjadi pusat tatasurya…
    QS Al Haj 22 : 65 Dan dia menahan (benda-benda) langit (agar tidak) jatuh ke bumi melainkan dengan izinnya….
    Maaf ini penafsiran saya, dan mohon dikoreksi kalau salah…..
    Maksud ayat itu mungkin menunjukkan bahwa benda-benda yang melayang di antara langit dan bumi, sekiranya jatuh (tentunya dengan izin Allah swt)…jatuhnya ke bumi, ya…mungkin karena tarikan gravitasi bumi? ini dikuatkan dalam QS Saba’34:9, ….atau kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit (ini masih perlu penafsiran, karena Quran juga menyebutkan hujan turun dari langit). Dalam kenyataanya, satelit yang telah habis masa aktifnya atau mengalami kerusakan, jatuhnya ke bumi juga padahal awalnya di tempatkan di ketinggian yang bebas dari grafitasi bumi, atau karena energinya bisa mengimbangi kekuatan grafitasi, sehingga bisa mengorbit bumi (mengelilingi bumi). Saya belum pernah mendengan berita ketika ada satelit yang rusak, berserakan di luar angkasa….Demikian juga halnya dengan meteor yang jauh lebih tinggi dari setelit, ada yang nyasar masuk ke bumi….ya mungkin juga ada yang nyasar ke tempat lain selain bumi…bukankah Allah swt memang menahannya berdasarkan 22:65?
    Di lain pihak, dari ayat di atas kita bisa menafsirkan bahwa bumi merupakan tempat yang paling rendah di alam raya ini, karena kalau ada benda langit yang jatuh, berakhir di bumi (tersangkut di bumi?), wah jangan-jangan inti bumi kita merupakan neraka dunia, karena neraka merupakan tempat yang paling rendah di alam raya ini. Bukankah Rasulullah saw dan para sahabatnya, pernah mendengar batu yang jatuh ke dasar neraka? Dan bukankah surga berada di tempat yang tertinggi di alam ini? Yaitu bawah Arsy Allah swt?….. Wah sedikit melenceng nih…wallahu a’lam bissawab, mudah-mudahan kita semua dan seluruh kaum muslimin masuk ke dalam syurga, Ya Allah masukkanlah kami ke dalam surga firdausmu….amin..
    So… Am I right? or Am I wrong??
    Subhanaka allahumma wabihamdika
    Asyhadu alla ilaha illa anta
    Astagfiruka wa atubu ilaika

  12. Gunawan says:

    Heheh… Bang Kamri mengarang bebas ya dapat dari mana pernyataan ini:

    Perputaran bulan mengelilingi bumi kecepatannya hanya 24 jam 10 menit, ada yang mengatakan 24 jam 50 menit, jadi terlambat 10 atau 50 menit dari matahari yang mengelilingi bumi dalam 24 jam…..

    dapat dari Saudi? kecepatan bulan mengelilingi bumi adalah 27.321582 hari alias 27 hari 7 jam 43.1 menit, dapat dari mana angka 24 jam tadi?

    terus yang ini:

    Saya pernah membaca di internet, bahwa untuk menjadi pusat tatasurya, haruslah benda tersebut menjadi sebuah “black hole” dengan gravitasi yang kuat sehingga cahayapun tidak sanggup keluar dari permukaannya. Akibatnya benda tersebut akan menjadi planet gelap dan tidak bisa dilihat dari luar angkasa. Deskripsi di atas memang tidak mengeliminir hukum-hukum fiisika seperti hukum Kepler dan hukum Gravitasi Newton (berbanding terbalik dgn jarak pangkat dua), tetapi ya itu tadi, benda tersebut haruslah sebuah black hole supaya hukum Kepler dan Newton tetap berlaku. Penjelasan dari ahli tersebut menyatakan bahwa bumi dan matahari tidak memenuhi syarat untuk menjadi pusat tatasurya. Bagaimana mungkin matahari menjadi black hole? Bukankah kita melihat matahari becahaya?

    Anda tahu bedanya pusat galaksi dengan pusat tatasurya? Nah kalau belum tahu belajar dulu ya. Tatasurya adalah sisitem yang terdiri dari bintang dan planet-planet. sementara galaksi adalah kumpulan bermilyar tatasurya. nah untuk menjadi pusat glaksi memang harus sebuah black hole, sementara sisitem bumi danmatahari adalah sebuah sistem tatasurya yang standar banget, satu bintang dikitari 8 planet dan asteroid serta dwarf planet.
    Matahari memang bukan pusat alam semesta. juga bukan pusat galaksi kita. makanya cuma ada di pinggiran galaksi bimasakti. tapi matahari adalah pusat TATASURYA kita yang terdiri dari matahari sebagai pusat tatasurya, dan delapan planet, asteroid, dua dwarf planet yang mengelilingi matahari…

    waduhh gmana sih Mas, kalao mau ilmiyyah ya sekalian serius jangan separo2 dan hanya taqlid pada fatwa yang salah.

    bahwa bumi mengelilingi matahari dan berotasi adalah sebuah kenyataan empiris, bukan teori.

  13. Gunawan says:

    ini saya kasih sedikit ulasan mengenai bukti2 empiris bahwa bumi berotasi dan mengelilingi matahari….

    Benarkan Bumi Ber-rotasi dan Ber-revolusi

    Tuesday, May 15th, 2007

    Sejak SD kita sudah diajari bahwa bumi berputar mengelilingi sumbunya selama 24 jam sekali putarnya (rotasi) dan berputar mengelilingi matahari selama setahun (revolusi). Tapi apakah benar seperti itu? Apakah layak kita mempercayai begitu saja tentang rotasi dan revolusi itu tanpa tahu apa dasarnya dan apa buktinya? Apa kita tidak takut dibilang taklid kepada guru-guru SD, SMP dan SMA kita :).

    Langsung ke topik pembicaraan, Rotasi, apa buktinya?

    Pertama, arah angin pasat yang berbeda antara daerah di utara khatulistiwa dan di selatan. Perbedaan ini dapat dijelaskan sebagai efek coriolis. Efek coriolis ini disebabkan karena kita, sebagai pengamat, berdiri di atas kerangka pengamatan yang berotasi (bumi).

    Kita dapat membayangkan, angin bergerak dari daerah subtropis ke tropis…. Anginnya bergerak lurus-lurus saja sebenarnya…, tapi karena – ternyata – bumi, sebagai kerangka pengamatan kita bergeser, maka seolah-olah anginnya menjadi berbelok.

    Perbedaan arah angin ini menyebabkan juga perbedaan dalam arus laut. Semua ahli kelautan pasti memahami hal ini.

    Kedua, percobaan pendulum foucault. Percobaan ini sebenarnya paling bagus bila diamati di kutub.

    Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa pendulum ini, bila digoyangkan, maka dia akan bergerak tetap (menurut si pendulum itu). Pendulum itu menganggap dirinya sudah bergerak tetap (ke kanan ke kiri atau ke depan ke belakang) tapi ternyata kita sebagai pengamat berdiri di bumi yang -ternyata- berotasi sehingga goyangan pendulum terlihat seperti bergeser. Kalo di kutub selatan, goyangannya akan bergeser ke kiri (berlawanan jarum jam). Kalo di utara sebaliknya.

    Ketiga, aberasi cahaya. Bisa dibayangkan sebagai berikut : cahaya suatu bintang masuk ke bumi dengan sudut tertentu. Namun karena mata kita sebagai pengamat bergeser, maka bintang akan terlihat seolah-olah bergeser dari tempatnya semula.

    Keempat, efek Eötvös. Intinya adalah bahwa ketika kita terbang, maka gaya dan kecepatan kita akan berbeda antara terbang searah dengan arah rotasi (ke arah timur) dengan terbang dengan arah kebalikan arah rotasi (ke arah barat). Setiap airline dan pilot pasti tahu akan hal ini dan memperhatikan efek ini dalam penerbangannya.

    Kelima, peluncuran satelit atau wahana luar angkasa lainnya. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita terkadang memanfaatkan jasa satelit, misalnya dalam hal telekomunikasi atau cuaca. Namun tahukah kita bagaimana satelit bisa sampai di orbit?

    Ternyata roket – dalam usahanya untuk mengantarkan satelit ke orbit – ternyata memanfaatkan juga rotasi bumi (selain tentunya memanfaatkan bahan bakar roket itu sendiri). Sebenarnya ini terkait juga dengan bukti keempat efek eotvos.

    Kebanyakan roket – setelah take off – akan kita lihat seperti berbelok ke timur (searah dengan arah rotasi) ini dilakukan agar roket mendapatkan efek (seperti) lontaran dari rotasi bumi. Dan lontaran ini akan semakin besar di daerah dengan kecepatan rotasi paling besar (i.e. daerah khatulistiwa). Oleh karena itu, Eropa meluncurkan Arianne bukan di Finlandia tapi di Guyana Perancis yg dekat khatulistiwa. Oleh karena itu Amerika meluncurkan roketnya di florida, bukan di new york. Oleh karena itu Rusia berminat sekali dengan pulau biak di Papua, sebagai tempat peluncuran roket-roket mereka.

    Keenam, logika satelit dengan orbit geostasioner. Satelit dengan orbit geostasioner adalah satelit yang posisinya terhadap bumi tetap di atas koordinat tertentu. Contohnya satelit telekomunikasinya Indonesia (entah itu palapa atau telkom).

    Seandainya bumi diam tidak berotasi, berarti satelit geostasioner juga diam. Kalo satelitnya diam, berarti dia harus menyalakan terus menerus mesinnya agar tidak jatuh ke bumi karena gravitasi bumi.

    Kenyataannya satelit geostasioner tidak diam, tapi dia bergerak memutari bumi dengan kecepatan yang sama dengan rotasi bumi. Dengan demikian satelit tidak perlu terus menerus menyalakan mesinnya.

    Mungkin ada yang bertanya : lho, bukannya satelit geostasioner itu bergerak, kalo bergerak berarti butuh tenaga buat menggerakkannya terus menerus (atau butuh roket biar bisa berputar terus menerus)

    Jawabannya : Lha, bagaimana dengan bulan? Dia sudah berabad-abad mengelilingi bumi. Apakah dia punya roket? jawabannya ada pada sinkronisasi antara gravitasi (yg menimbulkan efek sentripetal) dan kecepatan satelit (yang menimbulkan efek sentrifugal). Sekali sudah sinkron, maka mau ditinggal berapa ratus tahun pun sebuah satelit bisa tetap stabil di orbitnya. (walaupun kenyataannya kondisi sinkron ini tidak selamanya bisa terwujud pada satelit buatan manusia karena berbagai macam faktor antara lain hempasan solar wind)

    Selanjutnya mengenai revolusi, apa buktinya?

    Pertama, paralaks bintang. Misalkan kita sedang mengamati Alpha Centauri. Antara Matahari, Alpha Centauri dan Bumi membentuk sudut tertentu. Ternyata sudut ini tidaklah fixed. Dia berubah dengan pola tahunan. Salah satu penjelasan yang memungkinkan adalah karena bumi bergerak posisinya terhadap matahari.

    Oke, mungkin akan ada yang berkata bahwa perubahan sudut itu bisa pula terjadi karena mataharinya yang bergerak terhadap bumi. Oleh karena itu dikemukakan bukti berikutnya.

    Kedua, efek doppler. Ketika kita bergerak mendekat suatu obyek yang memancarkan gelombang, maka panjang gelombang yang kita amati akan cenderung bergeser ke panjang gelombang yang lebih pendek dan begitu sebaliknya.

    Ternyata bintang-bintang yang diamati dari bumi memiliki pola tertentu. Pada suatu waktu terlihat bergeser ke panjang gelombang lebih pendek (blueshift) kemudian bergeser ke panjang gelombang yg lebih panjang (redshift) kemudian blueshift lagi kemudian redshift lagi, begitu seterusnya secara periodik selama setahun.

    Hal ini bisa terjadi karena bumi bergerak terkadang (seperti) mendekati bintang, terkadang (seperti) menjauhi.

    Ketiga, perhitungan membuktikan bahwa massa dan ukuran Matahari jauh lebih besar daripada Bumi. Massa yang lebih besar akan menekan kurvatur gravitasi lebih dalam, maka massa-massa yang lebih kecil di sekitarnya (dalam lingkup pengaruh gravitasinya) akan terkena pengaruhnya, entah itu berupa mengorbit atau jatuh. (untuk kasus Bumi, mengorbit).

  14. adyt says:

    lumayan ……………

  15. salafysadar! says:

    Sadarlah salafy!

  16. adi says:

    saya pernah mendownload buku karangan orang salafy yang mendukung Heliosentris yang diakui oleh ulama terkenal Syaikh Nashiruddin Al-Albani cuma tulisannya Arab (terjemahannya tidak)

  17. adi says:

    Judul asli buku ini :

    ما دل عليه القرآن مما يعضد الهيئة الجديدة القويمة البرهان

    Buku ini ditulis oleh Syaikh Mahmud Syukri Al-Alusi ,ditakhrij Syaikh al Albani, dan ditahqiq Muhammad Zuhair asy Syawsy dan tambahan catatan kaki oleh Dr. Syaahir Jamal (Pakar Astronomi)

  18. mawool says:

    wah wah… ada toh mantan salafy… ;))

  19. sadar _ah says:

    ada toh bukunya? catatan kakinya pakar astronom ya? halah….bahasa arab kurang paham neh…
    eh…ngulas apa salafy aja kaga becus kok…yang penting pinter omong aja ah….bisa lucu-lucu dikit en lawan kliatan keder gitu dah muantep lah…
    maho nih

  20. sadar _ah says:

    tapi…syukurlah… jadi pada aktif menuntut ilmu…forum diskusi jadi rame….yaaa…jadi lebih memperhatiakn ilmu gitu….(asal niatnya bener aje ye…jangan karena ingin membantah lawan…wakakakkk)…….emang ilmu sekarang lebih dipertimbangkan
    jadi…yang belum berilmu..ga usah malu-malu…ayo pada menuntut ilmu lagi..dan jangan malu lah mengakui keilmuan yang laen..ya ngga?
    imho nih….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site