Thoughts Dalam sebuah perjalanan, selalu ada kisah, catatan, dan pikiran

Disclaimer Komentar

Segala komentar, pingback, dan trackback yang bukan dilakukan oleh saya (Andri Setiawan) adalah tanggung jawab masing-masing penulis aslinya.

Where Am I?

Berlangganan

Isikan email anda:

 Langganan di sini

Add to Google Reader or Homepage

Subscribe in Bloglines

Google Friend

Afiliasi








Tentang Saya

Mukhammad Andri Setiawan, just an ordinary man, trying to get better on everyday of his life

Disclaimer

Jika berminat KOPAS (copy paste) dari apa yang saya tulis di sini, dipersilakan. Yang penting sebutin sumbernya. Biar tidak disebut sebagai pembajak, at least hargai penulis awalnya.

Page Rank

Page Rank Tool

Pembaca



Arsip

My Tweet

    • Benarkah kita yang diminta untuk puasa?

      Membaca postingan mBah Dipo di sini, pipi ini serasa digaplok. Sebagai seorang muslim yang mengaku sebagai mu’min, kadang sering kembali kita harus mengevaluasi kembali dan melakukan studi kelayakan kembali, pantas tidaknya kita diberi status sebagai seorang mu’min (sila merujuk pada surat Al Hujurat, di sana ada beda loh antara muslim dengan mu’min).

      Panggilan puasa dalam Alquran hanyalah ditujukan kepada orang-orang mu’min, yang di dalam hatinya ada keimanan, lha iman kita sendiri cuma seberapa sih? Kadang nikmatnya iman sebagaimana yang disebut oleh mbah Dipo babar blas alias tidak ada sama sekali dalam diri ini. Segala amalan hanya menjadi penggugur kewajiban. Nggak nambah barang sedikitpun rasa cinta kepada Yang Maha Kuasa, yang ada malah menambah derita karena beban tadi.

      Iman memang naik dan turun, lumrah, lha kita memang manusia biasa, bukan malaikat. Akan tetapi jika iman tadi diletakkan dalam suatu kuadran, semestinya keimanan itu senantiasa ada dalam kuadran positif saja. Seturun-turunnya iman ya mestinya di kuadran positif, Lha kita?? Barangkali lebih sering iman ini berada dalam kuadran negatif, hanya kadang-kadang saja dia beranjak ke kuadran positif, tapi itu pun sejenak sahaja, selebihnya, minus terus :-(

      Indikasinya dalam Ramadhan saya kira semua kita juga sudah tahu, giliran awal puasa, semua rame-rame pergi ke Masjid, giliran akhir puasa, semua rame-rame pergi ke Pasar/Mall/dkk. Padahal justru di akhir-akhir itulah keberkahan puasa Ramadhan semakin memuncak, dengan lailatul qadar sebagai reward, tapi apa lacur, karena tidak merasakan nikmatnya iman (halawatul iman), yang ada malah kegembiraan karena Ramadhan akan segera berpulang.

      Ramadhan yang semestinya jadi tempat membersihkan jiwa manusia yang penuh dengan noda, malah jadi madrasah persiapan untuk kemaksiatan selanjutnya. Makanya sudah puluhan tahun puasa, nggak ngefek sama sekali. Barangkali kita memang sudah terlalu bebal?

      Published on September 14, 2007 · Filed under: Uncategorized;
      6 Comments

    6 Responses to “Benarkah kita yang diminta untuk puasa?”

    1. Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang ^_*

    2. [...] 15th, 2007 at 6:43 am (Ordinary Day) Abis baca postingannya mas andri ama mbah dipo, jadi kepikiran juga sih.. Silahkan baca dulu postingan beliau2 tadi, baru ntar balik [...]

    3. Iya ya.. sebenernya kita (eh maksudnya saya deng) tuh seneng karena lebaran dah mo dateng ato seneng karena ritual puasanya dah mo slese ya..?? hm.. tanya kenapa..

    4. iya ya, baru nyadar … tp masalahnya budaya kita saat ini telah mengajarkan dan mengkondisikan kita utk demikian …

    5. bener juga ya….
      slama ini kita (saya) “hitung mundur” kapan puasa ramadhan dimulai, kemudian (dengan lebih tidak sabar) “hitung mundur” kapan takbir tanda lebaran dikumandangkan. bak menunggu datangnya tahun baru.
      tapi kita (saya) tidak sadar bahwa yang kita lakukan itu adalah BODOH.
      jadi berpikirlah….

    6. jadi inget klo bentar lagi ramadhan. marhaban yaa ramadhan

    Leave a Reply