Save Our Children From Sinetron Now !

savechildren

Sejatinya saya cukup bergembira, sebab selama ini tidak pernah bisa menikmati siaran televisi Indonesia. Walaupun secara geografis Singapura dekat dengan Indonesia (aka Batam), tapi di daerah saya (Jurong West), sinyal TV Indonesia kurang bagus penangkapannya. Berbeda dengan yang tinggal di daerah timur yang umumnya bisa menangkap gambar dengan cukup jernih.

Ada teman yang kasih link so kita bisa melihat acara streaming TV dari Indonesia, lumayan ada SCTV, Indosiar, TransTV, dan MetroTV. 4 saja cukup lah untuk mengobati rasa kangen.

Tapi begitu TV-TV ini kunyalakan, duh, isinya sinetron semua (kecuali MetroTV). Gak peduli Ramadhan atau tidak, sinetron jalan terus. Melihat sejenak sinetron Indonesia ternyata bisa bikin “perut mual” (berlebihan bangetz πŸ˜€ ).

Isinya ternyata semakin parah sejak terakhir kali saya berkesempatan melihatnya dulu. Mata melotot semakin menjadi andalan, alur cerita yang so unrealistic, seorang yang yang sangat dikuyo-kuyo oleh orang yang memiliki kekuasaan lebih, dst.

Jika sinetron ini “dimakan” bulat-bulat sama anak Indonesia, kelihatannya akan “merusak” jiwa mereka. Sifat membully yang biasa muncul di Sinetron, oleh orang yang lebih berkuasa kepada pihak yang lemah, entah ibu tiri (?) kepada anak tirinya, entah dari nenek yang judes ke menantunya, dan entah berapa banyak lagi contoh bully yang muncul di sinetron-sinetron itu betul-betul pada tingkat yang mengkhawatirkan. Anak-anak biasanya akan mudah mengimitasi dan mengadaptasi dari apa-apa yang mereka lihat. Namun apa lacur, justru yang mereka lihat adalah bagaimana cara melakukan bullying kepada pihak yang lebih lemah. Dan pihak yang lebih lemah tidak mampu melawan ketidakadilan dan penindasan dan mengandalkan “si peri” yang baik hati yang akan menolong mereka ketika ditindas.

Kekerasan menjadi konsumsi sehari-hari dalam sinetron kita, mungkin bukan fisik, tapi kekerasan psikis jelas nampak di sana. Hari demi hari, jiwa anak-anak bangsa Indonesia semakin rusak oleh beragam Sinetron yang nampaknya menampilkan sesuatu yang berbeda, tapi sejatinya sama.

Jika mau jujur, barangkali tidak ada yang suka dengan sinetron Indonesia, apalagi misal sampai ada sinetron dengan judul Tersandung season 10 (kapan tamatnya?). Tapi, pihak kapitalis TV Indonesia selalu beralasan, masyarakat menyukainya kok, jadi kita produksi terus. Padahal sejatinya, masyarakat kita memang sedang dicuci otaknya untuk mencintai dan menyukai sinetron-sinetron buatan mereka. Konsumerisme, hedonisme, kekerasan menjadi menu sehari-hari.

Sudah tingkat pendidikan rendah, yang dihadapi adalah penyakit mental kaya’ gitu. Mau kemana Indonesia ke depan? Jika membandingkan sedikit dengan “sedikit” sinetron yang ada di Singapura, setidaknya walaupun agak jayus gitu, tapi unsur pendidikannya pun kuat, dan tidak ditinggalkan.

Anak-anak kita adalah aset berharga masa depan bangsa kita. Save them from our “(stupid) Sinetron” now !

  1. hielmy says:

    PERTAMAX!
    yah walaupun saya sekarang (masih) di Indonesia, alhamdulillah saya tidak pernah menonton sinetron sejak 4 tahun yang lalu, yah kalo sesekali lewat mah pernah cuma liatin pemainnya yang cakep ^_^

    save our children AND FAMILY fro SHITENTRON!!!

  2. imcw says:

    untungnya anak anak saya tidak ada yang suka ama sinetron…dan bahkan keluarga besar saya sudah membuang jauh kebiasaan nonton sinetron…’sinetron go to hell’

  3. Beruntungnya enggak pernah liat sinetron lagi… I envy youuuu! Huhuuhuu…

  4. gedex says:

    beruntng saya benci sinetron, terakhir cm ngikutin cinta fitri, candy, soleha :p

  5. cahyo says:

    coba lihat sinetron para pencari tuhan (PPT) dan kiamat sudah dekat mas. dua2nya dari rumah produksi milik deddy mizwar. lain dari sinetron yang lain. sayagnya cuman pas bulan ramadhan tayangnya…;-)

  6. kiky says:

    agreeeeeee….I rather have my tv off!
    well, execept for Barney DVD :))

  7. mr.bambang says:

    Too Much Sinetron Will Kill You :)

  8. Mondrosen says:

    Ya! Setuju sekali. Akan sangat berbahaya kalau nantinya masyarakat benar-benar sudah tercuci otaknyauntuk melihat sinetron tidak bermutu (tapi dianggap bermutu). Apalagi sebagian besar sinetron adalah jiplakan (bilangnya sih “adaptasi”…cuih!) dari negri lain!

    Benar-benar berbahaya!

  9. Luthfi says:

    untunglah saya gak suka nongton sinetron
    dan sudah bukan anak2
    jd berkuranglah 1 kehawatiran πŸ˜›

  10. bank al says:

    udah di singapore kok masih aja nonton sinetron? πŸ˜€

  11. #7: ANY sinetron will kill you… πŸ˜›

  12. syaamil says:

    Emang, tuhan di pertelivisian kita udah ganti….Rating!
    mereka berjibaku demi rating termasuk membodohi masyarakat. bener-bener biadap!
    Semua tergantung tangan kita, tinggal klik! or ganti channel!

  13. gori neka says:

    Setuju banget mas andri!!

    saat ini saya dan istri sedang berharap kehadiran seorang anak. nanti kalo udah punya, trus udah bisa nonton TV, saya akan usahakan jauh2 dari sinetron, kalo bisa nonton babyTV saja sampe gede. :)

  14. gori neka says:

    Ibunya nonton sinetron, bapaknya nonton bola, jadi mana lebih serem, sinetron apa bola ?!

    siapa yang ga setujuuuu!!

  15. jay says:

    sinetron emang nyebelin sekali lihat bikin ketagihan, mending gak usah lihat sekalian. emang sekarang sering muncul kata kata kasar , makian , umpatan, bahkan contoh kekerasan, menampar , mengancam. beginikan bangsa kita diberi pilihan, pendidikan dan contoh gaya hidup. justru banyak sinetron yang ditoton/ ditujukan untuk anak anak menampilkan contoh kekerasan .
    gimana ini omm….
    emang gak semua anak suka sinetron, tapi berapa persen?

  16. arif says:

    yaaa, setujuuu bangeets. sinetron bikin jiwa anak-anak jadi nggak murni

  17. Widi says:

    Najis dech gue nonton sinetron indonesia!..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site