Yang namanya pendekar adalah …

Tulisan ini masih merupakan sambungan (walau nggak nyambung secara langsung alias loosely coupled) dengan tulisanku yang disini.

—-

Jika anda pernah belajar beladiri, ada satu kecenderungan umum yang biasanya menjangkiti para “pemula” itu, yakni sifat ujub (takjub dengan diri sendiri). Sabuk putih, ketika awal-awal bersemangat berlatih, akan merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan yang lain, dia merasa seakan-akan sekarang tidak ada lagi yang sanggup mengalahkan dia kalau berkelahi dengan dia.

Penyakit merasa sudah menjadi “sabuk hitam” ini secara umum akan muncul. Akan tetapi seiring perjalanan waktu, sang “sabuk putih” ini akan mulai menyadari, bahwa ada orang yang “lebih besar” lagi di medan laga sana. Bahwa dia harus mengakui diri, bahwa dirinya hanyalah sabuk putih, sabuk kuning aja belum nyampe …

Begitu pula dengan para penuntut ilmu diniyah di negri ini, boleh jadi baru secuil ilmu yang didapatkan oleh mereka, tapi kemudian seakan-akan dialah ulama paling alim yang paling faham terhadap diin ini, dia merasa “sayalah sang sabuk hitam”, dan kemudian mengecilkan orang lain yang berada di sekitarnya. Akibatnya apa? Ketika dia merasa ada yang menganggu “eksistensi” pemahaman yang dia pakai, maka diserang habis-habisan lah orang yang berbeda pemahaman tadi. Klaim-klaim lalu mulai diberikan. Laa haula walaa quwwata illa billah, Imam Bukhari pun pernah dicap sebagai orang sesat dan ahlul bid’ah karena di-iri-dengki-kan oleh ulama penguasa yang menganggap “lahan” mereka diambil alih oleh Imam Bukhari.

Suatu ketika ada dua orang sahabat yang bertengkar mengenai bacaan Alquran, sampe “sikat-menyikat”, ketika lapor kepada Nabi, apa yang terjadi. “Dua-duanya benar”, demikian kata nabi. Loh jelas dua-duanya beda, kok bisa dikatakan dua-duanya benar. Lha wong nabi memang mengajarkan dua hal tersebut kok. Jika anda pernah belajar qiro’atul quran, anda pasti tahu yang dimaksud sebagai qiro’atus sab’ah (tujuh macam jenis bacaan), ada yang bacanya wadh-dhuhaa… ada pula yang membaca wadh-dhuhee …, dua-duanya benar, karena memang diajarkannya begitu.

Perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah dalam khasanah pengetahuan Islam, kita akan dapati perbedaan pendapat yang dipraktikan oleh Imam-imam besar dalam Islam, seperti Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik, begitu pula dengan Imam-imam yang lain. Tapi tidak lah kemudian di antara mereka memaksakan pendapat yang mereka yakini kepada orang lain.

Ada satu hal memang yang tidak mungkin dimiliki oleh para pemuda dibanding orang yang lebih tua, yakni pengalaman. Seberapa hebat pun kita, tapi pengalaman kita terhadap orang yang jauh lebih tua tentu kalah. Masih ingat kan kata pepatah, “Pengalaman adalah guru yang paling berharga …

Boleh jadi, diskusi, debat, jidal atau entah apa pun namanya, memang menjadi suatu keharusan bagi para generasi muda, karena dengan-nya lah kita akan memiliki pengalaman. Dan pengalaman itu lah yang kelak akan menjadi guru yang sangat berharga bagi. Dia akan menjembatani kita dalam bersikap ketika kelak kita bertemu lagi dengan hal yang sama.

Kepala boleh beda, ukhuwwah tetap dijaga …

Wallahu musta’an … dan hanya kepada Alloh lah segala permohonan
Hadanallah Wa iyyakum … semoga kita diberikan petunjuk dariNya

  1. QZoners says:

    Ibarat ilmu padi, makin berisi makin merunduk

  2. […] untuk Bangga, Dengan Ilmu yang hanya Sedikit….? 12 04 2007 Saya cukup tertarik dengan tulisan andri ini. Mungkin bagi sebagian orang yang tidak suka diceraramhi, tulisan tersebut tidaklah berguna untuk […]

  3. Biho says:

    yap, jangan malah gampang menghalalkan darah sesamanya.

  4. telmark says:

    postingan keren. salut.
    salam kenal. :)

  5. nooras says:

    assalaamu’alaikum mas Andri,
    gimana khabarnya, juga dik Beni, semoga selalu dalam lindungan Allah.
    quote:
    “Begitu pula dengan para penuntut ilmu diniyah di negri ini, boleh jadi baru secuil ilmu yang didapatkan oleh mereka, tapi kemudian seakan-akan dialah ulama paling alim yang paling faham terhadap diin ini, dia merasa “sayalah sang sabuk hitam”, dan kemudian mengecilkan orang lain yang berada di sekitarnya. Akibatnya apa? Ketika dia merasa ada yang menganggu “eksistensi” pemahaman yang dia pakai, maka diserang habis-habisan lah orang yang berbeda pemahaman tadi. Klaim-klaim lalu mulai diberikan. Laa haula walaa quwwata illa billah, Imam Bukhari pun pernah dicap sebagai orang sesat dan ahlul bid’ah karena di-iri-dengki-kan oleh ulama penguasa yang menganggap “lahan” mereka diambil alih oleh Imam Bukhari.”
    end of quote
    Tulisan bagus, cuman jangan sampai kita kena tulisan sendiri ketika menganggap orang lain itu baru secuil ilmunya, orang lain itu sok benar sendiri,orang lain itu sok jadi ulama paling alim, orang lain itu sok paling faham tentang agama ini, orang lain itu mengecilkan kita…dst., nanti gak ada bedanya kita dengan yang kita omongkan., jangan sampai pula kita merasa diserang habis2an hanya karena ada yang mengkritik kita, boleh jadi niatnya ikhlas cuman kita dah apriori dulu, bisa jadi lho ada orang2 yang menganggap tulisan kita ini nyerang mereka, trus gantian mbilangin kita sok alim, sok faham sendiri, lah malah mbalik nantinya :-).
    eh mas omong2 al-Imam al-Bukhari kasusnya masalah apa sih? bisa bagi info? setahu saya karena kesalah fahaman saja dan tidak adanya tabayun, bukan kasus dengan ulama penguasa, mungkin mas Andri bisa kasih versi yang lain plus sumbernya.

    Dari yang dulunya pernah jadi kakak kelas panjenengan di SMA1 maupun Elektro UGM, kalau gak salah pernah ngajar njenengan juga di elektro.

    Assalaamu’alaikum

  6. nooras says:

    Doakan saya juga gak seperti itu ya mas,baguslah saya juga ingat kejadian2 di SMA dulu, saya jadi ikut kena getahnya di SMA1 dianggap ngajari adik2 yang enggak2, sempat di “blacklist”juga, lucu ya, memang namanya baru belajar mas, ya wajar kalau kebentus-bentus,saya sempat “marah” sama adik2 kelas gara2 itu, kalau belum berilmu ya jangan sembarangan berbuat dan berkata, nama saya jadi gak baik di kalangan guru2. Tapi alhamdulillah mereka dah pada semakin faham kok mas, ada juga yang sedang S2 di madinah, alumni SMA 1, dik Roy, dan masih banyak lagi, intinya kalau ngaji jangan hanya satu sumber, makin banyak ustadz makin baik, buka cakrawala bagaimana sih para ulama kita dulu, belajar langsung dari kitab2 mereka sambil berdiskusi dengan para ustadz,
    tentang al-Imam al-Bukhari sekedar info, baca di Hadyu as-Sari muqoddimah Fath al-Bari, al-Hafidz menukil dari Tarikh Naisburi bahwa al-Bukhari dituduh mengatakan Lafadzku dengan Al-Quran adalah makhluq oleh Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, padalah beliau hanya mengatakan “perbuatan kita adalah makhluq”,”Lafadz kita adalah perbuatan kita”, ada orang yang hasad mengatakan lain kepada adz-Dzuhli maka ditahdzirlah al-Bukhari, tanpa tabayyun, padahal al-Bukhari secara tegas mengatakan al-Quran adalah Kalamullah bukan makhluq.
    ok kapan2 disambung, boleh tuh diskusi, ada ym atau gchat?
    jazakallahu khairan

  7. @nooras: wah mas wawan, lama tak bersua :) Alhamdulillah saya baik. Makasih banget buat masukannya, saya berdoa kepada Alloh semoga saya tidak termasuk orang yang suka mengecilkan ilmu yang dimiliki oleh orang lain. Kalau seperti saya levelnya masih pra-sabuk putih kali ya :) beda jauh lah sama mas Wawan 😉

    tulisan ini cuma muncul karena ada beberapa pihak yang secara implisit menganggap mereka adalah paling benar, padahal boleh jadi belum banyak yang mereka ketahui, dan ini juga terutama refleksi pribadi saya jaman dulu kala yang sukanya merasa diri sendiri sebagai orang yang boleh dibilang sok jago (terutama saat diskusi dengan orang tua, padahal (alm) bapak saya jauh lebih lama ngaji di pesantren ketimbang saya). Saya hanya mengingatkan kepada para pentuntut ilmu untuk tidak pernah mengecilkan dan mengabaikan pendapat yang disampaikan oleh orang lain terlebih ketika pendapat itu berbeda dengan keyakinan mereka. Seperti jaman dulu kala ketika pada ribut-ribut masalah apakah telunjuk digerak-gerakkan atau tidak ketika tasyahud (mas wawan tentu masih ingat kan ? 😀 )

    ttg Imam Bukhari, seingat saya (payah ya cuma bisa mengingat-ingat) saat itu saat dapet pelajaran ttg itu, memang ada "clash" dengan orang yang tidak suka dengan kajian beliau yang senantiasa dihadiri banyak orang (mungkin yang perlu saya koreksi adalah statemen Ulama Penguasanya, tapi seingat saya dari yang saya ketahui, yang hasad saat itu kepada beliau juga orang yang berilmu), sehingga ditiupkan lah tuduhan pada beliau sebagai ahlul bid'ah …

  8. beladiri says:

    akulah jagoan, hehe

  9. […] Andri Cisco – Yang namanya Pendekar adalah … […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site