<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Anda bingung karena dibid&#8217;ahkan?</title>
	<atom:link href="http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/</link>
	<description>Dalam sebuah perjalanan, selalu ada kisah, catatan, dan pikiran</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Mar 2010 03:18:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: abu alif</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-3463</link>
		<dc:creator>abu alif</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 06:35:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-3463</guid>
		<description>salaf adalah para shahabat, sedangkan salafi berarti pengikut salaf.sebagaimana maliki-berarti pengikut imam malik- atau hambali-berarti pengikut imam imam ahmad bin hambal- dan lain-lain.

salafi berarti seseorang mengikuti jalan yang ditempuh oleh rasululloh dan para shahabatnya.
 
jika dikatakan kepada seseorang bahwa ia salafi berarti suatu pujian yang sangat besar kepadanya.

salafi bukanlah suatu golongan yang dibatasi oleh tempat dan waktu...

jika ingin menjadi anggota dari golongan ini  tidak perlu untuk meregistrasi menjadi member secara tertulis..

cukuplah ia beragama sebagaimana agama yang dianut oleh para shahabat..

 dalam Aqidahnya, Ibadah, dan akhlak..

maka ia langsung terdaftar dalam golongan salafi, ahlussunnah, aljam&#039;ah, al firqotun annajiya dimana didalamnya ada rasululloh-sebagai ketuanya- dan para shahabatnya-sebagai tangan kanannya&quot;orang kepercayaan&quot;-

sekarang tinggal lihat diri kita apakah kita sudah beraqidah sebagaimana Aqidah mereka, beribadah sebagaimana ibadah mereka, dan berakhlak sebagaimana akhlak mereka..

Tapi kebanyakan manusia tidak memahami pernyataan itu-dalam paragaraf sebelumnya-

padahal konsekuensi dari itu semua tentunya dengan adanya dalil yang shahih-dari Qolalloh qolla rasul wa qola shahaba-

dalam hal wudhu saja sudahkah kita tau dalilnya, tidakkah kita pernah berfikir samakah wudhu saya dengan wudhu rasululloh..-karena kebanyakan kaum muslimin mempelajari tata cara wudhu dari sumber yang tidak menyertakan dalilnya-

tidakkah terlintas di benak ini.. apakah cara berdiri, sujud, dan takbir saya ketika sholat sudah sama dengan cara  rasululloh dan para shahabatnya..-padahal kita tau bahwa sumber hukum islam itu adalh alqur&#039;an dan sunnah, lantas kenapa kita masih mengikuti yang tidk ada sumbernya-

jika seperti itu akankah ada ketenangan dan kekhusyu&#039;an didalamnya...

dan akankah kita masih mengaku sebagai salafi..atau ahlussunnah..

dan beragama yang benar dengan dalil-alqur&#039;an dan sunnah&#039; yang shahih pemahaman yang shahih-manhaj salaf- itu semua tidak mungkin-mustahil- kita dapatkan kecuali dengan MENUNTUT ILMU SYAR&#039;I dan ini yang banyak orang lalai darinya...

mengenai pemahaman, sebenarnya para ulama&#039; telah bersepakat tentang  wajibnya mengikuti pemahaman para shahabat...

bukti kongkritnya-yang banyak orang-orang tidak berfikir kesini- adalah....
lihatlah bagaimana ulama2 kita menafsirkan Alqur&#039;an, didalam kitab-kitab mereka...silahkan telaah kitab2 tersebut seperti ibnu katsir, alqurtubi, dan lain-lain..
Apakah tafsiran-tafsiran itu kebanyakan memuat penafsiran dan pandangan mereka?jawabnya&quot;tidak&quot; mereka banyak memuat perkataan para shahabat dan murid-murid mereka(ibnu abbas, ibnu mas&#039;ud, mujahid, qotadah dll) sebagai acuan utama dalam menafsirkan Alqur&#039;an

begitu juga jika kita menelaah kitab-kitab hadits,seperti bukhori, muslim, al muwatho&#039; dll, apakah yang dinukil hanya sabda rasululloh saja?al jawab:&quot;tidak&quot; tapi dimuat juga banyak perkataan   para shahabat...
maka pahamailah, akh...

semoga kita dan seluruh kaum muslimin diberikan taufiq oleh Alloh untuk menjadi seorang salafi yang sejati.

jadi langkah pertama adalah menuntut ilmu dari sumber-sumber yang memilki dalil yang shahih-baik dari firman Alloh, sabda rasul, dan  ucapan  shahabat-...

cari dan bacalah..bacalah buku2 dan ingat siapa pengarangnya.....jika kalian rutin melakukannya niscaya kalian akan tau sendiri siapa-siapa penulis-ulama&#039;-yang diatas sunnah dan siapa yang tidak...

ketahuilah, jika kita tidak mengikuti jalan yang benar dalam mengambil islam....semkin anda mempelajarinya maka akan semakin bingung...kalau tidak sesat...kalau tidak gila...atau bisa saja murtad...

lihatlah bagaimana kisah-kisah para Ulama&#039; dahulu yang mereka memahami islam menurut mereka sendiri atau gurunya atau teman-temannya yang tidak mengikuti pemahaman para shahabat kemudian mereka bertaubat dan mengakui adanya kebingungan dan rusaknya akal serta kesiasiaan yang dialaminya semasa tidak mengikuti manhaj salaf-pemahaman para shahabat- seperti abu hasan alasyari dan abu hamid alGhozali

saya selama mengikuti tarbiyah selama 3 tahun, jika saudara-saudara kita yang berkecimpung didalamnya memahami bahwa majelis yang sering mereka gunakan untuk menuntut ilmu agama...ada masa-masa jenuhnya, karena ilmu yang dipelajari itu-itu saja dan tidak ada peningkatannya...

memang awalnya saya banyak mendapatkan ilmu tapi lama-kelamaan tidak ada sama sekali peningkatannya...bahkan ilmu-ilmu yang disampaikan banyak yang tidak valid dan salah...saya tau akan salahnya karena disamping liqo saya juga membaca buku-buku yang alhamdulillah yang ditulis oleh ulama&#039; sunnah-dimana ciri mereka yang utama selalu menyertakan dalil yang shahih, sehingga saya bisa dengan pasti beragama, bukan dengan keragu-raguan-
-semoga Alloh memberikan kebahagiaan sebagaimana yang diperoleh oleh rasululloh dan para shahabatnya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk, dan semoga Alloh memberikan hidayah bagiorang-orang yang belum mendapatkannya-inni uhibbuka fillah ya ikhwahfillah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salaf adalah para shahabat, sedangkan salafi berarti pengikut salaf.sebagaimana maliki-berarti pengikut imam malik- atau hambali-berarti pengikut imam imam ahmad bin hambal- dan lain-lain.</p>
<p>salafi berarti seseorang mengikuti jalan yang ditempuh oleh rasululloh dan para shahabatnya.</p>
<p>jika dikatakan kepada seseorang bahwa ia salafi berarti suatu pujian yang sangat besar kepadanya.</p>
<p>salafi bukanlah suatu golongan yang dibatasi oleh tempat dan waktu&#8230;</p>
<p>jika ingin menjadi anggota dari golongan ini  tidak perlu untuk meregistrasi menjadi member secara tertulis..</p>
<p>cukuplah ia beragama sebagaimana agama yang dianut oleh para shahabat..</p>
<p> dalam Aqidahnya, Ibadah, dan akhlak..</p>
<p>maka ia langsung terdaftar dalam golongan salafi, ahlussunnah, aljam&#8217;ah, al firqotun annajiya dimana didalamnya ada rasululloh-sebagai ketuanya- dan para shahabatnya-sebagai tangan kanannya&#8221;orang kepercayaan&#8221;-</p>
<p>sekarang tinggal lihat diri kita apakah kita sudah beraqidah sebagaimana Aqidah mereka, beribadah sebagaimana ibadah mereka, dan berakhlak sebagaimana akhlak mereka..</p>
<p>Tapi kebanyakan manusia tidak memahami pernyataan itu-dalam paragaraf sebelumnya-</p>
<p>padahal konsekuensi dari itu semua tentunya dengan adanya dalil yang shahih-dari Qolalloh qolla rasul wa qola shahaba-</p>
<p>dalam hal wudhu saja sudahkah kita tau dalilnya, tidakkah kita pernah berfikir samakah wudhu saya dengan wudhu rasululloh..-karena kebanyakan kaum muslimin mempelajari tata cara wudhu dari sumber yang tidak menyertakan dalilnya-</p>
<p>tidakkah terlintas di benak ini.. apakah cara berdiri, sujud, dan takbir saya ketika sholat sudah sama dengan cara  rasululloh dan para shahabatnya..-padahal kita tau bahwa sumber hukum islam itu adalh alqur&#8217;an dan sunnah, lantas kenapa kita masih mengikuti yang tidk ada sumbernya-</p>
<p>jika seperti itu akankah ada ketenangan dan kekhusyu&#8217;an didalamnya&#8230;</p>
<p>dan akankah kita masih mengaku sebagai salafi..atau ahlussunnah..</p>
<p>dan beragama yang benar dengan dalil-alqur&#8217;an dan sunnah&#8217; yang shahih pemahaman yang shahih-manhaj salaf- itu semua tidak mungkin-mustahil- kita dapatkan kecuali dengan MENUNTUT ILMU SYAR&#8217;I dan ini yang banyak orang lalai darinya&#8230;</p>
<p>mengenai pemahaman, sebenarnya para ulama&#8217; telah bersepakat tentang  wajibnya mengikuti pemahaman para shahabat&#8230;</p>
<p>bukti kongkritnya-yang banyak orang-orang tidak berfikir kesini- adalah&#8230;.<br />
lihatlah bagaimana ulama2 kita menafsirkan Alqur&#8217;an, didalam kitab-kitab mereka&#8230;silahkan telaah kitab2 tersebut seperti ibnu katsir, alqurtubi, dan lain-lain..<br />
Apakah tafsiran-tafsiran itu kebanyakan memuat penafsiran dan pandangan mereka?jawabnya&#8221;tidak&#8221; mereka banyak memuat perkataan para shahabat dan murid-murid mereka(ibnu abbas, ibnu mas&#8217;ud, mujahid, qotadah dll) sebagai acuan utama dalam menafsirkan Alqur&#8217;an</p>
<p>begitu juga jika kita menelaah kitab-kitab hadits,seperti bukhori, muslim, al muwatho&#8217; dll, apakah yang dinukil hanya sabda rasululloh saja?al jawab:&#8221;tidak&#8221; tapi dimuat juga banyak perkataan   para shahabat&#8230;<br />
maka pahamailah, akh&#8230;</p>
<p>semoga kita dan seluruh kaum muslimin diberikan taufiq oleh Alloh untuk menjadi seorang salafi yang sejati.</p>
<p>jadi langkah pertama adalah menuntut ilmu dari sumber-sumber yang memilki dalil yang shahih-baik dari firman Alloh, sabda rasul, dan  ucapan  shahabat-&#8230;</p>
<p>cari dan bacalah..bacalah buku2 dan ingat siapa pengarangnya&#8230;..jika kalian rutin melakukannya niscaya kalian akan tau sendiri siapa-siapa penulis-ulama&#8217;-yang diatas sunnah dan siapa yang tidak&#8230;</p>
<p>ketahuilah, jika kita tidak mengikuti jalan yang benar dalam mengambil islam&#8230;.semkin anda mempelajarinya maka akan semakin bingung&#8230;kalau tidak sesat&#8230;kalau tidak gila&#8230;atau bisa saja murtad&#8230;</p>
<p>lihatlah bagaimana kisah-kisah para Ulama&#8217; dahulu yang mereka memahami islam menurut mereka sendiri atau gurunya atau teman-temannya yang tidak mengikuti pemahaman para shahabat kemudian mereka bertaubat dan mengakui adanya kebingungan dan rusaknya akal serta kesiasiaan yang dialaminya semasa tidak mengikuti manhaj salaf-pemahaman para shahabat- seperti abu hasan alasyari dan abu hamid alGhozali</p>
<p>saya selama mengikuti tarbiyah selama 3 tahun, jika saudara-saudara kita yang berkecimpung didalamnya memahami bahwa majelis yang sering mereka gunakan untuk menuntut ilmu agama&#8230;ada masa-masa jenuhnya, karena ilmu yang dipelajari itu-itu saja dan tidak ada peningkatannya&#8230;</p>
<p>memang awalnya saya banyak mendapatkan ilmu tapi lama-kelamaan tidak ada sama sekali peningkatannya&#8230;bahkan ilmu-ilmu yang disampaikan banyak yang tidak valid dan salah&#8230;saya tau akan salahnya karena disamping liqo saya juga membaca buku-buku yang alhamdulillah yang ditulis oleh ulama&#8217; sunnah-dimana ciri mereka yang utama selalu menyertakan dalil yang shahih, sehingga saya bisa dengan pasti beragama, bukan dengan keragu-raguan-<br />
-semoga Alloh memberikan kebahagiaan sebagaimana yang diperoleh oleh rasululloh dan para shahabatnya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk, dan semoga Alloh memberikan hidayah bagiorang-orang yang belum mendapatkannya-inni uhibbuka fillah ya ikhwahfillah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nurdin</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-627</link>
		<dc:creator>Nurdin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 18:34:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-627</guid>
		<description>1.Sunah Rosul itu adalah perilaku dimana Rosululloh mencontohkan kepada kita dalam menjalankan agama. Atau singkatnya saat Rosul mengemban risalahnya.
2.Sunatulloh itu Alam semesta ini, dimana kehendak dan ketetapanNYA berlaku</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>1.Sunah Rosul itu adalah perilaku dimana Rosululloh mencontohkan kepada kita dalam menjalankan agama. Atau singkatnya saat Rosul mengemban risalahnya.<br />
2.Sunatulloh itu Alam semesta ini, dimana kehendak dan ketetapanNYA berlaku</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nurdin</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-626</link>
		<dc:creator>Nurdin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 18:13:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-626</guid>
		<description>Ada 3 sumber kebenaran menurut Al-Qur&#039;an ; Al-Kitab, Hikmah, Kenabian. Sebagaimana Rosululloh meninggalkan 2 perkara kepada kita salah satunya beliau sendiri sebagai nabi. Hikmah itu setiap nabi diberi hikmah. Begitu juga kita mengenal adanya hikmah yaitu perjalanan hidup kita terhadap kehendak-ketetapanNYA. Sudahkah kita menuju kehendakNYA? Itu yg harus dipetanyakan.
Kebenaran itu tidak akan menempati golongan tertentu karena kebenaran yg hak itu Alloh. Manusialah pengukurnya.
Jangan melihat gaibnya alam ini, tapi lihatlah gaibnya hati. niscaya kita bisa melihat segala persoalan dengan jelas. Sucikanlah hati agar kta tidak tertutup (tabir/selimut)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada 3 sumber kebenaran menurut Al-Qur&#8217;an ; Al-Kitab, Hikmah, Kenabian. Sebagaimana Rosululloh meninggalkan 2 perkara kepada kita salah satunya beliau sendiri sebagai nabi. Hikmah itu setiap nabi diberi hikmah. Begitu juga kita mengenal adanya hikmah yaitu perjalanan hidup kita terhadap kehendak-ketetapanNYA. Sudahkah kita menuju kehendakNYA? Itu yg harus dipetanyakan.<br />
Kebenaran itu tidak akan menempati golongan tertentu karena kebenaran yg hak itu Alloh. Manusialah pengukurnya.<br />
Jangan melihat gaibnya alam ini, tapi lihatlah gaibnya hati. niscaya kita bisa melihat segala persoalan dengan jelas. Sucikanlah hati agar kta tidak tertutup (tabir/selimut)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nurdin</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-625</link>
		<dc:creator>Nurdin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 18:00:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-625</guid>
		<description>Waduh kalau gontok2an terus kapan bisa bersatu. Ilmu Islam itu sangat luas masa dikalahin gara2 kunut2 atau cara2 Shalat. Gak mungkin islam bersatu jika didasari pemikiran yg sempit ataupun kepentingan golongan. Dimana Islam yg sempurna Rahmat seluruh Alam kalau ngurusin muslim aja gak bisa. Islam agama yg hak pemberantas kebodohan. Bila kita belum bisa menelusuri antara agama yg kita kenal (pandangan ataupun keyakinan) sampai menjadi penyebab kebodohan itu sendiri niscaya kita belum mengenal sempurnanya Islam.
Belajar ilmu Alloh itu laksana orang menyelam kedalam lautan dimana semakin dalam semakin besar tekanan.  Namun jika kita belum mengenal ganasanya ombak kehidupan, tidak mungkin kita bisa memahami. Sedangkan berenang saja belum bisa.
Jangan berpikir tentang agama hanya urusan akhirat saja. Karena kita tidak mungkin bisa melihat akhirat dengan ainul yakin tanpa memahami pelajaran2 didunia. Dimana kita harus memahami keduanya dengan ilmu. lawannya kebodohan adalah ilmu.
Jika kita menginginkan ilmu Alloh kenalilah ciptaaNYA.
1. Mengenal diri sendiri sebagai mahluk Alloh &gt;manusia&gt;pemimpin dimuka bumi
2. Mengenal sesama ; manusia sebagai mahluk sosial
3. Mengenal Alam sebagai satu kesatuan antara kehendak dengan ketetapanNYA (takdir) ; sebab-akibat sebagai bukti bahwa Alloh mengharamkan kedholiman bagi diriNYA.
4. Mengenal Alloh.
Jadi untuk mengenalnya melewati 2 definsi 2 &amp; 3.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waduh kalau gontok2an terus kapan bisa bersatu. Ilmu Islam itu sangat luas masa dikalahin gara2 kunut2 atau cara2 Shalat. Gak mungkin islam bersatu jika didasari pemikiran yg sempit ataupun kepentingan golongan. Dimana Islam yg sempurna Rahmat seluruh Alam kalau ngurusin muslim aja gak bisa. Islam agama yg hak pemberantas kebodohan. Bila kita belum bisa menelusuri antara agama yg kita kenal (pandangan ataupun keyakinan) sampai menjadi penyebab kebodohan itu sendiri niscaya kita belum mengenal sempurnanya Islam.<br />
Belajar ilmu Alloh itu laksana orang menyelam kedalam lautan dimana semakin dalam semakin besar tekanan.  Namun jika kita belum mengenal ganasanya ombak kehidupan, tidak mungkin kita bisa memahami. Sedangkan berenang saja belum bisa.<br />
Jangan berpikir tentang agama hanya urusan akhirat saja. Karena kita tidak mungkin bisa melihat akhirat dengan ainul yakin tanpa memahami pelajaran2 didunia. Dimana kita harus memahami keduanya dengan ilmu. lawannya kebodohan adalah ilmu.<br />
Jika kita menginginkan ilmu Alloh kenalilah ciptaaNYA.<br />
1. Mengenal diri sendiri sebagai mahluk Alloh &gt;manusia&gt;pemimpin dimuka bumi<br />
2. Mengenal sesama ; manusia sebagai mahluk sosial<br />
3. Mengenal Alam sebagai satu kesatuan antara kehendak dengan ketetapanNYA (takdir) ; sebab-akibat sebagai bukti bahwa Alloh mengharamkan kedholiman bagi diriNYA.<br />
4. Mengenal Alloh.<br />
Jadi untuk mengenalnya melewati 2 definsi 2 &amp; 3.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: salafy</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-624</link>
		<dc:creator>salafy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 14:13:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-624</guid>
		<description>jangan bingung klo di bid&#039;ahkan...  makanya belajar</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jangan bingung klo di bid&#8217;ahkan&#8230;  makanya belajar</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ibnu Ahmad</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-623</link>
		<dc:creator>Ibnu Ahmad</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 07:00:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-623</guid>
		<description>Barangkali tulisan yg di tempel abu said (Mengapa harus bermanhaj Salaf?) bisa jadi jawaban buat semua yg lagi pada berdebat. Khususnya mas andri yang lagi bingung he he...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali tulisan yg di tempel abu said (Mengapa harus bermanhaj Salaf?) bisa jadi jawaban buat semua yg lagi pada berdebat. Khususnya mas andri yang lagi bingung he he&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abu Said</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-622</link>
		<dc:creator>Abu Said</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 06:41:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-622</guid>
		<description>Mengapa Harus Bermanhaj Salaf?

Penulis : Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari
Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj () dan salaf (). Manhaj () dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).
Sedangkan salaf (), menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf () adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).
Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).
Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita:
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)
Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:
1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)
Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).
Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya.
Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.
2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)
Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).
Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.
Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.
3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.
Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).
Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:
1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).
Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.
Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).
2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).
Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).
Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37).
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).
Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.
3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) bagi apa yang diperselisihkan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara:
- Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam.
- Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.
- Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79).
Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.
Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:
1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.
2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.
3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.
4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:
1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).
2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil melalui kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).
3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).
4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil melalui kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)
5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).
6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).
Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.
Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=82</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa Harus Bermanhaj Salaf?</p>
<p>Penulis : Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari<br />
Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.<br />
Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj () dan salaf (). Manhaj () dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).<br />
Sedangkan salaf (), menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).<br />
Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf () adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).<br />
Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).<br />
Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.<br />
Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita:<br />
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)<br />
Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:<br />
1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :<br />
“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)<br />
Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).<br />
Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya.<br />
Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.<br />
2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:<br />
“Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)<br />
Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).<br />
Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.<br />
Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.<br />
3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:<br />
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).<br />
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.<br />
Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).<br />
Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.<br />
Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:<br />
1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:<br />
“Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).<br />
Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.<br />
Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).<br />
2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :<br />
“Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).<br />
Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).<br />
Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37).<br />
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).<br />
Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.<br />
3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:<br />
“…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).<br />
Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) bagi apa yang diperselisihkan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara:<br />
- Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam.<br />
- Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.<br />
- Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79).<br />
Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.<br />
Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:<br />
1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.<br />
2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.<br />
3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.<br />
4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.<br />
5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.<br />
6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.<br />
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:<br />
1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).<br />
2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil melalui kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).<br />
3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).<br />
4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil melalui kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)<br />
5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).<br />
6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).<br />
Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).<br />
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.<br />
Sumber: <a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=82" rel="nofollow">http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=82</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rinjani rajab</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-621</link>
		<dc:creator>rinjani rajab</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 02:29:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-621</guid>
		<description>Dari: Wahyu
Topik: Salafy dalam kacamata saya

Rekan-rekan yang dirahmati Allah, jangankan Ust. Abu Sangkan yang berilmu, saya yang pernah jadi panitia Ramadanpun pernah dikasih dalil untuk dibunuh dan diperangi. Hanya karena membuat jadwal kultum Ramadhan, yang beberapa diantaranya diisi oleh Ibu-ibu yang tentu saja tidak di mimbar namun tetap di tempat Ibu-ibu. Dengan alasan suara wanita adalah aurat. Meskipun kita bertemu saat sholat, namun si ikhwan salafy ini tidak pernah menyampaikan secara langsung namun melalui sebuah surat. Dengan redaksi yang cukup jelas &#039;membunuh&#039; dan diperangi, maka saya datangi ikhwan tersebut. Namun apa yang terjadi, dia hanya cengengas-cengenges tidak berkata-kata saat saya berkata: &quot;Saudara mau bunuh saya. Ayo ... silahkan jangan hanya berani lewat surat dan memprovokasi, ini orangnya disini&quot;.

Sayapun menggunakan
dalil dari teman lulusan Gontor yang menyatakan bahwa banyak hadits yang disampaikan oleh sahabiyah terutama dari Aisyah RA. Kalau memang demikian maka banyak sekolah yang tidak boleh menjadikan wanita sebagai pengajar, wanita yang bekerja harus diam, wanita tidak boleh bicara langsung dengan lawan jenis meskipun dengan hijab dst. Setelah saya datangi, gonggongan itupun berhenti. Namun setelah kejadian itu, saya dan dia merasa tidak ada masalah ataupun dendam dan kami tetap bersalaman apabila bertemu.

Pengalaman dengan ikhwan salafy yang lain. Suatu saat saya berbincang dan mengkritisi tentang sibuknya mereka yang mengkafirkan orang-orang yang bersyahadat. Kemudian saya beri teguran Allah dalam surat Al Hujurat:11. Saat saya membacakan surat tersebut, dia menyela dan tidak memberikan saya kesempatan menyelesaikan ayat Allah tersebut dan mengatakan, bahwa saya tidak berhak mengartikan ayat tersebut?!!. Saya terdiam cukup lama. What? Al Quran pun
ternyata ditolak? Inikan terjemahan bukan tafsir?! Saya kaget dengan sanggahan tersebut, sekaligus menjawab apa yang sesungguhnya ada dalam benak mereka.

Kesimpulan tentang kelompok ini :

1. Tidak ada yang salah dengan ayat maupun sunnah yang digunakan oleh sauadara salafy ini, 100% semunya benar (meskipun ada web yang menceritakan inkonsistensi ulama mereka tentang derajat hadits saya tetap anggap 100 % benar), namun kebenaran itu disusun dan diolah sedemikian rupa untuk digunakan untuk memaksa orang mengikuti jalan pemikiran kelompok dan pendahulunya.

2. Al Quran dan hadits dianggap sampah (tidak berguna), saat diucapkan oleh orang di luar kelompoknya, dengan alasan kapasitas keilmuan yang tidak mumpuni.(Disinilah terlihat akidah yang sesungguhnya, pendapat guru melebihi Al Quran dan sunnah, dan memuja jalur keilmuan terutama lulusan Univ. Madinah dan guru-guru pelopor aliran ini)

3. Berdebat dalam rangka mencari kebenaran
menjadi sia-sia dan bahasa yang mereka kenal hanya bahasa kekerasan seperti yang mereka gunakan dalam buku-buku mereka, sikap mereka dan di penjara-penjara Saudi terhadap kelompok yang menentang ulama mereka.

4. Lucunya adalah kelompok saudara kita ini memiliki prinsip &quot;PERANGI/KERAS&quot; terhadap bid&#039;ah (baca: orang Islam yang belum menjadi kelompok) dan muamalah (baca: lemah lembut) terhadap orang kafir. Kelompok ini banyak memiliki penganutyang bekerja di perusahaan-perusaha an minyak dan tambang Amerika dan Eropa. Negara Saudi telah mewakili keadaan tersebut.

Menurut saya lagi, Allah sebetulnya telah memberi pelajaran tentang perbedaan ini pada masa pemerintahan Khalifah Ali RA, dimana 2 kelompok sahabat yang sama-sama memegang Al Quran, sama-sama memegang sunnah, sama-sama dicintai Allah dan dijamin masuk surga, saling bunuh membunuh. Siapun yang mendukung satu kelompok maka ke 2 2 nya adalah menghina sahabat Rasulullah. Siapa yang
mengatakan Ali RA melindungi pembunuh Utsman RA maka dia menghina ahlul bait, siapa yang mengatakan Aisyah RA memberontak maka dia telah menghina istri Rasulullah.naudzubi llah. Siapa yang menggunakan hadits:

&quot;Apabila dua orang Muslim saling bertarung dengan menghunus pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka.&quot;

maka sesungguhnya mereka telah menistakan, menghakimi dan menodai sahabat Radiyallahuanhum. ..naudzubillah

Jadi pendapat saya adalah:

1. &quot;TIDAK ADA KEBENARAN MUTLAK SETELAH RASULULLAH WAFAT, dalam kasus PERSELISIHAN ANTARA 2 KELOMPOK KAUM MUSLIMIN TENTANG SUATU MASALAH DIMANA KEDUA-DUANYA MEMILIKI DALIL YANG BERSUMBER DARI QURAN DAN SUNNAH KEDUA-DUANYA ADALAH BENAR&quot; Kemaslahatan yang paling penting, bukan siapa yang paling
benar.

2. BERSATU DALAM PERSAMAAN DAN SALING MENGHORMATI DALAM PERBEDAAN

3. BILA ADA MASALAH DENGAN SALAFY CUKUP INGATKAN SUPAYA BERJALAN DI ATAS KEYAKINAN MASING-MASING, BAHWA KITA AKAN KERAS KALAU TERUS MENYEBARKAN FITNAH DAN KEBENCIAN.

Wallahualam.

&quot;Ya Allah berilah kami cahaya, kebijaksanaan, kesabaran, petunjuk dalam menghadapi perselisihan dan fitnah diantara kaum muslimin. Bukannya kami saling membenci, ya Allah, tapi karena kedhoifan dan kebodohan kami, maka tunjukillah kami ya Allah Amin&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dari: Wahyu<br />
Topik: Salafy dalam kacamata saya</p>
<p>Rekan-rekan yang dirahmati Allah, jangankan Ust. Abu Sangkan yang berilmu, saya yang pernah jadi panitia Ramadanpun pernah dikasih dalil untuk dibunuh dan diperangi. Hanya karena membuat jadwal kultum Ramadhan, yang beberapa diantaranya diisi oleh Ibu-ibu yang tentu saja tidak di mimbar namun tetap di tempat Ibu-ibu. Dengan alasan suara wanita adalah aurat. Meskipun kita bertemu saat sholat, namun si ikhwan salafy ini tidak pernah menyampaikan secara langsung namun melalui sebuah surat. Dengan redaksi yang cukup jelas &#8216;membunuh&#8217; dan diperangi, maka saya datangi ikhwan tersebut. Namun apa yang terjadi, dia hanya cengengas-cengenges tidak berkata-kata saat saya berkata: &#8220;Saudara mau bunuh saya. Ayo &#8230; silahkan jangan hanya berani lewat surat dan memprovokasi, ini orangnya disini&#8221;.</p>
<p>Sayapun menggunakan<br />
dalil dari teman lulusan Gontor yang menyatakan bahwa banyak hadits yang disampaikan oleh sahabiyah terutama dari Aisyah RA. Kalau memang demikian maka banyak sekolah yang tidak boleh menjadikan wanita sebagai pengajar, wanita yang bekerja harus diam, wanita tidak boleh bicara langsung dengan lawan jenis meskipun dengan hijab dst. Setelah saya datangi, gonggongan itupun berhenti. Namun setelah kejadian itu, saya dan dia merasa tidak ada masalah ataupun dendam dan kami tetap bersalaman apabila bertemu.</p>
<p>Pengalaman dengan ikhwan salafy yang lain. Suatu saat saya berbincang dan mengkritisi tentang sibuknya mereka yang mengkafirkan orang-orang yang bersyahadat. Kemudian saya beri teguran Allah dalam surat Al Hujurat:11. Saat saya membacakan surat tersebut, dia menyela dan tidak memberikan saya kesempatan menyelesaikan ayat Allah tersebut dan mengatakan, bahwa saya tidak berhak mengartikan ayat tersebut?!!. Saya terdiam cukup lama. What? Al Quran pun<br />
ternyata ditolak? Inikan terjemahan bukan tafsir?! Saya kaget dengan sanggahan tersebut, sekaligus menjawab apa yang sesungguhnya ada dalam benak mereka.</p>
<p>Kesimpulan tentang kelompok ini :</p>
<p>1. Tidak ada yang salah dengan ayat maupun sunnah yang digunakan oleh sauadara salafy ini, 100% semunya benar (meskipun ada web yang menceritakan inkonsistensi ulama mereka tentang derajat hadits saya tetap anggap 100 % benar), namun kebenaran itu disusun dan diolah sedemikian rupa untuk digunakan untuk memaksa orang mengikuti jalan pemikiran kelompok dan pendahulunya.</p>
<p>2. Al Quran dan hadits dianggap sampah (tidak berguna), saat diucapkan oleh orang di luar kelompoknya, dengan alasan kapasitas keilmuan yang tidak mumpuni.(Disinilah terlihat akidah yang sesungguhnya, pendapat guru melebihi Al Quran dan sunnah, dan memuja jalur keilmuan terutama lulusan Univ. Madinah dan guru-guru pelopor aliran ini)</p>
<p>3. Berdebat dalam rangka mencari kebenaran<br />
menjadi sia-sia dan bahasa yang mereka kenal hanya bahasa kekerasan seperti yang mereka gunakan dalam buku-buku mereka, sikap mereka dan di penjara-penjara Saudi terhadap kelompok yang menentang ulama mereka.</p>
<p>4. Lucunya adalah kelompok saudara kita ini memiliki prinsip &#8220;PERANGI/KERAS&#8221; terhadap bid&#8217;ah (baca: orang Islam yang belum menjadi kelompok) dan muamalah (baca: lemah lembut) terhadap orang kafir. Kelompok ini banyak memiliki penganutyang bekerja di perusahaan-perusaha an minyak dan tambang Amerika dan Eropa. Negara Saudi telah mewakili keadaan tersebut.</p>
<p>Menurut saya lagi, Allah sebetulnya telah memberi pelajaran tentang perbedaan ini pada masa pemerintahan Khalifah Ali RA, dimana 2 kelompok sahabat yang sama-sama memegang Al Quran, sama-sama memegang sunnah, sama-sama dicintai Allah dan dijamin masuk surga, saling bunuh membunuh. Siapun yang mendukung satu kelompok maka ke 2 2 nya adalah menghina sahabat Rasulullah. Siapa yang<br />
mengatakan Ali RA melindungi pembunuh Utsman RA maka dia menghina ahlul bait, siapa yang mengatakan Aisyah RA memberontak maka dia telah menghina istri Rasulullah.naudzubi llah. Siapa yang menggunakan hadits:</p>
<p>&#8220;Apabila dua orang Muslim saling bertarung dengan menghunus pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka.&#8221;</p>
<p>maka sesungguhnya mereka telah menistakan, menghakimi dan menodai sahabat Radiyallahuanhum. ..naudzubillah</p>
<p>Jadi pendapat saya adalah:</p>
<p>1. &#8220;TIDAK ADA KEBENARAN MUTLAK SETELAH RASULULLAH WAFAT, dalam kasus PERSELISIHAN ANTARA 2 KELOMPOK KAUM MUSLIMIN TENTANG SUATU MASALAH DIMANA KEDUA-DUANYA MEMILIKI DALIL YANG BERSUMBER DARI QURAN DAN SUNNAH KEDUA-DUANYA ADALAH BENAR&#8221; Kemaslahatan yang paling penting, bukan siapa yang paling<br />
benar.</p>
<p>2. BERSATU DALAM PERSAMAAN DAN SALING MENGHORMATI DALAM PERBEDAAN</p>
<p>3. BILA ADA MASALAH DENGAN SALAFY CUKUP INGATKAN SUPAYA BERJALAN DI ATAS KEYAKINAN MASING-MASING, BAHWA KITA AKAN KERAS KALAU TERUS MENYEBARKAN FITNAH DAN KEBENCIAN.</p>
<p>Wallahualam.</p>
<p>&#8220;Ya Allah berilah kami cahaya, kebijaksanaan, kesabaran, petunjuk dalam menghadapi perselisihan dan fitnah diantara kaum muslimin. Bukannya kami saling membenci, ya Allah, tapi karena kedhoifan dan kebodohan kami, maka tunjukillah kami ya Allah Amin&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abu layyin</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-620</link>
		<dc:creator>abu layyin</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 08:13:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-620</guid>
		<description>Bismillah,
Yah,…sudah muntah semua?
baik sekarang saya jelaskan dengan dalil dan bukti nyata:

1. Salafi adalah benar semata

2. Jangan ikuti majelis `ilmu orang yang mengaku dirinya Salafy padahal dia antek2/mata2 ikhwanul muslimin yaitu seorang yang merasa dirinya ustadz padahal belumlah lagi dia hafal Al-Quran, namanya Luqman Ba`abduh, tapi selainnya, selama dia bermanhaj Salaf silahkan. Mengapa?

a. karena Luqman sudah di tahdzir oleh Syaikh Yahya (penerus Syaikh Muqbil). Buktinya, minta saja copy-an CDnya sama Ikhwan Sendang Mulyo Semarang. Kalau sudah dengar CDnya masih ndak percaya juga, dipersilahkan menghubungi langsung Syaikh Yahya atau Syaikh Robi`melalui Telephone yang nomornya bisa Antum semua dapatkan melalui Ustadz Muhsin di ma`hadnya di Magetan atau Ustadz Dzul Akmal di Riau, tanyakan kepada para Syaikh siapa Luqman Ba`abduh itu, dan perhatikan apa kata Syaikh Robi` tentang Luqman Ba`abduh.

b. Coba perhatikan dan simak baik-baik setiap perkataannya yang dia selipkan disetiap majelis ta`lim yang dia adakan, camkan dan ta`awudzlah, maka akan antum sekalian dapati bahwa dialah penyebab utama perpecahan dikalangan salafiyin di Indonesia. Bagaimana ana tau? karena beliau dulunya pernah duduk di majelis Syaikh Yahya, dan Syaikh Yahya dengan kedalaman `ilmunya beliau lebih tau siapa murid2nya dan memang dari Yaman, Luqman sudah sering membuat rusuh. Tapi ingat, Luqman ini licik bukan cerdik. Jadi banyak dari kalangan Ikhwan yang terbius dengan penampilannya dan gaya bicaranya yang sebagian berupa sihir.

c. lanjut besok ya, sudah malam.

Tapi yang jelas memang ini hal yang mengagetkan. Betapa tidak! sudah terlalu banyak Ikhwan yang berdiri dibelakang Luqman Ba`abduh, seperti Ikhwan Veteran, Jogja, Ikhwan Cirebon, hingga ke utara sumatera dan Batam.Mereka mengagumi Luqman Bak artis populer. Tapi kenyataannya sudah ana paparkan sebagian diatas.
O ya, ada memang beberapa Ustadz yang tampaknya belum mengenal siapa Luqman ini, diantaranya:
- Ustadz Qomar (temanggung)
- Ustadz Abdul Mu`thi (Jogja)
- Ustadz Abdul Jabbar (jogja)
- Ustadz Abdul Haq (jogja)
- Ustadz Idral (Solo)
- Ustadz Mukthar (Solo)
- dan mungkin sekarang malah hampir sebagian besar Ustadz sudah tertipu oleh Luqman ini.

Tapi ketahuilah, bahwa adanya Salafy Makasar, Riau, Magetan, Solo jogja, dan Semarang, yang semua ini seolah2 terpecah-pecah adalah ulah dari Luqman Ba`abduh.
Mau kenal Luqman Ba`abduh lebih jauh? tanyakan pada petinggi2 laskar jihad waktu di Ambon (terutama)-karena ana pun salau satu dari mereka- seperti apa pelanggaran2 syariat yang dilakukan oleh Luqman Ba`abduh, seperti apa kebengisan dan kebobrokan moral Luqman Ba`abduh saat makin sesatnya ia dalam masa-masa perang di Ambon. Ini bukti, bukan katanya. karena antum betul2 bisa lacak kebenaran yang ana sampaikan, karena ana beritahu petunjuknya bagaimana dan kepada siapa Antum untuk bertabayyun.
Jadi sekali lagi, jangan tertipu! ingat, kita punya Ahlu Hadits bukhory dan Muslim yang beliau merupakan murid kesayangan Syaikh Muqbil, yang beliaulah satu2nya siswa yang dikecualikan untuk menjawab soal-soal dari Syaikh Muqbil disaat Syaikh memberikan pertanyaan dalam majelis `ilmunya, beliaulah satu2nya yang ditawarkan Syaikh muqbil untuk menikah dengan putrinya, beliaulah satu2nya yang saat ini dekat dengan Syaikh Robi`, Syaikh Yahya, Syaikh Sholih Fauzan dan Para aimah baik di Mekkah, Medinah maupun Yaman. Antum semua pasti kenal walau tak ana sebutkan namanya, tapi antum malu untuk mengakuinya, karena apa? karena ulah Luqman Ba`abduh! sadarilah wahai saudaraku. Tak kah terbesit untuk banyak bertanya tentang `ilmu kepada Sang Ahlu Hadits yang ana sebutkan ciri2nya barusan? dan jauhilah Luqman, Suruhlah atau paksalah dia untuk kembali duduk di majelis `ilmu bersama para tholibul `ilmi lainnya di majelis `ilmu Syaikh Yahya.
Na`m, tampaknya sementara cukup ini dulu. Silahkan bertanya atau menanggapi, ana akan jawab dengan senang hati. O ya, afwan kalau ada yang tidak ana jawab, itu karena antum ana kelompokkan pada orang-orang yang belum boleh ikut2an bicara dalam hal ini. forum tanya jawab terbatas, tapi untuk membaca dan menyanggah silahkan saja sepuas2nya seperti yang antum muntahkan diatas. ini info hanya untuk Salafiyun yang mau memakai mata hatinya.
BarokAllahufikum.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah,<br />
Yah,…sudah muntah semua?<br />
baik sekarang saya jelaskan dengan dalil dan bukti nyata:</p>
<p>1. Salafi adalah benar semata</p>
<p>2. Jangan ikuti majelis `ilmu orang yang mengaku dirinya Salafy padahal dia antek2/mata2 ikhwanul muslimin yaitu seorang yang merasa dirinya ustadz padahal belumlah lagi dia hafal Al-Quran, namanya Luqman Ba`abduh, tapi selainnya, selama dia bermanhaj Salaf silahkan. Mengapa?</p>
<p>a. karena Luqman sudah di tahdzir oleh Syaikh Yahya (penerus Syaikh Muqbil). Buktinya, minta saja copy-an CDnya sama Ikhwan Sendang Mulyo Semarang. Kalau sudah dengar CDnya masih ndak percaya juga, dipersilahkan menghubungi langsung Syaikh Yahya atau Syaikh Robi`melalui Telephone yang nomornya bisa Antum semua dapatkan melalui Ustadz Muhsin di ma`hadnya di Magetan atau Ustadz Dzul Akmal di Riau, tanyakan kepada para Syaikh siapa Luqman Ba`abduh itu, dan perhatikan apa kata Syaikh Robi` tentang Luqman Ba`abduh.</p>
<p>b. Coba perhatikan dan simak baik-baik setiap perkataannya yang dia selipkan disetiap majelis ta`lim yang dia adakan, camkan dan ta`awudzlah, maka akan antum sekalian dapati bahwa dialah penyebab utama perpecahan dikalangan salafiyin di Indonesia. Bagaimana ana tau? karena beliau dulunya pernah duduk di majelis Syaikh Yahya, dan Syaikh Yahya dengan kedalaman `ilmunya beliau lebih tau siapa murid2nya dan memang dari Yaman, Luqman sudah sering membuat rusuh. Tapi ingat, Luqman ini licik bukan cerdik. Jadi banyak dari kalangan Ikhwan yang terbius dengan penampilannya dan gaya bicaranya yang sebagian berupa sihir.</p>
<p>c. lanjut besok ya, sudah malam.</p>
<p>Tapi yang jelas memang ini hal yang mengagetkan. Betapa tidak! sudah terlalu banyak Ikhwan yang berdiri dibelakang Luqman Ba`abduh, seperti Ikhwan Veteran, Jogja, Ikhwan Cirebon, hingga ke utara sumatera dan Batam.Mereka mengagumi Luqman Bak artis populer. Tapi kenyataannya sudah ana paparkan sebagian diatas.<br />
O ya, ada memang beberapa Ustadz yang tampaknya belum mengenal siapa Luqman ini, diantaranya:<br />
- Ustadz Qomar (temanggung)<br />
- Ustadz Abdul Mu`thi (Jogja)<br />
- Ustadz Abdul Jabbar (jogja)<br />
- Ustadz Abdul Haq (jogja)<br />
- Ustadz Idral (Solo)<br />
- Ustadz Mukthar (Solo)<br />
- dan mungkin sekarang malah hampir sebagian besar Ustadz sudah tertipu oleh Luqman ini.</p>
<p>Tapi ketahuilah, bahwa adanya Salafy Makasar, Riau, Magetan, Solo jogja, dan Semarang, yang semua ini seolah2 terpecah-pecah adalah ulah dari Luqman Ba`abduh.<br />
Mau kenal Luqman Ba`abduh lebih jauh? tanyakan pada petinggi2 laskar jihad waktu di Ambon (terutama)-karena ana pun salau satu dari mereka- seperti apa pelanggaran2 syariat yang dilakukan oleh Luqman Ba`abduh, seperti apa kebengisan dan kebobrokan moral Luqman Ba`abduh saat makin sesatnya ia dalam masa-masa perang di Ambon. Ini bukti, bukan katanya. karena antum betul2 bisa lacak kebenaran yang ana sampaikan, karena ana beritahu petunjuknya bagaimana dan kepada siapa Antum untuk bertabayyun.<br />
Jadi sekali lagi, jangan tertipu! ingat, kita punya Ahlu Hadits bukhory dan Muslim yang beliau merupakan murid kesayangan Syaikh Muqbil, yang beliaulah satu2nya siswa yang dikecualikan untuk menjawab soal-soal dari Syaikh Muqbil disaat Syaikh memberikan pertanyaan dalam majelis `ilmunya, beliaulah satu2nya yang ditawarkan Syaikh muqbil untuk menikah dengan putrinya, beliaulah satu2nya yang saat ini dekat dengan Syaikh Robi`, Syaikh Yahya, Syaikh Sholih Fauzan dan Para aimah baik di Mekkah, Medinah maupun Yaman. Antum semua pasti kenal walau tak ana sebutkan namanya, tapi antum malu untuk mengakuinya, karena apa? karena ulah Luqman Ba`abduh! sadarilah wahai saudaraku. Tak kah terbesit untuk banyak bertanya tentang `ilmu kepada Sang Ahlu Hadits yang ana sebutkan ciri2nya barusan? dan jauhilah Luqman, Suruhlah atau paksalah dia untuk kembali duduk di majelis `ilmu bersama para tholibul `ilmi lainnya di majelis `ilmu Syaikh Yahya.<br />
Na`m, tampaknya sementara cukup ini dulu. Silahkan bertanya atau menanggapi, ana akan jawab dengan senang hati. O ya, afwan kalau ada yang tidak ana jawab, itu karena antum ana kelompokkan pada orang-orang yang belum boleh ikut2an bicara dalam hal ini. forum tanya jawab terbatas, tapi untuk membaca dan menyanggah silahkan saja sepuas2nya seperti yang antum muntahkan diatas. ini info hanya untuk Salafiyun yang mau memakai mata hatinya.<br />
BarokAllahufikum.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: reli tamba</title>
		<link>http://blog.andrisetiawan.com/2007/04/04/anda-bingung-karena-dibidahkan/comment-page-2/#comment-618</link>
		<dc:creator>reli tamba</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 01:38:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://andri.cisco.or.id/blogs/?p=128#comment-618</guid>
		<description>menurutku juga kurang fair masyarakat  muslim indonesia dalam penilaiannya terhadap komunitas salafy, sebab menurutku memang tidak arif menyamaratakan salafy, karena yang aku saksikan salafy itu ada jenis &quot;salafy baik&quot; dan ada jenis dari &quot;salafy jahat&quot;. jadi penilannya kurang tepat kalau mengenerakisir kalau salafy itu jahat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurutku juga kurang fair masyarakat  muslim indonesia dalam penilaiannya terhadap komunitas salafy, sebab menurutku memang tidak arif menyamaratakan salafy, karena yang aku saksikan salafy itu ada jenis &#8220;salafy baik&#8221; dan ada jenis dari &#8220;salafy jahat&#8221;. jadi penilannya kurang tepat kalau mengenerakisir kalau salafy itu jahat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
