Ketika semut pun melindungi bangsanya

Suatu ketika, rombongan pasukan Nabi Sulaiman ‘alaihi salam sedang melakukan perjalanannya. Hingga mereka pun tiba di suatu tempat, ketika tiba-tiba Nabi Sulaiman ‘alaihi salam mendengar suatu seruan …

Sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu (tempat tinggalmu) agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

Ya ayyuhan naml, udkhuluu masaakinikum …. Kalau dalam bahasa Arab (CMIIW), Ya ayyuha itu adalah sebuah seruan yang ditujukan untuk sekalian banyak audience, gampangnya kalau jaman sekarang, ngomongnya gak pake bisik-bisik, tapi teriak-teriak pake microphone … 😀

Di kisah itu, ada seorang semut yang kemudian berteriak memperingatkan kaumnya. Saya punya asumsi, tidaklah mungkin semut berteriak kecuali yang berteriak memperingatkan tadi adalah salah seorang pembesar dari kalangan semut. Karena seahu saya, yang namanya semut adalah makhluk yang memiliki ketaatan tinggi, senantiasa mengikuti apa yang diperintahkan oleh bossnya.

Sang pembesar (pemimpin) semut sadar, bahwa ada kemungkinan Nabi Sulaiman ‘alaihi salam tidak melihat kalau di bawah kaki-kaki mereka sedang ada semut yang berbaris dan berjalan. Maka dia berupaya melindungi kaum-nya semaksimal mungkin dengan meneriaki mereka agar menghindar dengan cara masuk ke sarang.

Sebuah pemikiran yang jauh ke depan, dimana dia tidak lah memikirkan kepentingan dirinya sendiri untuk menyelamatkan diri dari injakan kaki pasukannya Nabi Sulaiman ‘alaihi salam. Tidak ada kata nafsi-nafsi bagi seorang pemimpin. Dia sadar-sesadar-sadarnya, bahwa seorang pemimpin adalah useless ketika dia tidak ada yang dipimpin, dia sadar bahwa eksistensi bangsanya akan lenyap ketika dia tidak menolong rakyatnya.

Maka tugas yang diembannya adalah melakukan proteksi ketika rakyatnya ditimpa oleh bencana, dia tidak sibuk dengan urusannya sendiri untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Rakyatnya betul-betul dijaga, dipelihara, dan dimakmurkan. Sehingga, ketika rakyatnya aman, maka bangsa mereka pun aman, termasuk juga kondisi dirinya sendiri pun menjadi aman.

Semut tadi benar-benar menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya, sampai Nabi Sulaiman ‘alaihi salam pun tersenyum padanya …

Ah semut, betapa bijaksananya engkau, seandainya para pemimpin bangsa kami pun seperti engkau ……… dreaming

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site