Hadits-hadits berkaitan dengan puasa ? (5)

Pada kajian hari ini menginjak ke hadits yang kelima, tentang hadits yang berkaitan dengan puasa dan ramadhan. Berkata Nabi SAW,

?? ????????? ??? ?? ??? ?????????? ?? ??? ?? ???? ?? ?????????? ??? (???? ??????? ???? ? ??????? ???????)?

Barang siapa memberikan buka (ifthar) kepada orang yang berpuasa, maka yang demikian baginya akan diberikan balasan sebagaimana pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi barang sedikitpun jua dari pahala orang yang berpuasa (yang diberikan kepadanya ifthar) (HR. Ahmad dan Tirmidzi dan dia adalah Shahih)

Suatu sore di sepanjang jalan kaliurang Jogjakarta, berjajar puluhan kendaraan, mereka mengantri untuk membeli sedikit makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Ada kolak pisang, ada es dawet, es buah, dan es campur, ada tempe goreng, tahu susur, ketela goreng (blanggreng bahasa Solo-nya, bahasa Jogjane, asli daku bener-bener lupa, ada yang bisa kasih tahu ?), pisang goreng, lumpia, mata kebo (sorry, susyah cari definisi dan gambarnya di Internet, gak punya potonya lagi), dah pokoknya tumplek bleg di sana semua ada. Orang berkerubutan untuk membeli, harga relatif murah, bisa menjadi pelepas dahaga dan lapar untuk berbuka puasa nanti.

Lain tempat, suasana sama, sore hari menjelang berbuka, seorang kawan pernah bercerita, di depan masjid, suasana ramai sekali, orang-orang menggelar meja sampai katanya mejanya jadi panjang banget, dan kemudian menggelar “dagangan” mereka, berbagai macam jenis makanan dan minuman ada di sana, mungkin suasananya mirip dengan JAKAL (Jalan Kaliurang) di jogja, tidak jauh beda, ada banyak penjual dan ada banyak pembeli. Yang menarik, di tempat itu, orang ramai-ramai mengajak orang lain untuk datang ke tempatnya, mereka berebut, YA !, mereka berbutan supaya orang-orang mau mampir ke tempat mereka untuk berbuka puasa dengan “dagangan” yang mereka bawa, dan yang menarik, semua GRATIS. Semakin banyak orang ke tempat si penjual tadi, semakin senanglah dia, semakin habis makanan yang dia bawa, semakin berbunga-bungalah dia. Tempat ini kata kawan saya, ada di salah satu kota suci kaum muslim di Saudi Arabia sana.

Interesting ! Dua hal yang “sepertinya” sama, tapi nilai di baliknya jauh berbeda. Tidak ada salah memang berjualan untuk menambah penghasilan di bulan Ramadhan, konon katanya sih untuk persiapan lebaran besok (halah puasa aja baru mulai dah mikir lebaran :D), dan memang halal kok, ndak ada yang melarang. Sementara di fragmen yang kedua, juga pedagang, hanya mereka menjual dagangannya dengan cara berbeda. Bagi mereka, ajrun (pahala) orang yang berpuasa, jauh lebih banyak dan lebih besar dari pada sekedar pendapatan uang di dunia. Mereka berebutan untuk memberikan buka puasa kepada orang-orang yang sedang berpuasa, karena janji yang dijanjikan Alloh dan RosulNya sangat menggiurkan, sehingga dengan sepenuh kesadaran hati, mereka ramai-ramai memberikan buka puasa secara gratis.

Hadits di atas, nampaknya harus mulai kita perhatikan dan coba dijalankan, * pikiran nakal * : “siapa tahu puasaku pahalanya kurang nih atau malah gak dapet, habis kebanyakan maksiat je walaupun di bulan ramadhan, siapa tahu gue bakal dapet gratisan pahala puasa nih, kan enak tuh :D, apalagi yang gue kasih buka puasa orang-orang yang shalih (insya Alloh), buktinya pada mau shalat berjama’ah ke masjid tuh …“, tentu kita jangan sampai punya pikiran nakal seperti itu. Setidaknya kita berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas amal kita, salah satunya adalah dengan memberikan buka puasa.

Tapi sebenarnya yang jualan (bener-bener jualan) makanan dan minuman buka puasa pun juga oke-oke saja, lagi-lagi * pikiran nakal * : “ah, ngapain ngasih buka buasa ke mereka, tidak ada jaminan mereka berpuasa dengan bener, udah gue rugi ngasih buka puasa gratis ke mereka, eh merekanya gak dapet pahala puasa, karena kebanyakan maksiat di ramadhan, rugi bandar kan ! :P, makanya mending kujual aja, lumayan buat nambah tabungan, sebagian malah bisa kuinfaq-kan“, toh tidak ada larangan untuk berdagang makanan saat ramadhan kan ? :)

Wallahu A’lam …
- Akhukum fillah, M. Andri Setiawan -

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site