Bapaknya BUYA, anaknya bisa jadi BUaYA

Seorang kawan dari tanah Minang bercerita, bahwa di sana kultur memang berbeda dengan di jawa. Kalau di Jawa, dengan nuansa paternalistik yang kental, apalagi di lingkungan pesantren (secara keluarga besar saya juga berasal dari pesantren NU), di mana seorang anak kyai pada umumnya akan mendapatkan penghormatan yang sangat tinggi. Dimana sebutan Gus dan Ning bagi anak kyai memang hal yang lazim, dan mereka pun mendapat posisi yang “sedikit” berbeda dengan rekan-rekan mereka yang lain. Hal ini mengakibatkan jika sang “Gus” tadi pun akan diperlakukan tidak ubahnya sebagaimana sang kyai.

Berbeda dengan di tanah Minang, pameo “Bapaknya BUYA, anaknya bisa jadi BUaYA” bukanlah hal yang aneh. Dimana orang sangat memahami dan memakluminya. Walaupun dari sisi Islam, semestinya anak yang menjadi “BUaYA” ini tadi juga menjadi tanggungan bagi orang tuanya kelak.

Kembali ke kultur di mana saya berasal, kesalahfahaman bahwa seorang Gus yang juga mewarisi kesalehan seorang Kyai ini mengakibatkan terjadinya distorsi dalam nilai-nilai Islam itu sendiri. Bahkan sebagian kalangan yang mem”WALI”kan sang kyai pun juga akan mem”WALI”kan sang Gus tadi. Padahal boleh jadi perbedaan antara keduanya bagaikan bumi dengan langit.

Apa-apa yang dibawa oleh sang Gus tadi, walaupun melawan ketentuan syariat Allah pun akan dimaknai sebagai “Sesuatu yang tidak terjangkau oleh manusia biasa seperti kita, karena itu adalah tindakan wali.” Penyerupaan mereka dengan kisah Nabi Musa dan Khidir yang segala perbuatan nabi Khidir dianggap tidak lazim dan masuk akal oleh nabi Musa, yang kemudian dinisbatkan kepada sang Gus tadi, menjadikan para pengikutnya pun kehilangan logika dan pemikiran mereka.

Sejatinya boleh jadi mereka tahu bahwa ucapan sang Gus tadi malah akan menjauhkan mereka dari Islam yang sebenarnya. Tapi karena mereka telah dibutakan dengan status “GUS” dan “WALI” tadi, maka mereka pun “menyerah”, dan mengatakan bahwa mereka tidak sanggup menjangkau fikiran sang “wali” karena sang wali telah berbicara hakikat, sesuatu yang sangat jauh dari apa yang disebut sebagai syari’at. Ketika sang GUS tidak sholat, maka mereka berkata, bahwa sang Gus telah sholat dalam duduknya, bahkan dianggap bahwa dia sedang sholat di Masjidil Haram, walau sang raga di Indonesia.

Inilah yang menurut saya harus dikoreksi total, agar masyarakat kita pun mulai membudayakan cara berfikir yang logis, mempergunakan akal yang telah dianugrahkan Allah SWT dengan bertanggung jawab. Saya sangat sependapat dengan ungkapan kawan saya bahwa Bapaknya bisa saja seorang BUYA, tapi sangat possible sekali kalau anaknya tidak mengikuti ayahnya, justru menjadi seorang BUaYA.

Jadi ingat sepenggal syair dari nasyidnya Raihan

Iman tak dapat diwarisi, dari seorang ayah yang bertaqwa
Iman tak dapat dijual beli
Iman tiada di tepian pantai

  1. imcw says:

    masih terbawa suasana kerajaan kali mas…

  2. bhowo says:

    ternak buaya kali mas… hehehe… 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site