Jogja? Again ? :(
Namaku di Google Suggest …. :)
Bagi anda yang sudah menginstall Google Toolbar, ada salah satu fasilitas baru yang akan diberikan oleh google, yakni Google Suggest. Dengan Google Suggest ini, ketika kita mengetik keyword yang hendak dicari, Google akan membantu memberikan saran (suggest) tentang apa yang hendak dicari.
Misal, ketika kita ngetik “Michael Sc …”, maka Google akan mensuggest dengan memberikan keyword Michael Schummacer …. , kalau kita ngetik “Hidayat N …”, maka Google akan mensuggest keyword Hidayat Nur Wahid.
Nah, kali ini aku ketik “Andri Se …”, maka Google akan mensuggest Andri Setiawan
. Untungnya website pertama hasil pencarian ini dari Google adalah blog-ku ini, jadi nggak malu-maluin, karena nama Andri Setiawan yang punya kan bukan cuma aku aja…he..he…
di ujung ruangan yang kecil itu …
Di ujung ruangan yang kecil itu, ada rak buku kecil, yang berisikan buku-buku dan beberapa catatan-catatan. Dibukanya kembali catatan-catatan yang dibuatnya sekian tahun silam, catatan dalam shahifah alias dalam lembaran-lembaran sobekan kertas, yang sebagian sudah mulai kabur tulisannya, dia jadi tersenyum sendiri, ketika dia masih awal-awal menjadi “murid”, dia cukup malas untuk memiliki sebuah buku yang bisa dipakai untuk mencatat apa-apa yang saat itu disampaikan oleh “guru”nya.
Salah satu lembaran yang dia buka adalah materi dari gurunya yang berjudul Syuruutu qabuulu syahadatain, syarat-syarat diterimanya dua kalimat syahadat. Seumur-umur, selama dia sekolah sejak TK sampai dengan SMP, dia mendapatkan materi seperti itu. Seperti memutar jam kembali, hanya satu yang dia ingat saat itu, bengong sambil berkata dalam hati,”Ini orang ngomong apaan sih, emangnya syahadat itu baru bisa diterima kalau syarat-syarat ini terpenuhi? Kenapa sih harus ilmu? Apa sih ikhlas itu?“. Sejuta (halah…melebih-lebihkan) pertanyaan yang muncul. Terus terang, hari itu dia tidak faham atas apa yang disampaikan oleh gurunya.
Pekan-pekan berikutnya, hari biasa masih dijalaninya, ketika datang masanya “pertemuan”, kadang dia berangkat, kadang dia bolos. Kadang, walau sudah jelas ketemu dengan guru-nya, dan guru-nya bilang,”Eh, nanti saya tunggu di sana ya !“. Dia menjawab sambil masang sepatunya,”Ya mas !“, abis itu mikir-mikir, pagi ini tadi pelajaran Olah Raga, terus ada pelajaran Nari, capek bo’. Pulang aja ah, males. Gubraks, jelas-jelas dah ketemuan, dah nyanggupi, malah dengan santainya pulang.
Dibukanya kembali catatan yang lain, Kullu bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin fiinnaar. Satu fase dalam kehidupan dia ketika belajar, entah bagaimana ceritanya, dari yang suka main gitar-gitaran, berubah jadi sosok yang “mengerikan”
, fase tanpa kenal kompromi, dengan satu dalil: POKOKNYA !(TM). Ya, fase itu pun pernah dilewatinya, siapa saja yang tidak sepakat, pasti diserang habis, mau marah, mau jengkel, terserah kek. Aku kan berada di jalan yang PALING benar dan kamu salah.
Tapi fase itu ternyata tidak bertahan lama, seiring kedewasaan berfikir, interaksi, dan realitas yang terjadi, ada sebuah dialog dalam diri, “Benarkah ini semua ?“. Dia ternyata melupakan satu hal, bahwa kebenaran itu harus senantiasa diiringi dengan sesuatu hal yang tepat (bagaimana ya membahasakannya ??? ), orang jawa bilang, Bener ning ora Pener (Benar tapi tidak tepat). Yang disampaikan boleh jadi benar, tapi tidak tepat.
Dibuka kembali catatan berikutnya, kali ini sudah lebih tertata rapi, bukan berupa shahifah lagi, tapi dia sudah mencatatnya dalam bukunya yang kecil. Inna al akh shaadiq an laa yakuuna, murabbiyyan. Dia buka catatan yang dia beri highlight dalam satu tulisan yang dia buat, Generasi Rabbani. Dia komentari sendiri apa yang saat itu sudah dicatat. Sebuah pertanyaan sederhana, “Kenapa guru lebih pintar daripada murid ?” Saat? masih di sekolah, hampir semua guru selalu lebih pintar (paling tidak di kelas), daripada murid. Bahkan dia ingat, ada salah seorang guru fisikanya, kalau ngajar di kelas, gak pernah bawa buku. Tapi dengan santainya langsung nulis di papan tulis, kadang langsung ngasih pertanyaan. Seakan-akan semua ilmunya nempel di otaknya. Dia tersenyum sendiri, “Banyak belajar – banyak lupa, Sedikit belajar – sedikit lupa, Tidak belajar – tidak pernah lupa“. Ternyata, rahasia paling sederhana kenapa guru lebih pintar daripada murid adalah, karena guru belajar, dan dia mengajar.
Ketika informasi dan data diberikan kepada kita, layaknya komputer, semua data akan masuk ke dalam memori, masalahnya manusia memang punya problem, kadang dia sulit me-retrieve apa yang telah tersimpan di memori. Ketika dia mengajarkan sesuatu, maka dia akan terus menerus mengambil kembali semua catatannya dalam memori yang dia simpan. Berbeda dengan orang yang terus belajar, lama-lama seperti cangkir yang diisi terus dengan air, airnya akan tumpah. Akan tetapi, jadilah kalian menjadi Generasi Rabbani, yang senantiasa mengajarkan Al Kitab, dan belajar tentangnya. Mengajar ditaruh di kalimat yang pertama, karena orang mengajar pasti belajar, sementara orang belajar belum tentu mengajar !
Masih banyak shahifah yang hendak dia buka. Catatan-catatan yang telah mengubah visi dan misi dalam hidupnya ….
(to be continued ….)
I just called, to say, I Love You
Tonight, I just want to say to you, “Honey, I Love You !”. Actually, I want to call you, like what Stevie Wonder said.
But berhubung dirimu sudah bobo’ manis, kuurungkan, lagipula kasian, nanti pulsanya juga berkurang kalau ditelpon.
Dasar aneh Singapura nih, masa’ nerima telpon aja bayar! Di Indonesia aja semua operator sudah bebas roaming, di sini nerima telpon aja pake bayar segala….!!!
![]()
Nasyid: What I’m listening now …
Sudah lama aku gak ngikuti perkembangan nasyid, meski dulu sangat hobi sekali bernasyid, terakhir kali nasyid-an ya pas nglatih Fatih (yang ikutan Festival Nasyid Nusantara – FNI yang pertama). Habis itu blank, ndak pernah datang lagi di konser nasyid, beli kaset gak pernah, ngopi MP3 dari temen juga gak sempat, bicara koleksinya, ya yang dulu-dulu aja. Di mobil adanya juga cuma Shoutul Harokahnya PKS, ndak ada kaset nasyid yang lain. Intinya BUTA NASYID-lah
Ya kadang masih dapat sih berita, info, atau cerita ttg nasyid, but secara umum cuma yang didapat dari internet, bahkan cerita ttg Nazrey yang keluar dari Raihan pun tahunya barusan, garing…
Kadang sih masih suka denger dari radioblogclub untuk dengerin nasyid online, kadang cari di multiply orang-orang yang pada suka upload nasyid-nasyid. Baru dua hari ini ngeh lagi sama nasyid, maksudnya tidak cuma denger aja, tapi hunting lagi, setelah dengerin Zain Bhika. Subhanallah, suaranya sangat lembut sekali. Nasyid nya pun penuh dengan nasihat.
Dan nasyid ini salah satu yang paling aku senangi dari dia, May Alloh bless you brother!
Gmail as Email Client
Kejadian ini sih bermula dari kecilnya kapasitas email kantorku, yang hanya 10 MB (walau kemudian udah digedhein jadi 50 MB), kemudian gak ada SPAM assasin lagi, padahal email ini (gara-gara rajin ikut conference dan call for paper) udah terpampang di internet cukup banyak, jadinya pasti kena email harvesting (program pencari alamat email, biasa dipake SPAMMER), and bisa ditebak, setiap hari aku harus berjibaku nge-Delete SPAM di mailbox-ku.
Iseng-iseng aku buka setting yang ada di Gmail, eh ternyata Gmail membuka layanan baru (aku ndak tahu baru atau tidak, yang jelas terakhir kali aku liat, belum ada layanan ini), yakni layanan POP mail, but tidak sekedar POP mail seperti layanan webmail yang lain (kaya’ Yahoo misalnya), tapi POP mail, dan kalau kita reply email itu, sendernya bisa sender dari email kita yang asli. Nah untuk kasusku, email yang official dari kantor, didownload, kemudian jika kita perlu reply email tersebut, sender (mail from-nya) masih dari email kantor, bukan yang @gmail.com.
So, kalau misal kita ikutan milis, kita dapat langsung reply ke email milis, walau kita terdaftarnya dengan menggunakan email kantor/email selain gmail ini. Karena sendernya adalah sender email yang lain.
Dengan demikian, kita bakal punya email kantor/official email, dengan kapasitas hampir 3GB plus ada fasilitas Anti SPAM, Archiver, dan yang jelas keunggulan Google, emailnya bisa dicari lagi, kapanpun kita butuh, tinggal search, ketemu deh emailnya.
Amenangi Jaman Banjir
mohon maaf, saya tidak tahu siapa penulis aslinya, tapi ini cuma forwardan dari kawan, saya coba cari di Google, belum nemu posting yang seperti ini … bagi penulis asli, semoga saya dimaafkan karena berani menampangkan tulisan anda cuma dengan copy-paste (sambil ngliat logo yang ada di atas blog ini – JACP – Jangan Asal Copy Paste?
)
_____________________________::::::
jaman banjir..
Amenangi jaman banjir
sing tajir kena banjir
sing fakir yo kena banjir
nanging eling-eling wong tajir
arepa banjir tetep wae kikir
beda karo wong fakir
banjir malah bisa kena kanggo dzikir
dasar … pancen wong tajiryooo ora apa-apa
eling-eling jaman wus akhir
gunung pada lukir
kali pada mbludak neng pinggir
bendungan ambrol pada ngalir
alas gedhe dadi pasirayo sedulur pada mikir
apa sing kurang ing sajroning lair
sanajan menungsa amung sagelintir
nanging diwenehi wenang dadi amir
amir sing nggladrah ora tahu mikir
opo maneh dzikir
amung mburu karir
nganti ora peduli karo rakyat sing kuatir
amarga banjirdasar amir ora mikir
_________________::::
- tanpa bermaksud mendiskreditkan yang bernama amir ![]()
- tanpa bermaksud menyalahkan yang tajir atau mendukung yang fakir
- semua cuma forwardan, cuma berharap bisa dipakai introspeksi buat kita
- siapa yang salah dengan banjir? barangkali kita termasuk salah satunya …
dunia …
kapan pun dikejar dan dicari,
tak akan pernah sampai ke ujungnya,
banyak yang bermimpi menyentuhnya,
tapi yang bernama fatamorgana tak mungkin digapai,
karena ia terus menerus menjauh ketika didekati, bahkan mungkin lenyap
mbok nyadar to le … le … !!!
Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa ….
akhirnya ….
setelah sekian lama tidak terupdate, akhirnya menulis juga
ini gara-gara kemaren ikutan workshop jurnalistik,
kata-kata pak Sapto Waluyo (mantan redaktur GATRA, mahasiswa S-2 di Rajaratnam School of International Studies, NTU, singapore) benar-benar memacu semangat lagi nih.
kuis satu kata, satu kalimat, dan satu paragraf yang dibawain beliau, mengingatkan kembali salah satu episode Sponge Bob yang pernah kulihat, ketika Sponge Bob diberi PR oleh Mrs. Puff, untuk menuliskan “Apa yang tidak boleh kamu lakukan di perempatan lampu merah !”, kemudian sponge bob di awal mula sangat semangat menulis, eh ternyata menulisnya cuma berhenti di satu huruf, habis itu bingung mau nulis apa. Malah pada akhirnya sibuk mengerjakan banyak hal yang lain dalam rangka melupakan PR tulisan tadi, walhasil menjelang deadline, baru lah dia kelimpungan.
Dari kuis yang diselenggarakan kemaren saat workshop, ternyata merangkai tulisan itu pada akhirnya bukan lah hal yang sulit. Mirip dengan seorang penjahit yang menyambung-nyambungkan bahan dengan benang.
Semoga tulisan kecil ini, kembali menjadi start, agar aku rajin menulis kembali.
Jadi ingat nasihat pak Sapto, orang yang tidak bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya (ide-ide, dkk), maka semua yang ada di kepalanya itu bisa ilang, pada titik ekstrim dia mungkin akan menjadi gila. Tidak seperti harta benda dan material yang kalau kita keluarkan, mungkin makin lama makin habis, berbeda dengan ide dan pemikiran, makin tidak dituangkan (salah satunya dengan tulisan) maka dia akan makin habis. Dan lagi, tulisan juga akan membuat kita mengingat apa saja yang pernah menjadi ide dan pemikiran di kepala kita, apalagi zaman digital sekarang ini.
Yuuuk, nuliss….!!!















