Cerita seonggok daun …

Tertarik membaca tulisan mbah Dipo di sini, saya jadi teringat ketika awal Agustus kemarin menyempatkan untuk pulang kampung ke rumah ibu di Ngayogjokarto Hadiningrat. Saat itu di ruang tengah kami, teronggok pot kecil dengan sebuah pohon berdaun hijau yang hanya beberapa lembar.

Tanya sama adik, "Nduk (saya seneng manggil adik perempuan saya dengan panggilan nduk), kuwi tanduran opo, kok diselehke kene ?", (Dik, itu tanaman apa, kok ditaruh di sini ?).
"Oh, kuwi tanduran jenmani mas, larang lho kuwi, sakmono kuwi patang puluh ewunan !" (Oh, itu tanaman jenmani mas, mahal loh harganya, segitu itu empat puluh ribuan).
"Tapi tanduran kuwi mung dinehi Tante Yuli kok." (Tapi tanaman itu cuma dikasih kok sama Tante Yuli).

Halah, tanaman cuman gitu-gitu aja harganya kok bisa 40 ribu. Kulihat-lihat, sekilas, apa sih yang menarik dari tanaman ini. Tanaman hias kok mung godhong thok ! (cuma daun aja). "Lha iki tanduran kok mung godhong thok, endi kembange ?" (Lah tanamannya kok cuma daun aja, mana bunganya ?)
"Yo mung koyo ngono kuwi mas, ora ono kembange…." (Ya cuma gitua aja mas, gak ada bunganya …)
"Owalah Gusti…tanduran ngono kok yo larang banget, sing tuku ki yo sopo, aneh tenan …" (Duh Gusti, tanaman gitu aja kok ya mahal sekali, yang mau beli tuh ya sapa, aneh sekali)
"Tanduran kok mung godhong thok, mending ngingu wit jeruk purut, lha rupane yo ra bedo adoh .." (Tanaman kok cuma daun aja, mending nanam jeruk limau, lha penampilannya juga gak jauh beda), ujar saya sambil ketawa …

Saya terus terang bukan penikmat tanaman, meski demikian saya termasuk suka menanam tanaman, waktu di Indonesia dulu, di samping rumah saya, ditanami pohon pepaya, daun pandan, mawar, melati (tapi yang ini mati), bougenvil (gak pernah mau ngembang), dan beberapa jenis tanaman lain. Tapi terus terang, melihat harga tanaman hias yang nggak rasional sama sekali, saya jadi berpikir, apa orang-orang sudah mulai gila pa ya … tanaman yang cuma gitu-gitu aja kok harganya selangit … udah gitu biasanya gak cuma sampe setahun, harganya bakal anjlok lagi …

Akhirnya tanaman itu tidak lagi bisa dinikmati keindahannya, karena begitu sekali beli, takut kalau tanamannya mati, dicuri orang, dithothol pitik, atau malah cuma disosor sama kambing kurang kerjaan … :-)

Keindahan, toh dimanapun tetap saja relatif, seperti saya yang tidak pernah bosan melihat pohon pandan saya yang tumbuh di samping rumah, bagi saya, penampilan pohon pandan juga tidak kalah dengan pohon jenmani, dan lebih bermanfaat, karena istri saya suka masak pakai daun pandan. Daunnya setiap hari bisa saya ambil, tanpa khawatir harus sibuk menangisinya 😀

  1. achedy says:

    Oalah nduk awakmu iku jebule wis dipangan brand. he.. he…

  2. Luthfi says:

    hmmm
    gmn ya klo tanaman hiasnya dicuri?
    pasti stress, klo mengingat ada yg harganya nyampe puluhan jeti

  3. cahyo says:

    lebih asyik nanam mangga, jambu dsb ya mas kalo menurut saya. hasilnya bisa dimakan :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site