di ujung ruangan yang kecil itu …

Di ujung ruangan yang kecil itu, ada rak buku kecil, yang berisikan buku-buku dan beberapa catatan-catatan. Dibukanya kembali catatan-catatan yang dibuatnya sekian tahun silam, catatan dalam shahifah alias dalam lembaran-lembaran sobekan kertas, yang sebagian sudah mulai kabur tulisannya, dia jadi tersenyum sendiri, ketika dia masih awal-awal menjadi “murid”, dia cukup malas untuk memiliki sebuah buku yang bisa dipakai untuk mencatat apa-apa yang saat itu disampaikan oleh “guru”nya.

Salah satu lembaran yang dia buka adalah materi dari gurunya yang berjudul Syuruutu qabuulu syahadatain, syarat-syarat diterimanya dua kalimat syahadat. Seumur-umur, selama dia sekolah sejak TK sampai dengan SMP, dia mendapatkan materi seperti itu. Seperti memutar jam kembali, hanya satu yang dia ingat saat itu, bengong sambil berkata dalam hati,”Ini orang ngomong apaan sih, emangnya syahadat itu baru bisa diterima kalau syarat-syarat ini terpenuhi? Kenapa sih harus ilmu? Apa sih ikhlas itu?“. Sejuta (halah…melebih-lebihkan) pertanyaan yang muncul. Terus terang, hari itu dia tidak faham atas apa yang disampaikan oleh gurunya.
Pekan-pekan berikutnya, hari biasa masih dijalaninya, ketika datang masanya “pertemuan”, kadang dia berangkat, kadang dia bolos. Kadang, walau sudah jelas ketemu dengan guru-nya, dan guru-nya bilang,”Eh, nanti saya tunggu di sana ya !“. Dia menjawab sambil masang sepatunya,”Ya mas !“, abis itu mikir-mikir, pagi ini tadi pelajaran Olah Raga, terus ada pelajaran Nari, capek bo’. Pulang aja ah, males. Gubraks, jelas-jelas dah ketemuan, dah nyanggupi, malah dengan santainya pulang.

Dibukanya kembali catatan yang lain, Kullu bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin fiinnaar. Satu fase dalam kehidupan dia ketika belajar, entah bagaimana ceritanya, dari yang suka main gitar-gitaran, berubah jadi sosok yang “mengerikan” :D, fase tanpa kenal kompromi, dengan satu dalil: POKOKNYA !(TM). Ya, fase itu pun pernah dilewatinya, siapa saja yang tidak sepakat, pasti diserang habis, mau marah, mau jengkel, terserah kek. Aku kan berada di jalan yang PALING benar dan kamu salah.

Tapi fase itu ternyata tidak bertahan lama, seiring kedewasaan berfikir, interaksi, dan realitas yang terjadi, ada sebuah dialog dalam diri, “Benarkah ini semua ?“. Dia ternyata melupakan satu hal, bahwa kebenaran itu harus senantiasa diiringi dengan sesuatu hal yang tepat (bagaimana ya membahasakannya ??? ), orang jawa bilang, Bener ning ora Pener (Benar tapi tidak tepat). Yang disampaikan boleh jadi benar, tapi tidak tepat.

Dibuka kembali catatan berikutnya, kali ini sudah lebih tertata rapi, bukan berupa shahifah lagi, tapi dia sudah mencatatnya dalam bukunya yang kecil. Inna al akh shaadiq an laa yakuuna, murabbiyyan. Dia buka catatan yang dia beri highlight dalam satu tulisan yang dia buat, Generasi Rabbani. Dia komentari sendiri apa yang saat itu sudah dicatat. Sebuah pertanyaan sederhana, “Kenapa guru lebih pintar daripada murid ?” Saat? masih di sekolah, hampir semua guru selalu lebih pintar (paling tidak di kelas), daripada murid. Bahkan dia ingat, ada salah seorang guru fisikanya, kalau ngajar di kelas, gak pernah bawa buku. Tapi dengan santainya langsung nulis di papan tulis, kadang langsung ngasih pertanyaan. Seakan-akan semua ilmunya nempel di otaknya. Dia tersenyum sendiri, “Banyak belajar – banyak lupa, Sedikit belajar – sedikit lupa, Tidak belajar – tidak pernah lupa“. Ternyata, rahasia paling sederhana kenapa guru lebih pintar daripada murid adalah, karena guru belajar, dan dia mengajar.

Ketika informasi dan data diberikan kepada kita, layaknya komputer, semua data akan masuk ke dalam memori, masalahnya manusia memang punya problem, kadang dia sulit me-retrieve apa yang telah tersimpan di memori. Ketika dia mengajarkan sesuatu, maka dia akan terus menerus mengambil kembali semua catatannya dalam memori yang dia simpan. Berbeda dengan orang yang terus belajar, lama-lama seperti cangkir yang diisi terus dengan air, airnya akan tumpah. Akan tetapi, jadilah kalian menjadi Generasi Rabbani, yang senantiasa mengajarkan Al Kitab, dan belajar tentangnya. Mengajar ditaruh di kalimat yang pertama, karena orang mengajar pasti belajar, sementara orang belajar belum tentu mengajar !

Masih banyak shahifah yang hendak dia buka. Catatan-catatan yang telah mengubah visi dan misi dalam hidupnya ….
(to be continued ….)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site