Archive for October 2007

Seen at Night



Seen at Night, originally uploaded by teladan98.

My first posting from flickr. I’m trying to learn how to create a nice photograph, which I’m amateur in.

This is the tree just in front of my room’s window. Taken at 11pm, with the neighbor HDB flat as it’s background. The pic is far from perfect, but I’ll learn to improve it next time.

My Flat in Singapore

My Flat in Singapore (aerial version)

Barusan nyobain fitur Insert Map-nya Live Writer. Peta yang diambil ternyata tidak kalah dengan Google Earth. Jika anda berkesempatan berkunjung ke Singapura, sila berkunjung ke tempat tinggal saya :)

My Flat in Singapore (road version)

ps: nyoba liat peta rumah saya yang di Jogja, ternyata masih kalah sama Google Earth. Petanya “blawur” banget.

Junk Food vs Gengsi

Jujur saja, di Indonesia saya ndak pernah makan ayam KFC, gak pernah pula menyempatkan diri mampir ke McD, gak pernah pula terdampar di gerai Pizza Hut. Saya memang makan ayam kriuk ala KFC, saya memang makan burger ala McD, dan saya pun makan pizza ala Pizza Hut, tapi untuk datang ke tempat gerai-gerai seperti itu, rasanya sudah malas sekali.

Di Singapura pun, gak pernah juga pergi ke McD, walau di kampus NTU ada McD, yang ada saya ditraktir McD sama teman. Gak juga pergi ke KFC, pernah malam-malam kelaparan sepulang dari tempat teman, rame-rame dengan teman-teman pingin cari makan, yang buka saat itu cuma KFC dan McD, permasalahannya sebagai orang Indonesia, kita semua tidak pernah merasa sudah makan sebelum makan nasi. Sehingga pertanyaan default ketika datang ke KFC, “Is there any rice?” Karena jawabannya tidak ada, ya sudah, mending pulang saja. Sekali lagi, saya terselamatkan dari gerai fast food itu.

Orang juga sudah tahu kalau makanan yang dijual di sana adalah Junk Food, tapi tetap saja didatangi (pas gak ya kalau analoginya disamakan dengan rokok, sama-sama berbahaya buat jantung?). Saya bukan orang yang peduli masalah gengsi atau tidaknya, masalah punya pengalaman ke sana tidaknya, bagi saya tidak datang ke gerai fast food itu juga “gak patheken“. Juga bukan masalah nasionalisme, kalau makan di sana berarti tidak nasionalis, kenapa gak milih Ayam Ny. Suharti dkk. Karena seringkali orang Indonesia lebih mencari gengsi ketimbang mendahulukan akal sehat mereka. Kalau belum ke sana dibilang ndeso dan berbagai macam atribut lainnya.

Ya bagi saya, makan yang lengkap dan bergizi, dengan pilihan sayur yang tepat, apalagi dimasak sama istri, jauh lebih baik daripada makan di tempat Junk Food tadi. Selain alasan saya yang lain lagi, karena harga Junk Food itu MAHAL ! Apalagi di Singapura sini, semua junk food tadi gak ada kawan baiknya, yakni Nasi.

Sekali dua kali boleh saja lah, tapi membiasakan pergi ke sana? Gak mau ah!

terinspirasi tulisannya kang Pura.

Tree Top Walk

Hari ahad kemarin, saya menyempatkan untuk jalan ke HSBC Tree Top Walk, yakni jembatan yang membentang menghubungkan pohon satu dengan pohon lain di dekat kawasan MacRitchie Reservoir.

Perjalanan yang cukup lumayan membuat basah hampir seluruh baju saya. Sebenarnya selama perjalanan, cukup mengingatkan saya akan kawasan kaki Merapi di Sleman sana, ada selokan kecil yang mengalir air cukup jernih, kemudian beberapa pohon salak dan daun talas yang besar-besar. Meski tentu saja, "hawa"nya tidak sesejuk di Sleman sana, namanya saja Singapura, sesejuk-sejuknya tetap saja panas.

Perjalanan memang tidak terlalu menantang, setidaknya tanjakan yang dilalui tidaklah terjal, dan karena memang tempatnya sudah didesain untuk kawasan wisata, tentu saja suasana alaminya tetap saja difasilitasi oleh "fasilitas". Selama perjalanan, saya banyak menemui monyet-monyet yang nampak cukup jinak, meski sesekali mereka berusaha "mencuri" makanan yang sedang kita makan. Dan cukup banyak orang bule yang juga jalan-jalan di wilayah ini. Sebenarnya kalau mau membandingkan, tentu tidak ada apa-apanya ketimbang wilayah Sleman, tapi ya itu tadi, kita belum cukup mampu mengemas dengan baik seperti Singapura.

Klimaks perjalanan ini adalah Tree Top Walk, yakni jembatan baja yang menghubungkan dua bukit dan jembatan ini berada di wilayah "tertinggi" sehingga beberapa kawasan nun jauh di sana dapat kita lihat.

Blereng mripate Jembatan Gantung bersling baja

Say cheese MacRitchie Reservoir

Setelah itu, sebenarnya pingin ke MacRitchie Reservoir, tapi karena perjalananannya sendiri menempuh sekitar 4.3 km lagi, sementara jam sudah menunjukkan 10.30 lebih, akhirnya diputuskan untuk pulang saja. Lain kali ada kesempatan, berkunjung ke reservoirnya.

SPAM yang aneh

moderated

Saya tidak tahu, apakah komentar yang nangkring di tempat saya ini karena keputusasaannya yang sudah terlanjur beli tiket (4 buah lagi) dan kemudian gak jadi berangkat, ataukah hanya SPAM semata.

Dan kemudian kenapa pilihannya ke saya yang tinggal di Singapura, sementara tiketnya untuk tujuan JKT-BTM, dan keliatannya PP dengan melihat tanggalnya yang tanggal 7 – 12 Desember. Kalau tiketnya BTM-JKT mungkin masih possible lah, karena bisa jadi tiket itu dapat dimanfaatkan, tapi kalau JKT-BTM pp, saya tentu bukan orang yang tepat.

Baiknya komentar di atas disetujui, didelete saja, atau malah diSPAM 😉

Sedikitnya rasa malu

Sejatinya Allah SWT telah memberikan salah satu fasilitas yang bisa dinikmati manusia dalam rangkan menjaga kehormatan manusia itu sendiri. Yakni yang disebut sebagai rasa malu.

Bahkan jika kita berbicara tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW, rasa malu ini menjadi perhatian tersendiri dalam fase awal dakwah beliau. Dimana beliau bersabda:

idza-malu
Jika kamu tidak lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu

Hal ini yang sayang mungkin tidak lagi dimiliki oleh kebanyakan dari kita. Rasa malu tidak lagi dimiliki oleh kita, ketika kita melakukan kemaksiatan dan hal buruk lainnya, sejatinya Allah SWT telah menutupinya, tapi alih-alih kita merasa “beruntung” bahwa Allah SWT telah menutupinya, justru malah kita sendiri yang mengumbarnya.

Disampaikan lah ke publik tentang kebejatan yang baru saja dilakukan oleh dia, merasa bangga ketika dapat mengumumkan kebejatan dia di depan khalayak ramai, dan akan semakin merasa gembira ketika ternyata kebejatan yang dia lakukan ditanggapi “positif” oleh khalayak ramai tadi.

Ketika rasa malu sudah tidak lagi dimiliki, maka apa pun bisa dikerjakan, termasuk pada akhirnya menghalalkan segala macam cara dalam mencapai tujuannya. Tidak ada lagi rasa rikuh, “ewuh pakewuh”, langsung dihantam saja, tanpa peduli benar dan tidaknya. Pun begitu jua, tiada rasa malu kepada orang lain (apalagi kepada Yang Maha Melihat) justru malah “mendakwahkan” kemaksiatan yang dilakukan kemana-mana untuk mencari pendukung dan bala bantuan.

Ke mana rasa malu yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada manusia? Entahlah ….

Switch to our mobile site