Yang namanya amanah itu, tunaikanlah dengan jujur

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa Nabi SAW memerintahkan beberapa sahabat untuk menjalankan sebuah misi. “Jangan buka surat ini selagi perjalananmu belum cukup dua hari,” pesan Rasulullah s.a.w. kepada Abdullah bin Jahsy r.a. yang telah dipilih mengetuai satu misi penting. Ikut bersamanya beberapa orang Sahabat lain. “Laksanakanlah perintah yang terkandung di dalam surat ini. Tetapi jangan memaksa orang lain supaya mematuhinya.” Operasi itu bergerak pada bulan Rejab tahun 2 Hijriah. Selepas dua hari, Abdullah pun membuka surat Rasulullah yang dibawa bersamanya. Kata Rasul di dalam surat itu… “Apabila engkau membaca suratku ini, berangkatlah engkau sehingga sampai ke Nakhlah. Lihatlah keadaan orang Quraisy di sana dan beritahukan lah hal mereka kepada kami.

Nakhlah terletak antara Makkah dan Thaif. Abdullah pun membuka tawaran kepada anggota rombongannya – siapa yang mau boleh ikut dan siapa yang tidak mau, boleh tinggal. Sesuai dengan perintah Rasul yang tidak membenarkan Abdullah memaksa orang lain mematuhi arahan itu.
Masih panjang kisah ini, tapi saya potong dulu. Kita coba cermati bersama apa yang telah dilakukan oleh Abdullah bin Jahsy r.a. Nabi memerintahkan Abdullah bin Jahsy untuk membuka surat itu setelah dua hari perjalanan, dan kita dapati bahwasanya Abdullah bin Jahsy betul-betul membuka surat itu setelah lewat masa dua hari. Sebenarnya kalau kita lihat, surat itu memang ditujukan oleh nabi SAW ke Abdullah bin Jahsy, dan selama dua hari, dia membawa surat itu. Kalau dipikir-pikir, tiada salahnya kan Abdullah melihat (ya kalau ndak melihat, boleh lah mengintip) surat itu. Toh tiada yang tahu, dan dibuka sekarang atau besok, tetap saja isi suratnya sama. Dan kalau dilihat, isi suratnya juga “sepertinya” biasa-biasa saja.

Akan tetapi, Abdullah betul-betul menepati apa yang diperintahkan oleh Rasul SAW untuk tidak membukanya setelah dua hari berlalu, boleh jadi ada sebuah rahasia besar, atau ada hikmah yang besar, kenapa surat itu harus dibuka setelah dua hari. Boleh jadi, apabila Abdullah bin Jahsy membukanya sebelum dua hari, akan muncul fitnah, karena mungkin mis persepsi, dan lain sebagainya. Itu pun surat yang ditujukan kepada dia.

Sekarang kita coba bayangkan, kalau kita dititipi surat yang very confidential, kemudian kita penasaran, kaya gimana sih isinya, terus iseng-iseng kita X-ray, atau kita poto pake kamera tembus pandang (kalau ada), atau pinjem matanya superman biar bisa ngliat isi suratnya, fuiih …..

Mungkin rasa penasaran kita terjawab, tapi boleh jadi kita akan membawa masalah/fitnah baru yang boleh jadi muncul karena kejahilan dan ketidaktahuan kita. Apalagi ternyata isi suratnya berisi sesuatu yang “tidak mengenakkan” kita, wah, bisa berabe, kita akan berpikiran “negatif” alias su’udzon kepada yang menitipkan surat itu kepada kita. Padahal seharusnya isi surat tersebut harus disampaikan kepada yang lebih berhak.

Kita merasa ditipu, merasa diperdaya, dan dipermalukan, karena ternyata isi suratnya mungkin berupa “catatan yang tidak baik” tentang kita. Padahal yang diinginkan si pengirim surat kepada yang dituju adalah supaya memberikan penjelasan keadaan agar tujuan kebaikan yang diinginkan oleh si pengirim tercapai, supaya diarahkan dan dibimbing agar menjadi seorang yang jauh lebih baik lagi. Tapi, karena surat sudah terlanjur dibuka oleh kita (akibat tidak mampu menjaga amanah), akibatnya fitnah lah yang terjadi dan kesalahfahaman kemudian muncul.
Kenapa Abdullah? bin Jahsy tidak boleh membuka sebelum dua hari, ada yang ingin ditekankan oleh Nabi SAW, yakni ketaatan seorang prajurit dan kemampuan dia menjalankan amanah dengan jujur. Kalau mau, Abdullah bin Jahsy bisa kapan saja membaca suratnya, toh tidak ada bedanya. Tapi sebuah ketaatan telah menjadikan amanah harus ditegakkan dengan jujur. Abdullah tidak ingin mengkhianati nabi SAW, karena telah membuka surat sebelum dua hari.
Ah…sulitnya menjaga sebuah amanah dengan jujur

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Switch to our mobile site