Hadits Nabi yang berkaitan dengan Ramadhan (3)

puasa3

Dan adalah Nabi SAW orang yang paling baik di antara manusia dalam berbuat kebaikan (the most generous), dan kebaikannya adalah lebih baik (mencapai puncaknya) ketika bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril ‘alayhi salam menemuinya (HR Bukhari)

Bulan Ramadhan adalah bulan terbaik bagi kita untuk memperbanyak amal. Rasulullah SAW sendiri pun memperbanyak memberikan shadaqah kepada orang lain di bulan Ramadhan.

Kalau dari hadits di atas, kita bisa melihat bahwa Rasul SAW adalah orang terbaik dalam berderma, dan ketika memasuki Ramadhan, Rasul SAW semakin meningkatkan lagi dermanya kepada orang lain.

Kesempatan Ramadhan adalah kesempatan yang sangat singkat (liat saja, tau-tau, “Wah sebentar lagi Lebaran nih, gak kerasa ya? Hari raya tlah tiba 😀 ” ), dan kita amat merugi kalau kita tidak memperbanyak amal kebaikan di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Kebaikan dimana segala sesuatu dilipatgandakan oleh Allah SWT, di mana hari-hari biasa pun kebaikan kita dibalas berkali lipat, apalagi di bulan Ramadhan.

Yuk, perbanyak infaq kita di Ramadhan ini !

Referensi hadits: Kitab Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaairi

  1. Andika says:

    Kita semua dianjurkan agar memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan ini. Di antara keadaan Salafus Shalih adalah selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an (mulai dari membaca, mempelajari dan mentadabburinya). Malaikat Jibril memperdengarkan Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pada bulan Ramadhan. Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari pada bulan Ramadhan. Sebagian Salafus Shalih mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat Tarawih setiap tiga malam sekali. Sebagian lagi setiap tujuh malam sekali. Sementara sebagian lainnya mengkhatamkannya setiap sepuluh malam sekali. Mereka selalu membaca Al-Qur’an baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Bahkan Imam Asy-Syafi’i dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di luar shalat dalam bulan Ramadhan. Sementara Al-Aswad mengkhatamkannya setiap dua hari sekali. Adapun Qatadah selalu mengkhatamkannya setiap tujuh hari sekali di luar Ramadhan, sedangkan pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali. Dan pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau mengkhatamkannya setiap malam. Pada bulan Ramadhan Imam Az-Zuhri menutup majlis-majlis hadits dan majlis-majlis ilmu yang biasa diisinya. Beliau mengkhususkan diri membaca Al-Qur’an dari mushhaf. Demikian pula Imam Ats-Tsauri, beliau meninggalkan ibadah-ibadah lain dan mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an.

    Ibnu Rajab berkata: “Larangan mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari tertuju bagi yang membiasakan hal itu. Adapun pada waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadhan, terkhusus lagi pada malam-malam yang diperkirakan sebagai malam Lailatul Qadar, atau di tempat-tempat yang utama, seperti Makkah bagi selain ahli Makkah, maka dianjurkan agar memperbanyak membaca Al-Qur’an. Supaya mendapat keutamaan pada waktu dan tempat tersebut. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan ulama lainnya. Demikianlah yang dapat kita saksikan dari kebiasaan mereka sebagaimana yang telah kita sebutkan tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site