menjaga sebuah kepercayaan

Saya yakin, Rasulullah SAW merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Hatib bin Abi Baltha’ah, ketika menjelang penaklukan kota Mekkah. Saat itu, para sahabat yang diberikan informasi oleh Nabi SAW mengenai futuh mekkah sangatlah sedikit. Bahkan semula, Abu Bakar ra. pun tidak tahu. Sebagian besar para sahabat hanya mengetahui mereka akan pergi berhaji.

Saat itu, Hatib yang telah mendengar informasi bahwa akan ada penaklukan kota Mekkah, segera membuat surat yang akan dikirimkan ke sanak saudaranya yang masih musyrik yang ada di Mekkah, untuk memberi warning kepada mereka, bahwa akan ada penaklukan. Surat itu kemudian dibawa oleh budak perempuannya dengan cara diikat di rambut kepalanya.

Atas izin Allah SWT, Rasul SAW mendapat informasi ini, dan dengan segera mengutus Ali bin Abi Thalib ra. untuk mencegat budak perempuan tersebut. Bisa kita bayangkan apabila surat itu sampai ke Mekkah, tentu saja informasi akan terbongkar, dan boleh jadi akan menambah rumit keadaan, tapi Allah SWT telah berkehendak. Informasi tetap aman.

Lalu bagaimana dengan Hatib? Umar bin Khattab ra. saat itu mengatakan Hatib telah menjadi munafik dan akan dibunuh. Akan tetapi, Hatib bin Abi Baltha’ah adalah salah satu pahlawan Badar, sehingga karena secara jelas di dalam Alquran Allah SWT telah mengampuni ahlul badar, maka memang Rasulullah SAW tidak menghukumnya. Meski demikian, peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana seharusnya kita menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepada kita. Jangan sampai Al hawaa merusaknya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site