Thoughts
Dalam sebuah perjalanan, selalu ada kisah, catatan, dan pikiran
- 1 Comment
Wedew … sudah lama sekali blog ini tak terurus

Si Penulis terlalu sibuk membuat framework risetnya nih … hiks…Sebagai penyemangat awal, naruh video ini dulu aja deh
- 7 Comments
Dulu sempat “ngiler” melihat kemampuan VMWare fusion, yang bisa menjalankan “seakan-akan” aplikasi di Virtual Machine terinstall OS lain (OS guest) bisa berjalan dalam jendela yang sama dengan OS host. Tapi berhubung, satu, VMWare fusion hanya jalan di Apple Mac, dua, dia software berbayar, jadinya cuma bisa berpuas diri dengan video yang banyak diupload di Internet.
Tapi kini, setelah VirtualBox diakuisisi oleh SUN Microsystem, ada satu fitur yang sangat menyenangkan, yakni Seamless Mode (diaktifkan dengan Right-Ctrl + L), yang memungkinkan aplikasi yang dijalankan di guest OS bisa tertampil di host OS.
Di tampilan atas, saya menjalankan Totem Movie Playernya Ubuntu Jaunty (yang diinstall di guest OS), di atas jendelanya Windows XP. Jadi dengan mode seamless, si Totem pun bisa dipindah-pindahkan layaknya aplikasi yang berjalan di atas Windows, padahal dia jalan di atas platform Ubuntu Jaunty.
Dan yang jelas, sekarang VirtualBox menjadi semakin ringan (tidak seperti saat awal-awal dulu) untuk dijalankan di PC. Coba saja, dan rasakan bedanya.
- 10 Comments
Ente kemana aja sih, nggak pernah keliatan broer?
“Ye alah … elu nggak liat status di facebook gue ya?”
Dibilang menjalin silaturrahim, iya. Tapi dibilang memutus silaturahim, juga iya. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu, hari demi hari berlalu, tidak terlewatkan kecuali dengan mengupdate status di facebook. Berlomba-lomba mengupdate status, sekaligus berlomba-lomba memelototi status kawan di facebook.
Barangkali, dulu saat pertama kali telepon keluar, mungkin juga sama kali ya. Tadinya orang butuh ketemu untuk sekedar say hello, tanya kabar, berpamitan, dlsb, kemudian acara-acara itu digantikan oleh telpon, meski saya yakin, penggantian tersebut tidak sedahsyat era jaman sekarang, ketika Web 2.0 turut mendrive situs perkawanan macam facebook.
Kadang geli juga sih melihat perubahan status kawan-kawan di facebook, tapi kadang juga “gondok”, apalagi buat yang jarang memelototin facebook, tiba-tiba kawan kita menghilang, pergi entah kemana, diSMS ndak delivered apalagi mau bales, dan lain sebagainya, ketika akhirnya berjumpa, cuma senyum nyengir sambil berkata “Elu nggak liat status gue di facebook ya? Gue kan pergi ke luar kota, ada urusan penting!.” Atau bagi yang tinggal di LN biasanya makin terasa lagi “gondok”nya. Ndak ada kabar-kobari, tiba-tiba “cling” ilang begitu saja, gak ada kabar berita sama sekali. Ternyata pergi ke negara lain, atau pulang kampuang ke Indo. Dan guess what, satu-satunya petunjuk kita kalau dia pergi hanyalah status update di facebook.
Nampaknya untuk sekedar ngomong, pamitan, sapa, dan lain sebagainya sudah mulai sedikit demi sedikit tergantikan oleh facebook. Buruk kah? Mungkin ndak juga, tapi ya kadang kebangetan sih
Ingat-ingat, silaturrahim itu memperpanjang umur dan meluaskan rizki. Paling ndak, kalau ketemu face to face, feel-nya lebih terasa gitu lah, daripada cuma sekedar update di facebook, terutama buat temen-temen yang tinggalnya deketan (kecuali bagi kawan-kawan yang memang tinggal saling berjauhan, update di facebook paling ndak mengobati keinginan silaturrahim yang belum terwujud). Paling ndak jangan kaya Benny dan Mice di bawah ini: - 11 Comments
Hanya satu kata: Benci aku!
Apapun topik yang ada dan muncul di berita, sepertinya tidak bisa tidak, yang muncul adalah sumpah serapah, kata-kata kotor, dan lain sebagainya. Benar kata salah seorang kawan yang bercerita bahwa ada seorang peneliti, melakukan penelitian tentang masyarakat Indonesia, dan kesimpulan dia, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sedang sakit. Sakit jiwa, tapi mereka tidak menyadarinya, sakit yang sedemikian parah, tapi herannya mereka begitu menikmati sakitnya mereka.
Betapa manusia Indonesia menjadi manusia yang tidak ingin diatur, menang sendiri semuanya, hidup dengan rasa curiga dan saling benci, terekspresikan dari mulut-mulut mereka yang tidak bisa berkata-kata dengan baik, ungkapan kotor, dan begitu banyak hal lain.
Dengarkanlah suara hati ini wahai pemilik dan pengelola detik.com, tutup saja halaman komentarmu itu, jijik rasanya membuka kolom komentar yang irasional, penuh kebencian, dan berbagai macam ungkapan kotor serta sumpah serapah itu!
Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu, ubahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatimu (dengan mengingkarinya) …..
- 4 Comments
Berhubung hajatan pemilu (legislatif) 2009 dilaksanakan hari ini, nampaknya kunjungan ke blog ini akan kembali turun setelah pernah mencapai 2000 lebih page visit
dalam satu hari.Sekarang cari topik baru lagi yang kira-kira bakalan menarik pengunjung lagi ..he..he.. (gak ding, niatnya bikin tulisan yang bermanfaat buat orang banyak). Apa ya? Mungkin pilpres kali ya ..
Kita lihat saja nanti .. yang jelas sedang berjuang memahami paper-paper nan menumpuk itu, dan ketidakjelasan mau nulis apa … hiks …
- 2 Comments
Ceritanya Youtube lagi menyelenggarakan Happy April 1st! Kurang kerjaan bener, jadi kalau mau ngliat videonya, kepala harus dibalik lebih dahulu, bahkan sampai ngasih tips-tips buat ngliat Youtube versi 1 April, seperti tertulis di bawah ini
- Turn your monitor upside-down
Our internal tests have shown that modern computer monitors give a higher quality picture when flipped upside down—kind of like how it’s best to rotate your mattress every six months. You might find that YouTube videos look better this way
Tilt your head to the side
Imagine you’ve got water in your ear and need to get it out. Tilt your head toward one shoulder and watch the video (gentle head-smacking on the opposite side is optional).
Move to Australia
As you probably know, everything in Australia is upside-down, so moving to Australia may provide you with a more natural YouTube viewing experience. (Note: If you live Down Under, and the page is still upside-down for you, then we recommended moving to the northern hemisphere.)
Emang ada apa dengan April 1st?
- Turn your monitor upside-down
- 2 Comments
Kalau masih bingung contreng yang mana, semoga video klip berikut membantu kita menentukan pilihan, untuk masa depan bangsa.
Salam contreng !
- 4 Comments
Ya, di Australia sini, mengikuti pemilu adalah kewajiban, bukan hak. Jika anda berumur lebih dari 18 tahun, dan anda tidak mengikuti pemilu, tanpa alasan yang jelas, maka anda akan kena pinalti berupa denda sebesar 20 AUD (sekitar 160000 IDR), jika dalam waktu 21 hari tidak bisa mengajukan alasan jelas, dan tidak mau membayar, maka denda akan menjadi 50 AUD (sekitar 400000 IDR) plus biaya pengadilan.
Jadi, para warga negara Australia memiliki KEWAJIBAN untuk mengikuti pemilu, dan di Australia sini yang namanya GOLPUT adalah HARAM .. he..he..
Kebayang ndak kalau ini kejadian di Indonesia?
(keliatannya jelas ndak mungkin sih, lha daftar pemilih saja amburadul, tanpa ada kejelasan apakah nama kita tercantum atau tidak dalam daftar pemilih, jadi kalau hukumnya WAJIB bakalan banyak yang kena denda, malah bisa-bisa jadi sumber pendapatan tambahan negara deh ..he..he.. mau golput? boleh, tapi… seperti kata pak ogah, Cepek dulu dooong! )
ps: Saya ndak kampanye Golput loh, insya Allah saya masih milih kok, tentu saja milih partai yang track recordnya jelas gitu loh
- 4 Comments
Yang namanya trafik internet seharusnya burstable (kadang naik, kadang turun), lha ini, trafik kok FLAT. Bisa ditebak lah, semua pengguna “ribut”, kok internet menjadi lambreta bin lambat. Ngelu kalau orang jawa bilang
Kalau siang hari FLAT sih cukup bisa dimengerti, dengan jumlah pengguna yang banyak, ya harap maklum. Tapi sudah tiga hari non-stop ada pengguna yang melakukan abuse!Internetnya masih di Indonesia bung (baca: MAHAL)
Jadi ya cuman bisa nggresulo saja … hiks
Catatan kaki: Walau tinggal di Aussie sini, saya masih rajin memonitor trafik, server, dan tetek bengek lain di Indonesia (harap maklum, ada “kepentingan” ..lha blog-nya inyong di host di sana jeh …)
- 8 Comments
Seperti yang saya tulis sebelumnya, tadinya berfikir cukup senang dengan alamat email di gmail yang ‘fancy‘, tapi seiring perkembangan, maka kita butuh yang lebih serius. Di GMAIL sebenarnya sudah ada cara yang terkenal (dan disebutkan dalam tutorial GMAIL) untuk membuat alias email di gmail. Dengan alias, kita menggunakan email gmail "yang lain" tapi akan terkirim ke inbox GMAIL yang kita pergunakan. Paling tidak ada dua cara:
- Dengan menambahkan "+", misal email gmail anda: iniemailku@gmail.com dengan menambahkan tanda "+" seperti iniemailku+yangbaru@gmail.com, maka semua email yang terkirim ke email alias yang diberi tanda "+" pun akan terdeliver ke inbox kita.
- Dengan memberikan tanda "." (dot), di bagian manapun dari email GMAIL kita. Misal email gmail kita iniemailku@gmail.com, maka mengirimkan email ke ini.emailku@gmail.com atau iniemail.ku@gmail.com atau ini.email.ku@gmail.com akan membuat email kita terkirim ke inbox yang asli (iniemailku@gmail.com)
Nah, problemnya adalah tidak ada setting di dalam GMAIL yang memungkinkan kita membuat alias email yang benar-benar berbeda dari email GMAIL kita yang asli. Misal superkiyut@gmail.com tadinya kita anggap keren, tapi karena "sadar" ini adalah email yang "wagu", kita pingin ganti menjadi setiawan.andri@gmail.com. Fasilitas ini tidak tersedia secara built in di GMAIL. Terus solusinya bagaimana?
Beruntung di GMAIL ada layanan yang memungkinkan kita mengirimkan "on behalf of", maksudnya email kita adalah superkiyut@gmail.com, tapi ketika mengirimkan email keluar bisa menjadi setiawan.andri@gmail.com. Untuk itu buat saja email baru di GMAIL (sign up) dengan alamat setiawan.andri@gmail.com (sebagai contoh). Kemudian lanjutkan prosesnya sebagai berikut:
- Login ke GMAIL yang asli, masuk ke halaman Settings – Accounts, pilih link "Add another email address you own"

- Muncul popup baru, masukkan alamat email yang kita hendak kirim "on behalf of", pilih next step
- GMAIL akan memverifikasi email kita, silakan lanjutkan pilihan Send Verification
- Buka browser lain (misal tadi pake firefox, sekarang pake IE) buka GMAIL kita, login dengan alamat email baru kita, kode verifikasi yang terkirim dimasukkan ke halaman verifikasi di email kita yang asli
- Setelah kita masukkan kode verifikasi, voila, kita sudah dapat mengirimkan email "on behalf of" email kita yang baru. Sekarang saya sudah dapat mengirimkan email dengan alamat setiawan.andri@gmail.com .
- Selesaikah? Belum, masih ada satu step lagi. Karena kita mengirimkan email atas nama email lain, kalau yang kita tuju melakukan reply, tentu akan dikirimkan ke email yang "on behalf of" tadi. Untuk itu, di email yang baru (ingat, email baru tadi kita buka di browser yang lain), kita set Forwarding email, agar setiap email yang masuk, dilarikan ke alamat email kita yang lama
- Selesai deh!
Sekarang kita bisa membuat alias email sebanyak-banyaknya di GMAIL, meski by default GMAIL tidak menyediakan layanan ini, tapi dengan sedikit mengakali, kita bisa kirim alamat email sesuka hati kita.
Say thanks jika posting ini bermanfaat [Halah, kaya forum aja !
]









Komentar Terbaru