Anda bingung karena dibid’ahkan?

Tulisan ini bermula karena ramainya perkelahian tulisan-tulisan seperti di sini, kemudian di sini, dan juga di sini. Juga karena di forum e-learningnya mahasiswa UII yang ada di sini, juga lagi ribut-ribut masalah bid’ah, siapa yang pantas disebut sebagai ulama, dan lain sebagainya.

Sebagai orang yang pernah berinteraksi dengan jama’ah salafi ini, ada banyak cerita yang muncul, semuanya berasal dari pengalaman sendiri, melihat, dan menyimpulkannya mencermatinya.

Dulu sekali, kira-kira 12 tahun yang lalu, pertama kali aku mengenal jama’ah salafi ini. Masih ingat saat itu ketika SMA, kita semua yang mengaji di kelompok tarbiyah yang kemudian bertransformasi jadi PK sebelum jadi PKS, dikumpulkan semua oleh kakak-kakak kelas untuk diberikan “pencerahan” wejangan. Intinya, kita semua diminta keluar dari kelompok pengajian “tarbiyah”, karena dianggap sebagai golongan yang sesat dan tempatnya di neraka.

Well, terus terang saat itu sempat juga merasakan shock, bingung, dll. Apanya yang sesat ? Pikir kita saat itu, perasaan yang disampaikan oleh murabbi pembina isinya baik-baik semua. Tapi karena faktor kedekatan dengan kakak kelas yang berinteraksi jauh lebih banyak dengan kita ketimbang pembina yang hanya seminggu sekali, tak pelak, aku pun sempat mengikuti kajian-kajian yang diberikan oleh jama’ah salafi ini.

Terus terang saat itu, sama sekali tidak ada perasaan memusuhi, membenci dan lain sebagainya, yang ada hanya yang penting ngaji. Karena pingin nambah pemahaman tentang Islam. So, saat itu aku ngaji di dua tempat, yang satu di kelompok tarbiyah, yang satu lagi di pengajiannya salafi. Walhasil, sempat pula aku menjadi seorang dengan dalil PokoknyaTM seperti yang disebut di sini sama di sini, sama orang tua kalau berdebat bisa sedikit kasar panas, misal rame masalah tahlilan, masalah kuburan, dll.

Tapi seiring perjalanan masa, lama-kelamaan ada juga perasaan ganjil yang muncul, kok sepertinya aku menjadi orang yang sangat keras sekali kalau ada perbedaan, perjalanan kembali menghantarkan ketika akhirnya bertemu dengan salah seorang ustadz lulusan dari LIPIA Jakarta, yang saat itu mengatakan, “Setelah saya membaca semua kitab fiqh madzhab yang ada, saya semakin memahami bagaimana harus bersikap terhadap perbedaan.”

Puncak ketidakpercayaan kegelisahan terhadap jama’ah ini sebenarnya muncul setelah saat muncul kajian berjudul “Pedang Terhunus Kepada Ja’far Umar Thalib” (hii … judul kajiannya aja mengerikan sekali), yang kemudian dibalas dengan kajian oleh kelompok Ustadz Ja’far yang menyerang jama’af salafi yang lain. Sehingga saat itu di jogja terkenal dua kelompok salafi, yakni Salafi Utara Lor (degolan a.k.a Ust. Ja’far) dan Salafi Selatan Kidul (jamilurrahman a.k.a Ust. Abu Nida’).

Fitnah inilah yang semakin menguatkan ketidakpercayaan tadi, bagaimana mungkin, dua-duanya mengaku mengikuti manhaj salaf, dua-duanya mengaku paling benar dalam mengikuti salafush shalih, yang terjadi justru klaim-mengklaim. Dua-duanya merasa dirinyalah yang berada di jalan paling benar. Inilah yang terjadi, jika klaim kebenaran hanya berlaku bagi kelompoknya sendiri, barangkali mereka lupa perkataan Imam Malik rahimahullah yang mengatakan bahwa semua perkataan dapat diambil dan ditolak kecuali pemilik kubur ini (sambil menunjuk makam Nabi SAW). Klaim kebenaran dengan semena-mena dinisbatkan kepada satu kelompok saja. Belakangan kelompok Salafi ini pun pecah lagi menjadi tiga, Salafi Ja’fariyyun, Salafi Sururiyin (Abu Nida’ dkk), dan Salafi Garis Keras. Makin rumit kan? semuanya ngaku sebagai thoifah al manshuroh (yang diselamatkan di hari kiamat). Satu hal lagi yang membuatku enggan dan keluar dari kajiannya salafi adalah hobi mereka yang suka menganjing-anjingkan dan “membantai” dengan kata-kata buruk kepada orang lain yang tidak sama pendapatnya dengan mereka.

Meskipun demikian, semuanya masih membawa atribut yang sama, yakni terlalu mudah membid’ahkan orang lain. Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah. Meski kadang dalam membid’ahkan sesuatu banyak sekali inkonsistensi yang muncul. Yang pada akhirnya, ditertawakan tidak dipercayai oleh orang lain. Ada satu nasihat yang pernah diberikan kepada saya tentang bid’ah-bid’ah ini, “Akhi, antum catat saja semua perkara bid’ah yang mereka sebutkan. Tulis baik-baik, taruh dalam dompet, buka 10 tahun lagi.” Eh belum ada 10 tahun, boro-boro, baru satu tahun aja kadang fatwanya sudah berubah lagi.

Berikut daftar-daftar bid’ah dan kesesatan yang dulu pernah dibuat oleh mereka yang kemudian dimentahkan sendiri, terus terang saya tidak ada bukti otentik dan ilmiah sehingga pasti saya mudah diserang arena dianggap menebar fitnah, tapi yang ada adalah ingatan saya selama cukup banyak berinteraksi dengan mereka. Semoga ingatan saya tidaklah salah.

  1. Organisasi. Pertama kali salafi muncul, mereka enggan berorganisasi, karena bagi mereka Nabi Muhammad SAW tidak pernah berdakwah dengan cara organisasi. Nggak ada yang namanya ketua, bendahara, ketua bidang ini, ketua bidang itu, dll. Namun sekarang kita lihat, dimana-mana yayasan salafi bergerak pada bidang pendidikan, kesehatan, dll. Kemudian mereka juga terlibat sebagai pengurus takmir masjid. Apa itu namanya bukan organisasi? Masih ingat jelas, dulu mereka paling anti masuk ROHIS (Kerohanian ISLAM), alasannya, Rohis adalah organisasi …
  2. Kuliah/Sekolah di Universitas/Sekolah Negri. Jangan harap jika anda adalah salafi generasi awal, anda bisa merampungkan kuliah. Karena kuliah dulu adalah tempat ikhtilath alias tempat campur baur wanita dan laki-laki. Tidak layak untuk diikuti. So, saat itu populer disebut sebagai gerakan Ingkar Kampus. Secaranya pada DO dengan sadar diri. Tapi sekarang? Mana ada kampus negri (at least di Jogja yang saya tahu) yang tidak ada Salafi. Lihat aja di UGM, banyak sekali temen-temen salafi yang masih tekun menyelesaikan pendidikannya di kampus negri, padahal jelas-jelas dia adalah tempat ikhtilath.
  3. Foto/Video. Kalau yang satu ini, kelompok Salafi cukup terpecah belah, kalau macam Salafinya ustadz Abu Nida’ kukira sudah cukup kompromistis dengan foto dan video. Karena sudah sering kulihat di friendster, rekan-rekan salafi kidul yang pada narsis majang foto-foto mereka :-D. Tapi, masih ada yang konsisten kok, Salafi garis kerasnya masih ada yang sampai sekarang gak sudi difoto maupun divideo. Dulu sih sempat pendapatnya gini yang gak boleh adalah foto, sementara video boleh. Gubraks, saat itu sama seorang kawan aku tertawa, gimana gak tertawa, apa mereka gak tahu, bahwa video itu adalah kumpulan Foto (still picture) yang diganti-ganti dalam frame (pelajari tuh MPEG theory). Aneh bin ajaib aneh banget deh …
  4. masih ada, tapi gak usah ditulis, kepanjangan nanti …

Pernah suatu ketika saya tanya, “Ahlul bid’ah itu adalah sebutan bagi pelaku bid’ah kan?“, “Iya …“, “terus qunut shubuh itu bid’ah bukan?“, jawabnya “Iya ..“, “Terus apa anda berani mengatakan bahwa Imam Syafi’i yang menganjurkan Qunut Shubuh sebagai Ahlul Bid’ah …???? “, “….diam seribu bahasa …“. * aku terus kabur sambil tersenyum meninggalkan dia yang kebingungan *

  1. lelaki_gua says:

    kalo memang TV / video hukum asalnya haram karena gambar makhluk hidupnya, pastilah cermin juga mutlak haram.

  2. Mbah Goby says:

    weleh..2, mbah 3 thn ini bertapa nggantung untuk menenangkan diri dan cari pangsit cucu2ku jaman dulu antosalafy beradu argumen dan adu urat leher dengan wak dul somad dan buanyak lagi…ternyata sekarang masih ada serialnya yaa ??? cucu2ku saayang hidup ini sederhana jangan dipersulit. kebiasaan dari jaman dulu nih setiap orang alim ahli ilmu biasanya arif tutur katanya lembut, rendah hati kalau yang suka adu argumen apalagi mempersiapkan Al-Quran dan Hadist ( kalao yg islam) untuk menekuk-nekuk lawan dengan niat “aku yang paling benar ” wah tidak ada garansi, ingat kata pak ustad orang berilmu itu tidak kebal dari setan. firman ALLAH ” Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak yang lebih besar dari itu, melainkan dalam kitab yang nyata ( surah Yunus ayat 61″ mari periksa niat kita sebelum nenulis membantah, ber-argumen.manhaj seharusnya menjadi kendaraan untuk ” bertemu dengan Allah” apabila person masih membanggakan manhaj ulamanya sama aja mendapatkan hadiah mobil BMW (maaf pinjam merek bro) tiap hari dilap sampai kinclong cliing & siar ke tetangga kanan kiri pulau, maka BMW tersebut tidak membawa manfaat apapun begitu pula dg manhaj, sikap bangga kita pada golongan sehingga menutup mata hati dari kebenaran yang datang dari luar walaupun sesama umat nabi Muhammad apalagi merendahkan golongan yg beda pendapat, apalagi dengan bekal dalil dari ulama kebanggaan yang maaf2 bisa salah karena siapapun umat Muhammad tahu hanya beliulah yang terjaga dari salah. dlm surah Yunus Allah berkata ” Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”

  3. GOBY says:

    weleh..2, mbah 3 thn ini bertapa nggantung untuk menenangkan diri dan cari pangsit cucu2ku jaman dulu antosalafy beradu argumen dan adu urat leher dengan wak dul somad dan buanyak lagi…ternyata sekarang masih ada serialnya yaa ??? cucu2ku saayang hidup ini sederhana jangan dipersulit. kebiasaan dari jaman dulu nih setiap orang alim ahli ilmu biasanya arif tutur katanya lembut, rendah hati kalau yang suka adu argumen apalagi mempersiapkan Al-Quran dan Hadist ( kalao yg islam) untuk menekuk-nekuk lawan dengan niat “aku yang paling benar ” wah tidak ada garansi, ingat kata pak ustad orang berilmu itu tidak kebal dari setan. firman ALLAH ” Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak yang lebih besar dari itu, melainkan dalam kitab yang nyata ( surah Yunus ayat 61″ mari periksa niat kita sebelum nenulis membantah, ber-argumen.manhaj seharusnya menjadi kendaraan untuk ” bertemu dengan Allah” apabila person masih membanggakan manhaj ulamanya sama aja mendapatkan hadiah mobil BMW (maaf pinjam merek bro) tiap hari dilap sampai kinclong cliing & siar ke tetangga kanan kiri pulau, maka BMW tersebut tidak membawa manfaat apapun begitu pula dg manhaj, sikap bangga kita pada golongan sehingga menutup mata hati dari kebenaran yang datang dari luar walaupun sesama umat nabi Muhammad apalagi merendahkan golongan yg beda pendapat, apalagi dengan bekal dalil dari ulama kebanggaan yang maaf2 bisa salah karena siapapun umat Muhammad tahu hanya beliulah yang terjaga dari salah.dengan firman Allah ” Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”

  4. Assalamu'alaykum….

    Saudaraku betapa kasihannya dirimu, Setan macam apa yang ada ditubuhmu. baru kali ini ada orang yang mengaku islam tapi tidak mau diislamkan, ketahuilah bahwa syirik dan bid'ah yang dikau banggakan itu yang akan membawa mu ke Al-Jahim. harusnya bersyukur masih ada orang yang mau membid'ahkan kebid'ahan mu…lain tidak terserah sampeyan Mas mau ngikut apa ora salafy sing penting aku dah nyampein yang Haq, ngga ada paksaan masuk salafyin bukan Sururi atau ja'fariyun itu bukan salaf bukan seperti yang sampeyan kira….liat dong bedanya iso moco qur'an lan ngerti sunnah ora sampeyan, perlu ditest memang wong iki. ora sembarang ngomong mas lagi pada diketawain nih ama orang " Islam". udah mendingan diselesaiin dulu iqronya kalau dah lancar ta' muroja'ah yoo… "afwan krn antum yang perlu diketawain kami hanya menyampaikan yang haq jika engkau tertawa sama dengan kau mentertawakan Allohu ta'ala dan Rosul-Nya,semoga antum bisa baca tulisan ini.

    Wassalamu'alaykum….
    ABu Habil As-salafy

  5. reza says:

    wah wah..ada huru-hara
    semoga pendapat saya bisa membantu pemahaman yang shahih

    [quote]katany cuma satu mazhab islam yg masuk surga diantara 72 mazhab[/quote]
    bukan mahzab pakde, dalam Shahihul Bukhari yang dimaksud kelompok pecahan (firqah) itu mungkin semacam “sekte”, yang mana dalam sudut pandang ulama AhlusSunnah adalah kelompok yang sangat menyimpang secara aqidah dan metodologi istimbath (orang salafi menyebutnya “manhaj”)

    Penafsiran lanjutan dari hadist “Akan terpecah umatku (Muhammad Rasulullah) menjadi 73 golongan dan yang masuk surga hanya 1, yaitu Al-Jama’ah” adalah hadits lainnya yang berisikan pertanyaan salah satu sahabat (saya lupa namanya), “Apakah yang dimaksud Al-Jama’ah?”..dijawab Rasullullah: “Yaitu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. Kira2 begitulah terjemah dalam bahasa Indonesia, mungkin agak beda dikit dari makna aslinya sih. Tapi intinya adalah Al-Jama’ah mengisyaratkan pada suatu “jalan hidup” atau metode atau manhaj (istilah orang salafi), jadi bukan jama’ah secara fisik kasat mata seperti PKS, IM, HTI, …. bahkan ada yang mengatakan bahwa seseorang yang “terdampar” sendirian di laut/hutan hingga ajalnya, ia tetap dapat masuk kepada AhlusSunnah (pemegang teguh Sunnah Nabi) wal Jama’ah (penerus jalan hidup Nabi) selama ia mampu menerapkan dalil-dalil yang dikuasainya, mampu beristimbath (berfatwa) sehingga memunculkan fikih “hutan” atau “laut” sesuai keperluan/kedaruratan dirinya. Bisa jadi tiap hari dia makan daging babi namun tidak di-vonis sebagai dosa :)

    Yang perlu dicermati adalah…

    1. Bid’ah itu secara syar’i memang punishment nya sekelas Ma’shiyat (baca: maksiat) tapi…

    2. Terkadang ada sedikit “overlap” antara niatan maslahah mursalah (misalnya ngaji rutin di TKA/TPA tiap Senin-Kamis jam 4 sore) yang bisa disalah artikan sebagai “bid’ah”, mirip pengajian Kamis malam di kampung-kampung. Sudah menjadi kewajiban da’i atau panitia acara bersangkutan yang menjelaskan posisi kegiatan tsb dalam syariat

    3. Kasus seperti pada poin (2) biasanya divonis tanpa babibu sebagai “bid’ah fil ibadah” oleh kelompok garis keras yang ushul fiqhnya -maaf- masih lemah, yang memang hukumnya fatal jika itu benar2 bid’ah. Contoh bid’ah fil ibadah yang sudah jelas2 bid’ah adalah: Puasa Ngebleng 3 hari 3 malam gak buka, Puasa Mutih hanya makan nasi dan air putih, atau malah bertapa di gunung :)
    Bid’ah fil ibadah diancam hukuman kurungan serta denda minimal 100 milyar dollar..hehehe ya gak lah yang jelas pasti disiksa di neraka

    4. Bid’ah fil aqidah. Nah ini yang paling berat, karena sangat dekat dengan kemusyrikan, contoh: tawasul (minta berkah) ke orang yang sudah mati, termasuk tawasul ke kubur Nabi pun sama saja

    5. Selain itu kondisi per individu bisa sangat bervariasi untuk mampu menjalankan syariat scr sempurna, oleh karena itu dengan tanpa bermaksud menyelisih Sunnah dan menyetujui bid’ah, perlu disadari tiap orang tidak bisa langsung serta merta meninggalkan bid’ah yang sudah ada bertahun2 di suatu negeri. Paling tidak di dalam hatinya telah tertanam kebenaran dan pemahaman yang haq sehingga hati mulai mengingkari meski fisik masih menjalankan

    “Dan bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu”

    Semoga bermanfaat, dan mohon dikoreksi jika ada salah-salah ketik/kata/kutip

  6. Goby says:

    ABu Habil As-salafy,mengatakan : Setan macam apa yang ada ditubuhmu.(Goby menjawab :adakah islam mengajarkan untuk mengumpat, bukanlah perkataan itu hanya pantas dilakukan oleh pelaku dosa ( pemabuk,pelacur dll dan tidak pantas diucapkan oleh ahli ibadah !). abu Habil as-salafy mengatakan: ketahuilah bahwa syirik dan bid’ah yang dikau banggakan itu yang akan membawa mu ke Al-Jahim. harusnya bersyukur masih ada orang yang mau membid’ahkan kebid’ahan mu.(Goby menjawab:belum memahami kalimatnya udah komentar,padahal islam mengajarkan untuk teliti dan hati2.) abu Habil as-salafy mengatakan: liat dong bedanya iso moco qur’an lan ngerti sunnah ora sampeyan, perlu ditest memang wong iki. ora sembarang ngomong mas lagi pada diketawain nih ama orang ” Islam”. udah mendingan diselesaiin dulu iqronya kalau dah lancar ta’ muroja’ah yoo… (Goby menjawab: mencomooh, merendahkan orang lain serta menganggap diri paling pintar, membanggakan diri bukan ajaran Islam, Islam mengajarkan memperbaiki ahklak sebagaimana hadist nabi ” AKU DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK. perawi : Baihaqi & Hakim, silahkan teliti kekuatan hukum hadist ini).abu Habil as-salafy mengatakan:afwan krn antum yang perlu diketawain kami hanya menyampaikan yang haq jika engkau tertawa sama dengan kau mentertawakan Allohu ta’ala dan Rosul-Nya,semoga antum bisa baca tulisan ini. (Goby menjawab:adakah Rosulullah Muhammad SAW mengajarkan ucapan diatas yaitu menghina orang lain ? haq menurut siapa ? kalau hak menurut Al-Quran & Hadist maka saya ikuti dan menyampaikan yang Haq haruslah dengan cara yang Haq pula sebagaimana digariskan didalam Al-Quran Dan Sunnah) saudara ABu Habil As-salafy boleh jadi anda sudah pinter moco Al- Quran.abu Habil as salafy mengatakan : semoga antum bisa baca tulisan ini.(goby menjawab”: saya sudah baca dan mengerti ternyata akhlak anda dalam berbicara jauh dari akhlak yang diharapkan oleh Nabi & ALLAH, Allah mengajarkan untuk berdakwah secara bijasana dan mengajarkan untuk bicara yang lembut. Hadist Riwayat Ahmad & Abu Dawud “ Sesungguhnya seorang Mukmin dengan Akhlak yang baik dapat menggungguli kedudukan orang yang selalu ibadah dimalam hari dan puasa disiang hari.( silahkan teliti kekuatan hukum hadistnya).dan Allah Ta;ala berfirman
    وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
    سورة الأحزاب ٥٨

    ‘Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
    ( Al-Ahzab :58 )dan… وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ (سورة الحج٨٨)
    Silahkan artikan sendiri bukankah anda mengatakan kepada saya. liat dong bedanya iso moco qur’an lan ngerti sunnah ora sampeyan, perlu ditest memang wong iki. ora sembarang ngomong mas lagi pada diketawain nih ama orang ” Islam”. udah mendingan diselesaiin dulu iqronya kalau dah lancar ta’ muroja’ah yoo ( dari ucapan ini anda menggambarkan diri anda sendiri sebagai orang yang ahli Al-Quran & Sunnah ) sekali lagi silahkan artikan sendiri ayat diatas.
    Didalam berdebat terkandung berbagai bencana: dosanya lebih besar daripada manfaatnya, sumber dari segala perilaku tercela seperti riya, hasad, sombong, dendam ( hiqd), permusuhan, BERMULUT BESAR dll.
    Semoga kita terhindar dari semua sifat tersebut.
    saudara2 saya tulis Habil dengan H huruf besar pada nama abu Habil as-salafy adalah sebagai penghormatan saya kepada putra nabi Adam

    Wassalam
    Goby

  7. Jafar says:

    @antosalafy:Mas nanya aja, adakah orang yg ngaku salafy ini matinya senyum ??? ato mengucap kalimat??? Jenazahnya wangi ???
    Pernyataan dan pertanyaan yang mencerminkan kesombongan dan watak serta wawasan yang sempit. Apakah sampeyan pernah mengikuti proses pemakaman seorang Kyai besar misal di Jawa Timur?
    Saya punya kakek yang ketika dia dikafani wajahnya bercahaya dan senyum tipis mengembang di bibirnya.
    Saya juga punya kakek buyut yang ketika makamnya hendak dipindahkan kain kafannya masih utuh dan tidak rusak sama sekali.
    Kedua kakek saya itu bertradisi NU tapi Allah SWT memuliakan keduanya.
    Sekarang pertanyaan balik untuk para Wahabi akan seperti apakah jenazah orang yang suka menghujat, mencela, menghina dan menuduh bid’ah orang Islam lainnya.
    Wallahu ‘alam bisshawab.
    Untuk anto salafy kayanya aktif banget nih nyebar2 komentar di blog2 anti Wahabi.

  8. Cecep says:

    Wah punten nih, tentang orang yang matinya senyum, ato mengucap kalimat syahadat, ato jenazahnya wangi, ato wajahnya bercahaya ketika di kafani, tersenyum tipis ketika di kafani, ato yg kain kafannya utuh setelah sekian lama dikubur, apa itu semua pertanda orang tsb dimuliakan oleh Allah dan sudah pasti jadi penghuni surga? Hadits shahih ttg itu ada ya?

    Soalnya beberapa kali saya melihat kakek saya, mertua saya, dll saat meninggal tidak punya seluruh pertanda itu tadi, padahal mereka orang2 yg taat beribadah… sedih deh…

  9. amru says:

    niat perbaiki niat, diri dan amal…siapa siap…..insyaallah

  10. abdurrahim says:

    korban diri, harta dan massa insyaallah

  11. Goby says:

    Siip bang Amru & Abdurrahim,

  12. gusta says:

    yang di bahas kok sisi jelek nya mlulu…..pake kacamata kuda ya…?

  13. fauzi says:

    numpang lewat mas..

  14. Metamaulana says:

    Assalamu’alaikum wr wb

    piye kabare pren, isih kelingan aku ra.. bagi-bagi job dong!
    omahmu ndi.. anak wes piro?
    saiki nyaleg ora.. dapil piro?

    komentar sithik sithik.. IM HTI NU Salafy Muhammadiyah dll itu sama saja kok, memang ada perbedaan pendapat tapi itu karena belum dewasa aja.. dulu Muhammadiyah dikritik habis2an sama HT yang menyebabkan saya keluar dari HT tapi sekarang ternyata HT mulai kompromi demikian juga Salafy dulu keras sekarang kompromis. Sama juga dengan yang lainnya. Yang saya amati sekarang adalah proses pendewasaan. Perbedaan pendapat biasa kok yang tidak biasa itu kalo trus digembor-gemborkan. Nah sing gembar-gembor ini ada beberapa kemungkinan, antara lain:
    1. Orang jahil/bodoh yang fanatik/تعصب
    2. Orang yang sengaja mengadu domba, biasanya penyusup(bisa intel, bisa juga Yahudi, bisa juga kelompok Syiah yang tidak suka Sunni dll tapi saya tidak tahu pasti). Nah mereka ini di dalam PKS/IM, HTI, Salafy, NU, Muhammadiyah dan organisasi2 dakwah lain, tapi sebenarnya mengintai dan kemudian mengacaukan

  15. Metamaulana says:

    hati hati wae lah ojo gelem diadu.. orang(nek domba ndak dipadakke wedhus)

  16. Metamaulana says:

    email YMmu ganti po kang kok ra tau online.. aku ittaqa@yahoo.com

  17. MasRoy says:

    nice artikel! pancen kadang-kadang jengkel karo cah-cah sing dho nggaya nyok mbid'ah-mbid'ahke! koyo paling bener dhewe.

  18. wanmuslim says:

    komen to meta maulana:
    aneh..anda ngga biasa dialek ya mas…sekedar share ini adalah bagian dari pergolakan pemikiran kemanusiaan..khususnya dunia islam..jangan takut berbeda karena itu sebuah keniscayaan,selama masih napas berarti perbedaan itu akan terus ada…sangat utopis ketika kita bermimpi dunia ini hanya ada satu keyakinan,satu mazhab/manhaj..keyakinan ironi seperti itu kebanyakan lahir dari institusi yang jumud…anda tidak perlu mencari kambing hitam (seperti kebiasaan para pengecut), bukalah cakrawala kalo perlu keliling dunia jangan di arab wae…karena islam bukan arab, islam membawa kebenaran universal..bukan kebenaran yang dipaksakan..dan tak gamang oleh penyusup..yang kita khawatirkan adalah ketika hak Allah sudah dirampas oleh kaum yang menyebut dirinya paling benar, karena pada saat yang sama mereka akan membenarkan semua tindakannya bahkan membunuh orang tak bersalah pun menjadi sebuah kebenaran…maksud saya adalah ketika kekerasan dijadikan pembenaran atas setiap perbedaan. Saat merasa terancam oleh perbedaan penafsiran, kekerasan verbal biasanya mulai lahir..apakah Rasulullah datang untuk membawa ajaran seperti itu..ehm..ini menurut saya aja mas,"sangat picik" dan tanpa sengaja kita merendahkan martabat Rasulullah, Islam tidak serakah untuk ditaati..tanpa kita pun islam ini slalu akan mulia secara essensial..kita yang slalu menarik ajaran ini ke belakang dan ke bawah…ironi memang,tapi inilah kenyataan potret umat Islam saat ini..memang kalo yahudi kenapa mas..kalo syiah juga kenapa mas…takut..?? atau cuma khawatir…?? hehe…maaf kepanjangan ini sekedar menyampaikan uneg2 aja mas,udah ngalor ngidul ke mana2..buat mas yang punya blog, salam kenal..smoga slalu dalam lindungan Allah..Amin

  19. umu salma says:

    ketika saya datang ke as sofwa di lenteng agung ( biara salafy turotsi), ustadz2 as sofwa bilang haram hukumnya bermajelis dan bertalim dengan salafy yamani.

    ketika saya hadir di Jalan Haji Asmawi Jakarta selatan ( biara salafy wahdah islamiyyah), pendeta2 salafy wahdah bilang salafiyyin aliran turotsi itu hizbi antek PKS dan ikhwanul muslimin yang termasuk 72 golongan yang masuk neraka jahanam.

    ketika saya hadir ditaklim salafy yang ada di masjid hidyatusalihin poltangan pasarminggu ( gereja markas geng salafy sururi), ustad2nya bilang kalau salafy wahdah islamiyyah adalah khawarij anjing2 neraka yang menggunakan sistem marhala.

    ketika saya hadir di masjid fatahillah ( salah satu sinagog salafy yamani), rabi-rabi salafy yamaninya bilang kalau salafy sururi, salafy haroki, salafy turotsi, salafy ghuroba, salafy wahdah islamiyyah, salafy MTA, salafy persis, salafy ikhwani, salafy hadadi, salafy turoby bukanlah salafy tapi salaf-i (salafi imitasi) yang khawarij, bidah dan hizbi.

    Jafar Umar Thalib (salafy ghuroba) bilang kalau Abdul Hakim Abdat ( salafy turotsi)itu ustad otodidak yang pakar hadas ( najis) bukan pakar hadis

    Muhamad Umar As Seweed ( salafy yamani) bilang kalau Jafar Umar Thalib itu ahli bidah dan khawarij. bahkan komplotan as seweed bikin buku dengan judul ” pedang tertuju di leher Jafar Umar Thalib” yang artinya Jafar Umar Thalib halal dibunuh

    Abdul Hakim Abdat (salafy turotsi) bilang kalau salafy Wahdah Islamiyyah itu sesat menyesatkan dan melakukan dosa besar (hanya) dengan mendirikan yayasan/organisasi.oragnisasi adalah hizbi.

    salafy Wahdah Islamiyyah bilang kalau kalau salafy Yamani dan Abdul Hakim Abdat itu salafy2 primitif dan terbelakang yang hanya cocok hidup di jaman puba atau pra sejarah.

    pokoknya tak terhitung lagi perseteruan antar salafy. dan….ini baru kisah perseteruan antar sesama salafy, belum lagi perseteruan salafy dengan NU, Persis, Muhamadiyyah, Majelis Rasulullah, PKS, DDII, tarbiyyah, Nurul Musthofa, HTI dan banyak lagi.

    ironis sekali, salafy yang mengaku2 anti perpecahan, anti hizbi kok malah berperan sebagai aktor utama perpecahan umat islam.juga sebagai biang kerok kekisruhan dikalangan ahlu sunnah. salafy sendirilah penyebab dakwah salafusalihin menjadi hancur berantakan.

    ironis sekali, rabi-rabi salafy yang konon belajar jauh2 dan lama2 ke timur tengah, tapi ditataran basic yaitu akhlak, sangat bejat dan arogan.

    mereka tak ubahnya seperti orang dungu narsis yang tenggelam di lautan tumpukan buku2 tebal.

    yah…keledai ditengah tumpukan buku2 tebal tetap saja keledai.

    jangan halangi dakwah salaf, biarkan salafy sendiri yang menghalangi dakwah salaf.

    jangan memecah belah barisan salaf, karena barisan salaf akan berpecah belah dengan sendirinya dan secara alami.

    jangan hancurkan salafy, karena cukup salafy sendiri dengan kesadaran penuh dan suka cita menghancurkan dirinya sendiri.

    sudah terlalu lama firqoh salafy dari apapun alirannnya dan sektenya melukai umat islam, melukai ahlu sunnah, melukai ahlu atsar dengan gaya2nya yang egomaniak. mungkin sekarang tiba saatnya pembalasan dari Allah azawajalla.

    gara2 cara dan tabiat orang salafylah yang menyebabkan masyarakat awam menjadi benci terhadap sunnah

  20. Masrufin says:

    Pada asalnya salafi bukan organisasi mas tapi sifat, ya kalo ngaku2 salafi banyak yg kalian gunjingkan itu kelemahan oknum saja mas2 dan mbak2 ya…so yg adil ya sama saudara salafi …

  21. Masrufin says:

    Prinsip dunia:"kerjakanlah selama tidak ada larangan" sedangkan untuk agama :"jangan beramal (ibadah)kecuali ada perintah" ok

  22. rudy says:

    ana tertarik untuk mengkaji salaf, kira2 dimanakah ana dapat mendaftar untuk menjadi anggota salafi ya? terus salafy mana yang sebaiknya ana ikuti? turotsi, yamani, assofwa, wahdah islamiyyah atau turobi?

  23. umar seweed says:

    wah, bagus sekali argumen2 diatas. salut deh buat akh salma, memang baik sekali semua kesesatan salafy itu diungkap agar umat islam tidak tertipu dengan salafy. saya punya teman salafy yang mengatakan dia tidak pernah memakai celana dalam, ketika ditanya kenapa? jawab si salafy itu: sebab celana dalam tidak ada prakteknya di zaman nabi. hahahahahahaha. mosok celana dalam saja hukumnya bidah?. begitulah, dibalik penampilan dan seragam yang selalu dikenakan salafy yaitu jalabiy, mereka ternyata tidak memakai celana dalam. hahaha. yang begini ini yang menyebabkan islam jatuh ke jaman kemunduran. listrik bidah ( lihat darul hadis dammaj yang anti listrik), organisasi bidah, kotak sedekah bidah, alunan adzan bidah, semmmmmmua bidah.ya Allah lindungilah umat islam dari fitnahnya salafy

  24. yomyor says:

    buat yunus, hamba asatidz salafy.salafy2 memang ngga mau dikritisi, ngga mau dinasihati. apabila ada pihak yang menasihati salafy sudah pasti maka orang tersebut pasti di labeli ‘ahlu ahwa’, ‘ahlu bidah’. salafy memang jagonya labelling. paling suka ngejek2 muslim lainnya. tapi sekalinya diingatkan mereka marah besar. begitulah aklahk kotornya salafy. padahal Rasulullah sudah menasihatkan , 2 golongan yang dikategorikan sombong dan arogan adalah orang yang meremehkan orang lain dan menolak al haq. salafy sudah memenuhi 2 kategori tersebut. siapa yang selamat dari pelecehan salafy? tidak ada bukan? . lalu apabila salafy dinasihati, mereka menolak mentah2. sungguh salafy merupakan firkoh sesat yang arogan.

    sekarang coba antum kunjungi situs2 salafy macem salafy indonesia.com dan milis2 salafy dan semua blog salafy. disitu pasti ada menu wajib yang mensesat2kan ormas muslim lainnya atau muslim lainnya. NU, Muhammadiyyah, PKS, HTI,Al Irsyad, PERSIS dan banyak lagi dicap dan divonis sesat oleh para asatidz dungu salafy. dicap khawarij oleh salafy, dicap anjing2 neraka oleh salafy, dicap hizbi sesat oleh salafy, dicap bagian 72 firkoh yang masuk neraka jahanam.dengan tulisan yang sarat dan fitnah.

    coba antum beli majalah2 salafy macam nashihah, assunah dll, antum baca disitu pasti disediakan satu kolom khusus yang isinya menghujat umat muslim lainnya, terlebih terhadap ikhwanul musliminin, DDII, dan MUI. antum jangan belagak ngga tau, jangan munafik lah. kalau antum ngga tau berarti antum kemungkinan besar anak baru di komunitas firqoh salafy. belum punya pengalaman apa2.

    coba antum datang ke masjid salafy, para penjual2 kaki limanya ( yang ada dihalaman masjid) hampir kompak menjual vcd2 yang isinya mencela umat islam selain dari hizbi salafi.

    soal berselancar diinternet? hahaha antum membuka aib golongan antum sendiri. salafy2 itu doyan thulabulilmynya justru di internet, macam diradio rodja, baca2 di blog salafy. nyari ilmunya lewat baca2 buku terjemahan doang.mereka adalah golongan otodidak (mushafi). makanya antum liat taklim2 salafy. banyaknya cuma awal2 doang. makin lama taklim salaf makin sepi. antum dan semua sudah tau.kalau dakawah salaf itu cuma eksis didunia internet.ustad2nya dan murid2nya pada males berdakwah dialam nyata. kenapa salafy agresif didunia internet? sebab selain males berdakwah didunia nyata, mereka bebas memfitnah muslim lainnya tanpa tanggung jawab. siapa jadinya yang pengecut?? siapa jadinya yang produsen fitnah yang paling hebat?? ya salafy itu.

    antum tau kan ketika ulama NU mengajak debat terbuka pada salafy di jawa timur setelah salafy memnggencarkan propaganda anti NU. eh ustad2 salafy ngga ada satupun yang dateng.

    antum taukan masjid2 NU, aswaja dan Muhamadiyyah banyak yang dibajak oleh salafy? padahal masjid2 itu didanai lewat uang para nahdliyyin, para muslim dimuhamadiyyah. begitu juga dengan pembangunannya, semua dengan tenaga Nadhdliyyin. salafy2 itu ngga nyumbang uang dan tenaga sedikitpun, tiba2 datang dan menguasai masjid dengan alasan semua masjid itu milik orang muslim. memang benar semua masjid milki orang muslim, tapi salafy mengabaikan tata krama dan etika. hantam kromo.

    coba yunus, sebelum antum ngejelek2 in umat muslim lainnya, antum nasihati dulu tuh temen2 salafy antum, plus sama ustad 2amoral antum.benar kata pepatah kuman diseberang lautan keliatan, gajah dipelupuk mata tidak keliahatan. kesalahan muslim non hizbi salafy sekecil apapun pasti keliatan oleh salafy, tetapi salafy tidak sadar aib besar yang ada di hadapannya.

  25. salafi_parah says:

    Yaah .. salafi gadungan mah jangan diikuti …

    kalo ada dua kelompok saling mengklaim, maka:

    1. mustahil keduanya benar …
    2. hanya satu yang benar (itu pun siapa?)
    3. keduanya sesat …

  26. riyan says:

    mau sharing saja ini yang terjadi pada saya:
    sering sekali dalam hati berkata : ya Rasulullah SAW , saya mempercayai ajaran yang engkau bawakan. hanya saja realita sekarang saya bingung ya Rasulullah. Mau ikutan salafy ko ya banyak masalah2 cabang yang jika org berpendapat lain dibidahkan, mau ikutan ihwanul muslimin kok ya lihat IM Indonesia aka PKS sekarang agaknya beda dgn yang dulu..lihat iklan2-nya kok kayanya gakkonsisten antara IM dan iklan2 PKS yang ada lelaki bertindik menyerupai perempuan atopun wanita tanpa jilbab. kurang konsisten atau entah ini strategi dakwah tapi apa ya boleh kaya gini?

    Ya Alloh semoga ke depan semakin jelas Islam seperti apa yang engkau inginkan mengingat kami semakin samar melihat seiring jauhnya masa2 kami dari kekasihMu dan orang yang insyaAlloh kami cintai Rasulullah Muhamad SAW.

    jadi saya adalah org yang tidak terlihat melakukan apa2 karena bingung, kalo para aktivis menyebut saya sebagai futur.

    kayanya emang nuansa kapitalisme yang melingkupi dunia ini yg akan menghancurkan Islam. Ya Alloh lingungilah kami tunjukanlah kami jalan yang benar.bukan jalan yang sesat dan Engkau murkai

    -love IM way but not the politics and party

    salam taaruf,
    flyingaloneeagle@yahoo.com

  27. wahyono bin parmo says:

    kl melihat sesuatu dari luarnya memang tidak akan mendapatkan dalamnya..

    kl memang inginmenghukumi sesatu y harus tahu luar dalamnya….

    dari banyak tulisan, yg dibahas luarnya semua…. ini saya kira kurang arif….manusia tidak lepas dari salah, siapa tahu yang ditampakan sebenarnya bukanlah yg diajarkan..

    contoh gampangnya, anak SMA mencuri handpone temennya, apa perbuatan ini menunjukkan SMA mengajrkan mencuri, nggak tho…

    intinya….mending yg dilihat dalamnya…bener atw kagak, klpun lht luarnya, apakah luarnya ini merupakan ajaran dalamnya atw bukan…

    y begitulah, intinya ayo belajar, banyak lho yg blum qt pahami…..
    solat gmn, haki gmn, zakat gmn, aqidah gmn, syirik gmn.. dst…dst…..
    y tho..y tho..???

  28. reli tamba says:

    menurutku juga kurang fair masyarakat muslim indonesia dalam penilaiannya terhadap komunitas salafy, sebab menurutku memang tidak arif menyamaratakan salafy, karena yang aku saksikan salafy itu ada jenis “salafy baik” dan ada jenis dari “salafy jahat”. jadi penilannya kurang tepat kalau mengenerakisir kalau salafy itu jahat

  29. abu layyin says:

    Bismillah,
    Yah,…sudah muntah semua?
    baik sekarang saya jelaskan dengan dalil dan bukti nyata:

    1. Salafi adalah benar semata

    2. Jangan ikuti majelis `ilmu orang yang mengaku dirinya Salafy padahal dia antek2/mata2 ikhwanul muslimin yaitu seorang yang merasa dirinya ustadz padahal belumlah lagi dia hafal Al-Quran, namanya Luqman Ba`abduh, tapi selainnya, selama dia bermanhaj Salaf silahkan. Mengapa?

    a. karena Luqman sudah di tahdzir oleh Syaikh Yahya (penerus Syaikh Muqbil). Buktinya, minta saja copy-an CDnya sama Ikhwan Sendang Mulyo Semarang. Kalau sudah dengar CDnya masih ndak percaya juga, dipersilahkan menghubungi langsung Syaikh Yahya atau Syaikh Robi`melalui Telephone yang nomornya bisa Antum semua dapatkan melalui Ustadz Muhsin di ma`hadnya di Magetan atau Ustadz Dzul Akmal di Riau, tanyakan kepada para Syaikh siapa Luqman Ba`abduh itu, dan perhatikan apa kata Syaikh Robi` tentang Luqman Ba`abduh.

    b. Coba perhatikan dan simak baik-baik setiap perkataannya yang dia selipkan disetiap majelis ta`lim yang dia adakan, camkan dan ta`awudzlah, maka akan antum sekalian dapati bahwa dialah penyebab utama perpecahan dikalangan salafiyin di Indonesia. Bagaimana ana tau? karena beliau dulunya pernah duduk di majelis Syaikh Yahya, dan Syaikh Yahya dengan kedalaman `ilmunya beliau lebih tau siapa murid2nya dan memang dari Yaman, Luqman sudah sering membuat rusuh. Tapi ingat, Luqman ini licik bukan cerdik. Jadi banyak dari kalangan Ikhwan yang terbius dengan penampilannya dan gaya bicaranya yang sebagian berupa sihir.

    c. lanjut besok ya, sudah malam.

    Tapi yang jelas memang ini hal yang mengagetkan. Betapa tidak! sudah terlalu banyak Ikhwan yang berdiri dibelakang Luqman Ba`abduh, seperti Ikhwan Veteran, Jogja, Ikhwan Cirebon, hingga ke utara sumatera dan Batam.Mereka mengagumi Luqman Bak artis populer. Tapi kenyataannya sudah ana paparkan sebagian diatas.
    O ya, ada memang beberapa Ustadz yang tampaknya belum mengenal siapa Luqman ini, diantaranya:
    – Ustadz Qomar (temanggung)
    – Ustadz Abdul Mu`thi (Jogja)
    – Ustadz Abdul Jabbar (jogja)
    – Ustadz Abdul Haq (jogja)
    – Ustadz Idral (Solo)
    – Ustadz Mukthar (Solo)
    – dan mungkin sekarang malah hampir sebagian besar Ustadz sudah tertipu oleh Luqman ini.

    Tapi ketahuilah, bahwa adanya Salafy Makasar, Riau, Magetan, Solo jogja, dan Semarang, yang semua ini seolah2 terpecah-pecah adalah ulah dari Luqman Ba`abduh.
    Mau kenal Luqman Ba`abduh lebih jauh? tanyakan pada petinggi2 laskar jihad waktu di Ambon (terutama)-karena ana pun salau satu dari mereka- seperti apa pelanggaran2 syariat yang dilakukan oleh Luqman Ba`abduh, seperti apa kebengisan dan kebobrokan moral Luqman Ba`abduh saat makin sesatnya ia dalam masa-masa perang di Ambon. Ini bukti, bukan katanya. karena antum betul2 bisa lacak kebenaran yang ana sampaikan, karena ana beritahu petunjuknya bagaimana dan kepada siapa Antum untuk bertabayyun.
    Jadi sekali lagi, jangan tertipu! ingat, kita punya Ahlu Hadits bukhory dan Muslim yang beliau merupakan murid kesayangan Syaikh Muqbil, yang beliaulah satu2nya siswa yang dikecualikan untuk menjawab soal-soal dari Syaikh Muqbil disaat Syaikh memberikan pertanyaan dalam majelis `ilmunya, beliaulah satu2nya yang ditawarkan Syaikh muqbil untuk menikah dengan putrinya, beliaulah satu2nya yang saat ini dekat dengan Syaikh Robi`, Syaikh Yahya, Syaikh Sholih Fauzan dan Para aimah baik di Mekkah, Medinah maupun Yaman. Antum semua pasti kenal walau tak ana sebutkan namanya, tapi antum malu untuk mengakuinya, karena apa? karena ulah Luqman Ba`abduh! sadarilah wahai saudaraku. Tak kah terbesit untuk banyak bertanya tentang `ilmu kepada Sang Ahlu Hadits yang ana sebutkan ciri2nya barusan? dan jauhilah Luqman, Suruhlah atau paksalah dia untuk kembali duduk di majelis `ilmu bersama para tholibul `ilmi lainnya di majelis `ilmu Syaikh Yahya.
    Na`m, tampaknya sementara cukup ini dulu. Silahkan bertanya atau menanggapi, ana akan jawab dengan senang hati. O ya, afwan kalau ada yang tidak ana jawab, itu karena antum ana kelompokkan pada orang-orang yang belum boleh ikut2an bicara dalam hal ini. forum tanya jawab terbatas, tapi untuk membaca dan menyanggah silahkan saja sepuas2nya seperti yang antum muntahkan diatas. ini info hanya untuk Salafiyun yang mau memakai mata hatinya.
    BarokAllahufikum.

  30. rinjani rajab says:

    Dari: Wahyu
    Topik: Salafy dalam kacamata saya

    Rekan-rekan yang dirahmati Allah, jangankan Ust. Abu Sangkan yang berilmu, saya yang pernah jadi panitia Ramadanpun pernah dikasih dalil untuk dibunuh dan diperangi. Hanya karena membuat jadwal kultum Ramadhan, yang beberapa diantaranya diisi oleh Ibu-ibu yang tentu saja tidak di mimbar namun tetap di tempat Ibu-ibu. Dengan alasan suara wanita adalah aurat. Meskipun kita bertemu saat sholat, namun si ikhwan salafy ini tidak pernah menyampaikan secara langsung namun melalui sebuah surat. Dengan redaksi yang cukup jelas 'membunuh' dan diperangi, maka saya datangi ikhwan tersebut. Namun apa yang terjadi, dia hanya cengengas-cengenges tidak berkata-kata saat saya berkata: "Saudara mau bunuh saya. Ayo … silahkan jangan hanya berani lewat surat dan memprovokasi, ini orangnya disini".

    Sayapun menggunakan
    dalil dari teman lulusan Gontor yang menyatakan bahwa banyak hadits yang disampaikan oleh sahabiyah terutama dari Aisyah RA. Kalau memang demikian maka banyak sekolah yang tidak boleh menjadikan wanita sebagai pengajar, wanita yang bekerja harus diam, wanita tidak boleh bicara langsung dengan lawan jenis meskipun dengan hijab dst. Setelah saya datangi, gonggongan itupun berhenti. Namun setelah kejadian itu, saya dan dia merasa tidak ada masalah ataupun dendam dan kami tetap bersalaman apabila bertemu.

    Pengalaman dengan ikhwan salafy yang lain. Suatu saat saya berbincang dan mengkritisi tentang sibuknya mereka yang mengkafirkan orang-orang yang bersyahadat. Kemudian saya beri teguran Allah dalam surat Al Hujurat:11. Saat saya membacakan surat tersebut, dia menyela dan tidak memberikan saya kesempatan menyelesaikan ayat Allah tersebut dan mengatakan, bahwa saya tidak berhak mengartikan ayat tersebut?!!. Saya terdiam cukup lama. What? Al Quran pun
    ternyata ditolak? Inikan terjemahan bukan tafsir?! Saya kaget dengan sanggahan tersebut, sekaligus menjawab apa yang sesungguhnya ada dalam benak mereka.

    Kesimpulan tentang kelompok ini :

    1. Tidak ada yang salah dengan ayat maupun sunnah yang digunakan oleh sauadara salafy ini, 100% semunya benar (meskipun ada web yang menceritakan inkonsistensi ulama mereka tentang derajat hadits saya tetap anggap 100 % benar), namun kebenaran itu disusun dan diolah sedemikian rupa untuk digunakan untuk memaksa orang mengikuti jalan pemikiran kelompok dan pendahulunya.

    2. Al Quran dan hadits dianggap sampah (tidak berguna), saat diucapkan oleh orang di luar kelompoknya, dengan alasan kapasitas keilmuan yang tidak mumpuni.(Disinilah terlihat akidah yang sesungguhnya, pendapat guru melebihi Al Quran dan sunnah, dan memuja jalur keilmuan terutama lulusan Univ. Madinah dan guru-guru pelopor aliran ini)

    3. Berdebat dalam rangka mencari kebenaran
    menjadi sia-sia dan bahasa yang mereka kenal hanya bahasa kekerasan seperti yang mereka gunakan dalam buku-buku mereka, sikap mereka dan di penjara-penjara Saudi terhadap kelompok yang menentang ulama mereka.

    4. Lucunya adalah kelompok saudara kita ini memiliki prinsip "PERANGI/KERAS" terhadap bid'ah (baca: orang Islam yang belum menjadi kelompok) dan muamalah (baca: lemah lembut) terhadap orang kafir. Kelompok ini banyak memiliki penganutyang bekerja di perusahaan-perusaha an minyak dan tambang Amerika dan Eropa. Negara Saudi telah mewakili keadaan tersebut.

    Menurut saya lagi, Allah sebetulnya telah memberi pelajaran tentang perbedaan ini pada masa pemerintahan Khalifah Ali RA, dimana 2 kelompok sahabat yang sama-sama memegang Al Quran, sama-sama memegang sunnah, sama-sama dicintai Allah dan dijamin masuk surga, saling bunuh membunuh. Siapun yang mendukung satu kelompok maka ke 2 2 nya adalah menghina sahabat Rasulullah. Siapa yang
    mengatakan Ali RA melindungi pembunuh Utsman RA maka dia menghina ahlul bait, siapa yang mengatakan Aisyah RA memberontak maka dia telah menghina istri Rasulullah.naudzubi llah. Siapa yang menggunakan hadits:

    "Apabila dua orang Muslim saling bertarung dengan menghunus pedang mereka, maka pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka."

    maka sesungguhnya mereka telah menistakan, menghakimi dan menodai sahabat Radiyallahuanhum. ..naudzubillah

    Jadi pendapat saya adalah:

    1. "TIDAK ADA KEBENARAN MUTLAK SETELAH RASULULLAH WAFAT, dalam kasus PERSELISIHAN ANTARA 2 KELOMPOK KAUM MUSLIMIN TENTANG SUATU MASALAH DIMANA KEDUA-DUANYA MEMILIKI DALIL YANG BERSUMBER DARI QURAN DAN SUNNAH KEDUA-DUANYA ADALAH BENAR" Kemaslahatan yang paling penting, bukan siapa yang paling
    benar.

    2. BERSATU DALAM PERSAMAAN DAN SALING MENGHORMATI DALAM PERBEDAAN

    3. BILA ADA MASALAH DENGAN SALAFY CUKUP INGATKAN SUPAYA BERJALAN DI ATAS KEYAKINAN MASING-MASING, BAHWA KITA AKAN KERAS KALAU TERUS MENYEBARKAN FITNAH DAN KEBENCIAN.

    Wallahualam.

    "Ya Allah berilah kami cahaya, kebijaksanaan, kesabaran, petunjuk dalam menghadapi perselisihan dan fitnah diantara kaum muslimin. Bukannya kami saling membenci, ya Allah, tapi karena kedhoifan dan kebodohan kami, maka tunjukillah kami ya Allah Amin"

  31. Abu Said says:

    Mengapa Harus Bermanhaj Salaf?

    Penulis : Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari
    Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.
    Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj () dan salaf (). Manhaj () dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).
    Sedangkan salaf (), menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).
    Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf () adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafi atau As Salafi, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).
    Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).
    Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.
    Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita:
    “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)
    Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut:
    1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
    “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)
    Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).
    Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya.
    Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.
    2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)
    Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).
    Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.
    Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.
    3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).
    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.
    Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367).
    Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut:
    1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455).
    Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya.
    Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).
    2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
    “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).
    Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).
    Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37).
    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).
    Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.
    3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
    “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: (golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) bagi apa yang diperselisihkan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara:
    – Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam.
    – Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan.
    – Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79).
    Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.
    Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena:
    1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus.
    2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam.
    3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya.
    4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
    5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
    Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika:
    1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).
    2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil melalui kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54).
    3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88).
    4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil melalui kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88)
    5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57).
    6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).
    Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).
    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.
    Sumber: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82

  32. Ibnu Ahmad says:

    Barangkali tulisan yg di tempel abu said (Mengapa harus bermanhaj Salaf?) bisa jadi jawaban buat semua yg lagi pada berdebat. Khususnya mas andri yang lagi bingung he he…

  33. Nurdin says:

    Waduh kalau gontok2an terus kapan bisa bersatu. Ilmu Islam itu sangat luas masa dikalahin gara2 kunut2 atau cara2 Shalat. Gak mungkin islam bersatu jika didasari pemikiran yg sempit ataupun kepentingan golongan. Dimana Islam yg sempurna Rahmat seluruh Alam kalau ngurusin muslim aja gak bisa. Islam agama yg hak pemberantas kebodohan. Bila kita belum bisa menelusuri antara agama yg kita kenal (pandangan ataupun keyakinan) sampai menjadi penyebab kebodohan itu sendiri niscaya kita belum mengenal sempurnanya Islam.
    Belajar ilmu Alloh itu laksana orang menyelam kedalam lautan dimana semakin dalam semakin besar tekanan. Namun jika kita belum mengenal ganasanya ombak kehidupan, tidak mungkin kita bisa memahami. Sedangkan berenang saja belum bisa.
    Jangan berpikir tentang agama hanya urusan akhirat saja. Karena kita tidak mungkin bisa melihat akhirat dengan ainul yakin tanpa memahami pelajaran2 didunia. Dimana kita harus memahami keduanya dengan ilmu. lawannya kebodohan adalah ilmu.
    Jika kita menginginkan ilmu Alloh kenalilah ciptaaNYA.
    1. Mengenal diri sendiri sebagai mahluk Alloh >manusia>pemimpin dimuka bumi
    2. Mengenal sesama ; manusia sebagai mahluk sosial
    3. Mengenal Alam sebagai satu kesatuan antara kehendak dengan ketetapanNYA (takdir) ; sebab-akibat sebagai bukti bahwa Alloh mengharamkan kedholiman bagi diriNYA.
    4. Mengenal Alloh.
    Jadi untuk mengenalnya melewati 2 definsi 2 & 3.

  34. Nurdin says:

    Ada 3 sumber kebenaran menurut Al-Qur’an ; Al-Kitab, Hikmah, Kenabian. Sebagaimana Rosululloh meninggalkan 2 perkara kepada kita salah satunya beliau sendiri sebagai nabi. Hikmah itu setiap nabi diberi hikmah. Begitu juga kita mengenal adanya hikmah yaitu perjalanan hidup kita terhadap kehendak-ketetapanNYA. Sudahkah kita menuju kehendakNYA? Itu yg harus dipetanyakan.
    Kebenaran itu tidak akan menempati golongan tertentu karena kebenaran yg hak itu Alloh. Manusialah pengukurnya.
    Jangan melihat gaibnya alam ini, tapi lihatlah gaibnya hati. niscaya kita bisa melihat segala persoalan dengan jelas. Sucikanlah hati agar kta tidak tertutup (tabir/selimut)

  35. Nurdin says:

    1.Sunah Rosul itu adalah perilaku dimana Rosululloh mencontohkan kepada kita dalam menjalankan agama. Atau singkatnya saat Rosul mengemban risalahnya.
    2.Sunatulloh itu Alam semesta ini, dimana kehendak dan ketetapanNYA berlaku

  36. salafy says:

    jangan bingung klo di bid'ahkan… makanya belajar

  37. abu alif says:

    salaf adalah para shahabat, sedangkan salafi berarti pengikut salaf.sebagaimana maliki-berarti pengikut imam malik- atau hambali-berarti pengikut imam imam ahmad bin hambal- dan lain-lain.

    salafi berarti seseorang mengikuti jalan yang ditempuh oleh rasululloh dan para shahabatnya.

    jika dikatakan kepada seseorang bahwa ia salafi berarti suatu pujian yang sangat besar kepadanya.

    salafi bukanlah suatu golongan yang dibatasi oleh tempat dan waktu…

    jika ingin menjadi anggota dari golongan ini tidak perlu untuk meregistrasi menjadi member secara tertulis..

    cukuplah ia beragama sebagaimana agama yang dianut oleh para shahabat..

    dalam Aqidahnya, Ibadah, dan akhlak..

    maka ia langsung terdaftar dalam golongan salafi, ahlussunnah, aljam’ah, al firqotun annajiya dimana didalamnya ada rasululloh-sebagai ketuanya- dan para shahabatnya-sebagai tangan kanannya”orang kepercayaan”-

    sekarang tinggal lihat diri kita apakah kita sudah beraqidah sebagaimana Aqidah mereka, beribadah sebagaimana ibadah mereka, dan berakhlak sebagaimana akhlak mereka..

    Tapi kebanyakan manusia tidak memahami pernyataan itu-dalam paragaraf sebelumnya-

    padahal konsekuensi dari itu semua tentunya dengan adanya dalil yang shahih-dari Qolalloh qolla rasul wa qola shahaba-

    dalam hal wudhu saja sudahkah kita tau dalilnya, tidakkah kita pernah berfikir samakah wudhu saya dengan wudhu rasululloh..-karena kebanyakan kaum muslimin mempelajari tata cara wudhu dari sumber yang tidak menyertakan dalilnya-

    tidakkah terlintas di benak ini.. apakah cara berdiri, sujud, dan takbir saya ketika sholat sudah sama dengan cara rasululloh dan para shahabatnya..-padahal kita tau bahwa sumber hukum islam itu adalh alqur’an dan sunnah, lantas kenapa kita masih mengikuti yang tidk ada sumbernya-

    jika seperti itu akankah ada ketenangan dan kekhusyu’an didalamnya…

    dan akankah kita masih mengaku sebagai salafi..atau ahlussunnah..

    dan beragama yang benar dengan dalil-alqur’an dan sunnah’ yang shahih pemahaman yang shahih-manhaj salaf- itu semua tidak mungkin-mustahil- kita dapatkan kecuali dengan MENUNTUT ILMU SYAR’I dan ini yang banyak orang lalai darinya…

    mengenai pemahaman, sebenarnya para ulama’ telah bersepakat tentang wajibnya mengikuti pemahaman para shahabat…

    bukti kongkritnya-yang banyak orang-orang tidak berfikir kesini- adalah….
    lihatlah bagaimana ulama2 kita menafsirkan Alqur’an, didalam kitab-kitab mereka…silahkan telaah kitab2 tersebut seperti ibnu katsir, alqurtubi, dan lain-lain..
    Apakah tafsiran-tafsiran itu kebanyakan memuat penafsiran dan pandangan mereka?jawabnya”tidak” mereka banyak memuat perkataan para shahabat dan murid-murid mereka(ibnu abbas, ibnu mas’ud, mujahid, qotadah dll) sebagai acuan utama dalam menafsirkan Alqur’an

    begitu juga jika kita menelaah kitab-kitab hadits,seperti bukhori, muslim, al muwatho’ dll, apakah yang dinukil hanya sabda rasululloh saja?al jawab:”tidak” tapi dimuat juga banyak perkataan para shahabat…
    maka pahamailah, akh…

    semoga kita dan seluruh kaum muslimin diberikan taufiq oleh Alloh untuk menjadi seorang salafi yang sejati.

    jadi langkah pertama adalah menuntut ilmu dari sumber-sumber yang memilki dalil yang shahih-baik dari firman Alloh, sabda rasul, dan ucapan shahabat-…

    cari dan bacalah..bacalah buku2 dan ingat siapa pengarangnya…..jika kalian rutin melakukannya niscaya kalian akan tau sendiri siapa-siapa penulis-ulama’-yang diatas sunnah dan siapa yang tidak…

    ketahuilah, jika kita tidak mengikuti jalan yang benar dalam mengambil islam….semkin anda mempelajarinya maka akan semakin bingung…kalau tidak sesat…kalau tidak gila…atau bisa saja murtad…

    lihatlah bagaimana kisah-kisah para Ulama’ dahulu yang mereka memahami islam menurut mereka sendiri atau gurunya atau teman-temannya yang tidak mengikuti pemahaman para shahabat kemudian mereka bertaubat dan mengakui adanya kebingungan dan rusaknya akal serta kesiasiaan yang dialaminya semasa tidak mengikuti manhaj salaf-pemahaman para shahabat- seperti abu hasan alasyari dan abu hamid alGhozali

    saya selama mengikuti tarbiyah selama 3 tahun, jika saudara-saudara kita yang berkecimpung didalamnya memahami bahwa majelis yang sering mereka gunakan untuk menuntut ilmu agama…ada masa-masa jenuhnya, karena ilmu yang dipelajari itu-itu saja dan tidak ada peningkatannya…

    memang awalnya saya banyak mendapatkan ilmu tapi lama-kelamaan tidak ada sama sekali peningkatannya…bahkan ilmu-ilmu yang disampaikan banyak yang tidak valid dan salah…saya tau akan salahnya karena disamping liqo saya juga membaca buku-buku yang alhamdulillah yang ditulis oleh ulama’ sunnah-dimana ciri mereka yang utama selalu menyertakan dalil yang shahih, sehingga saya bisa dengan pasti beragama, bukan dengan keragu-raguan-
    -semoga Alloh memberikan kebahagiaan sebagaimana yang diperoleh oleh rasululloh dan para shahabatnya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk, dan semoga Alloh memberikan hidayah bagiorang-orang yang belum mendapatkannya-inni uhibbuka fillah ya ikhwahfillah

  38. someone says:

    astaga… bagaimana klo yg membaca postingan diatas beserta komen2nya adalah org mualaf ya.. jadi tambah bingung mempelajari Islam donk.. kug org2nya malah pada ribut sendiri… :|

  39. mamed says:

    Memang benar, Saya pun merasakan hal yang sama dengan Antum, tapi niatkanlah diri jita sebagai THOLIB ( Pencari ‘Ilmu ) dah TITIK..

    Sampai saat ini pun Saya juga mengaji kepada para Asatidz Salafy Lor dan Salafy Kidul, Bagiku semua ialah BENAR jika sesuai dengan Al-Qur’an Wal Sunnah….

    “Idza Shohal Haditsi wa Huwa MADZHABI…”

    Wallohu a’alam

  40. Eko Ujianto says:

    Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?

    Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

    Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

    Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

    Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21).

    Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) biasa disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash), disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah (sebagaimana yang akan disebutkan dalam hadits Tsauban). (Untuk lebih rincinya lihat kitab Ahlul Hadits Humuth Thaifatul Manshurah An Najiyyah, karya Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al Madkhali).

    Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, pemimpin tertentu, partai tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

    Manhaj salaf merupakan manhaj yang harus diikuti dan dipegang erat-erat oleh setiap muslim di dalam memahami agamanya. Mengapa? Karena demikianlah yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran dan demikian pula yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam Sunnahnya. Sedang kan Allah telah berwasiat kepada kita: “Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisa’: 59)

    Adapun ayat-ayat Al Quran yang menjelaskan agar kita benar-benar mengikuti manhaj salaf adalah sebagai berikut: 1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Al Fatihah: 6-7)

    Al Imam Ibnul Qayyim berkata: “Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya…, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah.” (Madaarijus Saalikin, 1/72).

    Penjelasan Al Imam Ibnul Qayyim tentang ayat di atas menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mereka itu adalah Salafush Shalih, merupakan orang-orang yang lebih berhak menyandang gelar “orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah” dan “orang-orang yang berada di atas jalan yang lurus”, dikarenakan betapa dalamnya pengetahuan mereka tentang kebenaran dan betapa konsistennya mereka dalam mengikutinya. Gelar ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami dienul Islam ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar, dan berada di atas jalan yang lurus pula.

    2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An Nisa’: 115)

    Al Imam Ibnu Abi Jamrah Al Andalusi berkata: “Para ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin disini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan generasi pertama dari umat ini, karena mereka merupakan orang-orang yang menyambut syariat ini dengan jiwa yang bersih. Mereka telah menanyakan segala apa yang tidak dipahami (darinya) dengan sebaik-baik pertanyaan, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah menjawabnya dengan jawaban terbaik. Beliau terangkan dengan keterangan yang sempurna. Dan mereka pun mendengarkan (jawaban dan keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut), memahaminya, mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, menghafalkannya, dan menyampaikannya dengan penuh kejujuran. Mereka benar-benar mempunyai keutamaan yang agung atas kita. Yang mana melalui merekalah hubungan kita bisa tersambungkan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dengan Allah Ta’ala.’” (Al Marqat fii Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin –red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

    Setelah kita mengetahui bahwa orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (As Salaf), dan juga keterkaitan yang erat antara menentang Rasul dengan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, maka dapatlah disimpulkan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti “manhaj salaf”, jalannya para sahabat.

    Sebab bila kita menempuh selain jalan mereka di dalam memahami dienul Islam ini, berarti kita telah menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan akibatnya sungguh mengerikan… akan dibiarkan leluasa bergelimang dalam kesesatan… dan kesudahannya masuk ke dalam neraka Jahannam, seburuk-buruk tempat kembali… na’udzu billahi min dzaalik.

    3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (At-Taubah: 100).

    Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mengkhususkan ridha dan jaminan jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (As Salaf) semata, akan tetapi orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah dan jaminan surga seperti mereka.

    Al Hafidh Ibnu Katsir berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengkhabarkan tentang keridhaan-Nya kepada orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, dan ia juga mengkhabarkan tentang ketulusan ridha mereka kepada Allah, serta apa yang telah Ia sediakan untuk mereka dari jannah-jannah (surga-surga) yang penuh dengan kenikmatan, dan kenikmatan yang abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/367). Ini menunjukkan bahwa mengikuti manhaj salaf akan mengantarkan kepada ridha Allah dan jannah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
    فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ Artinya : “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu).” [QS Al Baqoroh: 137]

    Adapun hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebagai berikut: 1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham…” (Shahih, HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Darimi, Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455). Dalam hadits ini dengan tegas dinyatakan bahwa kita akan menyaksikan perselisihan yang begitu banyak di dalam memahami dienul Islam, dan jalan satu-satunya yang mengantarkan kepada keselamatan ialah dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin (Salafush Shalih). Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan agar kita senantiasa berpegang teguh dengannya. Al Imam Asy Syathibi berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam -sebagaimana yang engkau saksikan- telah mengiringkan sunnah Al Khulafa’ Ar Rasyidin dengan sunnah beliau, dan bahwasanya di antara konsekuensi mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka…, yang demikian itu dikarenakan apa yang mereka sunnahkan benar-benar mengikuti sunnah nabi mereka  atau mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik secara global maupun secara rinci, yang tidak diketahui oleh selain mereka.”(Al I’tisham, 1/118).

    2. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Terus menerus ada sekelompok kecil dari umatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka, sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Shahih, HR Al Bukhari dan Muslim, lafadz hadits ini adalah lafadz Muslim dari sahabat Tsauban, hadits no. 1920).

    Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata (tentang tafsir hadits di atas): “Kalau bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak tahu siapa mereka?!” (Syaraf Ashhabil Hadits, karya Al Khatib Al Baghdadi, hal. 36).

    Al Imam Ibnul Mubarak, Al Imam Al Bukhari, Al Imam Ahmad bin Sinan Al Muhaddits, semuanya berkata tentang tafsir hadits ini: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (Syaraf Ashhabil Hadits, hal. 26, 37). Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini merupakan tanda dari tanda-tanda kenabian (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), di dalamnya beliau telah menyebutkan tentang keutamaan sekelompok kecil yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan setiap masa dari jaman ini tidak akan lengang dari mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendoakan mereka dan doa itupun terkabul. Maka Allah ‘Azza Wa Jalla menjadikan pada tiap masa dan jaman, sekelompok dari umat ini yang memperjuangkan kebenaran, tampil di atasnya dan menerangkannya kepada umat manusia dengan sebenar-benarnya keterangan. Sekelompok kecil ini secara yakin adalah Ahlul Hadits insya Allah, sebagaimana yang telah disaksikan oleh sejumlah ulama yang tangguh, baik terdahulu ataupun di masa kini.” (Tarikh Ahlil Hadits, hal 131).

    Ahlul Hadits adalah nama lain dari orang-orang yang mengikuti manhaj salaf. Atas dasar itulah, siapa saja yang ingin menjadi bagian dari “sekelompok kecil” yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, maka ia harus mengikuti manhaj salaf.

    3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “…. Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya: ‘Siapa dia wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab: golongan yang aku dan para sahabatku mengikuti.” (Hasan, riwayat At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Iman, Bab Iftiraqu Hadzihil Ummah, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).

    Asy Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad Dahlawi Al Madani berkata: “Hadits ini sebagai nash (dalil–red) dalam perselisihan, karena ia dengan tegas menjelaskan tentang tiga perkara: – Pertama, bahwa umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih dan menjadi golongan-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat di dalam memahami agama. Semuanya masuk ke dalam neraka, dikarenakan mereka masih terus berselisih dalam masalah-masalah agama setelah datangnya penjelasan dari Rabb Semesta Alam. – Kedua, kecuali satu golongan yang Allah selamatkan, dikarenakan mereka berpegang teguh dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengamalkan keduanya tanpa adanya takwil dan penyimpangan. – Ketiga, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menentukan golongan yang selamat dari sekian banyak golongan itu. Ia hanya satu dan mempunyai sifat yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits hal 78-79). Tentunya, golongan yang ditentukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah yang mengikuti manhaj salaf, karena mereka di dalam memahami dienul Islam ini menempuh suatu jalan yang Rasulullah dan para sahabatnya berada di atasnya.

    Berdasarkan beberapa ayat dan hadits di atas, dapatlah diambil suatu kesimpulan, bahwa manhaj salaf merupakan satu-satunya manhaj yang harus diikuti di dalam memahami dienul Islam ini, karena: 1. Manhaj salaf adalah manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus. 2. Mengikuti selain manhaj salaf berarti menentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berakibat akan diberi keleluasaan untuk bergelimang di dalam kesesatan dan tempat kembalinya adalah Jahannam. 3. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf dengan sebaik-baiknya, pasti mendapat ridha dari Allah dan tempat kembalinya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, kekal abadi di dalamnya. 4. Manhaj salaf adalah manhaj yang harus dipegang erat-erat, tatkala bermunculan pemahaman-pemahaman dan pendapat-pendapat di dalam memahami dienul Islam, sebagaimana yang diwasiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. 5. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah sekelompok dari umat ini yang senantiasa tampil di atas kebenaran, dan senantiasa mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 6. Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf, mereka adalah golongan yang selamat dikarenakan mereka berada di atas jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika: 1. Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63). 2. Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq, karya As Suyuthi, hal. 322, saya nukil dari kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 54). 3. Al Imam Abul Mudhaffar As Sam’ani berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al Intishaar li Ahlil Hadits, karya Muhammad bin Umar Bazmul hal. 88). 4. Al Imam Qawaamus Sunnah Al Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi sahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, 2/437-438, saya nukil dari kitab Al Intishaar li Ahlil Hadits, hal. 88) 5. Al-Imam As Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf, maka ia adalah kesesatan.” (Al Muwafaqaat, 3/284), saya nukil melalui Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah, hal. 57). 6. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).

    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dienul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu a’lamu bish shawaab.

    (Dikutip dari tulisan Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari, Lc, judul asli Mengapa Harus Bermanhaj Salaf, rubrik Manhaji, Majalah Asy Syariah. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=82)

  41. Eko Ujianto says:

    Hakikat Dakwah Salafiyah
    Artikel Ini Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

    PERTANYAAN

    Berkembangnya dakwah Salafiyah di kalangan masyarakat, dengan pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, adalah suatu hal yang sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu sendiri, sehingga bisa menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya!

    JAWABAN

    Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

    Salafiyah adalah pensifatan yang diambil dari kata سَلَفٌ (salaf) yang berarti mengikuti jejak, manhaj dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama سَلَفِيُّوْن َ (salafiyyun), yaitu bentuk jamak dari kata Salafy, yang berarti orang yang mengikuti Salaf. Kadang pula kita mendengar penyebutan para ulama Salaf dengan nama As-Salaf Ash-Shâlih (pendahulu yang shalih).

    Dari keterangan di atas, secara global sudah bisa dipahami apa yang dimaksud dengan Salafiyah. Tetapi kita akan menjelaskan tentang makna salaf menurut para ulama, dengan harapan bisa mengikis anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu organisasi, kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan menodai kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ini.

    Kata Salaf ini mempunyai dua definisi: dari sisi bahasa dan dari sisi istilah .

    Definisi Salaf Secara Bahasa

    Berkata Ibnu Manzhûr dalam Lisânul ‘Arab , “Dan As-Salaf juga adalah orang-orang yang mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu, yang mereka itu (berada) di atas kamu dari sisi umur dan keutamaan. Karena itulah, generasi pertama di kalangan tabi’in dinamakan As-Salaf Ash-Shâlih.”

    Berkata Al-Manâwi dalam At-Ta’ârîf jilid 2 hal. 412, “As-Salaf bermakna At-Taqaddum (yang terdahulu). Jamak dari kata salaf adalah أََسْلاَفٌ (aslaf).”

    Masih banyak rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa, yang dapat dilihat dalam Mauqif Ibnu Taimiyyah Minal ‘Asyâ’irah jilid 1 hal. 21.

    Jadi, arti salaf secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan yang pertama. Mereka dinamakan salaf dikarenakan mereka adalah generasi pertama dari umat Islam.

    Definisi Salaf Secara Istilah

    Istilah salaf di kalangan ulama mempunyai dua makna: secara khusus dan secara umum .

    Makna salaf secara khusus adalah generasi permulaan umat Islam dari kalangan shahabat, tabi’in (murid-murid para shahabat), Tabi’ut Tabi’in (murid-murid para tabi’in) dalam tiga masa, yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâry, Muslim dan lain-lainnya, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyatakan,

    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

    “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.”

    Makna khusus inilah yang diinginkan oleh banyak ulama ketika menggunakan kata salaf, dan kita akan menyebutkan beberapa contoh dari perkataan para ulama, yang mendefinisikan salaf dengan makna khusus ini atau yang menggunakan istilah salaf dan mereka inginkan dengannya makna salaf secara khusus.

    Berkata Al-Bâjûry dalam Syarh Jauharut Tauhîd hal. 111, “Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu dari para nabi, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.”

    Berkata Al-Qâlasyâny dalam Tahrîrul Maqâlah Syarh Ar-Risâlah , “As-Salaf Ash-Shâlih yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu, yang mengikuti petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam lagi menjaga sunnah-sunnah beliau. Allah memilih mereka untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya. Mereka itulah yang diridhai oleh para imam umat (Islam). Mereka berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, mencurahkan (seluruh kemampuan) dalam menasihati dan memberi manfaat kepada umat, serta menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai keridhaan Allah.”

    Berkata pula Al-Ghazâly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljâmul ‘Awwâm ‘An ‘Ilmil Kalâm hal. 62, “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan tabi’in.”

    Lihat Limâdzâ Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf hal. 18-19.

    Berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam Al-Ibânah Min Ushûl Ahlid Diyânah hal. 21, “Dan (di antara yang) kami yakini sebagai agama adalah mencintai para ulama Salaf yang mereka itu telah dipilih oleh Allah ‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan Nabi-Nya, dan kami memuji mereka sebagaimana Allah memuji mereka, serta kami memberikan loyalitas kepada mereka seluruhnya.”

    Berkata Ath-Thahâwy dalam Al-‘Aqîdah Ath-Thahâwiyah , “Dan ulama Salaf dari generasi yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari kalangan tabi’in, (mereka adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan), Ahli Atsar (hadits), serta ahli fiqih dan telaah (peneliti). Tidaklah mereka disebut melainkan dengan kebaikan, dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan, maka dia berada di atas selain jalan (yang benar).”

    Juga Al-Lâlikâ`i, dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah Wal Jamâ’ah jilid 2 hal. 334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Qura, dialah yang berada dilangit, berkata, “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya, dan menolak mukjizat Nabi-Nya serta menyelisihi para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelahnya dari para ulama umat ini.”

    Berkata Al-Baihaqy dalam Syu ’ abul Imân jilid 2 hal. 251 tatkala beliau menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya : “Dan mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.”

    Dan berkata Asy-Syihristâny dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal. 200, “Kemudian mengetahui letak-letak ijmâ’ (kesepakatan) shahabat, tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Shalih sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijmâ’ (mereka).”

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayân Talbîs Al-Jahmiyah jilid 1 hal. 22, “Maka tidak ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang terdapat di tangan-tangan manusia menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf dari tiga generasi pertama mereka menyelisihinya.”

    Dan berkata Al-Mubârakfûry dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165, “… Dan ini adalah madzhab Salafus Shalih dari kalangan shahabat dan tabi’in dan selain mereka dari para ulama -mudah-mudahan Allah meridhai mereka seluruhnya-.”

    Dan hal yang sama dinyatakan oleh Al-’Azhim Âbâdy dalam ‘Aunul Ma’bûd jilid 13 hal. 7.

    Makna salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik dan orang-orang setelah tiga generasi terbaik ini, sehingga mencakup setiap orang yang berjalan di atas jalan dan manhaj generasi terbaik ini.

    Berkata Al-‘Allâmah Muhammad As-Safârîny Al-Hambaly dalam Lawâmi’ Al-Anwâr Al-Bahiyyah Wa Sawâthi’ Al-Asrâr Al-Atsariyyah jilid 1 hal. 20, “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhai mereka- berada di atasnya dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang mengikuti mereka dan para imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima perkataan-perkataan mereka ….”

    Berkata Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarh Al ‘Aqîdah Ath-Thahâwiyah hal. 196 tentang perkataan Ath-Thahâwy bahwasanya Al-Qur`ân diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Yakni merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah Salafus Shâlih.”

    Dan berkata Asy-Syaikh Shâlih Al-Fauzân dalam Nazharât Wa Tu’uqqûbât ‘Alâ Mâ Fî Kitâb As-Salafiyah hal. 21, “Dan kata Salafiyah digunakan terhadap jamaah kaum mukminin yang mereka hidup di generasi pertama dari generasi-generasi Islam yang mereka itu komitmen di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshâr dan yang mengikuti mereka dengan baik dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam mensifati mereka dengan sabdanya, ‘Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya ….’.”

    Dan beliau juga berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufîdah ‘An As`ilah Al-Manâhij Al-Jadîdah hal. 103-104, “As-Salafiyah adalah orang-orang yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya dalam hal aqidah, manhaj, dan metode dakwah.”

    Dan berkata Syaikh Nâshir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushûl I’tiqâd Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah hal.5, “As-Salaf, mereka adalah generasi pertama umat ini dari para shahabat, tabi’in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga generasi terbaik pertama. Dan kata As-Salaf juga digunakan kepada setiap orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang meniti dan berjalan di atas manhaj mereka.”

    Asal Penamaan Salaf dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf

    Asal penamaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam kepada putrinya, Fathimah radhiyallâhu ‘anhâ,

    فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

    “Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya.” (Dikeluarkan oleh Bukhâry no. 5928 dan Muslim no. 2450)

    Maka jelaslah bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah perkara yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat dan sesuatu yang telah lama dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya kita dari tuntunan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, maka muncullah anggapan bahwa manhaj Salaf itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman baru, dan anggapan-anggapan lainnya yang salah.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ Fatâwa jilid 4 hal. 149, “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab Salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran.”

    Berikut ini saya akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf sudah lama dikenal.

    Berkata Imam Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai seperti bangkai gajah dan lainnya, “Saya telah mendapati sekelompok dari para ulama Salaf mereka bersisir dengannya dan mengambil minyak darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak apa-apa.” Lihat Shahîh Bukhâry bersama Fathul Bâry jilid 1 hal. 342.

    Tentunya yang diinginkan dengan ulama Salaf oleh Az-Zuhry adalah para shahabat karena Az-Zuhry adalah seorang tabi’in (generasi setelah shahabat).

    Dan Sa’ad bin Râsyid (wafat 213 H) berkata, “Adalah para salaf, lebih menyenangi tunggangan jantan karena lebih cepat larinya dan lebih berani.” Lihat Shahîh Bukhâry dengan Fathul Bâry jilid 6 hal. 66 dan Al-Hâfizh menafsirkan kata salaf, “Yaitu dari shahabat dan setelahnya.”

    Berkata Imam Bukhâry (wafat 256 H) dalam Shahîh -nya dengan Fathul Bâry jilid 9 hal.552, “Bab bagaimana para ulama Salaf berhemat di rumah-rumah mereka dan di dalam perjalanan mereka dalam makanan, daging dan lainnya.”

    Imam Ibnul Mubârak (wafat 181 H) berkata, “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsâbit karena ia mencerca para ulama Salaf.” Baca Muqaddimah Shahîh Muslim jilid 1 hal. 16.

    Tentunya yang diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhâry dan Ibnul Mubârak tiada lain kecuali para shahabat dan tabi’in.

    Dan juga kalau kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan nasab, akan didapatkan para ulama yang menyebutkan tentang nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan para ulama Salaf), dan ini lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj Salaf juga adalah sesuatu yang sudah lama dikenal di kalangan ulama.

    Berkata As-Sam’âny dalam Al-Ansâb jilid 3 hal.273, “(Kata) Salafy dengan difathah (huruf sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti madzhab mereka.”

    Dan berkata As-Suyûthy dalam Lubbul Lubâb jilid 2 hal. 22, “Salafy dengan difathah (huruf sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada madzhab As-Salaf.”

    Berikut ini beberapa contoh para ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan) para ulama Salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada di atas jalan yang lurus yang bersih dari noda penyimpangan.

    Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 13 hal. 183, setelah menyebutkan hikayat bahwa Ya’qub bin Sufyân Al-Fasawy rahimahullah menghina ‘Utsmân bin ‘Affân radhiyallahu ‘anhu , “Kisah ini terputus, Wallâhu A’lam. Dan saya tidak mengetahui Ya’qûb Al-Fasawy kecuali beliau itu adalah seorang Salafy , dan beliau telah mengarang sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah.”
    Dan dalam biografi ‘Utsmân bin Jarzâd beliau berkata , “Untuk menjadi seorang Muhaddits (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau satu perkara tidak terpenuhi maka itu adalah suatu kekurangan. Dia memerlukan : Akal yang baik, agama yang baik, dhabth (hafalan yang kuat), kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya sifat amanah.”
    Kemudian Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata , “Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hâfizh (penghafal hadits) adalah : Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang Salafy , cukup bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka janganlah kamu berharap.” Lihat dalam Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 13 hal.280.

    Dan Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Dâraquthny , “Beliau adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam (ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang Salafy .” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 16 hal.457.
    Dan dalam Tadzkirah Al-Huffâzh jilid 4 hal.1431 dalam biografi Ibnu Ash-Shalâh, berkata Imam Adz-Dzahaby , “Dan beliau adalah seorang Salafy yang baik aqidahnya.” Dan lihat : Thabaqât Al-Huffâzh jilid 2 hal.503 dan Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 23 hal.142.
    Dalam biografi Imam Abul ‘Abbâs Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudâmah Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Beliau adalah seorang yang terpercaya, tsabt (kuat hafalannya), pandai, seorang Salafy ….” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 23 hal.18.
    Dan dalam Biografi Abul Muzhaffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Dia adalah seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab dan ilmu ‘arûdh, seorang Salafy , Atsary.” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 20 hal. 426.
    Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabîdy , “Dia adalah seorang Hanafy, Salafy .” Baca Siyar A’lâm An-Nubalâ` jilid 20 hal. 316.
    Dan dalam Biografi Musa bin Ibrâhim Al-Ba’labakky, Imam Adz-Dzahaby berkata , “Dan demikian pula beliau seorang perendah hati, seorang Salafy . ” Lihat Mu’jamul Muhadditsîn hal. 283.
    Dan dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrany, Imam Adz-Dzahaby Berkata , “Dia seorang yang beragama, orang yang sangat baik, seorang Salafy .” Lihat Mu’jam Asy-Syuyûkh jilid 2 hal.280 (dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufîdah hal.18).
    Berkata Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-Asqalâny dalam Lisânul Mîzân Jilid 5 hal.348 dalam biografi Muhammad bin Qâsim bin Sufyân Abu Ishâq , “Dan Ia adalah Seorang yang bermadzhab Salafy .”
    Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jamaah

    Sebelum terjadi fitnah bid’ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat Islam tidak dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum muslimin, kemudian setelah terjadinya perpecahan dan munculnya golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan mempropagandakan bid’ah dan kesesatannya dengan menampilkan bid’ah dan kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan melahirkan kebingungan ditengah-tengah ummat. Akan tetapi Allah Maha Bijaksana dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman,

    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” [ Al-Hijr: 9 ]

    Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

    لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

    “Terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.”

    Maka para ulama Salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang berada di atas kebenaran dan yang paling memahami aqidah yang benar dan tuntunan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam yang murni yang belum ternodai oleh kotoran bid’ah dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syariat diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran dari golongan-golongan sesat tersebut.

    Berkata Imam Muhammad bin Sîrin rahimahullah,

    لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ

    “Tidaklah mereka (para ulama) bertanya tentang isnad (silsilah rawi). Tatkala terjadi fitnah, mereka pun berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits mereka.’.”

    Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, selain dikenal sebagai Salafiyah, juga mempunyai penamaan lain yang menunjukkan ciri dan kriteria mereka.

    Berikut ini kami akan mencoba menguraikan penamaan-penamaan tersebut dengan ringkas.

    Al-Firqah An-Nâjiyah
    Al-Firqah An-Nâjiyah artinya golongan yang selamat. Penamaan ini diambil dari apa yang dipahami dari hadits perpecahan umat, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyatakan,

    افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَ فِيْ رِوَايَةٍ : مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيِوْمَ وَأَصْحَابِيْ.

    “Telah terpecah orang–orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah (golongan) dan telah terpecah orang-orang Nashara menjadi tujuh puluh dua firqah dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah Al-Jama’ah dalam satu riwayat, ‘Apa yang aku dan para shahabatkuberada di atasnya sekarang ini.’.” Hadits shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny dalam Zhilâlul Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahîh Al-Musnad Mimmâ Laisa Fî Ash-Shahihain rahimahumullah.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhâj As-Sunnah jilid 3 hal. 345, “Maka apabila sifat Al-Firqah An-Nâjiyah mengikuti para shahabat di masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan itu adalah syi’ar (ciri, simbol) Ahlus Sunnah maka Al-Firqah An-Nâjiyah mereka adalah Ahlus Sunnah.”

    Dan beliau juga menyatakan dalam Majmû ’ Al Fatâwâ jilid 3 hal. 345, “Karena itu beliau (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) menyifati Al-Firqah An-Nâjiyah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan mereka adalah jumhur yang paling banyak dan As-Sawâd Al-A’zham (kelompok yang paling besar).”

    Berkata Syaikh Hâfizh Al-Hakamy, “Telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam -yang selalu benar dan dibenarkan- bahwa Al-Firqah An-Nâjiyah mereka adalah siapa yang di atas seperti apa yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, dan sifat ini hanyalah cocok bagi orang-orang yang membawa dan menjaga sifat itu, tunduk kepadanya lagi berpegang teguh dengannya. mereka yang saya maksud ini adalah para imam hadits dan para tokoh (pengikut) Sunnah.” Lihat Ma’ârijul Qabûl jilid 1 hal.19.

    Maka nampaklah dari keterangan di atas asal penamaan Al-Firqah An-Nâjiyah dari hadits Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

    Diringkas dari Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah Min Ahli Ahwâ`i Wal Bid’ah jillid 1 hal. 54-59.

    Dan Berkata Syaikh Muqbil bin Hâdi Al Wâd’iy rahimahullah setelah meyebutkan dua hadits tentang perpecahan umat, “Dua hadits ini dan hadits-hadits yang semakna dengannya menunjukkan bahwa tidak ada yang selamat kecuali satu golongan dari tujuh puluh tiga golongan, dan adapun golongan-golongan yang lain di neraka, (sehingga) mengharuskan setiap muslim mencari Al-Firqah An-Nâjiyah sehingga teratur menjalaninya dan mengambil agamanya darinya.” Lihat Riyâdhul Jannah Fir Raddi ‘Alâ A’dâ`is Sunnah hal. 22.

    Ath-Thâifah Al Manshûrah
    Ath-Thâifah Al-Manshûrah artinya kelompok yang mendapatkan pertolongan. Penamaan ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,

    لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

    “Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.” (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Tsaubân dan semakna dengannya diriwayatkan oleh Bukhâry dan Muslim dari hadits Mughîrah bin Syu’bah dan Mu’âwiyah dan diriwayatkan oleh Muslim dari Jâbir bin ‘Abdillah. Dan hadits ini merupakan hadits mutawâtir sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidhâ` Ash-Shirâth Al-Mustaqîm 1/69, Imam As-Suyûthy dalam Al-Azhâr Al-Mutanâtsirah hal. 216 dan dalam Tadrîb Ar-Râwi , Al Kattâny dalam Nazham Al-Mutanâtsirah hal. 93 dan Az-Zabîdy dalam Laqthul ‘Alâ`i hal. 68-71) Lihat Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf

    Berkata Imam Bukhâry tentang Ath-Thâifah Al-Manshûrah, “Mereka adalah para ulama.”

    Berkata Imam Ahmad, “Kalau mereka bukan Ahli Hadits, saya tidak tahu siapa mereka.”

    Al-Qâdhi Iyâdh mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan berkata, “Yang diinginkan oleh (Imam Ahmad) adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan siapa yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.” Lihat Mauqif Ahlus Sunnah Wal Jamâ’ah 1/59-62.

    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Muqaddimah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah , “‘Amma ba’du; Ini adalah i’tiqâd (keyakinan) Al Firqah An-Nâjiyah, (Ath-Thâifah) Al-Manshûrah sampai bangkitnya hari kiamat, (mereka) Ahlus Sunnah.”

    Dan di akhir Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah , ketika memberikan definisi tentang Ahlus Sunnah, beliau berkata, “Dan mereka adalah Ath-Thâifah Al-Manshûrah yang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda tentang mereka, ‘Terus menerus sekelompok dari umatku berada di atas kebenaran, manshûrah (tertolong) tidak membahayakan mereka orang yang menyelisihi dan mencerca mereka sampai hari kiamat.’ Mudah-mudahan Allah menjadikan kita bagian dari mereka dan tidak memalingkan hati-hati kita setelah mendapatkan petunjuk.”

    Lihat Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf hal. 97-110.

    Ahlul Hadits
    Ahlul Hadits dikenal juga dengan Ashhâbul hadits atau Ashhâbul Atsar. Ahlul hadits artinya orang yang mengikuti hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam. Istilah Ahlul hadits ini juga merupakan salah satu nama dan kriteria Salafiyah atau Ahlus Sunnah Wal Jamaah atau Ath-Thâifah Al-Manshûrah.

    Berkata Ibnul Jauzi, “Tidak ada keraguan bahwa Ahlun Naql Wal Atsar (Ahlul Hadits) yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam mereka di atas jalan yang belum terjadi bid’ah.”

    Berkata Al-Khathîb Al-Baghdâdy dalam Ar-Rihlah Fî Thalabil Hadits hal. 223, “Dan sungguh (Allah) Rabbul ‘alamin telah menjadikan Ath-Thâifah Al-Manshûrah sebagai penjaga agama dan telah dipalingkan dari mereka makar orang-orang yang keras kepala karena mereka berpegang teguh dengan syariat (Islam) yang kokoh dan mereka mengikuti jejak para shahabat dan tabi’in.”

    Dan telah sepakat perkataan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah bahwa yang dimaksud dengan Ath-Thâifah Al-Manshûrah adalah para ulama SalafAhlul Hadits. Hal ini ditafsirkan oleh banyak imam yakni ‘Abdullah bin Mubârak, ‘Ali bin Madîny, Ahmad bin Hambal, Bukhâry, Al-Hâkim, dan lain-lainnya. Perkataan-perkataan para ulama tersebut diuraikan dengan panjang lebar oleh Syaikh Rabi’ bin Hâdy Al-Madkhaly dan Syaikh Al-Albâny dalam Silsilah Al-Ahâdîts Ash-Shahîhah hadits no. 270.

    Lihat Haqîqatul Bid’ah 1/269-272, Mauqif Ibnu Taimiyah 1/32-34, Ahlul Hadits Wa Ath-Thâifah Al-Manshûrah An-Nâjiyah , Limâdzâ Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy , Bashâir Dzawisy Syaraf Bimarwiyâti Manhaj As-Salaf dan Al-Intishâr Li Ashhâbil Hadîts karya Muhammad ‘Umar Ba Zamûl.

    Al-Ghurabâ`
    Al-Ghurabâ` artinya orang-orang yang asing. Asal penyifatan ini adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah riwayat Muslim no. 145,

    بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ

    “Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu.” Hadits ini mutawâtir.

    Berkata Imam Al-Âjurry dalam Sifatil Ghurabâ` Minal Mu’minîn hal. 25, “Dan perkataan (Nabi) shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam , ‘Dan akan kembali asing,’ maknanya, Wallâhu A’lam, bahwa sesungguhnya hawa nafsu yang menyesatkan akan menjadi banyak sehingga banyak dari manusia tersesat karenanya dan akan tetap ada Ahlul Haq yang berjalan di atas syariat Islam dalam keadaan asing di mata manusia, tidakkah kalian mendengar perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Akan terpecah ummatku menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu,’ maka dikatakan, ‘siapa mereka yang tertolong itu?’ maka kata Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Apa-apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini.’.”

    Berkata Imam Ibnu Rajab dalam Kasyful Kurbah Fî Washfi Hâli Ahlil Ghurbah hal. 22-27, “Adapun fitnah syubhât (kerancuan-kerancuan) dan pengikut hawa nafsu yang menyesatkan sehingga hal tersebut menyebabkan terpecahnya Ahlul Qiblah (kaum muslimin) dan menjadilah mereka berkelompok-kelompok, sebagian dari mereka mengkafirkan yang lainnya dan mereka menjadi saling bermusuhan, bergolong-golongan dan berpartai-partai setelah mereka dulunya sebagai saudara dan hati-hati mereka di atas hati satu orang (Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam) sehingga tidak akan selamat dari kelompok-kelompok tersebut kecuali satu golongan yang selamat. Mereka inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ‘Terus menerus ada diantara umatku satu kelompok yang menampakkan kebenaran, tidak mencelakakan mereka orang-orang yang menghinakan dan membenci mereka sampai datang ketetapan Allah Subhânahu wa Ta’âla (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan tersebut.’ Mereka inilah Al-Ghurabâ` di akhir zaman yang tersebut dalam hadits-hadits ini ….”

    Demikianlah penamaan-penamaan syariat bagi pengikut Al-Qur`ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam sesuai dengan pemahaman para ulama Salaf, yang apabila dipahami dengan baik akan menambah keyakinan akan wajibnya mengikuti jalan para ulama Salaf dan kebenaran jalan mereka serta keberuntungan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

    Cukuplah sebagai satu keistimewaan yang para Salafiyun berbangga dengannya bahwa penamaan-penamaan ini semuanya dari Islam dan menggambarkan Islam hakiki yang dibawa oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam dan tentunya hal ini sangat membedakan Salafiyun dengan ahlul bid’ah yang bernama atau dinamakan dengan penamaan-penamaan yang hanya sekedar menampakkan bid’ah, pimpinan atau kelompok mereka seperti Tablighy nisbah kepada Jama’ah Tabligh yang didirikan oleh Muhammad Ilyâs, Ikhwany nisbah kepada gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh Hasan Al-Banna, Surûry nisbah kepada kelompok atau pemikiran Muhammad Surur Zainal ‘Âbidîn, Jahmy nisbah kepada Jahm bin Sofwân pembawa bendera keyakinan bid’ah bahwa Al-Qur`ân adalah makhluk. Mu’tazily nisbah kepada kelompok pimpinan ‘Athâ` bin Wâshil yang menyendiri dari halaqah Hasan Al-Bashry. Asy’ary nisbah kepada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ary yang kemudian beliau bertobat dari pemikiran sesatnya. Syi’iy nisbah kepada kelompok Syi’ah yang mengaku mencintai keluarga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam, dan masih ada ratusan penamaan lain, sangat meletihkan untuk menyebutkan dan menguraikan seluruh penamaan tersebut, maka nampaklah dengan jelas bahwa penamaan Salafiyun-Ahlus Sunnah Wal Jamaah-Ath- Thâifah Al-Manshûrah -Al-Firqah An-Nâjiyah-Ahlul Hadits adalah sangat berbeda dengan penamaan-penamaan yang dipakai oleh golongan-golongan yang menyimpang dari beberapa sisi:

    Pertama , penamaan-penamaan syariat ini adalah nisbah kepada generasi awal umat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwa sallam, maka penamaan ini akan mencakup seluruh umat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam pemahaman atau dalam berdakwah dan lain-lainnya.

    Kedua , kandungan dari penamaan-penamaan syariat ini hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni yaitu Al-Qur`ân dan sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.

    Ketiga , asal penamaan-penamaan ini mempunyai dalil dari sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

    Keempat , penamaan-penamaan ini hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dengan jalan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai bantahan terhadap bid’ah dan kesesatan mereka.

    Kelima , ikatan wala’ (loyalitas) dan bara’ (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan ini, hanyalah ikatan wala’ dan bara’ di atas Islam (Al-Qur`ân dan Sunnah) bukan ikatan wala’ dan bara’ karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi dan lain-lainnya.

    Keenam , tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan ini kecuali kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihiwasallam karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu yaitu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid’ah fanatismenya untuk golongan, kelompok/pemimpin.

    Ketujuh , penamaan-penamaan ini sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu bid’ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan lain-lainnya.

    Lihat Hukmul intimâ` hal. 31-37 dan Mauqif Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah 1/46-47.

    Wallâhu Ta’âla a’lam.

  42. toto abu ahmad says:

    Nasehat salaf untuk salafy

    Ketika fitnah menimpa kaum muslimin, di jaman yang penuh fitnah ini
    hal yang harus harus diperhatikan :

    1. Instropeksi diri dan mungkin ada benarnya fitnah tersebut
    Apakah ahlaq kita sudah baik ?
    Apakah ada riya’ dan ujub dalam berda’wah ? t
    Apakah da’wah ini terlalu ekslusif ?

    2. Jangan terburu-buru dalam mengambil tindakan, hadapai dengan lemah
    lembut dalam setiap ujian dan do’akan agar Allah melunakan hati sipenye
    bar fitnah.

    3. Senantiasa meminta nasehat kepada ulama ahlussunah dan para ustadz
    yang pernah mengalami hal yang sama

    Semoga Allah membukakan hati bagi penentang-penentang da’wah Rasululloh, dan menjauhkan guru-guru kita dari berbagai macam fitnah

    wa fiika barakallohu . . . . . . . .syukron
    ( ana rindu temanggung )

  43. memang repot menasehati ahlul bid’ah itu ta.?,tp walau bagaimanapun mereka itu sangat butuh untuk di bina,tp kalau memang tidak bisa di bina ,ya di binasakan aja!!!

  44. firdaus says:

    assalamualaikum,

    duh baru nemu blog isinya debat kayak gini…
    ada yg menarik dalam sebuah rekaman ceramah dari seorang ustad dari golongan salafi di jateng, dia mengatakan bahwa tradisi mudik pada hari raya idul fitri itu termasuk hal bid’ah, padahal dalam tradisi mudik itu banyak faedah yg bisa kita dapet, yg utama adalah silaturrahmi, bisa bertemu dengan saudara dan handai taulan, saling memaafkan, dll, bukankan saling mengunjungi saudara seiman itu dianjurkan dalam agama islam? bukankah dengan saling mengunjungi sesama saudara semuslim akan mendatangkan rahmat Allah SWT?
    mohon pendapat dari temen2 disini, mohon maaf ane org awam yg sedang berusaha tholabul ilmi.

    @MUHAMAMAD IKHSAN: astagfirullah…ucapannya kasar sekali? hati2 dengan lisan antum, semua silat lidah kita akan dimintai pertanggung jawabannya di yaumul hisab…

    wassalam
    firdaus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site