Nggak mungkin pergi haji?

Mengutip apa yang ditulis di sini, dan di sini, dari saudara-saudara saya yang mengaku salafiyyin1)

Fatwa Asy Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah

Asy Syaikh berkata: “Jika seseorang dalam keadaan darurat untuk memiliki paspor, apakah untuk haji atau selainnya dari perjalanan-perjalanan yang mesti, atau untuk KTP, SIM, surat tugas, atau uang maka dosa jatuh kepada pemerintah yang menyebabkan engkau dalam keadaan darurat untuk hal ini.

Batasan darurat: Kemaslahatanmu yang wajib bagimu akan hilang disebabkan meninggalkan foto. Adapun foto-foto yang diminta dari pelajar atau dari seorang tentara bukanlah sesuatu yang darurat. Karena mungkin bagi seorang pelajar untuk meninggalkan menuntut ilmu di sekolah-sekolah, kemudian menuntut ilmu di hadapan para ulama’ di masjid-masjid dan seorang tentara mungkin untuk mencari pekerjaan dan meninggalkan ketentaraan.”

Saya tidak hendak mempertentangkan apa yang difatwakan oleh mereka. Saya hanya “berandai-andai” saja. ISLAM setahu saya datang dengan segenap hal, termasuk di antaranya adalah pemerintahan, karena itu tidaklah tidak mungkin jika seorang muslim (yang baik dan mengikuti sunnah nabi) akan menjadi penguasa/pemerintah suatu negri.

Saya hanya membayangkan, jika rekan-rekan salafiyyin ini menjadi pemerintah, kira-kira apa yang akan terjadi? Perhatikan kalimat yang saya cetak tebal. Masalah foto di paspor, KTP, SIM, dkk adalah DOSANYA PEMERINTAH. Jika ini yang menjadi asumsinya, maka apabila mereka kelak ditakdirkan jadi pemerintah atau penguasa sebuah negri, entah negri beneran atau negri antah berantah, maka asumsi saya, mereka akan melarang foto dalam segala jenisnya, karena jika mereka menjadi pemerintah, tentu mereka tidak mau menanggung dosa karena memperbolehkan foto di paspor dkk.

Jika asumsinya berjalan seperti itu, anggap saja Indonesia pemerintahnya adalah salafiyyin, maka bisa dipastikan saya tidak akan bisa naik haji. Kenapa? Karena untuk naik haji, saya butuh paspor, dan identifikasi seseorang ketika dia bepergian ke negara lain adalah melalui foto yang terpampang di paspor. Saya pun tidak akan bisa menuntut ilmu di negri lain, karena tidak mungkin saya masuk ke negara lain kecuali dengan paspor yang tentu saja ada fotonya. Bagaimana sebuah negara lain mengizinkan warga negara lain masuk kecuali ada foto yang terpampang di dalamnya?

Sekali lagi, saya tidak berbicara masalah “kedaruratan” versi mereka, tapi hanya berbicara seandainya mereka yang menjadi pemerintah, artinya tidak ada lagi batasan darurat bagi mereka.

Kemudian, di alenia berikutnya (yang saya cetak miring), dimana tidak ada kata darurat bagi para pelajar, karena ada jalan keluar (dari menggunakan foto) yakni menuntut ilmu di masjid-masjid. Pertanyaan saya, apakah ulama di masjid-masjid sudah menyediakan lab yang memadai untuk misal, penelitian nano teknologi, penelitian bioteknologi, penelitian super computer, dkk. Dan apakah ulama’-ulama’nya mengetahui banyak hal dalam bidang alam semesta ini? Lha kalau masjid-masjid yang “mumpuni” tadi belum tersedia, solusinya apa? Apakah kaum muslim akan dibiarkan begitu saja tertinggal dari bangsa lain, dimana kita juga membutuhkan Internet untuk dakwah kita, dimana kita membutuhkan satelit dan fiber optic untuk transmisi ebook-ebook kita, dimana kita membutuhkan ilmu penerbangan sehingga mampu membuat pesawat terbang yang mampu mengangkut jama’ah haji. Seandainya pengajaran-pengajaran tadi membutuhkan foto sebagai Identitas? Atau ilmu-ilmu tadi hanya bisa dicari di Luar Negri, apa terus kemudian kita lari begitu saja?

Jika ketiadaan darurat bagi pelajar tadi betul-betul diimplementasikan, terus terang, saya sama sekali tidak bisa membayangkan masa depan kaum muslim. Semoga saudara-saudara saya yang mengaku salafiyyin tadi terbuka mata hati mereka, dan bisa berfikir lebih jernih lagi.

Tulisan ini memang “TANTANGAN” bagi saudara-saudara saya yang mengaku salafiyyin tadi, “Bagaimana jika Anda yang menjadi Pemerintah?“. Ingat, ISLAM juga mengurusi masalah dunia, jika tidak niscaya tidak ada ayat Alquran yang mengatakan, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu untuk negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari dunia.” Jadi tidak mungkin ilmu dunia ditinggalkan :-)

1) Salafiyyin, sejatinya adalah para pengikut salafush shalih, tapi sayangnya, sering terjadi klaim-klaim sepihak dari beberapa kelompok yang menganggap bahwa mereka lah salafi sejati, sementara yang lain adalah ahlul bid’ah dkk.

  1. js nugraha says:

    ketakutan anda berlebihan mas Andri

    Mas Andri said:
    “…Semoga saudara-saudara saya yang mengaku salafiyyin tadi terbuka mata hati mereka, dan bisa berfikir lebih jernih lagi..”

    apakah ini bisa disamakan dengan mangatakan
    “sesungguhnya Syaikh Muqbil rahimahuLLAH kurang berpikiran jernih dengan menmfatwakan hal yg demikian…”

    saya bukan ta’ashub dengan beliau, tapi hedaklah kita hormat kepada ‘ulama muktabar yang telah banyak memberkan manfaat kepada ummat

    Semoga Alloh mengampuni Beliau dan kita semua dan memberikan petunjuk pada kebenaran.

    untuk i’tishom kepada Qur’an dan Hadith ada 2 pokok yang harus dijadikan pegangan yg salah satunya adalah menundukkan akal jika telah ada nash/dalil yang shahih
    (di quote dr daurah NTU 1-2sept 07)

    –jika ini bisa menimbulkan polemik, tak usah di publish tak apa, monggo–

  2. makasih buat komentarnya, saya tidak bermaksud tidak hormat kepada beliau, hanya saja saya hanya ingin agar kita berhati-hati dalam menyalahkan atau menganggap salah kepada orang lain yang berbeda pendapat.

    saya kira, sebuah kritik tidak berarti menurunkan muru’ah / kehormatan seorang ulama.

    yang saya tidak “sreg” adalah, kenapa harus menyalahkan dan menDOSAkan pemerintah, itu saja. maka saya bertanya, bagaimana jika mereka yang menjadi pemerintah? apakah mereka akan lari dari menjadi pemerintah dan tetap membiarkan orang yang tidak benar menjadi pemerintah? tentu tidak kan :)

    itu saja kok…insya Alloh tidak menjadikan polemik, dan saya tidak bermaksud berbicara masalah hukum foto, karena khilaf masalah ini sudah terlalu banyak diperbincangkan, saya hanya mendiskusikan masalah pensikapannya saja

    Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site